Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 123 Penculikan Ashila


__ADS_3

Rayhan hari ini tampak uring-uringan di ruangannya, ia tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan fokus, otaknya hanya memikirkan tentang sikap dingin Ashila tadi pagi, sebelum berangkat ke kantor tadi, sang istri memarahinya karena hal sepele. Ayolah Rayhan tak akan fokus melakukan apapun jika yang pikirannya hanya Ashila dan Ashila.


"Argh… gue bisa gila kalo kayak gini!" Rayhan menghela napas kasar dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursinya, ia memijit pangkal hidungnya.


Lelaki itu terus mengerang frustasi, berkali-kali ia mengirimkan pesan permintaan maaf pada sang istri di aplikas chat berwarna hijau, namun tak ada satu pun yang dibaca apalagi dibalas, padahal sang istri sedang sedang online.


Suara ketukan pintu membuat Rayhan mengalihkan pandangannya sejenak dari ponsel, dengan wajah kesal ia pun menyuruh orang itu masuk.


"Masuk!"


"Permisi, Pak. Saya hanya ingin memberitahukan kalau…" Ucapan Arin terhenti karena ia bingung bagaimana cara menjelaskannya.


"Kalau apa, Arin?"


"Kalau perusahaan Alexander company memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan kita, Pak," ucap Arin sambil menunduk.


Rayhan membelalakan matanya tak percaya. "Apa? Kenapa bisa begitu, Rin?" tanya Rayhan


"Saya juga tidak mengerti, Pak. Apa yang menyebabkan perusahaan Alexander company memutuskan kerjasama dengan kita," jawab Arin.


"Kamu harus cari tahu secepatnya mengapa ini bisa terjadi, setelah itu cepat laporkan pada saya!"


"B-baik, Pak. Kalau begitu saya permisi, Pak," ucap Arin seraya pergi.


Rayhan memijit kepalanya pelan, ia mengetahui bahwa perusahaan Alexander company adalah salah satu perusahaan terbesar di Asia. Perusahaannya bekerjasama dengan perusahaan Alexander company dan sebagian perdananya diambil alih oleh perusahaan Alexander company. Jika kerjasama ini terputus, maka perusahaannya akan berada diambang kehancuran. Pemilik perusahaan itu adalah Alexander sendiri, salah satu sahabatnya. Tetapi mengapa sahabatnya itu memutuskan kerjasama mereka???


***


Rayhan menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa ruangannya, waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WIB. Ia baru saja pulang dari meeting bersama klien. Sungguh, ia sangat lelah seharian ini, jadwalnya sungguh padat dari pagi hingga menjelang malam ini, semua meeting mengharuskan ia hadir di dalamnya. Belum lagi masalah pemutusan kerjasama itu. Dan yang lebih parahnya lagi, masalah dengan istrinya, sudah seharian ini sang istri belum juga membalas pesannya.


Tring! Tring!


Suara dering di sakunya sejenak mengalihkan Rayhan dari berkas yang dipegangnya, nama sang istri muncul di layar notifikasi. Ia senang bukan main, akhirnya sang istri membalas pesannya juga. Mendadak tubuhnya terasa bugar kembali, rasa lelah dan letihnya seketika menghilang.

__ADS_1


Dengan gerakan lincah disertai senyum mengembang, ia membuka pesan dari sang istri.


Ashila :


Mass, tolong aku, Mas


Mas, toloong..


Mas, sakiit, Mas…


Deg!


Rayhan membelalakan matanya ketika membaca pesan dari sang istri, jantungnya berdetak tak karuan, dengan gerakan cepag ia segera menelepon sang istri.


"Halo, Sayang. Kamu kenapa?"


"Sa-akit, M-mas…"


Bip!


"Halo, Sayang. Halo… argh!"


"Kamu tunggu aku, aku pulang sekarang, kamu bertahan, Sayang!!"


Dengan cepat Rayhan segera mangambil jasnya, lalu berlari keluar kantor menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi, mobil yang dikemudikan oleh Rayhan melesat begitu saja, tidak memperdulikan orang-orang yang mengumpatinya karena membawa mobil seperti orang kesetanan.


Sepanjang perjalanan, bayang-bayang akan istrinya yang terluka kini memenuhi otaknya, ia juga memikirkan calon anaknya yang beberapa bulan lagi lahir ke dunia.


***


Sesampainya di depan kamar apartemennya, Rayhan segera masuk ke dalam sana. Memanggil-manggil nama sang istri.

__ADS_1


"Sayang!"


"Shila.."


Dengan jantung yang berdebar, lelaki itu terus berteriak memanggil-manggil sang istri, namun tak ada jawaban. Ia pun segera berlari menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.


Mata Rayhan membulat sempurna, kala melihat bercak-bercak darah yang bercucuran di lantai kamar, jantung lelaki itu semakin tak karuan kala melihat sebilah pisau dapur yang sudah penuh dengan darah di lantai.


Lelaki itu mundur beberapa langkah, napasnya memburu, sesak dan pusing.


"Sayang, kamu di mana??" teriak Rayhan, lelaki itu sangat frustasi sekarang.


Tring!


083xxxxxxxx :


Datang ke sini kalo enggak istri lo MATI!! Dan jangan coba-coba lapor polisi!!


Deg!


Rayhan membelalakan matanya kala membaca pesan dari orang tak dikenal, jantungnya bergemuruh bukan main. Otaknya berputar memikirkan siapa pelaku semua ini? Jujur saja, ia tak pernah punya musuh, mana mungkin pula ini adalah perbuatan dari musuh sang istri, Ashila orang yang sangat baik, mana mungkin??


Satu nama terlintas begitu saja di otak Rayhan. Renata? Pikirnya. Tangannya terkepal kuat, matanya memerah menahan amarah.


Tetapi, ia merasakan dadanya terasa sesak saat si pengirim itu mengirimkan sebuah foto Ashila yang sedang terduduk tak sadarkan diri di sebuah bangku dengan kondisi tangan dan kaki terikat.


Dengan cepat Rayhan segera mangambil jasnya, lalu berlari keluar dari apartemennya menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi, mobil yang dikemudikan oleh Rayhan melesat begitu saja bagaikan angin.


Sepanjang perjalanan, air matanya luruh begitu saja, perasaan bersalah dan takut menyelimuti hatinya, andai saja ia tak membiarkan istrinya sendirian di apartemen, pasti ini tidak akan terjadi.


Bayang-bayang akan istrinya yang terluka kini memenuhi otaknya, ia juga memikirkan calon anaknya yang beberapa bulan lagi lahir ke dunia.

__ADS_1


"Argh…"


Rahangnya mengeras dengan wajah yang sudah sangat memerah menahan amarah. Sungguh, ia tidak akan memaafkan orang yang melukai bahkan walaupun hanya membuat kulit Ashila lecet, ia tidak akan tinggal diam, ia pasti akan melenyapkannya.


__ADS_2