
"Oke anak-anak cukup presentasi untuk hari ini, besok lanjutkan presentasi kelompok selanjutnya," ucap Dosen seraya berjalan keluar kelas.
Semua mahasiswa dan mahasiswi kelas itu pun segera berhamburan keluar kelas tak terkecuali Ashila, Annisa dan Dina. Mereka bertiga segera berjalan menuju parkiran.
"Eh, besok jadwal presentasi kelompok kalian, ya?" tanya Ashila kepada Annisa dan Dina karena dirinya memang tidak satu kelompok dengan kedua sahabatnya itu.
"iya, Shil."
"Semangat, ya. Aku doain semoga lancar dan kalian dapet nilai bagus."
"Amiin."
Drt, drt, drt!
"Eh bentar, handphone aku bunyi." Ashila pun segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya, tertera nama 'Kayla' di layar ponsel.
"Siapa, Shil?" tanya Dina.
"Adek ipar aku."
"Yaudah angkat gih." Ashila pun mengangguk dan segera menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Halo, Kay."
[…..]
"Iya deh, entar kakak pulangnya ke rumah mama."
[…..]
"Iya."
Tuut,tut!
Panggilan pun terputus.
"Kenapa, Shil?"
"Ini sepupunya Mas Rayhan lagi ada di rumah mertua aku, jadi pulang dari sini aku harus ke sana." Annisa dan Dina hanya ber oh ria saja.
"Yaudah Nis, Din, aku duluan, ya…"
"Iya, Shil, hati-hati."
***
Kini Ashila sudah berada di teras rumah mertuanya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Eh sayang ayo masuk." Mama Putri langsung menggandeng Ashila membawanya masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu.
Terlihat seorang perempuan kira-kira berumur sekitar tiga puluh tahunan sedang duduk di ruang tamu.
"Shila, kenalin ini Maya sepupunya Rayhan dan Kayla, anak dari kakaknya mama. May, ini istrinya Rayhan yang tante ceritain tadi sama kamu." Mama Putri memperkenalkan Ashila dan Maya.
"Namaku Shila, Mbak."
"Maya," ucap Maya sambil tersenyum lembut. "Oh jadi ini istrinya Rayhan, cantik ya."
"Mbak bisa aja."
__ADS_1
"Mommy..."
Semua orang yang berada di ruang tamu pun menoleh ke arah sumber suara, seorang anak kecil yang kira-kira usianya sekitar lima tahunan berjalan bersama Kayla menuruni tangga.
"Daffa udah bangun, Sayang." ucap Maya sembari memeluk bocah laki-laki itu.
"Kayla, Daffa nya kamu gangguin ya, makanya cepet bangunnya?" tanya Maya sambil menatap ke arah Kayla
"Hee… maaf, Mbak. Soalnya aku kan lama gak maen sama anak kecil, pas Daffa lagi tidur aku cubitin deh pipinya, eh dia malah bangun," jawab Kayla sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal.
"Ya ampun Kayla kamu iseng banget sih jadi orang, Nak." Mama Putri langsung menjewer telinga Kayla.
"Awws... sakit, Ma, lepasin dong sakit tau gak," ringis Kayla sembari memegangi telinganya yang masih setia di tarik oleh mamanya.
"Lepasin, Ma. Kasian Kay nya," ucap Ashila yang merasa kasihan melihat adik iparnya yang meringis kesakitan.
Mama Putri pun akhirnya melepaskan tangannya dari telinga Kayla.
"Jangan diulangi lagi ya, Kay."
"Iya, Ma. Daffa maafin aunty ya, udah gangguin kamu pas tidur," ucap Kayla sambil memeluk Daffa.
"Iya, aunty."
"Shil, ini anak aku namanya Dafa. Dafa ayo salim sama aunty Shila, Nak."
"Halo, Aunty."
"Halo Dafa." Ashila tersenyum lembut dan segera memeluk Dafa.
"Maaf ya aku waktu itu aku gak dateng ke pernikahan kalian soalnya anakku Daffa lagi sakit."
"Gak papa kok, Mbak."
"Baik, Nyonya. Den Daffa ayo kita ke kamar, ya."
"Iya, Sayang. Kamu ke kamar, ya. Mommy mau ngobrol dulu sama aunty Shila." Maya pun langsung memberikan Daffa yang sejak tadi dalam pangkuannya kepada Bi Ida.
"Iya, Mommy."
"Gimana rasanya nikah sama si Rayhan, Dia kan orangnya dingin plus cuek tuh, dan kata tante Putri kalian itu nikah karena dijodohin?" tanya Maya
"Awal-awal sih cuek gitu orangnya, tapi sekarang kita udah terbiasa kok, Mbak," jelas Ashila.
"Assalamualaikum," sapa Rayhan yang baru saja memasuki ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam."
"Eeh... yang diomongin akhirnya dateng juga," celetuk Maya.
"Kalian ngomongin aku? Ngomongin tentang apa?"
"Ikh, Kak Rayhan kepo."
Rayhan pun langsung memeluk mamanya. "Rayhan... mama kangen."
"Rayhan juga, Ma."
"Kamu ya jarang banget main ke sini lagi."
"Maaf, Ma. Rayhan kan sibuk."
__ADS_1
Rayhan pun melepaskan pelukan mamanya dan beralih memeluk kakak sepupunya.
"Ray, gue kangen sama lo. Sorry ya, gue gak dateng ke pernikahan lo, soalnya Daffa lagi sakit."
"Enggak papa kok, Mbak. Gue ngerti, oh ya Daffa-nya mana? gue kangen sama ponakan gue, terakhir ketemu kan pas dia umur dua tahun, pasti sekarang udah gede."
"Daffa-nya lagi tidur, entar malem aja."
"Kak, Kay gak dipeluk?"
"Diih ogah banget, kakak mah gak kangen sama kamu, mending kakak peluk istri kakak aja."
Rayhan pun langsung menarik pinggang Ashila hingga mepet terhadap tubuhnya, membuat Kayla cemberut.
"Ikh... adeknya kakak cemberut, ulu-ulu sini sini kakak peluk." Rayhan pun langsung melepaskan Ashila lalu memeluk adik kesayangannya itu.
"Apaan sih peluk-peluk, aku lagi ngambek tauk."
"Iikh jangan ngambek dong sayang, entar cantiknya ilang looh," goda Rayhan sambil mencubit kedua pipi Kayla dengan gemas.
"Iikh apaan sih, sakit tau, Kak."
"Maaf-maaf, entar kakak beliin handphone keluaran baru deh." Kayla pun langsung tersenyum selebar mungkin.
"Bener ya, Kak."
"Kapan sih kakak pernah boong sama kamu."
Setelah itu, Rayhan memeluk Ashila erat-erat membuat sang empunya terkejut dan kaget, mungkin suaminya ini sedang bersandiwara di depan keluarganya seolah-oleh mereka adalah pasangan yang romantis, itulah yang Ashila pikirkan saat ini, tapi ia sangat senang walaupun ini hanya sandiwara saja. .
"Sayang maaf ya tadi aku gak jemput kamu soalnya tadi masih meeting," ucap Rayhan mengelus-ngelus puncak kepala istrinya itu kemudian mendaratkan sebuah kecupan di sana.
Ashila pun cukup kaget dengan perlakuan suaminya itu, tetapi ia berusaha untuk biasa saja dan mencoba mengimbangi sandiwara suaminya itu.
"Enggak papa kok, Mas."
"Ekhem-ekhem, di sini juga banyak orang kali, mentang-mentang beberapa jam gak ketemu mesra-mesraan gak tau tempat, mata suciku juga ternodai nih," celetuk Kayla yang sejak tadi menyaksikan adegan mesra kakak dan kakak iparnya.
"Iya, aku jadi kayak nonton Drakor nih," timpal Maya.
Mama Putri yang menyaksikan adegan itu hanya tersenyum dan sangat bersyukur karena anak dan menantunya itu harmonis walaupun mereka menikah karena perjodohan.
"Semoga kalian selalu berbahagia seperti ini Rayhan, Shila," batin Mama Putri.
"Ikh, kalian berdua sirik ajah," ucap Rayhan kepada adiknya dan kakak sepupunya.
"Sayang, ke kamar yuk! Aku mau mandi." Rayhan pun langsung menarik lengan Ashila menuju tangga.
"Eeh... semuanya Shila ke kamar dulu ya."
"Eh bentar dulu, ini kado pernikahan yang udah aku siapin buat kalian."
Ashila pun menerima kado pemberian kakak sepupu suaminya itu.
"Makasih, Mbak."
***
"Mas akting kamu bagus banget, ya. Cocok jadi pemain sinetron tau gak," ucap Ashila setelah mereka sampai di kamar Rayhan.
"Apa menurut kamu itu hanya sandiwara?" tanya Rayhan yang membuat Ashila sedikit bingung.
__ADS_1
"Maksud Mas?"
"Maksud saya..."