
Setelah Bu Arini pergi, semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas, kecuali bagi yang bertugas piket.
Kayla, Tasya, dan Amira beriringan keluar kelas.
"Sya, lo tugas kelompok bareng siapa?" tanya Kayla pada Tasya.
"Sama si Riska," jawab Tasya.
"Kalo lo, Mir?"
"Gue sama--."
"Mir, kita ngerjain tugasnya di mana?" tanya seseorang dari arah belakang mereka.
Ketiga gadis itu menoleh, Kayla dan dan Tasya mengernyit dan saling menatap satu sama lain. "Elo satu kelompok sama Arya, Mir?" tanya Tasya.
Amira hanya memutar bola mata malas, gadis itu mendengus pelan. "Iya," ucapnya.
Kayla dan Tasya terkekeh pelan, lalu menarik lengan Amira agar sedikit menjauh dari Arya. "Mau ngapain sih kalian berdua narik-narik gue," ucap Amira sedikit kesal.
"Mir, ini kesempatan lo," ujar Tasya.
"Maksudnya?"
"Ini kesempatan lo buat bisa deket lagi sama si Arya," jelas Kayla.
"Apaan sih lo berdua, udah ah gue mau ngerjain tugas, bye, gue pergi," ucap Amira sambil berbalik menghampiri Arya, lalu keduanya pergi beriringan menyusuri koridor sekolah.
Kayla dan Tasya tersenyum saling pandang satu sama lain.
Sewaktu kelas X, Amira dan Arya memang dekat, Arya selalu memberikan perhatian-perhatian kecil kepada Amira,
bahkan Amira bercerita kepada Kayla dan Tasya bahwa dirinya memiliki perasaan terhadap Arya, tentu saja kedua sahabatnya itu mendukung Amira.
Sebulan kemudian, Arya dikabarkan berpacaran dengan siswi dari anak kelas lain, tentu saja itu membuat Amira merasa sakit hati dan juga dikhianati walaupun mereka tidak menyandang status pacaran.
Dari situlah Amira tidak ingin berdekatan dengan lelaki yang telah membuatnya patah itu, bahkan untuk menatapnya saja Amira tidak ingin.
***
Di sepanjang koridor sekolah Kayla dan Tasya terus berbincang membicarakan Amira dan Arya.
"Semoga deh si Mira sama si Arya deket lagi kayak dulu, kan seneng liat mereka bisa akur, lama banget loh gue liat mereka jalan bareng-bareng kayak tadi," ucap Kayla.
"Iya, lagian gosip dulu kan cuma hoax, si Mira-nya yang gak percayaan, eh tapi nanti kan di antara kita bertiga ada yang gak jomblo lagi, hahaha."
"Kata siapa? Bentar lagi gue juga mantan jomblo tau," ucap Kayla.
"Hah? Masa sih? Emang lo lagi deket sama siapa? Kok gue gak tau."
"Ada deh, nanti kalo gue udah bener-bener deket sama dia, gue kasih tau lo sama Mira deh."
"Oke deh, tapi sama siapa? Gue kepo nih?"
"Ada deh, nanti gue pasti cerita kok."
"Heh singa betina!" teriak seseorang dari belakang.
Kayla dan Tasya pun menoleh ke belakang, terlihat Azka berjalan setengah berlari mendekati kedua gadis itu. "Apa lo singa jantan!" ketus Kayla
"Ayo ikut gue." Azka menarik lengan Kayla menuju parkiran.
Tasya menatap Kayla dan Azka dengan penuh tanda tanya. "Apa jangan-jangan Kayla pedekate-an sama si Azka lagi? Wah lucu nih kayaknya, tapi… berarti gue doang dong yang jomblo." Tasya merasa miris pada kengenesan jomblo-nya itu.
"Apa sih lo narik-narik gue," ketus Kayla sambil menarik tangannya dari genggaman Azka.
__ADS_1
"Ayo kita ngerjain tugas di rumah gue," ucap Azka.
"Wah kalo ngerjain di rumah si singa jantan, gue bisa modus ke kak Azmi pangeran gue, berarti gue harus dandan yang cantik dulu nih," batin Kayla.
"Oke, tapi gue harus pulang dulu, nanti gue ke rumah lu," ucap Kayla.
***
Seorang gadis tampak sedang mengacak-acak isi lemari sedang mencari sesuatu.
"Aduuh, gue pake baju yang mana, ya?" tanyanya bermonolog sendiri. "Pokoknya siang ini gue harus perfect dan cantik, supaya kak Azmi terpesona sama gue."
"Kalo pake yang ini terlalu biasa, kalo yang ini, emang gue mau kondangan, aduuh yang mana ya."
Kayla melihat sebuah dress santai selutut berrwarna biru pink, ia pun mengambilnya. "Apa pake ini aja, ya?"
Kayla pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan dress santai yang sudah melekat di tubuhnya.
Kayla pun segera berjalan menuju cermin, matanya berbinar menatap penampilannya sekarang. "Cantik juga gue," pujinya pada diri sendiri.
Tangannya beralih mengambil bedak bayi yang selalu ia pakai, kemudian memoleskannya pada wajahnya, tak lupa juga ia memakai liptint agar bibirnya tidak terlihat pucat.
Setelah dirasa penampilannya sudah sempurna, Kayla segera mengambil tas yang berisi buku-buku untuk bahan tugas kelompok nanti, kemudian segera beranjak dari kamar.
***
"Makasih ya, Pak." Kayla memberikan uang pecahan senilai lima puluh ribu kepada bapak supir taksi.
"Iya, sama-sama, Neng."
Kayla pun segera melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah Azka, di sana ada dua orang satpam yang selalu setia berjaga.
"Pak, tolong bukain, ya."
"Bukan Pak, aku ini pac-- emm maksud aku iya temennya Azka."
Satpam itu pun segera membukakan gerbang dan mempersilahkan Kayla masuk.
"Silahkan masuk, Neng, Mas Azka udah nunggu."
Kayla pun mengangguk, lalu segera berjalan menuju pintu utama. Gadis itu pun segera memencet bel yang terpasang di pintu.
Tak lama kemudian Bi Minah membukakan pintu. "Eh ini Non Kayla, ya?"
"Iya, Bi, aku Kayla, Azka-nya ada?"
"Ada, Non, mari masuk."
Kayla pun mengekori Bi Minah masuk ke ruang tamu. "Non Kayla duduk aja dulu di sini, nanti Bibi panggilin Mas Azka."
"Emm, Bik, Tante Karin-nya ada gak, ya?"
"Nyonya sedang masak di dapur, Non."
"Kayla boleh ke sana, gak?"
"Boleh, Non."
Kayla pun segera pergi ke dapur, di sana terlihat Karina sedang berkutat dengan bungkusan bubuk kue, sepertinya wanita paru baya itu akan membuat kue.
"Siang, Tante," sapa Kayla.
Karina pun menoleh, ia tersenyum menatap Kayla. "Eh, Kayla."
__ADS_1
Kayla pun segera mendekati Karina, mencium tangan calon mertuanya itu. Ah! Halumu itu Kayla!
"Tante lagi apa?"
"Tante lagi bikin kue brownies nih, Kay."
"Wah, kayaknya seru nih, Kayla boleh bantuin gak?"
"Boleh dong."
"Asyiik… bikin kue bareng camer," batin Kayla. "Emm… Tan, Kay harus ngapain nih?" tanya Kayla.
"Nih, yang ini kamu masukin ke wadah ini, terus diaduk-aduk hingga rata."
"Oke, Tan."
"Tante seneng deh, bisa bikin kue bareng kamu, soalnya Tante jarang masak-masak kayak gini sama anak gadis."
"Wah kesempatan nih buat nanya-nanya," batin Kayla.
"Kay juga seneng, Tan. Emm… tapi ngomong-ngomong Tante gak pernah masak bareng sama emm… pacarnya kak Azmi atau pacarnya Azka gitu?"
"Kalo Azka kan semenjak lulus SD milih tinggal di Amerika bareng neneknya, jadi Tante gak pernah ngenalin perempuan yang lagi deket sama dia."
"Kalo pacarnya Kak Azmi?
"Tante pernah sekali masak-masak bareng sama pacarnya Azmi--"
Kayla langsung memotong. "Emang kak Azmi udah punya pacar, Tante?" tanya Kayla cepat.
"Dulu, waktu SMA, sekarang mereka udah lama putus."
Kayla tersenyum tipis.
"Terus sekarang kak Azmi punya pacar nggak?"
"Kayaknya belum deh, soalnya kalo Azmi punya pacar suka cerita ke Tante," ujar Karina.
"Kesempatan emas nih."
"Oh, gitu ya, Tan."
"Ekhem!" Suara deheman membuat Kayla dan Karina menoleh ke sumber suara.
"Azka, nih Kayla ke sini."
Azka sedikit terpaku melihat Kayla siang ini, gadis itu memakai dress selutut, polesan make up tipis di wajahnya serta rambut yang biarkan tergerai menambah kesan manis dan elegan pada penampilan Kayla.
Entah kenapa jantung Azka mendadak berdetak berbeda dari biasanya.
Azka pun melenggang masuk ke dalam dapur. "Kayla ke sini emang mau ngerjain tugas, Mi," ucap Azka sesantai mungkin, menetralkan jantungnya yang marathon.
"Oh mau ngerjain tugas, Tante kira kamu sengaja mau main ke sini, yaudah sana gih kerjain tugasnya," ucap Karina.
"Tapi, Tan, ini ngaduk-ngaduknya belum selesai," ucap Kayla sambil terus mengaduk-aduk brownis.
"Yaudah sini sama Tante aja, kalian kerjain tugas aja sana," ucap Karina sambil mengambil alih centong yang Kayla pegang.
"Kay, elo langsung ke ruang tamu aja, gue mau ngambil laptop dulu."
Kayla mengangguk.
***
Wah! Kayaknya Azmi sudah merasakan detakan jantung tak biasa nih hehehe..
__ADS_1
Jangan lupa untuk tekan tombol like dan budayakan komen juga ya, gays..
makasih.