Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 65 Emang Aku Anak Kecil


__ADS_3

"Ini Pak, uangnya." Ashila menyodorkan beberapa lembar uang pada tukang ojek.


"Makasih, Neng."


Untuk pertama kalinya Ashila menginjakan Kakinya di kantor sang suami, mata hitamnya menatap gedung pencakar langit itu dengan takjub, merasa tak percaya bahwa suaminya adalah pemilik bangunan yang menjulang tinggi itu.


Ashila pun berjalan masuk ke dalam kantor dan menghampiri resepsionis untuk bertanya dimana ruangan suaminya.


"Selamat siang, Mbak."


"Siang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis yang umurnya sekitar tiga puluan itu.


"Ruangannya pak Rayhan dimana, ya?" tanya Ashila.


"Apa Mbak ada sudah ada janji dengan pak Rayhan."


"Sudah, Mbak, saya istrinya."


"Apa? Istrinya pak Rayhan? Kalau begitu mari saya antar ke ruangan pak Rayhan, Bu. Maaf, Bu, saya tidak tau kalau ibu istrinya pak Rayhan."


"Iya, nggak papa kok, Mbak, panggilnya Shila aja, jangan ibu."


Resepsionis itu pun segera mengantarkan Ashila menuju ruangan bos-nya.


"Ini ruangannya pak Rayhan, Mbak."


"Ah iya, makasih ya udah dianterin."


"Sama-sama, kalo begitu saya permisi." Ashila hanya mengangguk, seseorang itu berlalu pergi.


Ashila pun segera mengetuk pintu ruangan suaminya itu.


Tok, tok, tok!


"Masuk!" ucap seseorang dari dalam ruangan itu.


Tentu saja Ashila sangat mengenali siapa pemilik suara itu, ia tersenyum kecil lalu segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


"Assalamualaikum, Mas."


Rayhan yang sedari tadi fokus dengan layar monitor-nya segera mendongakkan kepalanya, ia tersenyum manis menatap siapa yang datang.


"Wa'alaikumsalam." Rayhan segera bangkit dan berjalan menuju Ashila. "Kamu udah dateng, Sayang."


Ashila mengangguk, ia segera mencium tangan suaminya, Rayhan pun membalasnya dengan mendaratkan sebuah kecupan di kening Ashila.

__ADS_1


"Masih sibuk?" tanya Ashila sambil mendudukan diri di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Rayhan pun segera mendudukan dirinya tepat di samping istrinya itu. "Enggak kok."


"Nih aku bawa makanan kesukaan kamu," ucap Ashila seraya membuka rantang makanan yang ia bawa.


"Wah, kayaknya enak nih."


Ashila pun segera menyajikan makanan itu untuk suaminya. "Nih, Mas, makanlah," ucap Ashila sambil menyodorkan makanan yang sudah ia sajikan tadi.


Rayhan pun mengambilnya, tetapi ia tak langsung memakannya, melainkan hanya memandangi istrinya saja sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Mas, nasinya dimakan, jangan dimainin gitu!" tegur Ashila.


Rayhan seakan tuli, ia terus saja memainkan nasi dengan sendok, tentu saha hal membuat Ashila menatap suaminya itu kesal.


Ashila terdiam sejenak, dirinya tahu apa yang dipikirkan suami manjanya itu, gadis itu pun langsung mengambil alih sendok yang Rayhan pegang.


"Bilang aja mau disuapin sama aku," ucap Ashila menyindir.


Rayhan terkekeh. "Waah! Istriku yang satu ini emang pintar," pujinya.


Ashila mengernyitkan keningnya. "Apa? Istri yang satu? Jadi kamu punya istri yang lain?"


Rayhan menarik Ashila ke dalam pangkuannya, memeluk Ashila dari belakang dan meletakan dagu-nya di bahu kiri istrinya itu. "Jangan ngambek."


"Siapa yang ngambek."


"Kamu," ucap Rayhan.


"Aku gak ngambek kok, kamu-nya aja yang baperan, dih cowok kok baperan."


"Biarin, kamu gak ngambek lagi kan?" tanya Rayhan


"Tau ah!" jawab Ashila ketus.


"Tuh kan masih ngambek." Rayhan menghela napas panjang, ia bingung bangaimana cara membujuk Ashila agar tak merajuk lagi padanya, terbesit sesuatu di otaknya.


"Emm… Sayang, mau dibeliin balon gak?" tanya Rayhan sambil membelai puncak kepala Ashila yang tertutup hijab.


Ashila mengernyitkan dahinya, ia memutar kepalanya menatap Rayhan sekilas. "Balon? Buat apa?" tanya Ashila tidak mengerti.


"Biasanya kalo anak kecil ngambek itu kalo dikasih balon gak bakal ngambek lagi, siapa tau aja kamu juga kayak gitu," ucap Rayhan sambil terkekeh kecil.


Ashila memutar kepalanya menatap Rayhan sambil memanyunkan bibirnya. "Kamu pikir aku ini anak kecil," ucap Ashila sambil memberikan pukulan pelan di lengan Rayhan.

__ADS_1


Rayhan tersenyum, ia mengecup pipi kiri sang istri lalu semakin mengeratkan pelukannya.


"Emang kamu masih kecil, 'kan?"


"Kalo aku kayak anak kecil, kenapa dulu kamu setuju buat nikahin aku."


"Kan dipaksa sama papa, kalo dulu aku gak nikah sama kamu pasti papa bakal ambil perusahaan aku, dan mungkin sekarang aku jadi gelandang..."


"Jadi kamu nikahin aku cuma demi perusahaan?" sela Ashila cepat, gadis itu kembali terpancing emosinya, kedua tangan Rayhan yang melingkar di perutnya pun ia lepaskan.


"Diem dulu, aku belum selesai ngomong, kamu nih maen potong aja." Rayhan kembali melingkarkan kedua tangannya di perut Ashila. "Jadi… dulu tuh aku mikirnya gitu, nikahin kamu demi perusahaan, tapi kalo sekarang aku mikirnya kenapa aku gak nikahin kamu dari dulu. Aku seneng dan bersyukur banget orang tua kita jodohin kita, yaa… walaupun awal pernikahan kita gak harmonis kayak sekarang," ucap Rayhan mengungkapkan seluruh isi hatinya.


Ashila tersenyum, tangannya iseng memainkan dasi Rayhan. "Mas kamu tau gak, kita itu sebenarnya gak dijodohin sama orang tua kita, itu cara Allah buat pertemuin kedua hambanya yang berjodoh, ya lewat orang tua kita, meskipun kesan awal pertemuan kita buruk, kita tetep menjalani pernikahan walaupun awalnya memang karena keterpaksaan, sampai pada akhirnya kita memiliki perasaan satu sama lain, memang rencana Allah itu yang paling terbaik."


"Iya, kamu bener, Sayang."


Rayhan kembali mengecup pipi kiri Ashila, lalu meletakan kepalanya di bahu kiri istrinya itu, ia mengusap lembut perut Ashila. "Sayang, aku gak sabar nunggu hari dimana di sini." Rayhan menyentuh perut Ashila. "Ada anak kita," ucap Rayhan.


Ashila tersenyum. "Aku juga gak sabar nunggu hari itu, Mas." Ashila menyentuh tangan suaminya yang masih berada di perutnya.


"Emm... kamu pengen punya anaknya laki-laki atau perempuan?"


"Segimana dikasihnya sama Allah aja, Sayang. Laki-laki atau perempuan, yang penting sehat," ucap Rayhan.


"Mas, ayo makan dulu."


"Suapin tapi ya,"


"Iya, aku suapin."


Ashila pun segera pindah posisi dari duduk di pangkuan Rayhan menjadi duduk di samping suaminya itu. Ia mengambil makanan dan mulai menyuapi Rayhan.


"Kamu gak makan?" tanya Rayhan di sela-sela mengunyah makanannya.


Ashila menggeleng. "Kamu aja dulu."


"Enggak, gak mau, kamu juga harus makan." Rayhan mengambil alih kotak makanan yang Ashila pegang, ia menyendokan makanan dan meminta Ashila untuk membuka mulutnya. "Nih, buka mulutnya, Sayang."


"Gak


" Ayolah, Sayang."


Ashila menghembuskan napasnya panjang, ia pun akhirnya mengiyakan suaminya, karena percuma saja jika ia menolak, pasti suaminya itu akan terus memaksanya.


...

__ADS_1


__ADS_2