Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 93 Perjanjian


__ADS_3

"Gue terima lo jadi pacar boongan gue asal ada beberapa syarat yang harus dilaksanakan."


Azka mengernyit. "Maksudnya?"


Kayla mengambil sesuatu dari tasnya, yaitu sebuah kertas yang berisi perjanjian yang harus disepakati oleh kedua belah. "Nih lo baca dulu," ujar Kayla sembari menyodorkan kertas itu pada Azka.


"Apaan nih?" tanya Azka.


"Lo baca aja."


"Lo aja deh yang baca, gue lagi males."


"Huh! Gue yang capek-capek bikin, malah lo gak mau baca," gerutu Kayla sembari menarik kertas itu di tangan Azka. "Oke gue baca, ya."


Kayla menghembuskan napasnya panjang sebelum membaca kertas perjanjian itu. "PERJANJIAN PACARAN BOONGAN ANTARA AZKA ASKANDAR DAN KAYLA AISYAH AL-ABSHORY SEBAGAI BERIKUT.



TIDAK BOLEH ADA KONTAK FISIK."



Baru saja Kayla akan melanjutkan membaca poin perjanjian nomor dua, Azka langsung memotong. "Heh kalo gak ada kontak fisik gimana mau keliatan mesra di depan si Rita, yang ada dia gak bakalan percaya kalo kita pacaran."


Kayla langsung menoyor kepala Azka. "Hiih! Lu mah langsung komen aja, tar dulu, gue selesain baca dulu baru komen, perjanjian mana yang harus dirubah atau ditambahin," gerutu Kayla.


"Yaudah next deh."


Kayla pun kembali membaca tulisan dalam kertas putih itu.


"2. TIDAK BOLEH IKUT MENCAMPURI URUSAN PRIBADI MASING-MASING.



SELAMA PACARAN BOONGAN INI BERLANGSUNG, AZKA ASKANDAR HARUS MENGANTAR-JEMPUT KAYLA SEKOLAH.


AZKA ASKANDAR HARUS MEMBANTU PROSES PDKT-AN KAYLA DENGAN AZMI ASKANDAR.



Baru saja Azka akan memotong ucapan Kayla, gadis itu sudah memberi kode terlebih dahulu agar lelaki itu diam.


"DEMIKIANLAH ISI PERJANJIAN INI, SIAPA SAJA DI ANTARA KEDUA BELAH PIHAK YANG MELANGGAR, AKAN DIKENAKAN DENDA SEBESAR 50.000 RUPIAH, SEKIAN DAN TERIMA KASIH."


Kayla memberikan surat perjanjian itu pada Azka. "Sekarang lo boleh komen," ujarnya.


"Oke, tadi yang poin satu kayaknya harus ditambahin jadi TIDAK BOLEH ADA KONTAK FISIK KECUALI JIKA ADA RITA, gimana menurut lo?"


Kayla berdehem. "Hemm… boleh, tapi… lo cuma boleh pegang tangan aja, tidak ada peluk apalagi ciuman."


"Hih! Siapa juga yang pengen meluk-meluk lo, apalagi cium." Azka mendekatkan wajahnya pada wajah Kayla. "Atau jangan-jangan lo kali yang pengen dipeluk sama dicium sama gue," bisik Azka diakhiri oleh tiupan kecil di wajah gadis di depannya itu.


Kayla mendorong pelan dada Azka agar tak terlalu dekat dengannya. "Apaan sih lo, siapa juga yang mau dipeluk apalagi dicium sama lo," dengus Kayla sembari memalingkan wajahnya.


"Cie! Mukanya blushing tuh!"


"Ish! Apaan sih lo. Udah ah, balik lagi ke kertas perjanjian, jadi kita udah sepakat nih semuanya?"


Azka membaca kembali kertas perjanjian. "Nih, yang nomor empat, maksudnya apa?"

__ADS_1


"Kan udah jelas, lo harus bantuin pdkt-an gue sama kak Azmi."


"Lo… lo suka sama abang gue?"


"Kayaknya gitu, abang lo masih jomblo kan?"


Azka menggeleng. "Gak tau!"


"Menurut lo tipe cewek kak Azmi itu kayak gimana sih?"


"Gak tau," jawab Azka sambil cemberut.


"Masa sih gak tau, elo kan adeknya."


"Iya, gue gak tau–"


"Berarti elo harus nyari tau, titik."


"Kalo gue gak mau?"


"Heh! Jahat banget sih lo, gue aja mau bantuin lo buat jadi pacar boongan, masa lo gak bantuin gue sih?"


Azka memberengut kesal, tangannya terangkat ingin mencubit pipi Kayla, namun gadis itu mencegahnya.


"Heh! Mau ngapain lo, inget ya gak ada kontak fisik!" ujar Kayla sembari menunjuk wajah Azka. Lalu Kayla mengambil pulpen dari tasnya "Yaudah nih tanda tangan!" ujar Kayla dengan nada menggertak.


"Biasa aja kali ngomongnya, lo lagi PMS, ya?"


Kayla mendengus. "Yaudah sih, tanda tangan aja, jangan banyak omong!"


Azka pun menandatangani surat perjanjian itu, dilanjutkan oleh Kayla. Setelah selesai, Kayla segera memasukan kertas itu ke dalam tas. "Udah ah, mending gue balik, males gue sama lo!"


Karena terkejut, secara refleks tangan Azka memeluk tubuh Kayla, mata keduanya beradu.


Semenit kemudian, keduanya tersadar, Kayla segera menjauhkan tubuhnya dari Azka. "Apaan sih lo! Dasar mesum, cari kesempatan peluk-peluk gue lagi. Lo udah langgar perjanjian nomor satu, jadi lo harus bayar gocap!"


"Heh! Yang ngelanggar tuh lo karena lo yang tiba-tiba duduk di pangkuan gue, jadi elo yang bayar," ujar Azka.


"Yaudah, kita impas aja deh, gue mau balik, bye!"


"Ayo gue anterin," ujar Azka sembari menggandeng tangan Kayla.


"Heh! Ngapain sih pake acara gandeng-gandengan segala lagi,"


"Anggap aja belajar, supaya di depan si Rita kita terbiasa kayak gini."


***


Waktu menunjukan pukul 16.15 WIB, Ashila sudah keluar dari kampusnya, ia dan Annisa kini sedang duduk di taman dekat parkiran kampus, sedangkan Dina sudah pulang terlebih dahulu karena ada urusan keluarga.


"Nis, aku mau nanya penting sama aku," ujar Ashila serius.


"Nanya apa? Kayaknya serius banget."


"Kamu kenapa gak bilang kalo kamu suka sama kak Azmi?"


Annisa membelalakan matanya lebar-lebar, darimana sahabatnya itu mengetahui itu semuan. "K-kamu tau dari mana?" tanya Annisa terbata.


"Maaf, aku gak sengaja kemaren baca buku diary kamu."

__ADS_1


Annisa menundukan kepalanya. "Aku minta maaf, Shil. Aku gak bermaksud buat khianat–"


Ashila memotong. "Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Nis. Harusnya sebagai sahabat, aku paham sama perasaan kamu. Maaf, ya." Ashila segera berhambur memeluk sahabatnya itu, Annisa pun membalasnya. "Nis, aku gak janji, tapi aku bakal berusaha buat deketin kalian," sambung Ashila.


Annisa melepaskan pelukannya. "Gak usah, lagi pula kak Azmi kan sukanya sama kamu, bukan sama aku."


"Aku kan udah nikah, Nis. Aku sama kak Azmi gak bakal bisa jadi pasangan. Kamu baik, cantik, pinter, kak Azmi pasti suka sama kamu. Dan aku juga baru tau, kalo kamu kenal sama kak Azmi itu jauh sebelum aku kenal kak Azmi."


"Emang kamu baca diary aku sampe selesai, ya?"


"Gak sih. Tapi aku liat, setiap halaman buku diary kamu itu, isinya gambar-gambar sketsa mukanya kak Azmi, cie..." goda Ashila sambil mencolek dagu sahabatnya itu.


Wajah Annisa memerah. "Apasih."


"Kak Azmi..." Ashila berteriak memanggil Azmi yang sedang berjalan menuju parkiran. Merasa dipanggil lelaki anak pemilik kampus itu pun berjalan menghampiri Ashila.


"Iya, ada apa, Shil?" tanya Azmi.


"Kak, tolong anterin Annisa pulang, ya, soalnya motornya Annisa lagi di bengkel." Ashila melihat jam di pergelangan tangannya. "Dan aku juga bentar lagi mau dijemput suamiku," ujar Ashila berbohong, padahal Rayhan belum tentu menjemputnya. Karena semenjak dirinya mengacuhkan Rayhan, ia tak ingin suaminya itu mengantar-jemputnya kuliah lagi.


"Apasih, Shil. E-enggak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri kok," tukas Annisa pada Azmi, gadis itu kemudian memelototi sahabatnya, sedangkan Ashila hanya tersenyum penuh arti.


"Gak papa, Nis. Ayo kita bareng aja, lagi pula kita juga searah," ujar Azmi.


"Iya, Nis. Lagi pula ini udah sore loh, aku takut kamu kenapa-napa, udah sana." Ashila mendorong pelan tubuh Annisa, tetapi sebelum itu, ia berbisik terlebih dahulu di telinga sahabatnya itu. "Sukses, ya."


"Apasih, Shil," balas Annisa.


***


Setelah kepergian Annisa dan Azmi, kini Ashila sedang berdiri di depan gerbang, gadis itu sedang menunggu ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya.


Tak lama kemudian sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di hadapan Ashila. Sang pemilik mobil itu keluar dari mobilnya dan menghampiri Ashila. "Sayang, ayo masuk," pinta lelaki itu pada Ashila.


"Gak. Aku udah pesen ojol tadi," ujar Ashila dingin.


"Say–"


Ucapan Rayhan terpotong karena sebuah motor berhenti di depan mobilnya.


"Dengan mbak Shila, ya?" tanya lelaki yang memakai jaket berwarna hijau itu.


"Iya, Pak. Ayo kita berangkat." Ojol itu memberikan helm pada Ashila.


Ketika Ashila akan memakainya, Rayhan langsung mengambil helm itu dan memberikan kembali pada ojol itu. Ia berbicara sesuatu dan memberikan beberapa lembar uang pada lelaki ojol. Setelah itu ojol itu pun pergi.


"Looh... Pak, kok malah pergi," teriak Ashila, gadis itu menatap tajam ke arah Rayhan. "Kamu apaan sih!"


"Ayo pulang, ojolnya juga udah pergi," ujar Rayhan lembut.


Ashila memberengut kesal, ia menghentakan kakinya di tanah dengan keras lalu masuk ke dalam mobil Rayhan.


***


Tetap tunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, komen, vote author juga ya, supaya aku semangat nulisnya.


Love you all.

__ADS_1


__ADS_2