Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 117 Sadar (2)


__ADS_3

"A-ashila…"


Deg!


Mendengar suara yang sangat tak asing memanggil namanya, sontak Ashila mendongakan kepalanya, ia langsung memencet tombol yang dapat menghubungi dokter dengan cepat. Selang berapa menit, dokter pun tiba.


"Dok, t-tadi suami saya megang kepala saya, Dok. Dia juga manggil saya."


"Akan saya periksa. Mbak silahkan keluar dahulu."


***


Setelah sekian lama menunggu dokter memeriksa Rayhan, akhirnya dokter pun keluar.


"Bagaimana, Dok?" tanya papa Yahya.


"Alhamdulillah… segala puji bagi Allah, pasien benar-benar sudah melewati masa kritisnya, mungkin tak lama lagi… pasien akan sadar."


Degh!


Papa Yahya terdiam sejenak, rasa kesedihannya hilang begitu saja. Lelaki paru baya itu berbalik dan langsung memeluk tubuh sang istri yang juga membekap mulutnya tak percaya.


Kayla dan Ashila saling berpelukan. Kayla sangat senang karena sang kakak benar-benar akan sadar. Sedangkan Ashila menangis terharu, gadis itu mengelus perutnya yang masih rata itu dengan penuh kasih. "Sayang, bentar lagi kamu bisa ketemu sama ayah," ujarnya berbatin.


Salah satu perawat keluar dari ruangan Rayhan. "Alhamdulillah, kini pasien sudah sadar, tadi pasien terus memanggil-manggil mbak Ashila," ucapnya.


"Terima kasih, Suster. Terima kasih, Dokter."


Seluruh keluarga segera masuk ke dalam ruang rawat Rayhan. Sedangkan Ashila, gadis itu hanya terdiam membeku, mencerna ucapan sang dokter. Sampai pada akhirnya ia tersadar dan segera berlari terburu-buru masuk ke dalam ruang rawat suaminya.


Rasa bahagianya tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata ketika Ashila melihat Rayhan sudah sadarkan diri dengan posisi tubuhnya sedikit bersandar pada dinding brangkar, walaupun tubuhnya masih terbaring. Alat pernapasan yang selalu menempel di hidungnya kini sudah terlepas. Memperlihatkan wajah Rayhan yang masih terlihat pucat, tetapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.


Satu persatu anggota keluarga memeluk Rayhan, mereka sangat bersyukur akhirnya lelaki itu akhirnya membuka matanya setelah hampir dua bulan lamanya.


Ashila berjalan pelan menuju brangkar Rayhan. Matanya tak teralihkan sedikitpun dari Rayhan. Sungguh, ia sangat-sangat merindukan suaminya itu.


"Mas…"


Rayhan melepaskan pelukannya dari sang mama ketika mendengar suara yang sangat tak asing memanggilnya, suara yang sangat ia rindukan. Lelaki itu menoleh.


"Shila…"


Suara lemah Rayhan mengalun lembut di telinga sang istri. Suara yang membuat jantung Ashila menggila di dalam sana. Dengan cepat Ashila menubrukan dirinya pada lelaki itu. Memeluknya dengan erat seakan tak ingin terpisahkan.


"Mas, hiks…"


Ashila kembali menitikan air matanya, ia benar-benar sangat bersyukur dan bahagia karena Tuhan telah mengembalikan suaminya kepadanya.


"Syutt… jangan nangis, aku ada di sini."

__ADS_1


Tangan Rayhan mengusap lembut punggung Ashila, bibirnya mengecup puncak kepala Ashila yang dibaluti kerudung berwarna pink.


"Aku seneng… akhirnya kamu sadar juga."


Ashila melepaskan pelukannya sebentar, mendongakan kepalanya, menatap suaminya dengan penuh cinta dan keteduhan.


Perlahan Rayhan mengecup kening Ashila penuh cinta. Kemudian lelaki itu menarik tengkuk Ashila, menyatukan dahinya dan dahi Ashila, bahkan hidung keduanya pun bertemu, sehingga menepiskan jarak di antara mereka. Sementara Ashila hanya tersenyum sambil memejamkan matanya.


Keduanya seperti tidak sadar akan situasi, dimana bukan hanya mereka berdua saja yang berada di ruangan itu. Namun, suara deheman membuat keduanya tersentak, Ashila segera menjauhkan wajahnya dari sang suami. Sedangkan Rayhan hanya mengusap tengkuknya sambil terkekeh pelan.


"Euu–"


Ucapan Rayhan terputus karena papa Yahya memotongnya.


"Sebaiknya kita keluar, kita kasih ruang buat Rayhan sama Ashila untuk melepas rindu satu sama lain."


Rayhan terkekeh pelan. "Sebenarnya tadi aku mau ngomong gitu, Pa."


Semuanya tertawa mendengar penuturan Rayhan. Lantas satu persatu mulai keluar dari ruangan hingga menyisakan Rayhan dan Ashila saja di dalam ruangan itu.


"Sayang, sini."


Rayhan menepuk sisi kasurnya sebelah kanan. Dirinya sudah menggeser tubuhnya ke kiri untuk memberi tempat untuk Ashila.


"Mau ngapain? Emang muat?"


Ashila menghembuskan napasnya pelan. Lalu ia pun segera mengambil posisi berbaring di sebelah Rayhan, menjadikan tangan kanan suaminya menjadi bantalannya.


"Mas."


"Hemm."


Ashila menyentuh kepala Rayhan yang tertutup perban. "Ini masih sakit gak?"


"Sedikit pusing doang, tapi gak papa kok."


Ashila mengangguk lalu menatap Rayhan dengan sendu.


"Kenapa?" tanya Rayhan.


"Maaf, ya. Gara-gara aku kamu jadi terluka kayak gini," ucap Ashila dengan penuh rasa bersalah.


"Syyuut... kamu ngomong apa sih! Harusnya aku yang minta maaf, karena udah banyak bikin kamu terluka di pernikahan kita ini." Rayhan mengelus puncak kepala Ashila. "Maaf, ya... karena aku belum jadi suami yang baik buat kamu," lanjut Rayhan.


"Aku yang minta maaf karena belum jadi istri yang baik dan sempurna buat kamu."


"Aku yang minta maaf," ujar Rayhan.


"Aku."

__ADS_1


"Aku."


"Ah! Udahlah. Pokoknya kita berdua saling minta maaf, kalo gak diudahin sekarang, pasti ujungnya bakal debat," ucap Ashila mengakhiri perdebatan.


Rayhan tersenyum. "Yaudah iya. tapi..."


"Tapi apa?"


"Aku kangen debat sama kamu. Yang paling dikangenin sih main perang-perang-perangan sama kamu." Rayhan menyeringai devil. "Atau kita main perang-perangan di sin–awww! Sakit, Yang." Rayhan mengaduh kesakitan saat Ashila mencubit dadanya.


"Siapa mesum. Baru sadar dari koma aja, kamu udah mesum aja, heran deh," ujar Ashila sambil memutar bola malas.


"Hehee... maaf, deh. Namanya juga orang kangen kan," ucap Rayhan sambil mengelus pelan pinggang Ashila.


"Oh, ya, Mas. Aku… ada kabar gembira buat kamu."


"Kabar gembira apa?"


"Aku…"


Rayhan mengernyit lalu mengulangi ucapan istrinya. "Aku…? Aku apa, Sayang."


"Sini, aku bisikin aja deh."


Ashila mendekatkan kepalanya pada telinga Rayhan seraya berbisik. "Aku… ha-mil."


Lelaki itu membelalakan matanya saat ucapan itu terlontar dari mulut Ashila. "Apa? Kamu serius, Sayang? Kamu…" Rayhan mengalihkan pandangannya menatap perut Ashila yang masih rata, "…kamu beneran hamil?"


"Iya, Mas, aku hamil, bentar lagi Mas akan jadi ayah," ujar Ashila tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi dan juga putih bersih.


"Subhanallah, Sayang. Akhirnya aku jadi ayah." Rayhan langsung berhambur memeluk Ashila dengan erat, kemudian lelaki itu mengecupi wajah istrinya habis-habisan. Rasa bahagianya tak dapat dibendung lagi. Hati Rayhan sangat berbunga ketika ia mendengar Ashila hamil, hasil benihnya sendiri.


"Mas, aku gak bisa napas, sesek nih." Ashila terlihat kesal.


"M-maaf, Sayang, abis… aku seneng banget," ujar Rayhan. "Oh, ya, usia kandungannya udah masuk berapa, Sayang?"


"Sekitar 10 mingguan, Mas."


Rayhan menyentuh perut Ashila. "Ini laki apa perempuan, ya? Kalo bayinya laki-laki namanya siapa, ya? kalo perempuan namanya siapa, ya?" monolog Rayhan.


Ashila hanya tersenyum melihat suaminya yang sangat terlihat bersemangat itu.


"Ya ampun, Mas. Masih kejauhan tau." Ashila menggeleng disertai kekehan pelan.


"Panggilannya nanti ayah-bunda aja, ya," ucap Rayhan antusias.


"Ya, ya terserah kamu."


***

__ADS_1


__ADS_2