
Malam telah menyapa, hawa dingin menerobos masuk melalui ventilasi-ventilasi udara rumah sakit, ditambah dengan gemericik-gemericik hujan, menjadikan malam ini terasa lebih mencekam.
Di dalam sebuah ruangan yang sangat khas dengan bau obat-obatan, seorang wanita seorang wanita yang terbaring lemah di atas brangkar.
Matanya sembab, wajahnya memucat, pikirannya melayang ke sana ke mari. Mengapa takdir baik tidak pernah berpihak kepadanya? Apakah ini adalah sebuah hukuman karena perbuatannya selama ini yang selalu menyakiti orang lain? Bahkan satu-satunya lelaki yang selalu ada untuknya pun pergi meninggalkannya.
Setelah mendengar diagnosa dokter tentang penyakit yang diidapnya, dunianya runtuh seketika. Dunianya memang sudah runtuh, tetapi kali ini benar-benar runtuh dan tak akan pernah bisa berdiri tegak kembali. Hatinya hancur sehancur-hancurnya.
"Kanker darah (leukimia)," lirihnya pilu ketika mengingat ucapan sang dokter yang mendiagnosanya beberapa jam yang lalu.
"Dari hasil pemeriksaan, anda mengidap penyakit leukimia dan sudah memasuki stadium dua."
Deg!
"Apa, Dok? Leukimia?"
Dokter yang sering disapa dengan dokter Elang itu mengangguk. "Leukimia terjadi akibat sel-sel di sumsum tulang tidak berkembang dengan normal, berbeda dari sel darah putih yang akan mati, sel leukimia terus hidup tetapi tidak membantu tubuh melawan infeksi dan malah menekan sel darah lain. Bila jumlahnya semakin bertambah, sel-sel leukimia akan masuk ke aliran darah dan menyebar ke anggota tubuh lainnya. Sel-sel tidak normal ini dapat menghalangi sel-sel normal dalam tubuh untuk berfungsi normal," jelas dokter itu.
"Tapi, Dok? Kenapa bisa? Selama ini saya tidak pernah merasakan gejala apapun?"
"Anda sering merasa sakit kepala dan pendarahan di hidung?"
Wanita itu mengangguk.
"Itu dua gejala dari beberapa gejala orang yang terkena kanker darah. Gejala lainnya yaitu tubuh mudah lelah, demam dan menggigil, mual dan muntah, sembelit atau susah buang air besar, sakit tenggorokan, sering berkeringat di malam hari, penurunan berat badan, muncul bintik merah pada kulit, nyeri sendi dan tulang, sesak napas, dan lain sebagainya."
"Selamat malam, Renata."
Mendengar seseorang menyapanya seketika membuat lamuna wanita itu–Renata buyar, ia menoleh. "Malem, Dok," ucapnya datar.
__ADS_1
Dokter itu–Elang tersenyum, ia pun mendudukan tubuhnya di kursi yang berada di samping brangkar Renata.
"Saya bawain makanan buat kamu, saya tau, makanan rumah sakit itu rasanya kurang enak. Jadi saya bawain buat kamu," ucap Elang sambil membuka sebuah paper bag yang berisi makanan. Ia membawa makanan itu dari rumahnya. Lelaki itu pun menyiapkannya
"Nih, udah saya siapin, kamu makan, ya?"
Renata tetap terdiam.
"Oh, kamu mau saya suapin, ya?"
Tangan Elang terangkat mengangkat satu sendok makanan dan mendekatkannya pada mulut Renata, namun wanita itu tetap terdiam.
"Kenapa?"
Elang hanya mendesah pelan karena Renata tak kunjung menjawabnya.
"Kamu gila, ya?" tanya Elang dengan wajah penuh keterkejutannya.
"Percuma aku hidup lagi, aku udah gak punya siapa-siapa lagi. Mama, papa, teman-temanku, bahkan laki-laki yang sangat kucintai pun–hiks, hiks." Wanita itu menumpahkan kesedihannya dengan air mata yang berderai. "Jadi biarkan aku mati saja." Renata kembali mengambil pisau itu dari tangan Elang, namun sebelum itu Elang sudah membuangnya jauh-jauh.
"Heh!" Elang menatap Renata dengan sinis. "Kamu pikir… setelah kamu mati, semuanya selesai? Kamu pikir semua perbuatan kamu itu tidak akan dipertanggungjawabkan nanti di atas sana? Seharusnya… dengan Tuhan memberimu penyakit seperti ini menjadikanmu sadar akan semua kesalahan-kesalahan yang kamu lakukan, menjadikanmu lebih baik lagi. Saya gak nyangka pikiran kamu serendah itu!" ucap Elang dengan sorot mata tajam.
Renata menundukan kepalanya, tangannya memeluk lutut, menutupi wajahnya di antara dua lututnya itu. "Dari dulu... hidup aku sudah cukup menderita," ucapnya pelan.
Renata adalah anak broken home, orang tuanya sudah memiliki kehidupan masing-masing, papa dan mamanya bercerai saat Renata duduk di bangku sekolah dasar. Renata ikut dengan papanya tinggal di luar negeri, sedangkan mamanya sudah menikah lagi dan tidak memperdulikan Renata.
Ketika menginjak bangku SMA, papa Renata menikah lagi, dari awal menikah, mama tiri Renata sudah menunjukan rasa ketidaksukaan pada gadis itu, tak jarang mama tirinya itu sering menyiksa Renata ketika suaminya tidak ada.
Karena tidak kuat menahan siksaan dari sang mama tiri, Renata pun memilih untuk tinggal di Indonesia, hidup sendiri. Meskipun begitu, papanya selalu mengirimnya uang setiap bulan, itulah sebabnya Renata tak pernah kekurangan materi. Tetapi bukan materi saja yang Renata inginkan, ia ingin perhatian dan juga kasih sayang dari orang-orang yang ia cintai.
__ADS_1
Di Jakarta, berkuliah di salah siatu universitas terkenal, di tempat itulah awal pertemuannya dengan Rayhan, lelaki yang sangat dicintainya itu.
Hidup Renata diliputi penuh kebahagiaan ketika bersama dengan Rayhan. Rayhan selalu memberinya kebahagiaan dan kenyamanan walaupun hubungan mereka tidak disetujui oleh kedua orang tua Rayhan.
Sampai pada akhirnya Renata serakah dan berkhianat. Karena kesepian, Ia berselingkuh dengan Smith, seorang bule asal Belanda karena Rayhan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan kuliahnya.
Hari-hari terus berlalu, Renata akhirnya menikah dengan bule asal negeri kincir angin itu. Namun, setelah setahun pernikahannya, ia berpisah dengan Smith, karena suaminya itu mengkhianatinya. Mungkin inikah yang dimaksud dengan karma.
Perlahan Elang memegang tangan Renata, lalu merengkuh wanita itu masuk ke dalam dekapannya.
Renata menumpahkan kesedihannya dalam dada bidang dokter berumur tiga puluh tahun itu. Elang hanya terdiam, sesekali mengusap lembut punggung wanita Itu yang masih terus menangis, ia berusaha menenangkan wanita itu.
"Jika kamu tidak ingin hidup untuk orang lain, setidaknya hiduplah untuk dirimu sendiri. Jadilah pribadi yang lebih baik, karena kebahagiaan itu kita yang buat. Jangan pernah merasa sendiri. Saya akan membantumu," ujar Elang
Beberapa menit kemudian, Renata melepaskan pelukannya.
"Maaf, terima kasih karena sudah menyemangatiku," lirih Renata sembari melepas pelukannya, ia menatap dokter Elang sambil tersenyum tipis.
Dokter Elang membalas senyuman Renata, lalu menghapus air mata Renata dengan tangannya.
"Entah kenapa, sorot matamu mengingatkanku pada seseorang," batin lelaki itu.
***
Maaf, ya baru up lagi, saya akhir-akhir ini sibuk banget, kalau ingin tahu cerita kelanjutannya, tetap tunggu aja, ya.
Jangan lupa like, komen, vote author juga supaya authornya semangat nulisnya.
Maaf dan terima kasih😊😊😊
__ADS_1