Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 58 Bikin Baby


__ADS_3

Rayhan menuntun Ashila ke sebuah meja bulat dengan dua kursi berhadapan, di atas meja itu ada sebuah lilin yang dibiarkan menyala, dua gelas tinggi dan beberapa rangkaian bunga segar yang ditaruh di dalam sebuah pot botol transparan, serta beberapa kelopak mawar merah yang ditabur begitu saja.


"Yaudah kita duduk, yuk." Rayhan menarik sebuah kursi agar Ashila mendudukinya kemudian ia menarik kursinya sendiri. Uhh! Romantisnya.


Rayhan menepuk tangannya sebanyak dua kali mengisyaratkan kepada para pramusaji agar membawakan makanan yang sudah Rayhan pesan sebelumnya.


Tak lama kemudian, tiga orang pramusaji membawa dan menghidangkan makanan di atas meja, makanan yang sampai satu meja penuh itu membuat Ashila tak percaya, siapa yang akan memakan makanan sebanyak ini?.


"Mas, ini gak berlebihan?"


"Nggak, Sayang."


"Tapi ini makanannya banyak banget, siapa yang makan?"


"Yah kamu makan yang kamu mau aja, sisanya nanti bisa dikasih ke orang lain."


"Iya, kamu bener."


"Sayang, sebelum kita makan, aku pengen ngomong sesuatu dulu sama kamu."


"Ngomong aja, Mas."


Rayhan memegang tangan Ashila.


"Happy brithday, My wife. Aku tau, seharusnya aku ngucapin ini waktu tanggal tiga belas itu…


"Terus kenapa gak ngucapin waktu itu," potong Ashila cepat.


"Aku kan belum selesai ngomong, kamu langsung potong aja," kesal Rayhan.


"Hee… maaf, Mas, abis aku tuh kesel sama kamu, semua orang pada ngucapin selamat sama aku, tapi kamu…"


"Yah makanya dengerin aku dulu." Rayhan langsung memotong ucapan Ashila.


"Iya aku dengerin," ucap Ashila sambil menatap Rayhan serius.


"Jadi sebenernya aku mau ngasih kejutan ini di hari ulang tahun kamu sambil ungkapin perasaan aku sama kamu, tapi gara-gara kesalahpahaman itu, semuanya gagal total."


"Aku kira kamu gak tau hari lahir aku, Mas."


"Apasih yang aku gak tau tentang kamu, nomor daleman kamu aja aku tau," goda Rayhan.


"Ih udah mesum, sok tau lagi, tau dari mana nomor daleman aku?"


"Kan pernah megang waktu itu."


"Ih udah ah, mending kita makan, aku udah laper, Mas."


"Baiklah istriku."


Mereka pun segera melahap beberapa menu makanan yang tersaji di atas meja. Dengan romantisnya Rayhan menyuapi Ashila, begitu pun sebaliknya dengan manjanya Rayhan meminta Ashila untuk menyuapi dirinya.


Malam pun semakin larut, setelah cukup lama bermanja-manja dan berbincang romantis, mereka pun memutuskan untuk pulang.


***

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Mas, aku boleh nanya gak?" tanya Ashila


Rayhan menoleh sebentar ke arah Ashila sebelum akhirnya ia fokus kembali melihat ke depan.


"Boleh, Sayang."


"Sejak kapan kamu punya perasaan sama aku?"


"Kalo kamu?"


"Aku kan nanya sama kamu, kok malah nanya balik sih?"


"Mmm… kasih tau gak, ya."


"Kasih tau dong."


Rayhan menghela napasnya dahulu sebelum ia menjawab pertanyaan dari istrinya itu. "Sayang, aku gak tau kapan aku jatuh cinta sama kamu, awalnya aku memang benci dengan pernikahan ini, tapi seiring berjalannya waktu dan kita juga sering bersama aku ngerasa nyaman dengan kehadiran kamu di sisi aku, mungkin dari rasa nyaman itulah ajh aku jatuh cinta sama gadis galak kayak kamu," jelas Rayhan.


"Apa kamu bilang? Aku galak? Kamu tuh yang tukang maksa," ucap Ashila sambil mendengus.


"Walaupun tukang maksa, tapi cinta, 'kan?" goda Rayhan sambil mengerlingkan matanya membuat gadis itu merona.


***


Setelah membersihkan diri, Rayhan dan Ashila pun segera merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur.


"Mas."


"Iya, Sayang."


"Makasih ya buat hari ini, makasih kejutannya, aku seneng banget."


"Udah kewajiban aku untuk selalu bikin kamu bahagia," ucap Rayhan sambil mengelus rambut Ashila dengan lembut.


Ashila menatap wajah tampan Rayhan dengan intens, tatapannya beralih pada bibir Rayhan yang terlihat sangat sexy di matanya itu. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Rayhan lalu mengecup benda kenyal itu tiba-tiba membuat sang empu terkejut dan mematung, karena pasalnya istrinya itu tidak akan berinisiatif mencium duluan jika dirinya tak menyuruhnya.


Pada saat Ashila akan menjauhkan bibirnya, Rayhan sudah lebih dahulu menarik tengkuknya dan mencium bibir Ashila, memagutnya dengan penuh kelembutan, karena Ashila tak kunjung membalasnya, ia menggigit bibir bawah istrinya itu pelan, membuat sang empu mendesis dan membuka mulutnya, Rayhan hanya terkekeh sambil terus memainkan benda kenyal itu.


Dua menit kemudian, Rayhan pun menghentikan ciumannya, karena Ashila terus memukul dadanya.


"Huuh… huuuh." Ashila menghembuskan napasnya yang terengah-engah. "Kamu mau bikin aku kehabisan napas?" kesal Rayhan.


"Maaf, Sayang, abis bibir kamu lembut banget," ucap Rayhan sambil mengelus bibir Ashila lembut. "Kamu juga sih yang duluan mancing aku," goda Rayhan.


Ucapan Rayhan langsung sukses membuat kedua pipi istrinya itu merona, Ashila pun segera membalikan tubuhnya membelakangi Rayhan, membuat pria itu merasa gemas.


Rayhan pun segera mendekati Ashila memeluknya dari belakang, tangannya menelusup ke dalam baju tidur sang istri lalu mengelus perutnya dengan lembut, membuat sang empu merasa geli.


"Udah, Mas, geli tau gak." Ashila memegang tangan Rayhan yang masih bergerilya di perutnya itu.


"Kamu harus terbiasa, Sayang, apalagi kalo di perut kamu ini, ada buah cinta kita."


"Maksud kamu bayi?"

__ADS_1


"He'em."


Ashila pun membalikan tubuhnya ke arah Rayhan, dan kini mereka pun kembali saling berhadapan.


"Kamu ingin punya anak, Mas?"


Rayhan merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya itu.


"Semua orang yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak, Sayang, begitu juga aku, memangnya kamu gak mau punya anak?" tanya pria itu.


"Ya… ya aku juga ingin punya anak."


"Apa kamu mau kita melakukannya malam ini?"


Tiba-tiba jantung Ashila berdebar kencang, ia tahu dengan jelas bahwa ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri, tetapi dirinya masih merasa belum siap untuk ini.


"T-tapi aku masih takut, Mas," ucap Ashila terbata lalu menggigit bibir bawahnya pelan.


"Terus kamu tega sama aku yang harus nunggu lama lagi?" Rayhan menatap Ashila intens, dari sorotan matanya ia dapat melihat bahwa istrinya itu sangat gugup. "Tapi kalo kamu belum siap, gak papa kok, aku gak maksa," sambungnya.


Apa yang dikatakan suaminya itu benar, seharusnya Ashila merasa berdosa karena belum memberikan hak itu pada suaminya dari awal mereka menikah, pasti dirinya akan sangat berdosa jika menolak permintaan suaminya itu dan harus membuat Rayhan menunggu lagi.


"Yaudah, insyaallah aku siap, Mas," ujar Ashila menahan malu.


"Kamu serius?"


Ashila mengangguk lalu memejamkan matanya, hingga pada detik berikutnya ia dapat merasakan bibirnya hangat karena ada sesuatu yang bermain di bibirnya.


***


Assalamu'alaikum wr. wb


Saya ingin mengucapkan "MINAL 'AIDIN WALFA'IZIN".."MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN😁"


Mata sering sekali salah dalam melihat...


Mulut sering sekali salah berucap...


Hati sering sekali salah menduga...


Dengan niat suci tulus dan ikhlas. Mohon maaf lahir dan batin ya🙏...


Maafkan saya dan keluarga jika ada salah.. yang disengaja maupun yang tidak di sengaja


Anak melayu mengali ikan...


Perahu berlabuh ditengah lautan...


Sambil menunggu datangnya lebaran...


Pesan maaf kami sampaikan


Minal aidin walfaizin...


Semoga kita bisa bertemu di ramadhan berikutnya..aamiin..🙏

__ADS_1


Wassalamu'alaikum wr. wb🙏


Jangan lupa THR-nya kawan-kawan😂😂😂


__ADS_2