Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 120 Pergi


__ADS_3

Sore ini Rayhan akan pulang dari rumah sakit. Karena Rayhan sudah merasakan tubuhnya sehat, hanya saja kaki kanannya kadang terasa nyeri, jadi ia harus berjalan dengan bantuan tongkat.


"Mas, beneran mau pulang? Kakinya masih sakit loh?" tanya Ashila sambil melipat selimut yang berada di atas brangkar.


"Iyalah, Sayang, aku udah terlalu lama di tempat kayak gini, bosen tau. Lagian bisa lanjut terapi di rumah," balas Rayhan.


Pintu ruangan terbuka menampilkan Kayla yang berjalan masuk sambil membawa kantong kresek di tangannya. "Kak, ini pesenan rujaknya," ujar Kayla.


Mata Ashila berbinar, ia pun mengambil kantong kresek itu dari sang adik ipar. "Makasih, ya, Kay."


Kayla mengangguk. "Oh, ya, handphone aku di mana, ya? Tadi kan lowbet, soalnya mau aku cas."


"Tuh di dalem lemari," ucap Rayhan sembari menunjuk nakas di sampingnya.


Kayla mengambil ponselnya yang berada di dalam nakas, kemudian mendudukan bokongnya di sofa yang berada di ruangan itu. Setelah menghubungkan kabel power bank dengan ponselnya, ia pun segera menghidupkan benda pipih itu.


"Kay, mau enggak?" tanya Ashila memperlihatkan rujak yang tadi dibeli oleh Kayla.


"Ah! Enggak, Kak. Kakak aja yang makan," tolak Kayla.


Tring! Tring! Tring!


Baru saja ponselnya hidup, banyak sekali notifikasi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari teman-temannya dan tante Karina.


"Kok banyak banget sih pesan dan telepon dari anak-anak, ada tante Karin juga," gumam Kayla.


Gadis itu pun membuka salah satu pesan dari Farel.


Farel :


Azka bakal pergi ke luar negeri, penerbangannya jam tiga.


Deg!


Kayla membelalakan matanya membaca pesan dari sahabatnya itu. Jantungnya bersedegup sangat kencang.


"J-jadi, Azka beneran pergi?"


Ditatapnya jam di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 14.52 WIB.


"Kayla pergi dulu, nanti Kay langsung pulang ke rumah."


Secepat kilat Kayla menyambar tasnya dan memasukan ponsel beserta power bank-nya ke dalam sana, ia pun segera berlari keluar dari ruang rawat Rayhan tanpa peduli teriakan-teriakan dari kakak dan kakak iparnya.


Sesampainya di gerbang rumah sakit, Kayla segera menghentikan taksi. Tanpa bas-basi lagi ia segera naik ke dalan taksi tersebut.


"Bandara, Pak," ucapnya dengan wajah cemas. "Ngebut, ya, Pak."

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup sangat kencang, keringat sudah bercucuran di pelipisnya. Ia berharap semoga dirinya bisa datang ke bandara tepat waktu, walaupun dirinya nanti tidak bisa mencegah Azka untuk pergi, setidaknya ia bisa mengungkapkan perasaannya pada lelaki itu.


Kayla mengambil ponselnya dari tas, ia segera mencari kontak Azka di benda pipihnya itu. Setelah menemukannya, tanpa buang waktu lagi, Kayla segera meneleponnya.


"Plis, Ka. Angkat telepon gue…"


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi."


Kayla mematikannya, kemudian menelepon kembali.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi."


Gadis itu tidak patah semangat, ia pun segera menelepon nomor Azka kembali. Namun jawabannya tetap sama, hanya suara operator yang terdengar. Kayla mendesah kecewa lalu meletakan benda pipih itu di sampingnya. Gadis itu menangis dalam diamnya, menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Kayla tersentak saat mobil taksi yang ia tumpangi berhenti. "Udah nyampe, ya, Pak," ucap Kayla seraya tersenyum.


"Belum, Neng. Jalanan macet," jawab pak supir.


"Emang gak–"


Ucapan Kayla terhenti saat ponselnya berdering pertanda ada telepon masuk. Mungkin itu Azka, pikirnya. Ia pun segera mengangkat telepon itu.


"Iya, halo, Ka. Lo jangan pergi dulu, ya. Gue cinta sama lo," ucap Kayla tanpa jeda sedikit pun.


"Ini gue Farel, Kay."


"Rel, gue mau ke bandara. Gue mau cegah–"


"Terlambat, Kay. Azka udah pergi dari lima menit yang lalu!"


Deg!


"A-apa? Jadi Azka udah pergi," lirih Kayla.


Seketika gadis itu langsung menangis dengan berjuta penyesalan, andai saja tadi pagi ia tidak mendiamkan Azka, andai saja ia mengungkapkan semua perasaan yang ia rasakan, andai saja egonya tidak sebesar cintanya pada lelaki itu, pasti ini tidak akan terjadi. Tetapi apalah arti semua ini, semuanya sudah terlambat, hanya rasa penyesalan yang membuncah dalam hatinya sekarang.


***


Kayla berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya. Di ruang keluarga, sudah ada mama, papa, Rayhan dan Ashila yang sedang berbincang-bincang, entah apa yang mereka bicarakan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam…"


"Itu Kay udah pulang tuh, Ma," celetuk Rayhan yang sedang mengelus-elus perut Ashila yang sedikit membuncit.


"Ah, iya. Kamu dari mana aja, Nak. Kok jam segini baru pulang?"

__ADS_1


Kayla terdiam tak menjawab, ia terus berjalan menuju lantai dua tanpa peduli teriakan-teriakan yang terdengar dari ruang keluarga.


Sesampainya di kamar, Kayla menangis tersedu-sedu, hingga membuat tubuhnya merosot ke lantai dan terguncang hebat, ia menutupi parasnya dengan kedua tangannya.


Kayla mendongakan kepalanya kala mendengar seseorang menggedor-gedor pintunya. Ia hanya terdiam, tatapannya beralih pada bandul kalung berinisial A yang menjuntai di dadanya, ia menggenggamnya.


"Gue tadi beliin ini buat lo.!"


"Inisialnya nama lo."


"Iya, supaya lo inget terus sama gue. Kalo lo kangen sama gue, lo cium kalung ini aja. Pasti gue bakal dateng."


"Hiks, hiks…" Kayla menangis pelan kala mengingat kata-kata Azka sewaktu memberikan kalung itu padanya.


"Kay, kamu nggak papa kan, Nak?" Di luar pintu, Mama Putri terus mengetuk-ngetuk pintu kamar gadis berumur 17 tahun itu, wanita paru baya itu merasa khawatir dengan keadaan putri bungsunya.


"Kay, kamu denger mama, 'kan? Buka pintunya, Sayang, jangan buat mama khawatir."


Kayla segera menghapus air matanya, ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu. Lalu membukanya.


"Sayang, kamu nggak papa, 'kan?" tanya mama Putri khawatir.


Kayla langsung berhambur memeluk mamanya, menumpahkan segala kesedihannya dipelukan wanita paru baya itu.


"Menangislah, Sayang, kalo itu bikin kamu tenang." Mama Putri mengelus-elus puncak kepala anaknya itu


Setelah cukup lama, tangis Kayla mulai mereda, gadis itu mulai menguasai dirinya, napasnya semakin teratur. Perlahan, ia jadi lebih tenang.


"Udah tenang? Ayo cerita sama mama, anak kesayangan mama ini kenapa hem?" tanya mama Putri lembut. Wanita paru baya itu merangkul anak bungsunya untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Dia… dia pergi, Ma, dia pergi ninggalin Kayla."


Mama Putri mengernyit. "Dia siapa, Sayang? Mama gak paham."


"Azka pergi, Ma. Dia pergi ninggalin, Kay."


"Syuut... Sayang, Azka pergi pasti punya alasan, Nak–"


"Tapi dia nggak pernah bilang alasan dia pergi, Ma. Mungkin dia pergi karena benci sama Kay, dia gak mau liat Kay lagi," potong Kayla.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, Nak. Mama yakin Azka pasti balik lagi. Kamu sayang dia, kan?"


Kayla mengangguk.


"Kalo kamu sayang sama dia, cukup kamu doakan, doakan yang terbaik untuk dia. Yaudah, sekarang kamu bersih-bersih gih, udah gitu kita makan malem bareng," ujar mama Putri.


"Iya, Ma."

__ADS_1


__ADS_2