
"Adeek..."
Suara wanita paru baya menongolkan kepalanya dari sebuah pintu kamar yang tak jauh dari ruang tamu itu, hingga Kayla serta Azka menoleh pada sosok wanita itu tengah membuka pintu, lalu menghampiri keduanya yang masih bercekcok mulut.
"Ada apa sih, Dek, mami denger berisik banget?" tanya wanita yang menyebut dirinya dengan sebutan 'Mami' itu.
"Maafin Azka ya, Mi, Mami keganggu ya istirahatnya," ucap Azka merasa bersalah sambil merangkul bahu ibunya itu.
Wanita paru baya itu menatap Kayla. "Ini, siapa, Dek?" tanya-nya pada Azka.
"Dia_"
Kayla memotong. "Halo, Tante, nama aku Kayla," sapa Kayla sambil mencium tangan wanita paru baya itu, kira-kira umurnya sekitar empat puluhan.
"Hai, Kayla, nama tante Karina, panggil aja tante karin," ucap Karina sambil tersenyum lembut. "Oh ya, kamu temen sekolahnya Azka, ya?"
Kayla mengangguk. "Iya, Tante."
"Wah tante seneng banget, Azka ini jarang banget bawa temen perempuannya ke rumah ini, kayaknya kamu yang pertama."
Kayla melirik sebentar pada Azka, lalu beralih kembali pada Karina. "Oh ya, masa sih, Tan?"
"Iya, dari dulu itu_"
"Mi, Mami kan lagi sakit, mending Mami aku anter ke kamar yuk, Mami harus istirahat." Azka langsung memotong pembicaraan Karina, karena ia tak menyukai jika maminya itu membicarakan tentangnya kepada orang lain, apalagi Kayla, yang kemungkinan akan menjadi rival-nya itu.
"Dek, mami kan masih pengen ngobrol sama Kayla, lagi pula di kamar bosen, gak ngapa-ngapain."
"Tapi Mami harus istirahat, Azka gak mau loh Mami sakitnya kambuh lagi."
"Iya, Tante, Tante harus istirahat," ucap Kayla menimpali perkataan Azka. "Lagi pula Kayla juga harus pulang, soalnya udah sore juga."
"Oh, gitu, ya, padahal tante masih pengen ngobrol-ngobrol sama kamu." Karini mengusap lembut puncak kepala Kayla.
"Kapan-kapan Kay bakal maen ke sini lagi kok, buat modus ke kak Azmi," lanjut Kayla dalam hati.
"Yaudah, Dek, anterin Kayla gih," ucap Karina pada Azka.
"Eeu... nggak usah, Tante, Kayla bisa pulang sendiri kok, kalo gitu Kayla pulang dulu, ya, Tan," ucap Kayla, gadis itu mencium tangan Karina terlebih dahulu sebelum akhirnya ia berlalu pergi.
"Dek, sana gih, anterin Kayla," titah Karina pada anak bungsunya itu.
"Males ah, Mi, lagi pula dia juga bisa pulang sendiri kok."
Karina mendorong pelan bahu Azka. "Gak boleh kayak gitu ih, anterin sana."
"Yaudah, iya, aku anterin dia pulang." Azka akhirnya mengiyakan perintah maminya, walaupun raut wajahnya masih terlihat ogah-ogahan jika harus mengantarkan pulang gadis pemarah itu.
Azka mencium tangan Karina sebentar, kemudian berlalu pergi menuju luar rumah.
***
"Ayo naik!"
"Lo ngomong sama gue?" tanya Kayla menautkan alisnya kebingungan.
"Bukan, gue ngomong sama pohon di belakang lo," jawab Azka asal, Kayla pun menoleh menatap pohon cemara di belakangnya.
"Lo ngapain ngomong sama pohon?"
Azka mendengus.
"Aduh, lo kalo oon jangan dipelihara dong, ya gue mau anterin lo pulang lah."
__ADS_1
Kayla mengernyitkan keningnya.
"T-tapi lo jangan geer dulu, gue anterin lo karena dipaksa sama mami, kalo bukan karena mami, gue ogah banget nganterin lo," ucap Azka yang tau apa yang ada di pikiran gadis itu.
Kayla menatap Azka sejenak, pikirannya menimbang apakah ia akan menumpang pada lelaki yang menurutnya songong itu atau tidak, jika dirinya tidak ikut menumpang, maka akan dipastikan sampai di apartemen kakaknya itu larut malam nanti, karena jarak menuju tempat yang kini ditempatinya itu berjarak sekitar tiga kilometer.
"Lo butuh waktu berapa jam lagi buat mikir? Ayo cepet naik, sebelum gue berubah pikiran."
"Iya-iya gue naek sekarang."
Sebelum Kayla menaiki motor, Azka memnyodorkan sebuah helm cadangannya pada gadis itu, dan satu lagi ia pakai.
"Ini gimana pakenya sih."
"Sini coba."
Kayla terdiam saat Azka memakaikan helm di kepalanya, matanya menatap lekat wajah Azka dari jarak dekat, lalu, netra keduanya bertemu, saling menatap satu sama lain.
Suara kendaran yang lewat langsung membuat keduanya tersadar, dan saling memalingkan wajah ke arah lain.
Azka pun segera menaiki motornya dan menyalakan mesin motor sport kesayangannya itu.
"Ayo cepet naik, entar keburu magrib," ujarnya pada Kayla.
"Iya-iya."
***
Di tengah perjalanan, keduanya hanya diam, tak ada yang berbicara sepatah kata pun, entah karena canggung atau apa, Azka fokus melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sedangakan Kayla tengah sibuk berpegangan pada jok belakang karena posisinya yang terus melorot ke arah Azka.
Azka menatap spion sejenak, ia melihat gadis yang berada di belakangnya itu tengah kebingungan, sepertinya mencari pegangan yang nyaman, pikir Azka.
"Lo kalo mau pegangan, pegang aja bahu gue atau pinggang gue, daripada elo entar nyungsep di tengah jalan, gue juga kan yang repot," ucap Azka.
Kayla tidak menghiraukan perkataan Azka, tangan gadis itu tetap berpegangan pada jok belakang motor sport itu.
Lelaki itu diam-diam tersenyum tipis.
"Lo sengaja, ya, nyari kesempatan dalam kesempitan?" ucap Kayla sambil memukul bahu Azka, namun bagi Azka itu hanya sentuhan.
"Makanya pegangan!"
"Ogah!"
"Yaudah, sekarang gue mau ngebut, ya."
Brum!
Ada sedikit ketakutan dalam diri Kayla, Azka pasti akan ngebut, jika dirinya tidak berpegangan pada lelaki itu, bisa dipastikan dirinya akan terjatuh.
"Serius gak mau pegangan?" tanya Azka sambil menoleh ke arah Kayla.
Azka melihat ekspresi Kayla sangat ketakutan, lelaki itu merasa gemas melihatnya, Azka tersenyum tipis namun tak terlihat oleh Kayla karena tertutup oleh helm.
"Kalo takut ya pegangan!"
Azka menarik kedua tangan Kayla sehingga melingkar di perutnya, membuat gadis itu terkejut.
"E-eh."
Pada saat Kayla akan menarik tangannya, Azka langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
Semakin kencang Azka melajukan motornya, semakin erat pula Kayla memeluk lelaki itu.
__ADS_1
Saat di tengah perjalanan, Azka baru sadar jika dirinya tidak mengetahui tempat tinggal Kayla.
"Rumah lo dimana?" tanya Azka dengan suara keras karena tertutup oleh helm dan suara angin.
"Hah?" tanya Kayla tak kerasnya.
"Rumah lo dimana? Gue gak tau," ucap Azka sambil terus menjalankan motornya.
"Apa sih? Gue gak denger!"
Cekiiit!
Azka mengerem mendadak membuat Kayla terbentur helm-nya, gadis itu tetap mengaduh kesakitan, walaupun kepalanya memakai helm juga.
"Rumah lo dimana? Budek banget sih!"
Pletakk!
"Adaw!" pekik Azka saat Kayla memukul helm-nya dengan sekuat tenaga, kepalanya terhuyung ke samping.
"Ya elo kenapa gak berhenti dulu tadi, dasar ogeb! Ya gue gak denger lah gara-gara suara angin," kesal Kayla
"Kenapa jadi marahan dia sih? Harusnya kan gue yang marah," ucap Azka pelan.
"Gue denger ogeb!" ketus Kayla sambil memutar bola mata malasnya.
"E-eeh."
"Yaudah, rumah lo dimana?" kali ini Azka berbicara lembut.
"Udah jalan aja, entar gue arahin!"
Azka pun mengangguk mengiyakan.
***
Kini Azka dan Kayla sudah sampai di depan gedung apartemen
"Yaudah lo pulang sana!"
Azka mendengus kesal. "Lo jadi cewek gak ada akhlak banget, bilang makasih kek, apa kek."
"Yaudah makasih," ucap Kayla lalu beranjak dari hadapan Azka.
"Woi!!" teriak Azka.
"Kenapa lagi sih? Gue kan udah bilang makasih tadi!!"
"Itu helm gue mau lo bawa pulang? Enak aja lo, sini balikin!" ucap Azka sedikit berteriak sambil mengulurkan tangannya.
Kayla yang menyadari masih ada helm Azka di kepalanya, gadis itu langsung melepaskan helm-nya. Ia tersenyum kikuk menahan malu, sepertinya urat malu yang biasanya putus tersambung kembali.
"Hehe... iya lupa," ucap Kayla sambil menyodorkan helm hitam itu kepada Azka, lelaki itu pun menerimanya.
Setelah helm diterima, Azka langsung menyalakan mesin motornya kembali.
"Yaudah gue balik, bye... jangan rindu, berat, biar Dilan aja," ujar lelaki itu berlalu pergi.
"Serah lo deh!" teriak Kayla, tetapi, gadis itu diam-diam tersenyum.
***
Hai gengs, istrinya Sehun datang lagππ becanda doang gays...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, budayakan komennya juga ya..
Thank you for all..