Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 91 Ditembak?


__ADS_3

Hai…


Kemaren aku baca-baca komenan kalian loh, pada greget yah sama kisah Rayhan, Ashila dan Renata. Kapan sih si Renata ketahuan? Kapan sih Ashila sama Rayhan baikan? Dan masih banyak lagi.


Ini tuh masih tahap awal masalah rumah tangga Rayhan dan Ashila, intinya Rayhan sama Ashila bakal sedih-sedihan dulu deh, tapi jangan panik, aku tetep bikin mereka happy ending kok.


Intinya selalu ikutin kelanjutannya ceritanya ya, walaupun author updatenya sehari sekali atau dua hari sekali.


Happy reading…


\*\*\*


"Kamu mau tetep tidur di kamar sebelah?" tanya Rayhan setelah mereka sampai di kamar Rayhan, kamar yang sudah empat hari ini tidak ditiduri Ashila.


"Hemm." Ashila hanya berdehem menatap wajahnya di layar cermin, gadis itu sedang memakai cream perawatan yang biasa ia pakai setiap malam.


Rayhan menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur. "Emang kamu gak kangen sama aku? Tau gak, kasur kamar ini jadi dingin gara-gara gak ada kamu," ucap Rayhan sendu.


Ashila tak menjawab apapun, gadis itu berjalan keluar kamar meninggalkan Rayhan yang hanya menatapnya sendu.


"Huft… oke setelah tes DNA itu selesai, gue gak akan kesepian lagi di kamar ini," batin Rayhan.


***


Waktu menunjukan pukul 22.30 WIB, tetapi Rayhan belum juga memejamkan matanya. Lelaki itu tampak uring-uringan, ia tidak bisa tidur.


Ayolah! Rayhan tak terbiasa tidur tanpa Ashila, guling bernyawanya itu. Ia terlalu nyaman tidur sambil memeluk tubuh istrinya itu.


Sehari dua hari mungkin ia masih bisa menahan itu semua, tetapi ini sudah hari ke empat Ashila tak tidur bersamanya.


"Akh!" teriak Rayhan frustasi, lelaki itu menghembuskan napasnya kasar, ia terbangun dan menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur.


"Shila udah tidur belum, ya?" gumam Rayhan.


Rayhan pun segera beringsut dari kasur dan berjalan keluar kamar menuju kamar istrinya.


Sesampainya di sana, ia berdiri sejenak di depan kamar, lelaki itu berpikir apakah dirinya akan masuk atau tidak, ia takut jika ia masuk dan Ashila melihatnya, pasti istrinya itu akan langsung mengusirnya.


Tetapi rasa rindu, pelukan, kecupan, dan dekapan itu sudah sangat membuncah dalam hati Rayhan.


Rayhan menghembuskan napasnya panjang, ia akan tetap masuk ke dalam kamar itu, tidak peduli jika nanti istrinya itu akan marah atau apa.

__ADS_1


Ceklek!


Rayhan memasuki kamar Ashila dan menutupnya kembali dengan hati-hati, terlihat di sana Ashila sudah tertidur pulas.


Rayhan berjalan mengendap-ngendap dengan langkah sepelan mungkin menghampiri Ashila yang sudah tertidur pulas itu. Perlahan lelaki itu naik ke atas tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Ashila.


"Sayang, aku kangen banget sama kamu," gumam Rayhan.


Dengan hati-hati Rayhan mengelus rambut Ashila, kemudian memeluk tubuh istrinya itu dari belakang, lelaki itu menghirup dalam-dalam aroma shampo yang tercium dari rambut sang istri.


"Setelah tes DNA dilakukan, kita akan kembali kayak dulu lagi," batin Rayhan sambil terus mengelus rambut sang istri.


Sejenak lelaki itu berpikir sesuatu. "Tapi jika tes itu membuktikan kalo… nggak-nggak, itu gak akan pernah terjadi, gue cuman pengen punya anak dari rahim Ashila, dan gue juga gak akan pisah dari Ashila." Rayhan menggeleng pelan, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang mulai bergentayangan di otaknya.


Lelaki yang berumur 27 tahun itu tersentak kaget kala merasakan pergerakan Ashila, istrinya itu akan membalikan tubuhnya. Rayhan menutup matanya rapat-rapat, ia pasrah jika akan mendapatkan pukulan, cubitan dan lainnya dari sang istri karena telah lancang masuk ke dalam kamarnya.


Satu menit berlalu, Rayhan belum juga merasakan pukulan, cubitan, bahkan suara ketus Ashila, tetapi ia hanya merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya.


Perlahan lelaki itu membuka matanya, terlihat Ashila masih tertidur dengan wajah damainya, dengan tangan memeluk dirinya. ia menghembuskan napasnya lega.


"Tidur yang nyenyak ya, Sayang," batin Rayhan sembari mengelus rambut Ashila sembari menatap lekat wajah istrinya itu, terlihat ada sisa air mata di sudut mata istrinya itu. Lelaki itu segera menghapusnya dengan lembut. "Maaf, ya kalo aku nyakitin kamu," lanjutnya dalam hati.


Perlahan Rayhan pun menutup matanya karena sudah mengantuk, ia mendekap tubuh Ashila dengan erat. Lelaki itu berniat akan terbangun sebelum istrinya membuka mata.


***


"Yeeee..."


Suara sorakan siswa dan siswi memenuhi kelas XI fisika 2 karena mendengar suara bel istirahat.


"Oke anak-anak, saatnya istirahat, jangan lupa pelajari kembali pelajaran yang sudah ibu ajarkan tadi," ujar Bu guru seraya meninggalkan kelas.


"Duh, laper gue, ke kantin kuy!" ajak Amira pada Kayla dan Tasya.


"Tar, gue masukin buku dulu," ujar Kayla sembari memasukan buku-bukunya ke dalam tas.


"Kuy lah!" ujar Kayla dan Tasya serempak.


Sebelum mereka bangkit dari kursi Arya terlebih dahulu mendatangi meja Amira. Lelaki itu duduk di kursi yang berada di depan meja pacarnya itu.


"Mir, aku mau jelasin tentang waktu itu sama kamu," ujarnya.

__ADS_1


"Gak perlu, lagian udah jelas kok, udah sana pacarin aja tuh si rambut mie, mending kita putus aja."


Arya memegang tangan Amira. "Kamu salah paham, dengerin aku dulu," ujarnya memelas.


"Mir, mending elo dengerin dulu lah penjelasan Arya, siapa tau emang cuma salah paham aja, 'kan?" ucap Tasya yang diangguki oleh Kayla. "Iya, Mir, kalo masalahnya kayak dulu-dulu lagi gimana?" tambah Kayla.


Amira menghembuskan napasnya kasar. "Yaudah, jelasin di kantin aja, gue laper!"


"Yaudah yuk. Ka, lo gak ke kantin?" tanya Tasya.


Azka memasukan ponselnya ke dalam saku. "Mau, tapi gue mau ngomong dulu sama si Kayla."


Lelaki itu memegang tangan Kayla. "Kay, bisa ikut gue sebentar gak?" tanya Azka.


Kayla menhernyitkan dahinya. "Kemana?"


"Udah ikut aja, ada yang pengen gue omongin sama lo," ujar Azka, lelaki itu langsung menarik tangan Kayla tanpa persetujuan dari gadis itu.


"Lo bertiga duluan aja ke kantin, entar kita nyusul," ujar Azka pada Arya, Amira dan Tasya.


"Eeeh… semuanya, gue pergi dulu, ya."


Azka dan Kayla pun berjalan bergandengan menuju koridor. Banyak pasang mata yang melihat mereka.


Ada beberapa orang yang menatap sinis ke arah Kayla, ada beberapa juga yang mengatakan mereka berdua terlihat cocok dan serasi. Kayla sedikit risih dengan tatapan-tatapan itu.


"Eh ini kita mau kemana sih, ini tangan juga ngapain pegang-pegang, kayak mau nyebrang aja," gerutu Kayla.


"Ngikut aja susah amat sih!"


Kini Azka dan Kayla sudah berada di taman sekolah, mereka berhenti di sebuah pepohonan rindang di dekat perpustakaan.


"Kay, gue mau ngomong penting sama lo." Azka memegang kedua tangan Kayla membuat gadis itu terkejut, bahkan jantungnya sekarang berdegup sangat kencang.


"M-mau ngomong apaan?" tanya Kayla terbata-bata.


"Kay, gue minta lo jadi pacar gue?" tanya Azka.


***


Wadidaw! Azka nembak tuh, eh tapi kok nembaknya gitu ya? Kayak minta terasi wkwk.

__ADS_1


Tetap tunggu cerita selanjutnya ya, jangan lupa like, komen, vote author juga supaya semangat nulisnya.


Thank you all.


__ADS_2