
Farel, Tasya, Amira, Arya dan Rita kini sudah berada di parkiran rumah, mereka berempat sedang menunggu Kayla.
Rita sejak tadi terus uring-uringan dan mengoceh-oceh tidak jelas. "Si Kayla kok belum dateng juga, ya, dia lupa apa gimana sih! Gue capek nunggu di sini, gerah, entar gue keringetan terus bau, terus–"
Amira langsung memotong. "Elo bisa diem gak sih! Gue juga gerah denger elo ngoceh kayak beo dari tadi!" ucapnya kesal.
Rita mengerucutkan bibirnya sebal.
"Coba telepon aja, Yang," ujar Arya pada Amira.
Amira mengangguk, gadis itu segera mengambil ponselnya, dan menelepon sahabatnya itu. Tak lama kemudian, telepon pun tersambung.
"Halo, Kay, elo dimana? Kita udah nunggu di parkiran rumah sakit nih, elo jadi kan ke sini?" tanya Amira.
[…..]
"Oh gitu, kenapa lo gak ngabarin kita dari tadi, kita udah kesel banget nunggu lo tau gak,"
[…..]
"Hem, yaudah entar lo nyusul, ya."
Tuut, tuut!
Telepon pun terputus.
"Gimana, Mir?" tanya Tasya.
"Si Kayla mau jemput bokap nyokapnya dulu di bandara, jadi kemungkinan dia ke sininya agak maleman."
"Huh! Kenapa gak bilang dari tadi sih! Gue kan kesel nunggu di sini," ucap Rita sambil mengibaskan rambutnya.
"Yaudah lah, mending kita masuk sekarang aja," ujar Farel.
Mereka pun segera berjalan memasuki rumah sakit itu, Farel terlebih dahulu menghampiri meja informasi untuk menanyakan ruang rawat sahabatnya itu,
Setelah diberitahu, mereka pun bergegas mencari ruang rawat Azka, yaitu di salah satu kamar VVIP rumah sakit itu.
Setelah lama mencari, akhirnya mereka sampai di depan ruang rawat Azka.
"Assalamualaikum.." ucap mereka sambil membuka ruang rawat Azka, terlihat di sana Azka yang sedang terduduk lemas bersama dengan maminya.
"Waalaikumsalam."
"Sore, Tante."
"Sore–"
"Sayang, kok kamu bisa sakit sih, kamu sakit apa sayang, aku sedih banget loh pas denger kamu sakit." Rita langsung nyerocos begitu sampai di ruang rawat, gadis itu langsung memeluk tubuh Azka yang lemas.
Azka merasa risih dengan tingkah Rita, ingin rasanya ia sedang mendorong gadis genit itu, tapi apalah daya, tubuhnya terasa sangat lemah.
"Rita, lepas! Gue pusing."
__ADS_1
Rita melepaskan pelukannya. "Oh, kamu pusing, yang mana yang pusing, sini aku pijitin." Gadis itu kini memegangi kepala Azka, membuat Azka menggeram kesal.
"Please, let me go!" teriak Azka kesal.
"Sayang, kok kamu gitu sih," ucap Rita dengan wajah yang berkaca-kaca.
"Heh, Burit! Elo gak denger tadi Azka ngomong apa? Mending lo keluar aja deh, elo tuh udah ganggu Azka tau gak!"
"Iya, kamu ini sudah mengganggu ketenangan anak saya, lebih baik kamu keluar,"
Rita menggelengkan kepalanya. "Gak! Gue mau di sini aja, maaf tante, aku mau di sini aja," ujarnya saat melihat tangannya dipegang oleh Amira dan Tasya.
Amira dan Tasya pun akhirnya melepaskannya. "Makanya lo diem!" ujar Tasya sambil memelototkan matanya.
"Hai, Ka, gimana keadaan lo sekarang? Udah enakan?" tanya Farel.
Azka tersenyum. "Udah mendingan sih, tapi kadang masih pusing," ujarnya lemah.
Azka menatap satu persatu teman-temannya, setelah itu ia celingak-celinguk mencari seseorang, walaupun wajahnya pucat, ekspresi gusar dari wajahnya tetap terlihat. "Apa gue segitu gak berharganya ya buat dia." Lelaki itu membatin menggerutu.
"Nyari Kayla, ya?" celetuk Tasya yang sejak tadi memperhatikan lelaki pucat itu seperti mencari seseorang.
"Hah? Euu… itu… anu, bukan, maksud gue itu–"
"Si Kayla ke sininya agak sorean, katanya ada urusan keluarga," ujar Amira memotong perkataan Azka.
Azka ber oh ria dan berekpresi sedatar mungkin, diam-diam lelaki itu tersenyum setipis mungkin, sehingga tidak ada yang tahu jika lelaki berwajah pucat itu sedang tersenyum.
***
Setelah Farel dan yang lainnya pulang, lelaki itu tidak beristirahat kembali, ia memilih menunggu Kayla.
Ia tersenyum sumringah kala melihat pintu terbuka. "Kayla," cicitnya.
"Kayla? Kamu lagi nunggu Kayla, ya, Dek," ucap seseorang yang masuk yang ternyata adalah Karina, maminya Azka.
Lelaki itu terlihat kecewa.
"Hah? Enggak kok, Mi," ujar Azka pelan.
"Oh ya, masa?" tanya Karina menggoda anak bungsunya itu, membuat Azka tersenyum malu. "Iya, sih! Kayla kok gak ke sini sih, pacarnya kan lagi sakit," lanjut Karina.
"Mi... aku sama Kayla gak pacaran."
"Udah deh, kamu jangan malu-malu gitu sama mami, mami restuin kalian kok. mami juga suka sama Kayla dia anaknya baik," ujar Karina.
"Ya tapi emang aku sama Kayla itu gak pac–"
"Iya deh iya, terserah kamu, mending sekarang kamu istirahat gih, pacar kamu mungkin lagi ada urusan makanya belum ke sini."
"Mi... kan aku udah bilang, Kayla itu bukan... ah udah ah, ngomong sama mami mah gak bakal kelar-kelar, mending aku istirahat aja."
Azka pun segera membaringkan tubuhnya, menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya dengan selimut.
__ADS_1
"Uh! Anak mami lagi ngambek, yaudah istirahat ya, anaknya mami."
***
"Ma, oleh-oleh buat Kay mana?" tanya Kayla sambil mengandeng mamanya dan mendudukan di sofa bersama dirinya.
"Kamu nih, Kay, mama ke London kan bukan mau jalan-jalan, tapi mau ngerawat grandma."
Kayla menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehe… ya kali aja, mama beli sesuatu gitu buat aku," ucapnya sambil terkekeh.
"Oh ya, Ma, gimana keadaan grandma? Udah baikan?" tanya Ashila.
"Alhamdulillah, namanya juga penyakit orang lanjut usia, ya gitu," ujar Mama Putri.
Ashila mengangguk. "Kenapa gak dibawa ke Indonesia aja sih, Ma, kan Shila juga pengen ngerawat grandma."
"Mama juga udah sering minta, tapi grandma kamu tuh pengen di sana aja, katanya di rumah sana tuh banyak kenangannya sama grandpa."
Membicarakan tentang grandma-nya yang sakit, Kayla jadi teringat Azka.
Astaga! gue kan mau jenguk si Azka.
"Semuanya, Kay mau izin pergi dulu, ya," ujar Kayla.
"Mau kemana? Ini kan udah malem, Kay," ujar papa Yahya.
"Mau jengukin temen Kay, Pa."
"Kan bisa besok, ini kan udah malem,"
"Iya, Sayang, mending besok aja," timpal mama Putri.
"Masalahnya, dia itu sakit gara-gara Kayla ngasih 10 sendok sambel di buburnya… ups!" Kayla langsung menutup mulutnya.
"Apa? Kamu ngerjain orang, Kay,"
"E-enggak, Pa, Kay tuh–"
"Kamu dari dulu gak pernah berubah ya, Kay. Papa gak pernah ajarin kamu jadi orang yang seperti itu, Kay. Sekarang kamu pergi jengukin dia, kamu rawat dia sembuh, kalo enggak, uang jajan kamu papa kurangi!" ucap papa Yahya tegas.
"Ja-jangan dong, Pa, yaudah Kay pergi sekarang, Assalamualaikum."
Kayla segera berlari tergesa-gesa keluar rumahnya.
"Ya ampun, Ma, papa gak habis pikir sama Kayla, dia tuh gak pernah berhenti jailin orang ujar papa Yahya.
Lelaki paru baya itu jadi teringat, dulu ketika Kayla berumur delapan tahun, anak bungsunya itu pernah berkelahi dengan teman nya, dan membuat kepala temannya itu sampai bocor, alhasil orang tuanya marah-marah dan datang ke rumahnya minta pertanggungjawaban, dan itu pun, bukan sekali saja Kayla melakukannya, tetapi berkali-kali.
***
Aduh duh... nanti akan ada apa ya, pas si Kayla jengukin Azka, secara mereka kan nanti cuma berdua aja, wkwk..
Tetap tunggu kelanjutannya ya teman-teman, jangan lupa like, komen, dan selalu vote author, makasih.
__ADS_1