
"Terus Kakak bakal lupain Shila?"
"Aku akan berusaha," ucap Azmi dengan lirih.
Annisa tersenyum menatap Azmi, pria yang ia cintai itu. Ya, Annisa sangat menyukai dan mungkin lebih tepatnya mencintai. Azmi, pria yang tutur katanya yang lembut dan senyumannya yang manis, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan kagum padanya, pria yang dicintainya dalam diam, pria yang merupakan cinta pertamanya itu, pria yang dicintainya jauh sebelum sahabatnya menyukai pria itu.
Kala itu, hatinya terenyuh saat Ashila mengatakan bahwa ia menyukai pria yang selama ini dicintainya dalam diam itu. Sikap Annisa hanya diam dan tersenyum mendukung sahabatnya itu, padahal hatinya sakit.
Hatinya semakin teriris ketika sang pujaan hati yaitu Azmi yang notabenenya adalah kakak seniornya itu meminta Annisa untuk mendekatkannya dengan Ashila.
Flashback on
Saat itu Annisa baru menginjak kelas dua belas SMA,
Di tengah perjalanan, Annisa merasa ada yang tidak beres dengan motornya, ia pun menepikan motornya di tepi jalan.
"Aduh… nih motor gak ngertiin banget sih, pake kempes segala lagi, mana udah sore, tempatny sepi kayak gini lagi, mau nelpon ayah handphone-nya lowbat, aku harus gimana, ya?"
"Hai, motornya kenapa?"
Annisa mendongakkan kepalanya, menatap seseorang yang tadi menyapanya. Seorang pria berkulit putih, tinggi, hidung mancung, di pipinya ada lesung pipit yang menambah kesan manis sehingga siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung terkagum, tak terkecuali Annisa, ia langsung terpana melihat ketampanan pria yang baru saja menyapanya itu.
"Subhanallah, sempurna sekali ciptaanmu Ya Allah," batin Annisa.
"Hei, ditanya kok ngelamun sih," ucap pria itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Annisa. Tetapi, wanita itu tak bergeming.
Setelah pria itu menyentuh bahu Annisa, barulah Annisa tersadar, wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali.
"Eeu... m-maaf-maaf, ban motorku kempes," ucap Annisa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tertutup hijab yang sama sekali tak gatal itu.
"Mau dibantuin gak?" tawar pria itu.
"Eu... eu.."
"Tenang aja, gue bukan orang jahat kok," sela Azmi cepat karena sepertinya ia tahu apa yang ada di otak gadis itu.
"Nama gue Azmi," ucap Azmi sambil mengulurkan tangannya.
Annisa pun membalas uluran tangan Azmi. "Annisa."
"Oh ya Annisa, lo mau gue anter pulang gak?"
"T-tapi motornya?"
"Tenang aja motor lo entar gue bawa ke bengkel dulu, entar supir gue yang anterin ke rumah lo
"Emang aku gak ngerepotin?"
"Gak kok, gak papa, ini kan udah sore, mau magrib juga, gak baik kan cewek di tempat sepi kayak gini."
Annisa pun memindai sekitar, awan yang mulai gelap di tambah dengan suasana sedikit horor karena banyak pepohonan membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
__ADS_1
"Iya boleh."
Azmi pun mempersilahkan Annisa memasuki mobilnya, ia pun memutari mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Rumah lo dimana?"
"Belok kanan terus belok kanan lagi, entar aku kasih tau deh kalo udah nyampe,"
"Kakak baru pulang kuliah?"
"Iya," jawab Azmi singkat.
"Kuliah dimana?"
"Universitas X."
Annisa hanya menganggukan kepalanya, universitas yang dikatakan oleh pria yang menolongnya itu adalah tempat kuliah yang ia incar sedari dulu, ia ingin setelah lulus nanti berkuliah di sana.
"Kak, udah sampe."
"Oh udah sampe ya."
"Iya, ini rumah aku."
Azmi pun segera menepikan mobilnya menuju pekarangan rumah Annisa. "Mau mampir dulu gak, Kak? Ngopi dulu gitu," ucap Annisa ketika hendak turun dari mobil Azmi.
"Enggak usah, udah sore juga, oh ya gue minta nomor telepon lo dong, supaya entar gampang mau hubungin lo-nya kalo motor lo udah beres," ucap Azmi sambil menyodorkan ponselnya pada Annisa.
"Ini udah, Kak."
"Oke makasih."
Annisa pun turun dari mobil Azmi. "Kak, sekali lagi makasih, ya, udah bantuin aku."
"Sama-sama."
Flashback off
Itulah awal perkenalan Annisa dan Azmi, dan sejak itu pula Annisa langsung jatuh hati pada pria yang pipinya ada lesungnya itu.
Kalau boleh jujur, ada cemburu di hatinya, Annisa cemburu karena Azmi sangat mencintai Ashila. Ia pernah berandai- andai berada di posisi Ashila saat ini, dicintai oleh Azmi, pasti sangat membahagiakan.
"Nis?"
"Nis?"
"Astagfirullah."
Annisa terperanjat kaget saat Azmi menepuk bahunya sampai-sampai ia tak sengaja memegang kerah jaket yang dipakai oleh pria pujaannya itu.
Kini jarak keduanya hanya beberapa senti saja. Jujur saja ini pertama kalinya Annisa berjarak sedekat ini dengan seorang pria, membuat jantungnya jumpalitan ke sana ke mari.
__ADS_1
Sepuluh detik kemudian, Annisa segera melepaskan cekalannya dari kerah jaket Kakak seniornya itu. Ia segera menggeserkan tubuhnya ke samping agar tak terlalu dekat dengan Azmi.
"M-maaf, Kak," ucap Annisa sembari mengelus dadanya pelan, menetralkan degup jantungnya.
"I-iya, gak papa kok."
Jujur saja Azmi pun merasa kaget dan terkejut dengan kejadian tadi, jantungnya pun masih bersenam ria sampai sekarang.
"Kamu ngelamunin apa? Serius banget?"
"Euu… ngelamunin… euu... ngelamunin tugas, iya ngelamunin tugas, soalnya ada tugas kuliah yang belum aku selesain."
"Mau dibantuin?"
"Ini nih Kak, yang bikin aku tuh kagum sama Kakak, suka menolong siapa aja yang membutuhkan," batin Annisa.
"Euu… enggak usah, Kak."
"Gak pa…"
Belum sempat Azmi meneruskan ucapannya, Haikal pun datang mendekati mereka.
"Ya ampun Az, gue cariin lu dari tadi, ternyata di sini," ucap Haikal sambil mendudukan dirinya di samping mereka.
"Ya-yaudah Kak, aku duluan ya." Annisa pun segera berlalu meninggalkan kedua pria itu.
***
Dua hari kemudian.
"Mas… aku udah masak makanan kesukaan kamu, kita makan malam bareng, yuk," ucap Ashila dengan lembut.
"Saya makan di luar." Rayhan berucap tanpa melihat lawan bicaranya, ia berjalan menuruni satu persatu anak tangga menuju luar apartemen.
Ashila hanya menghela napas sedih menatap punggung suaminya yang semakin hilang dari pandangannya. Sudah dua hari Rayhan mengacuhkannya, bahkan untuk sekedar menatap wajahnya saja Rayhan seakan merasa jijik.
"Huuh… aku udah enggak tahan dengan semua ini," gumam Ashila.
Belum sempat Rayhan keluar pintu, Ashila berlari dan memeluk suaminya dari belakang dengan erat, membenamkan wajahnya di punggung lelaki yang dicintainya.
"Tolong jangan pergi… dengerin penjelasan aku dulu, aku gak kuat kalo terus didiemin lama-lama sama kamu, Mas. Aku sama ka Azmi itu nggak ada hubungan apa-apa. Hari itu Kak Azmi emang ungkapin perasaannya sama aku, tapi aku tolak karena…"
"Karena apa?"
"Karena aku cinta sama suami aku, aku cinta sama kamu Mas Rayhan," ucap Ashila sambil terus terisak.
…
Ah! Kayaknya besok mah pada baper nih, pada seneng gak? Tunggu kelanjutannya besok ya, guys.
Jangan lupa tekan tombol like, komennya juga jangan lupa ya teman-teman.
__ADS_1
Love you all.