Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 85 Kehamilan Renata


__ADS_3

Seminggu kemudian…


Hari ini Ashila sedang memasak sarapan di dapur.


Setengah jam kemudian, makanan untuk sarapannya sudah siap, dan saatnya Ashila membangunkan suaminya ke kamar.


Sesampainya di sana, Ashila melihat suaminya itu masih bergelung di tempat tidur, gadis itu berjalan menghampiri lelaki itu dan duduk di tepi tempat tidur.


"Mas, bangun. Kamu tuh kebiasaan ya kalo udah subuh suka tidur lagi." Ashila terus menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


"Eungh.."


"Mas..ayo bangun," ucap Ashila sambil menepuk pipi Rayhan.


"Bentar lagi, sayang." Rayhan masih setia memejamkan matanya sambil menarik Ashila dalam pelukannya.


"Ikh..Mas. Lepas ih." Ashila terus berusaha melepaskan pelukan Rayhan. Tetapi nihil, tenaganya tak sebanding dengan lelak yang sudah menjabat menjadi suaminya itu.


"Bangun Mas ih! Mau aku guyur pake air seember, mau?" ancam Ashila sambil terus berusaha meronta dari pelukan Rayhan.


"Ikh tega banget kamu, sayang." Rayhan pun akhirnya membuka matanya lebar-lebar.


"Suami kayak kamu tuh harus ditegain."


Cup!


"Ikh Mas kok malah dicium sih."


"Morning kiss, Yang."


"Dih nyebelin. Sana cepet mandi! Udah siang loh, nanti telat ngantornya."


"Aku kan Bosnya, Sayang. Jadi bebas mau ke kantor jam berapa aja."


"Yaudah cepet mandi sana!"


"Cium dulu," ucap Rayhan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kan tadi udah."


"Tadi kan aku yang cium kamu, sekarang kamu yang cium aku."


Cup!


"Udah tuh!"


"Yang ini juga," ucap Rayhan sambil menunjuk keningnya.


"Ikh kamu banyak maunya. Gak mau ah!"


"Ya ampun, yang. Tinggal cium doang apa susahnya sih!"


Cup!


"Udah tuh! Udah ah kamu mandi sono." Ashila pun segera beringsut dari kasur, tapi dengan cepat Rayhan menariknya kembali hingga Ashila duduk di pangkuannya.


"Apa lagi?"


Rayhan menunjuk pipi kanan dan pipi kirinya. "Ini sama ini belum, nanti mereka nangis gimana?"


"Bener-bener banyak maunya ya kamu tuh!"

__ADS_1


"Kasih aja ngapa."


Baru saja Ashila akan mendaratkan sebuah ciuman di pipi kiri suara bel apartemen berbunyi.


"Ikh siapa sih, pagi-pagi udah namu. Ganggu aja," gerutu Rayhan.


"Udah ah. Jangan marah-marah kayak gitu."


"Abis ganggu kita lagi mesra-mesraan gini tau gak."


Ketika Ashila hendak beringsut dari kasur, Rayhan kembali mencekalnya. "Kamu mau kemana?"


"Mau bukain pintu lah, Mas."


"Jangan ih."


"Kenapa? Kasian ih entar takut Mama yang kesini, kan kasian nungguinnya lama."


"Cium dulu."


"Astaga ini bayi ged–"


"Rayhan!?"


Ashila dan Rayhan menoleh ke arah sumber suara. Mereka terperanjat kaget ketika melihat siapa yang datang.


"Kamu?! Ngapain kamu kesini?" tanya Rayhan dingin.


"Mbak Renata juga kenapa bisa masuk sini?" tanya Ashila juga bingung.


"Jelaslah aku bisa masuk ke sini, pasword apartemen ini kan hari jadian kami dulu," ujar Renata santai.


Ashila tampak terkejut.


"Ray, aku hamil," ucap Renata tersenyum lebar.


"Lepasin!" Rayhan menepis tangan Renata. "Terus kalo kamu hamil kenapa?" tanyanya.


"A-ku hamil anak kamu, Ray. Di sini ada anak kita," ucap Renata sambil menyentuh perut ratanya.


Ashila menutup mulutnya karena terkejut sedangkan Rayhan langsung menatap istrinya sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak! Gak sayang! Dia itu bohong! Itu bukan anak aku," bantah Rayhan.


"Aku serius, Ray. Aku hamil anak kamu!" ucap perempuan itu lagi.


"Kamu jangan coba-coba bohongin, Ren! Aku gak pernah nyentuh kamu sama sekali!" bentak Rayhan. "Sayang, plis percaya sama aku," ucap Rayhan pada Ashila.


"Kamu lupa, kamu ngelakuin itu di apartemen aku sebulan yang lalu," ujar Renata.


"Aku percaya sama Mas Rayhan!"


Rayhan tersenyum mendengar penuturan Ashila.


"Aku punya buktinya kalo kamu gak percaya!" Renata mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Ashila.


Ashila terkejut dengan apa yang ia lihat. Bulir bening yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar juga. Hatinya sakit ketika mengetahui kenyataan bahwa suaminya membohonginya.


Ashila melempar foto-foto dan tes kehamilan yang ia pegang, ia beranjak dari kasur dan langsung dikejar oleh Rayhan dan Rayhan memeluk Ashila dari belakang. "Sayang… aku mohon percaya sama aku! Aku gak mungkin ngelakuin itu sayang!"


"Terus foto itu apa, Mas?" tanya Ashila sambil terisak. Rayhan tak bisa menjawab apapun.

__ADS_1


"Rayhan… aku kesini cuma minta kamu buat tanggung jawab! Aku gak papa kok jadi istrinya kedua asalkan bayi yang ku kandung ini ada Daddynya," ujar Renata pura-pura menangis.


Deg!


Tangis Ashila seketika langsung pecah kembali kala mendengar kata 'istri kedua' dari mulut Renata. Ia tidak pernah membayangkan sedikitpun akan berbagi suami dengan orang lain dan ia juga tidak pernah membayangkan akan berpisah ataupun meninggalkan suaminya.


"Gak, Ren. Aku gak akan pernah nikah sama kamu! Aku sayang sama istriku! Dan pliss… kamu jangan ngarang cerita gila kayak gini!"


"Shila… gue mohon… izinin Rayhan tanggung jawab, ya. Demi janin yang gue kandung ini," Renata meraih tangan Ashila dan meletakan di perutnya yang masih terlihat rata.


Rayhan langsung melepakan tangan Ashila dari perut Renata. "Enggak, Shila. Jangan! Kamu harus percaya, anak itu bukan anak aku."


"KAMU GILA, RAYHAN! KAMU CUMA MAU ENAK–"


"CUKUP, REN! Cukup! Kamu ngelakuin ini pasti cuma mau pisahin aku sama istri aku kan? Iya kan, Ren?"


Ashila langsung pergi meninggalkan keduanya menuju kamar sebelah.


Sesampainya di sana, Ashila langsung terduduk lemas bersandar di bawah tempat tidur, menangis tersedu-sedu, menumpahkan semua kesedihannya seraya memeluk kedua lututnya dengan erat.


Suara pintu terbuka, Rayhan segera mendekati Ashila dan merengkuhnya erat. "Maaf," ucapnya singkat.


Ashila langsung melepaskan pelukannya, gadis itu menangis histeris sambil memukul-mukul dada bidang Rayhan.


"Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Mas? Kenapa?" Ashila berbicara dengan air mata berlinang dan suara bergetar.


Tidak ada perlawanan, tidak ada penjelasan, atau pun sanggahan, benar-benar sangat memprihatinkan.


"Pergi kamu dari sini!" ucap Ashila dingin.


"Tapi–"


"Aku bilang pergi, Mas, plis, aku lagi pengen sendiri,"


Rayhan menghembuskan napasnya panjang, mungkin istrinya ini memang butuh sendiri.


Setelah kepergian Rayhan, tangis Ashila kembali tumpah, ia benar-benar tidak menyangka kejadian ini akan terjadi dalam kehidupan pernikahannya, gadis itu memikirkan apakah suami yang sangat disayanginya itu akan pergi meninggalkannya? Bagaimana nasibnya nanti jika harus menjadi janda muda? Apa yang harus dikatakannya nanti pada umi dan abinya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berada dibenak gadis berumur 20 tahun itu.


Di sisi lain, di kamarnya, Rayhan juga kini tengah memikirkan nasib pernikahannya, apa pernikahannya akan berakhir begitu saja? Bagaimana dirinya nanti jika gadis yang sangat dicintainya itu meninggalkannya?


Drt, drt, drt!


Suara dering ponsel memecahkan lamunan Rayhan, dengan malas lelaki itu mengambil benda pipih itu dari atas nakas.


Terlihat nama sekertarisnya dari layar ponselnya itu, Rayhan pun segera mengangkatnya.


"Halo, Rin."


[…..]


"Kamu tolong handle dulu semuanya, hari ini saya tidak bisa pergi ke kantor dulu."


[…..]


"Iya, terima kasih, saya percayakan semuanya sama kamu."


***


Huhuhu, sedih ya, gimana ya kelanjtan pernikahan mereka? Cerai atau jangan?


Tetap tunggu kelanjutannya aja ya, teman, jangan lupa like, komen, vote author juga.

__ADS_1


Love you all.


__ADS_2