Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 125 END


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, kini kandungan Ashila sudah memasuki bulan ke-sembilan, buah hati yang selama ini ditunggu-tunggu akan segera lahir untuk melihat indahnya dunia. Dokter sudah memprediksi Ashila akan melahirkan kurang dari sepuluh hari ini.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya."


Ashila mencium punggung tangan sang suami. "Iya, Mas, hati-hati."


Rayhan menatap Ashila cukup lama, sebenarnya ia tidak ingin pergi ke kantor dan ingin menunggu sang istri di saat detik-detik akan melahirkan itu, namun apalah daya, meeting dengan klien kali ini tidak bisa dihandle oleh siapapun, jadi ia harus menghadirinya.


"Mas, kenapa masih berdiri di situ?" tanya Ashila.


Rayhan memegang kedua pundak Ashila. "Sebenarnya aku pengen gak mau pergi ke kantor, aku pengen di sini aja, nemenin kamu."


"Mas, pekerjaan kantor kan kewajiban kamu juga, lagipula di sini ada Bik Inah, kamu jangan khawatir."


"Hmm… yaudah, aku pergi dulu, ya, aku janji bakal pulang cepet, kalo ada apa-apa langsung hubungin aku pokoknya."


"Iya."


Setelah mengecup kening Ashila, Rayhan pun berjalan ke garasi dan masuk ke dalam mobilnya, sambil tersenyum Ashila melambaikan tangannya di depan pintu.


Rayhan membalas lambaian tangan sang istri, perlahan mobil yang dikemudikan Rayhan berjalan meninggalkan halaman rumah. Setelah mobil tak terlihat lagi, Ashila segera masuk ke dalam rumah.


***


"Ya, ampun Nyonya, bibi kan udah bilang, jangan ngerjain apapun, nyonya duduk aja, sini bibi aja yang nyuci piring," ucap bik Inah–pembantu rumah tangga–sambil meletakan barang belanjaannya di meja, kemudian berjalan ke arah Ashila.


"Gak usah, Bi, aku aja, lagian duduk doang mah bosen tau."


"Kalo bosen, Nyonya bisa nonton tivi atau main game, sini, bibi aja yang terusin."


"Yaudah, deh." Ashila pun segera mencuci tangannya, kemudian berjalan ke ruang tamu. Namun sebelum itu, ia merasakan sakit perutnya.


"Bi, kok perut aki sakit banget, ya,..Akh..!" Ashila merintih kesakitan karena merasa ngilu pada perutnya.

__ADS_1


Bik Inah yang sedang mencuci piring berjalan tergopoh-gopoh mendekati Ashila. "Astagfirullah… sepertinya Nyonya mau melahirkan…"


***


Rayhan kini tengah berlari menuju ruang persalinan, tadi bi Inah meneleponnya bahwa Ashila akan melahirkan. Ia melihat anggota keluarganya sudah berkumpul di depan ruang tempat Ashila bersalin.


"Mama!"


"Ray, kamu buruan masuk. Shila butuh kamu," titah mama Putri.


Rayhan mengangguk, dengan lankah besar ia pun membuka pintu, berlari menuju Ashila yang sudah berkeringat menahan sakitnya.


"Hei, Sayang, aku di sini. Maaf telat," ucap Rayhan sembari menggenggam tangan Ashila.


"Gak papa, Mas."


"Ayo, Mbak, ini sudah pembukaan ke-sepuluh, Mbak sekarang tarik napas lalu mengejan," titah dokter pada Ashila.


"Bismilah, Sayang. Kamu harus semangat, demi anak kita, Sayang. Ayo kamu pasti bisa," ucap Rayhan memberi semangat pada sang istri. Sesekali ia mengusap keringat Ashila yang turun.


"Sa…kit, Mas, perut aku sakit banget.."


"Ayo, Mbak. Dorong yang kuat, Mbak."


"Aakh… aaakhh…"


Teriakan-teriakan itu membuat Rayhan merasa kasihan pada sang istri, air matanya lolos begitu saja tanpa diminta, andai saja ia bisa menggantikan posisi itu, pasti ia akan kuat. "Ya Allah, kuatkanlah istri hamba, permudahlah ia dalam melahirkan buah hati kami, Ya Allah.."


"Sedikit lagi, Mbak, kepalanya sudah terlihat, ayo mengejan lagi," ucap sang dokter yang sudah memegang kepala jagoan mereka.


"Kamu harus kuat, Sayang, kamu pasti bisa."


"Aku sayang sama kamu."

__ADS_1


"Semangat, Sayang."


Rayhan tiada henti berbisik pada Ashila, memberikan kekuatan pada sang istri.


Ashila mengangguk, ia pun berusaha mengejan lebih keras lagi. "Aaaaahkkhhh…"


Tak lama kemudian, suara tangisan terdengar keras di dalam ruangan itu. Rayhan dan Ashila lega karena buah hati mereka akhirnya lahir ke dunia.


Lelaki itu langsung mengecup kening Ashila yang sudah penuh dengan peluh keringat. "Makasih, Sayang. Kamu udah jadiin aku seorang ayah, I love you, " lirih Rayhan terharu.


"I love you to, Mas."


"Alhamdulillah, selamat, ya. Bayinya berjenis kelamin laki-laki, tampan seperti ayahnya," ucap dokter sambil tersenyum. "Kalau begitu saya akan bersihkan dahulu bayinya sebelum Pak Rayhan mengadzaninya," lanjut dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih."


Setelah dokter keluar untuk membersihkan bayi mereka. Rayhan kembali menatap Ashila, lelaki itu mengecupi seluruh wajah sang istri tanpa henti.


***


Ashila tersenyum manis kala melihat Rayhan sedang mengadzani bayi mereka, air mata haru mengalir begitu saja di pelupuk matanya, ia merasa beruntung memiliki suami seperti Rayhan, kebahagiaanya kini bertambah ketika dirinya bisa melahirkan bayi yang sangat tampan ini kedunia. Semoga anaknya menjadi lelaki sholeh yang dapat menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya, amiin, doa Ashila dalam hatinya.


Semua orang tampak senang dengan kelahiran bayi laki-laki itu. Lengkaplah sudah keluarga kecil yang dibina oleh Rayhan dan Ashila.


"Namanya siapa, Ray?" tanya mama Putri setelah anak sulungnya itu selesai mengadzani sang cucu.


Rayhan dan Ashila bersitatap sejenak, Ashila mengangguk membiarkan sang suami untuk menjawabnya. "Namanya Yusuf Rafeyfa Arrayan, bagus kan?"


"Waah, iya bagus. Halo Yusuf, cucu oma."


Sang pencipta memang mempertemukan Rayhan dan Ashila dengan skenario yang sempurna, alur cerita yang tidak terduga, dan dengan cara yang tidak terbatas. Mulai dari kisah perjodohan, saling membenci, lalu berakhir saling mencintai dan tak ingin terpisahkan satu sama lain. Tuhan memang sudah menuliskan takdir setiap hamba-Nya jauh sebelum manusia diciptakan. Manusia hanya perlu menjalankan hidup ini dengan ikhlas, yang tentunya selalu dibarengi dengan ikhtiar dan doa.


~THE END~

__ADS_1


Alhamdulillah… kita udah sampe di akhir cerita nih, gaes…


Makasih ya, kepada pembaca yang sudah setia mengikuti novel ini, thank you so much gaes…


__ADS_2