Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 46 Modus


__ADS_3

Setelah setengah jam kemudian, Ashila sudah selesai mandi, Ashila segera mengambil handuk yang tergantung di sana, ia pun segera keluar dari kamar mandi. Namun, beberapa langkah ia keluar, ia segera masuk ke dalam kamar mandi kembali karena Rayhan ada di dalam kamar.


"Aduuh... kok bisa kelupaan bawa baju ganti sih," rutuk Ashila. "Mau gak mau harus minta tolong Mas Rayhan ini mah."


Ashila pun segera membuka pintu kamar mandi sedikit lalu menyembulkan kepalanya keluar.


"Mas..."


"Iya," jawab Rayhan sambil terus fokus mengotak-atik ponselnya.


"Boleh minta tolong, enggak?"


"Minta tolong apa?"


"Tolong ambilin baju aku dong."


"Ambil aja sendiri aku lagi sibuk nih,"


"Aku-nya cuman pake handuk doang, Mas."


Entah kenapa pikiran kotor merasuki pikiran Rayhan kala mendengar istrinya itu hanya memakai handuk saja, ia pun menyunggingkan senyumnya tipis. "Keluar aja napa, lagian saya kan udah pernah liat kamu cuma pake handuk doang," ucap Rayhan santai.


"Mas, cepetan dong ambilin, aku udah kedinginan nih," teriak Ashila dari dalam kamar mandi.


"Udah keluar aja, saya lagi nanggung nih, yaaah… kok game over sih."


"Aduuh gimana dong, mana ukuran handuknya kecil banget lagi," ucap Ashila pelan sambil melihat handuk yang menutupi dadanya hanya sampai atas lutut.


"Mas… plis dong ambilin."


Rayhan pun menyimpan ponselnya di meja, tatapannya beralih pada dua pasang lingerie di atas kasurnya, terbesit ide di otaknya untuk mengerjai istrinya yang polos itu.


"Yaudah iya saya ambilin," teriak Rayhan yang membuat Ashila seketika tersenyum lebar.


"Makasih ya, Mas. Cepet ya."


Rayhan pun mengambil salah satu lingerie yang berada di atas kasurnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Shila, nih buka pintunya," ucap Rayhan sambil menahan senyumnya.


Ashila membuka pintunya sedikit lalu mengeluarkan tangannya. "Mana, Mas."


"Nih."


"Makasih, ya." Ashila pun segera mengambil pakaian yang diberikan suaminya, lalu menutup pintunya kembali. "Loh… kok ini sih, Mas, jangan becanda deh, cepetan ambilin baju… aku udah kedinginan banget niih."


"Iya deh iya saya ambilin, bajunya dimana?"


"Di lemari kamu yang bagian bawah, seinget aku aku nyimpen beberapa baju aku dulu di situ."


Rayhan pun segera berjalan menuju almari untuk mencari pakaian istrinya.


"Tadi kata Shila di lemari bagian bawah..." Rayhan pun segera membuka almari bagian bawah, tatapannya langsung tertuju pada beberapa bra dan celana dalam yang ada sana, sejenak ia membayangkan Ashila hanya memakai kedua benda itu membuat senyum devilnya terbit di bibirnya.

__ADS_1


"Mas, cepetan..." Panggilan Ashila membuat pikiran kotor Rayhan buyar.


"Iya, oh ya, dalamannya mau warna apa?"


Pertanyaan Rayhan membuat pipi Ashila memanas dan memerah.


"w-warna apa aja," ucap Ashila terbata-bata karena dirinya merasa malu apalagi jika suaminya memegang dua barang pembungkus benda-benda berharganya itu.


Rayhan pun segera mengambil pakaian Ashila berikut dengan dalamannya dengan cepat, dan segera berjalan kembali menuju kamar mandi.


"Nih, buka pintunya."


Ashila pun segera membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengeluarkan tangannya.


"Mana?"


Rayhan tidak langsung melepas pakaian Ashila, sepertinya ia ingin bermain-main dahulu.


"Mas, lepasin bajunya, siniin," ucap Ashila sambil terus menarik pakaiannya dengan kencang.


"Yaah tarik dong," ucap Rayhan santai sambil menahan tawanya.


Ashila pun terus berusaha menarik pakaiannya, tetapi usahanya tidak berhasil.


"Maaas… lepasin ih, aku udah kedinginan banget nih, kalo aku masuk angin mau tanggung jawab?"


"Tenang aja, kalo kamu masuk angin entar saya kerokin lah."


"Mas, udah ih becandanya, cepet lepasiin."


"Heran deh sama Mas Rayhan, kenapa hari ini seneng amat becandain aku." Ashila bermonolog sendiri sambil memakai pakaiannya.


Tanpa disadari, Rayhan mendengar celotehan Ashila, karena sejak tadi, setelah memberikan pakaian pada istrinya ia belum beranjak dari depan kamar mandi.


"Karena mungkin ini cara supaya kita bisa dekat, Shila. Dan saya akan mengungkapkan semua isi hati saya disaat kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan saat ini," jawab Rayhan dalam hatinya.


***


Malam hari kemudian, Ashila kini sedang membantu ibu mertua dan kakak sepupu iparnya dan pembantu di sana memasak di dapur


"Ma, Shila bantu apa lagi, nih?" tanya Ashila setelah selesai mencuci sayuran.


"Kamu mending temenin Rayhan lagi main sama Daffa aja, sekalian latihan juga kan saat entar kalian punya anak."


Deg!


"Iya Shil, bener tuh kata Tante Putri," timpal Maya.


"Kayaknya Mama pengen banget punya cucu, maafin Shila ya, Ma. Belum bisa kasih apa yang Mama mau," gumam Ashila dalam hati.


"Hee.. doain aja, Ma. Yaudah Shila ke depan ya."


"Iya."

__ADS_1


Ashila pun segera melenggang pergi ke ruang keluarga, terlihat di sana ada Rayhan, Kayla dan Daffa, suaminya itu sedang mengajak bocah kecil berumur empat tahun itu bermain mobil-mobilan, sedangkan Adik iparnya sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


Ashila tersenyum melihat Daffa yang sangat antusias bermain bersama suaminya itu, terlintas dipikirannya bahwa kelak ia mempunyai anak dengan Rayhan, dan mereka bertiga akan bermain sepanjang waktu, pasti sangat menyenangkan.


"Kak Shila sini, ngapain berdiri di situ," seru Kayla yang seketika membuat Ashila tersadar dari lamunannya.


"Eeh, i-iya , Kay." Ashila pun segera mendekat ke arah mereka bertiga.


"Halo ganteng, lagi main apa heum?" tanya Ashila sambil mengelus kepala Daffa membuat bocah itu tersenyum.


"Lagi pasang robot, aunty. Uncle Rayhan pinter banget susun-nya," jawab Daffa dengan suara khas anak kecil.


Rayhan menatap Ashila sebentar lalu mengangkat Daffa kepangkuannya. "Iya dong, Om kan pinter, Boy."


"Aunty boleh ikutan gak nih?"


"Boleh dong Aunty, tapi Daffa pengen ganti permainannya, gimana kalo kita main petak umpet aja," jawab Daffa.


"Boleh juga," timpal Rayhan.


"Terus siapa dulu yang jaga?" tanya Ashila menatap Rayhan dan Daffa bergantian.


"Uncle aja ya, entar kita gantian," ucap Daffa.


"Yaudah Uncle yang jaga, kalian cepet sembunyi ya, Uncle hitung sampe sepuluh."


"Yaudah Uncle nya cepet merem, entar kita sembunyi," ucap Daffa, Rayhan pun segera memejamkan matanya.


"Oke, satu, dua, tiga…."


Ashila dan Daffa pun segera mencari tempat untuk bersembunyi, Daffa bersembunyi di belakang Kayla, sedangkan Ashila bersembunyi di belakang sofa.


"Aunty jangan bilang sama Uncle ya kalo Daffa ngumpet di sini," bisik Daffa pelan pada Kayla.


"Oke beres, Daff," ucap Kayla pelan lalu ia kembali mengerjakan tugasnya.


Setelah menghitung sampai sepuluh, Rayhan pun membuka matanya dan mulai mencari Ashila dan Daffa.


"Hayo… Daffa ketahuan…" Akhirnya Rayhan pun menemukan Daffa dari tempat persembunyiannya.


"Yaah ketahuan deeh," ucap Daffa cemberut. "Yaudah sekarang Uncle cari Aunty Shila."


Rayhan pun segera mencari tempat persembunyian Ashila.


"Yaudah sekarang Daffa yang jaga, Uncle sama Aunty ngumpet ya."


"Iya."


Daffa pun segera memejamkan matanya dan segera menghitung, sedangkan Rayhan dan Ashila segera mencari tempat persembunyian.


"Dimana ya aku sembunyinya?" tanya Ashila pada diri sendiri, matanya tertuju pada celah yang berada di samping rak buku.


"Di situ aja deh." Ashila pun segera bersembunyi di samping lemari, tetapi tak lama kemudian Rayhan datang dan ikut bersembunyi di sana.

__ADS_1


"Ikh... kamu ngapain ikut ngumpet di sini? Sana cari tempat yang lain, sempit tau,"


"Apaan? Orang saya niatnya tadi mau ngumpet di sini, kamu aja yang cari tempat lain." Sebenarnya Rayhan sejak tadi mengikuti Ashila yang sedang mencari tempat persembunyian, agar ia bisa bersembunyi bersama-sama dengan Ashila dan ia bisa berdekatan dengan istrinya itu.


__ADS_2