Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 96 Apakah harus berpisah?


__ADS_3

Rintik-rintik hujan sore membuat suasana cafe yang berada di pinggir kota sepi pengunjung.


Ashila masuk ke dalam cafe tersebut, mata gadis itu langsung tertuju pada seseorang yang duduk di sudut cafe tersebut sambil menikmati coffe-nya.


"Assalamualaikum, Mbak Renata. Maaf saya terlambat," sapa Ashila sambil mendudukan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan wanita yang ditemuinya itu.


"Hem, gak masalah, gue juga baru dateng," ujar Renata sambil menyunggingkan senyumnya penuh arti. "Mau pesen minum dulu atau–"


"Langsung ke intinya aja, Mbak. Saya gak bisa lama-lama, soalnya saya belum izin sama suami saya," ujar Ashila, ia berpikir jika dirinya meminta izin dahulu pada Rayhan, sudah dipastikan suaminya itu pasti akan melarangnya.


Renata menyeringai tipis. "Oh suami lo, ya? Mungkin gak lama lagi akan menjadi mantan suami."


Ashila mengernyit sambil mendelik tajam.


"Ah! Atau lo belum tau sesuatu, ya?" tanya Renata dengan ekspresi pura-pura terkejut, membuat Ashila semakin bingung.


"Apa maksud Mbak, tolong jangan bertele-tele seperti itu," tegas Ashila.


"Owww! Jangan terlalu terburu-buru kayak gini, kalo Rayhan tau kita ketemu kayak gini pasti dia senang, karena calon mantan istri dan calon istri keliatan akur kayak gini,"


Ashila mengepalkan tangannya. "Tolong jangan banyak basa-basi deh, Mbak. Saya masih banyak urusan!" ucapnya tegas.


"Ah! Okelah, lo orangnya gak asik deh." Renata mengubah ekspresinya menjadi serius. "Gue minta lo lepasin Rayhan!"


"Kenapa saya harus lepasin suami yang saya cintai?"


"Karena gue mengandung anak dari suami lo. Eh tapi… kalo lo nggak mau lepasin Rayhan gak papa sih, mungkin kita bakal jadi partner nantinya."


"Mbak ngaku-ngaku punya anak dari mas Rayhan cuma mau ambil mas Rayhan kembali kan? Maaf, saya gak percaya sama ucapan Mbak."


"Oh, jadi Rayhan belum cerita ya sama lo, astaga kasian banget sih lo," ujar Renata sambil tertawa meremehkan.


Ashila mengernyitkan keningnya, semakin tak mengerti dengan perkataan wanita di depannya itu.


Renata mengambil sesuatu dari tasnya kemudian memberikannya pada Ashila. "Dua minggu yang lalu Rayhan tes DNA janin yang berada di perut gue ini." Renata mengusap-usap perutnya sambil tersenyum licik. "Lo liat deh hasilnya," lanjut Renata.


Dengan tangan gemetar, akhirnya Ashila membuka amplop yang berkop rumah sakit, lalu membacanya.


"Dalam kertas itu dijelaskan kalo janin yang gue kandung itu emang anak Rayhan," ucap Renata.


Deg!

__ADS_1


Ucapan Renata membuat hati Ashila tersayat-sayat seperti ditusuk oleh ratusan bahkan ribuan belati, matanya memanas dan mengembun, menahan rasa sesak di dadanya, ia sungguh tidak percaya ini, tidak!


Sakit tapi tak berdarah, ini gambaran hatinya saat ini.


Tanpa banyak waktu lagi, Ashila langsung berlalu meninggalkan Renata, gadis itu berlari walaupun jalanan sudah sangat basah karena hujan mulai deras.


"Ya Allah, apa dosaku sehingga Engkau memberikan cobaan ini? Kenapa Ya Allah?"


Isakan demi isakan keluar dari bibir mungilnya, butiran embun keluar dari sudut matanya, menyatu dengan air hujan.


Ashila terduduk lemas di jalan, menatap awan hitam di langit. "Apa takdirku memang seperti? Kenapa kelihatannya ini gak adil untukku Ya Allah? Kenapa?" Gadis itu memukul-mukul aspal, memikirkan nasibnya yang malang itu, ditemani dengan hujan yang semakin deras membasahi tubuhnya, seakan mengerti dengan perasaan yang Ashila rasakan saat ini.


CEKIIT...! TIN, TIN!


Samar-samar terdengar suara mobil yang mengerem tiba-tiba, terdengar pula bunyi klakson mobil, tetapi tidak ada sahutan apapun dari gadis itu.


"Hei! Kamu mau mati, ya?" teriak seseorang dari dalam mobil.


Ashila tak menjawab apapun, pikirannya masih melayang ke sana ke mari. Seseorang dari dalam mobil tersebut turun dan berjalan membawa payung menghampiri Ashila yang masih terduduk lemas.


"Hei!"


Ashila tersentak, ia mendongak, seakan mengenali suara itu, suara yang terasa tak asing di telinganya.


Azmi membulatkan matanya ketika melihat wanita yang hampir ditabraknya adalah Ashila, wanita yang tak kunjung hilang dari hatinya.


"Ashila? kamu ngapain di sini? Ayo masuk! Di sini hujan, nanti kamu sakit!"


Azka menjatuhkan payungnya, ia segera membuka jaketnya dan memakaikannya pada Ashila.


"A-aku..." Belum sempat Ashila melanjutkan ucapannya, matanya berkunang-kunang, sampai akhirnya semua pemandangan di depannya menjadi gelap, perlahan kesadarannya mulai menghilang.


Azmi terpekik kaget. "Astaga... Shila bangun, Shila bangun!" Azka menepuk pipi Ashila berkali-kali, tetapi tak ada sahutan sedikitpun dari gadis yang kini dalam dekapannya itu.


Tanpa aba-aba, Azka segera membopong Ashila dan memasukannya ke dalam mobil.


***


Azmi dan Annisa tampak mondar-mandir di depan ruang rawat, dimana Ashila diperiksa sekarang.


Tak lama setelah Ashila pingsan, Azmi langsung menelepon Annisa dan memberitahukan keadaan Ashila, gadis itu langsung syok dan segera menyusul ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kita berdo'a aja, semoga Shila baik-baik aja," ujar Azmi menenangkan Annisa yang terlihat khawatir, salah sebenarnya ia juga sangat khawatir akan keadaan Ashila sekarang.


Annisa mengangguk. "Iya, Kak."


"Kamu udah telepon suaminya, 'kan?"


"Udah, Kak. Suaminya Ashila lagi Otw ke sini sekarang."


***


Di sisi lain, Rayhan sekarang sedang berlari di koridor rumah sakit, ia benar-benar terkejut dan khawatir ketika mendengar Ashila pingsan.


Hingga akhirnya lelaki itu sampai di ruangan tempat istrinya diperiksa.


"Annisa, bagaimana keadaan Shila?" tanya Rayhan pada Annisa yang sedang duduk di kursi berdampingan dengan Azmi.


"Shila lagi diperiksa sama dokter, Kak," jawab Annisa.


"Ini gimana ceritanya kok bisa gini sih?" tanya Rayhan lagi.


"Tadi saya ngeliat Ashila hujan-hujanan sambil menangis di tengah jalan, saya juga gak tau apa yang terjadi dengan Shila, karena begitu saya tanya, Ashila langsung pingsan," jelas Azmi.


"Ashila tadi menemui mantan pacar kakak," timpal Annisa.


Rayhan terkejut dan membulatkan matanya. "Apa? Shila nemuin Renata?"


"Iya, Kak, tadi pas pulang kampus, mantan pacar Kakak nge-chat Shila dan minta Shila buat nemuin dia," jelas Annisa.


Rayhan mendesah frustasi, apakah Renata sudah memberitahu Ashila masalah tes DNA itu? Padahal ia dan Ashila baru saja berdamai. Apakah Ashila akan benar-benar meninggalkannya nanti?


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Ashila keluar dari ruangan. Rayhan pun langsung menghampirinya untuk menanyakan keadaan Ashila.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rayhan tergesa-gesa.


"Pasien tidak papa, hanya saja sepertinya pasien merasa terguncang seperti habis mengetahui sesuatu, sebentar lagi pasien akan siuman," ujar dokter berjas putih itu.


"Ashila terguncang? Renata... awas lo!" batin Rayhan sembari mengepalkan tangannya. "Makasih, Dok. Apa saya boleh melihatnya?"


"Silahkan," ujar dokter itu.


***

__ADS_1


Yo yo... apa yang terjadi selanjutnya yaa?? Kalo kepo tetap tunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, komen, vote author juga, supaya author semangat nulisnya.


__ADS_2