Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 75 Kamu ngidam?


__ADS_3

Semilir angin berhembus dari arah jendela yang sedikit terbuka, hawa dingin mulai menjalar di kakinya dan menusuk ke dalam pori-pori tubuhnya, udara dingin mendominasi ruangan itu.


Seorang gadis dengan mata masih terpejam mencoba meraba-raba sekitar mencari selimutnya yang sudah tidak melekat di tubuhnya itu.


Karena tak mendapatkan apa yang diinginkannya, terpaksa gadis itu harus bangkit, mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih sangat berat itu.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, gadis itu kembali berbaring, menarik benda hangat itu hingga batas leher, matanya tak sengaja melihat arloji di nakas samping tempat tidurnya.


"Udah jam sebelas lewat," gumamnya.


Gadis itu menoleh ke samping, seseorang yang selalu memeluknya dan memberinya kehangatan ketika tidurnya belum juga kembali, timbul rasa cemas dalam dirinya.


"Udah jam segini, mas Rayhan belum pulang juga," lirihnya.


Gadis itu bangkit, mengambil ponselnya, mencari kontak Rayhan, lalu menelepon suaminya itu.


"Nomor yang anda tuju, sedang ada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi." Hanya suara operator yang terdengar dari benda pipih itu.


Ashila pun mencoba menelepon nomor suaminya kembali.


"Nomor yang anda tuju…"


Dengan cepat Ashila segera mematikan ponselnya, gadis itu menghela napas gusar, ia benar-benar cemas dengan suaminya sekarang, dimana suaminya itu? Sedang apa? Bersama siapa?


"Ya Allah, jaga selalu suamiku," batinnya lirih.


Ashila pun beringsut dari kasur, menguncir rambutnya asal, ia berniat akan menunggu suaminya di ruang tamu saja, pikirnya.


Pada saat Ashila akan melangkah menuju pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dahulu, menampilkan seorang lelaki dengan penampilan yang cukup acak-acakan, dasi yang sudah terlepas, dua kancing kemeja atasnya terbuka, sungguh penampilan yang tak sesuai dengan statusnya sebagai CEO itu.


"Mas," lirih Ashila.


Gadis itu segera berjalan dengan sedikit tergesa menghampiri Rayhan dan memeluk suaminya itu dengan erat.


Ashila merasakan bau parfum wanita samar tercium dari kemeja Rayhan yang juga membalas pelukannya.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Ashila mencium parfum wanita dari pakaian suaminya itu, beberapa hari yang lalu ia juga mencium parfum dengan aroma yang sama di kemeja suaminya itu. Tetapi, Ashila tetap mencoba untuk berpikir positif. Namun hari ini, gadis itu merasa was-was.


"Kok baru pulang?" tanya Ashila setelah melepaskan pelukan mereka. "Kerjaannya banyak, ya?" sambung Ashila dengan lembut sambil mencoba menghilangkan perasaan was-was itu. Ia harus percaya pada suaminya dan membuang jauh-jauh pikiran negatif tentang suaminya itu, harus!


"I-iya, Sayang, akhir-akhir ini kerjaan aku numpuk banget,"


"Udah makan belum?"


Rayhan menggeleng.


Ashila berdecak pelan. "Kok belum sih! Kamu tuh kebiasaan, kalo lagi kerja suka lupa waktu, luangin waktu sebentar buat makan kan bisa, Mas," omelnya.


"Yaudah sekarang kamu bersih-bersih dulu, aku mau masakin sesuatu buat kamu," lanjut Ashila.


"Gak usah, Sayang, aku gak terlalu laper kok."


"Enggak, kamu harus makan, aku gak mau kamu sakit!"


Lelaki itu tersenyum lebar. "Yaudah iya, dasar istri cerewet!!" Rayhan mencubit gemas hidung Ashila. "Tapi aku suka," lanjutnya sambil terkekeh.


"Sebentar, ini bibir kamu kenapa? Kok kayak abis digigit gitu?" tanya Ashila sambil menyentuh bibir Rayhan.


Rayhan menjulurkan lidahnya, melembapkan bibir bawahnya. "Euu… anu, Sayang, tadi, gak sengaja kegigit."

__ADS_1


"Kok bisa sih, Mas?"


"Enggak sengaja, Sayang."


"Sakit gak?"


Rayhan mengangguk. "Tapi kalo dicium kamu pasti sakitnya ilang," kekehnya manja.


Ashila memukul pelan dada Rayhan. "Dasar gombal! Udah sana mandi! Kamu bau terasi tau," seru Ashila.


Rayhan mencium ketiaknya. "Enggak kok wangi gini dibilang bau. Kamu nih aneh tau gak, jangan-jangan kamu hamil? Kamu lagi ngidam ya?"


Hah? Apa hubungannya hamil dengan bau badan?


"Hamil? Hamil apaan?"


"Buktinya kamu aku wangi gini dibilang bau."


"Terus apa hubungannya hamil sama bau badan kamu?"


"Gini, Sayang, aku kan pernah denger kasus ibu-ibu hamil yang lagi ngidam, dia tuh kalo suaminya pake parfum dibilang bau, tapi kalo suaminya lagi keringetan gitu dibilang wangi, mungkin kasusnya sama kayak kamu sekarang ini," jelas Rayhan, lelaki itu memegang perut istrinya. "Mungkin di perut kamu ini ada dedek bayinya, Sayang."


"Hiss! Kamu tuh ngaco banget sih, Mas, lagian aku hamil dari mana coba, orang sekarang aja aku lagi kedatangan tamu bulanan."


"Hah? Kamu lagi PMS, Sayang?"


Ashila mengangguk. "Iya."


"Yaah… berarti aku gak bisa minta jatah dong."


"Ish! Dasar! Yaudah sana mandi." Ashila mendorong pelan dada suaminya.


"Mandi dulu sana!"


"Cium dulu!!"


"Mas Rayhaaan…"


"Iya-iya, kamu cerewet deh!" Lelaki itu mengerucutkan bibirnya. "Eh, Sayang, apaan tuh?" Rayhan menunjuk ke balkon kamar.


"Mana?" Ashila pun menoleh mengikuti arah telunjuk Rayhan.


Dengan cepat Rayhan pun mencium pipi Ashila, membuat wanita itu terpekik kaget.


"Maaass…"


Rayhan pun segera berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, sesampainya di depan pintu kamar mandi, lelaki itu menoleh kembali ke arah Ashila.


"Sayang," panggil Rayhan.


Ashila sedikit memutar bola matanya malas. "Apa?"


Rayhan mencium udara berkali-kali, mencium Ashila dari jarak jauh, lalu mengedipkan matanya, menatap istrinya dengan penuh kemanjaan, sampai akhirnya lelaki itu benar-benar masuk ke kamar mandi.


Ashila terkekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu. "Dasar suami aneh! Untung cinta."


***


Kini Ashila dan Rayhan sudah berada di atas tempat tidur, berbaring dengan posisi menyamping dan saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Rayhan merapikan anak rambut Ashila dan menyelipkannya pada telinga istrinya itu. "Sayang, aku boleh nanya gak?"


"Boleh, mau nanya apa?"


Sorot mata Rayhan tiba-tiba berubah menjadi sendu, membuat jantung Ashila berdetak kencang, kenapa? Ada apa?


"Kalo misalkan suatu saat nanti, aku ngecewain kamu dan bikin kamu sakit, apa kamu akan ninggalin aku?"


"Memangnya ada apa, Mas?"


"Kamu jawab aja pertanyaan aku itu, apa kamu bakal ninggalin aku kalo aku bikin kamu kecewa?" Rayhan mengulangi pertanyaannya.


Ashila terdiam sebentar, ia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berpikir. "Tergantung," jawabnya.


Rayhan mengernyit. "Tergantung? Maksudnya?"


"Iya tergantung, tergantung sebesar apa kamu bikin aku kecewa."


"Jadi, kalo kesalahan aku benar-benar fatal, apa kamu bakal ninggalin aku?"


"Mungkin."


Rayhan mendesah frustasi, kemudian menarik tubuh Ashila agar merapat padanya, lelaki itu memeluk sang wanita dengan sangat erat, menutupi ketakutannya sewaktu-waktu istrinya itu bisa saja akan pergi meninggalkannya.


"Kenapa kamu nanya kayak gitu, Mas? Apa kamu bikin kesalahan dan menodai pernikahan kita?"


Deg!


Jantung berhenti seketika, apa perbuatan yang telah ia lakukan itu termasuk menodai pernikahan? Apakah membohongi istri itu termasuk kesalahan fatal? Apakah menemui mantan kekasihnya secara diam-diam itu termasuk menodai pernikahan?


"E-enggak, Sayang, aku kan cuma nanya kalo misalkan," lirih Rayhan sedikit terbata.


"Tapi kan kamu gak akan nanya kayak gitu kalo gak ada sesuatu, kamu nyembunyiin sesuatu ya dari aku? Kamu lagi ada masalah, ya?"


"Enggak ada kok."


"Bohong? Aku kenal kamu itu bukan sehari dua hari, Mas, jadi aku tau ketika kamu lagi bohong atau enggak."


"Cuma masalah kecil kok, Sayang."


"Yaudah, ayo cerita sama aku, siapa tau aku bisa bantu, 'kan? Kita kan suami istri, Mas, masalah kamu, masalahku juga."


Rayhan kembali memainkan anak rambut Ashila dan mengecup keningnya sekilas. "Enggak papa, Sayang, aku gak mau istriku yang cerewet ini stress mikirin masalah aku, udah, kamu fokus aja sama kuliah kamu, jangan mikirin apapun, oke."


"Tapi akhir-akhir ini kamu tuh beda, Mas, pulang selalu malem aja, aku yakin, masalah kamu itu bukan masalah kecil, Mas."


"Udah gak usah dipikirin, Sayang, kita tidur, yuk, percuma juga kan begadang, kamunya juga lagi datang bulan, jadi gak bisa main-main dulu."


Ashila tahu pembicaraan suaminya itu mengarah kemana, ia hanya mendengus pelan. "Iya, kamu bener, mending kita tidur, kalo gak tidur, pasti otak kamu itu bakalan dipenuhin sama pikiran-pikiran mesum kamu itu."


Ashila pun segera membalikan tubuhnya, membelakangi Rayhan, ia segera memejamkan matanya.


Rayhan hanya terkekeh geli dengan tingkah istrinya itu, lelaki itu segera mengambil posisi memeluk sang istri dari belakang.


Dengan lembut, lelaki yang penuh dengan pesona itu menghujani wajah Ashila dengan kecupan, keduanya terlelap dengan damai, tidak memikirkan apapun yang akan terjadi besok.


***


Halo semuanya, aku seneng deh baca-baca komentar-komentar kalian, ada banyak banget yang ngejelekin Rayhan, ada yang nyuruh supaya Ashila ninggalin Rayhan buat sementara, ada yang gregeran sama pelakornya, banyak deh ya komentar-komentar kalian itu, artinya kalian bener-bener ngerti dan ikut ke dalam ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa ya untuk selalu tekan tombol like-nya, komennya juga, dukung selalu author dalam bentuk apapun, terima kasih.


__ADS_2