
Rayhan menatap sendu wajah istrinya yang sedang mengambilkan sarapan pagi untuknya.
"Sayang!"
Ashila diam dengan tatapan dingin, tangannya tak berhenti bergerak mengambil nasi beserta lauk-pauk untuk sarapan suaminya.
Sudah tiga hari, Ashila mendiamkan suaminya, tanpa sapaan, tanpa kecupan, tanpa pelukan, dan tanpa dekapan dari suami tercinta. Membuat tidur keduanya yag biasanya diliputi kebahagiaan dan kehangatan, kini dirundung kecupan yang mendamba. Bohong jika Ashila tidak merindukan itu.
Setiap malam Ashila memilih tidur di kamar sebelah kamar Rayhan, kamar yang dulu biasa ia tempati ketika awal mereka menikah.
Meskipun begitu, Ashila tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri, menyiapkan pakaian kerja, sepatu, sarapan selalu ia lakukan setiap hari, yang berbeda hanyalah sikap Ashila yang dingin setiap Rayhan menyapanya.
Biasanya setiap malam mereka akan bermanja-manja, bercanda ria, sekarang… tidak lagi, hanya ada keheningan saja yang terjadi dalam ruang apartemen itu.
Setelah mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya, Ashila meletakan menu sarapan itu di hadapan Rayhan. Setelah itu, gadis itu segera berlalu pergi meninggalkan suaminya.
Tetapi sebelum itu, Rayhan menghalangi langkah istrinya itu, lelaki itu memegang tangan Ashila. "Aku tau kamu masih marah sama aku, seenggaknya sarapan dulu sebelum pergi ke kampus," ujar Rayhan.
"Sarapan di kampus," ucap Ashila dingin, gadis itu menepis tangan suaminya, kemudian segera berlalu.
"Oke, kalo gitu aku juga gak bakal sarapan!"
Ashila menatap Rayhan dengan tatapan geram. "Kamu keras kepala banget sih!"
"Emang kamu gak keras kepala?" tanya Rayhan santai disertai kekehan. Ah dasar! Di saat seperti ini lelaki itu masih bisa terkekeh.
"Yaudah, yuk, makan. Aku gak bisa makan tanpa kamu," ujar Rayhan merangkul bahu Ashila, tetapi gadis itu langsung menepisnya.
"Gak usah pegang-pegang!" ketus Ashila, gadis itu pun duduk di kursi, diikuti oleh Rayhan yang duduk di sampingnya.
Ashila mendelik tajam. "Gak usah deket-deket! Kamu duduknya di sana!" perintah Ashila sambil menunjuk kursi yang bersebrangan dengannya.
Rayhan tersenyum, lelaki itu berpindah posisi di tempat yang diperintahkan istrinya tadi.
"Gak papa deh, diketusin sama kamu tiap hari, yang penting kamu gak diemin aku," lirih Rayhan sambil tersenyum semanis mungkin menatap Ashila, karena sudah tiga hari ini Rayhan tidak mendengar suara istrinya berbicara padanya.
***
Setelah menyelesaikan sarapan dan membereskan meja makan, Ashila segera mengaitkan tasnya dan akan berangkat ke kampus, tetapi sebelum itu Rayhan sudah lebih dahulu mencegat tangannya.
"Aku anter," ucap Rayhan sembari memegang tangan
"Gak usah, aku mau berangkat sendiri aja."
"Sayang, apa salah kalo suami sendiri nganterin istrinya kuliah?"
__ADS_1
"Gak ada yang salah, Mas. Tapi aku pengen berangkat sen– akh… Mas turunin!" Ashila terpekik kaget saat Rayhan menggendongnya.
"Mas, turunin!" ujar Ashila seraya memukul-mukul dada bidang suaminya itu.
Rayhan hanya diam, lelaki itu tetap menggendong Ashila walaupun istrinya itu terus memberontak. Lelaki itu membawa Ashila keluar apartemen menuju lift.
Sesampainya di loby, banyak pasang mata yang memperhatikan suami-istri itu, dari banyak pasang mata yang melihatnya, tidak ada yang bisa menebak jika pasangan suami-istri itu sedang bertengkar, mereka hanya dapat melihat keromantisan di antara keduanya.
"Mas Rayhan pagi-pagi udah romantis-romantisan aja nih," goda salah satu pemilik kamar apartemen yang lewat.
"Iya, Mbak. Istri saya ini emang lagi pengen dimanjain," ucap Rayhan sambil tersenyum.
Dalam hatinya Ashila terus mengumpati suaminya, tak jarang dirinya bergumam-guman sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Ia sangat malu sekarang.
Setelah sampai di parkiran, Rayhan segera memasukan tubuh Ashila ke dalam mobil.
Rayhan memutari mobilnya, masuk ke dalam mobil dan menguncinya agar Ashila tak bisa kabur.
Mobil Rayhan pun segera meluncur meninggalkan gedung berlantai 17 itu.
Di sepanjang jalan, Rayhan fokus menyetir sambil sesekali melirik istrinya yang fokus menatap keluar jendela.
***
"Astagfirullah… kok suami kamu jahat banget, ya, Shil."
Di kantin kampus, Ashila mencurahkan semua isi hatinya pada kedua sahabatnya. Jujur, ia tidak bisa memendam ini sendirian, dirinya butuh seseorang untuk menumpahkan segala keluh-kesahnya.
"Makasih, ya, kalian udah denger curhatan aku," ujar Ashila seraya memeluk kedua sahabatnya.
"Shil, kayak sama siapa aja sih. Kesedihan kamu itu kesedihan kita juga, dan kebahagiaan kamu kebahagiaan kita juga," ujar Annisa.
"Ekhem… peluk-pelukan gak ngajak-ngajak," ujar seseorang dari belakang.
Ketiga gadis itu menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Azmi peluk aja tuh tiang," celetuk Ashila disertai kekehannya sambil menunjuk sebuah tiang besar di samping Azmi.
"Jahat banget sih, Shil."
***
Rayhan baru saja keluar dari ruang meeting, lelaki itu kembali ke ruangannya.
Sesampainya di sana, ia melihat Renata sedang duduk manis di sofa ruangannya.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Rayhan sinis.
Renata berjalan mendekati Rayhan dan memeluk lelaki itu. "Aku kangen sama kamu," rengeknya manja.
Rayhan menepis tangan Renata. "Lepas, sialan! Gue gak sudi di peluk sama elo!"
"Sayang kok kamu kasar sih! Nanti anak kamu kenapa-napa gimana hah!" ucap Renata dengan nada sedikit meninggi.
"Heh! Lo jangan pernah bilang kalo anak itu anak gue!" ucap Rayhan
"Apa maksud kamu hah? Apa kamu gak inget apa yang kamu lakuin waktu itu!" Mata Renata mulai terlihat berkaca-kaca.
"Gue emang gak inget sama sekali, dan gue juga gak akan pernah sudi punya anak dari lo! Dan gue juga yakin anak yang lo kandung itu bukan anak gue!"
"Ini tetep anak kamu walaupun kamu mangkir, tetep ini anak kamu!"
"Gue gak percaya!"
"Harus!"
"Gak!"
"Harus percaya, Rayhan. Harus berapa kali aku ngomong kalo anak ini tuh darah daging kamu, hasil buah cinta kita!"
"Oke! Kalo gitu kita lakukan tes DNA, kalo itu bener anak gue, karena gue gak percaya sama kata-kata lo!"
Renata membelalakan matanya. "Aku gak mau! Kamu jahat banget sih, gak mau ngakuin anak kamu sendiri," ucap Renata sambil terisak.
"Maka dari itu kita harus melakukan tes itu Renata, supaya gue tau anak yang lo kandung itu anak gue atau bukan!"
Renata berpikir sejenak, ia tersenyum miring. "Oke kalo kamu masih gak percaya, kita lakukan tes DNA, kalo hasil tes itu membuktikan bahwa anak yang aku kandung itu anak kamu, kamu harus cepat nikahin aku dan ceraikan istri kamu itu!"
"Oke, kalo itu bukan anak gue, elo harus pulang ke Singapura dan jangan pernah ganggu rumah tangga gue sama Ashila lagi!"
Rayhan mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya. "Sekarang lo pergi! Gue sibuk!" ujarnya dingin, lelaki itu kembali membaca berkas-berkas untuk meeting selanjutnya.
"Yaudah, aku pergi dulu, ya, kamu gak bakal peluk anak kita dulu," ujar Renata sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Gak usah!"
"Sampai kapan pun, kamu hanya milikku Rayhan," batin Renata tersenyum miring.
***
Apa yang bakal terjadi setelah ini ya, tetep tunggu kelanjutannya ya, teman-teman.
__ADS_1
Jangan angkat jempol kalian, komentar juga, dan jangan lupa vote author, supaya author tambah semangat nulisnya.
Thank you all.