Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 62 Ketakutan Ashila


__ADS_3

Malam hari kemudian.


Kini Rayhan dan Ashila sedang fokus pada layar laptop masing-masing di sofa kamar, Rayhan yang notabenenya seorang Bos di perusahaan pasti tidak akan jauh dari layar monitor itu dimana pun berada, sedangkan Ashila ia sedang membuat makalah untuk bahan presentasinya di kampus.


Waktu berjalan cepat, Ashila menyelesaikan tugasnya lebih dahulu, ia pun segera menutup laptopnya meregangkan tangannya sebentar, lalu beralih menatap suaminya yang masih setia mengotak-atik benda berbentuk kotak itu.


Ashila pun berpikir ingin membuatkan sesuatu untuk suaminya, ia pun segera bangkit dan pergi keluar kamar menuju dapur.


Tak lama kemudian, Ashila kembali lagi ke kamar membawa satu cangkir kopi dan cemilan untuk suami tercintanya itu.


"Mas, aku bikinin kopi buat kamu."


Rayhan menoleh, menatap Ashila yang sedang tersenyum manis sambil menyodorkan satu cangkir kopi ke arahnya.


"Makasih, Sayang." Rayhan mengambil kopi itu dari tangan istrinya lalu meminumnya sebentar.


"Sama-sama."


"Sayang, kamu ngasih gulanya kebanyakan ya, manis banget kopinya."


"Hah? Kemanisan ya, padahal aku kasih gulanya sedikit banget loh mas, kayak biasanya."


"Mungkin karena aku minumnya deket kamu kali, ya, makanya jadi manis banget," ucap Rayhan sambil mengerlingkan matanya.


"Issh! Dasar gombal!" ucap Ashila seraya memukul dada Rayhan pelan.


Rayhan terkekeh pelan lalu menarik tengkuk Ashila, mengecup bibir istrinya itu singkat.


Kedua pipi Ashila langsung memanas mendapat perlakuan seperti ini, dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah itu di dada bidang milik suaminya.


Rayhan sangat menyukai tingkah istrinya sekarang ini, terlihat sangat menggemaskan, ia pun mendaratkan kecupan di kening istrinya dengan lembut.


"Maas… iiikh." Ashila melayangkan sebuah cubitan di perut Rayhan.


"Aww… sakit, Yang," ucap Rayhan dengan nada manjanya.


"Biarin!" ucap Ashila seraya memasang wajah cemberut.


"Jangan cemberut dong, entarnya aku pengen gigit pipi kamu, sayang, kamu ngegemesin kalo mukanya kayak gitu."


Rayhan menarik Ashila dalam pelukannya, saling mendekap satu sama lain, seakan tak ingin terpisahkan.


Sekelebat ucapan Kayla kembali terngiang di telinga Ashila.


"Dia itu cewek yang yang udah bikin kak Rayhan depresi karena kak Rayhan cinta banget sama dia."


Ashila menatap Rayhan intens. "Ya Allah, apa kami akan tetap terus seperti ini sampai nanti? Gimana reaksi mas Rayhan kalo mbak Renata ada di sini? Apa mas Rayhan akan meninggalkanku?" batin Ashila


"Mas, aku boleh nanya nggak?"


"Nanya apa, Sayang?"


"Kamu beneran sayang gak sama aku?"


Rayhan menatap Ashila dengan tatapan aneh, sulit diartikan. "Kok kamu nanyanya gitu? Kamu ngeraguin cintaku?"


"Bu-bukan gitu, Mas."

__ADS_1


"Terus kenapa?" tanya Rayhan bingung, ia menyingkap rambut Ashila dan menyelipkannya di telinga istrinya itu.


"A-aku cuma takut aja," ucap Ashila terbata. "Aku takut kamu ninggalin aku," sambungnya.


"Hey, tatap mata aku, Sayang." Rayhan menyentuh dagu Ashila dan menghadapkan wajah sedih istrinya ke arahnya. "Kamu kenapa sih nanya pertanyaan kayak gini, Sayang? Pasti ada sesuatu, ayo cerita sama aku," pintanya.


"Tadi… aku sama Kayla ketemu mbak Renata di supermarket."


"A-apa?" Mendengar nama 'Renata' Rayhan membulatkan matanya lebar-lebar, ia jadi teringat kejadian tempo hari ketika dirinya tiba-tiba terbangun berada di dalam kamar apartemen mantan kekasihnya itu.


"Dia gak ngapa-ngapain kamu, kan? Dia ngapain kamu aja, ayo cerita sama aku?" tanya Rayhan cemas sambil membolak-balikan tubuh Ashila.


"Aku gak diapa-apain kok, Mas."


Rayhan menghela napas lega, lalu menarik Ashila dalam pelukannya, memeluknya dengan erat.


"Tapi…"


Rayhan mengernyitkan keningnya. "Tapi apa, Sayang?"


"Apa mas masih mencintainya, katanya dulu mas cinta banget sama dia sampe berantem sama mama cuman karena belain dia?"


"Jadi kamu raguin cinta aku karena ini?"


Ashila mengangguk pelan. "Aku takut kamu ninggalin aku, Mas."


"Justru aku yang takut kamu ninggalin aku, Ashila. Ya Allah, semoga kejadian tempo hari itu tidak akan menjadi masalah di dalam rumah tanggaku, kenapa aku bisa sebodoh itu," batin Rayhan merutuki dirinya sendiri.


"Mas, aku ngantuk," ucap Ashila dengan nada manjanya.


Ashila menatap layar laptop Rayhan yang masih menyala. "Emang kerjaannya udah selesai?"


"Belum sih, tapi bisa dilanjut besok kok, Sayang."


Rayhan menutup laptopnya lalu membawa Ashila menuju tempat tidur, mendorong tubuh istrinya pelan, kemudian ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu.


Rayhan menghadapkan tubuhnya ke samping, begitupun dengan Ashila. Kini mereka saling berhadapan.


"Selamat tidur, Istriku," ucap Rayhan disertai senyum manisnya, kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya itu.


Ashila membalasnya dengan senyuman termanisnya. "Selamat tidur juga, Suamiku."


Lalu Ashila memeluk tubuh suaminya itu, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


Rayhan pun membalas pelukan istrinya itu. Mereka berdua Akhirnya terbuai dalam alam mimpi masing-masing, dengan terus berpelukan.


***


Di sebuah sekolah yang cukup terkenal di Jakarta digegerkan oleh kedatangan siswa baru pindahan dari Amerika. Para gadis di sana berteriak histeris ketika siswa baru itu melewati mereka.


"Kyaa… itu siapa ganteng banget."


"Kayaknya murid baru deh."


"Bibirnya kayak pake lipstik, merah banget."


"Kayaknya gue bakal rajin sekolah nih."

__ADS_1


"Uh calon laki udah ada di depan mata."


"Mukanya kayak artis Korea."


"Aaa… pangeranku."


Sorakan-sorakan nyaring itu membuat salah satu gadis cantik yang sedang menikmati sarapan di kantin yang letaknya tak jauh dari lapangan merasa terganggu.


"Itu di lapangan ada apa sih, rame banget, lagi pada ngantri sembako ya," ucap gadis itu yang ternyata adalah Kayla.


"Lo ngomong asal jeplak aja, dipikir sekolah kita ini tempat ngambil sembako," ucap Tasya, sahabatnya Kayla.


"Abis di lapangan rame banget sih, ada apa, ya?"


"Iya gue juga gak ngerti, ada apa, ya?"


Seorang gadis yang dikuncir ekor kuda berlari memasuki kantin. "Kayla, Tasya," panggilnya kepada kedua sahabatnya itu, membuat kedua gadis yang sedang menikmati sarapannya itu menoleh.


Gadis yang dikuncir ekor kuda itu segera menghampiri Kayla dan Tasya dengan napas terengah-engah.


"Ada apa sih, Mir?" tanya Kayla.


"Kay, Sya, kalian tau gak?"


"Enggak," ucap Kayla dan Tasya serempak.


"Iyalah, kan gue belum kasih tau," ujar Amira.


"Yaudah kasih tau."


"Sekolah kita kedatangan murid baru, cowok lagi, guannteeeng banget, dan katanya dia itu anak kelas sebelas, jadi sama dong kayak kita, semoga aja dia bakalan satu kelas sama kita."


"Serius lo, Mir?" tanya Tasya.


"Dua rius, makanya ayo kita ke lapangan liat cowok ganteng itu, gue yakin nih, lo berdua pasti bakalan ngiler ngeliatnya,"


"Kay, ke lapangan, yuk," ajak Tasya.


"Gak ah, males."


"Ayolah, Kay, emang lo gak kepo gitu sama anak baru itu?" tanya Amira.


"Ya kepo, sih, tapi gue pengen ke kamar mandi dulu, kebelet," ucap Kayla.


"Ah lo mah kebiasaan, Kay, yaudah Mir, kita aja yang ke sana," ajak Tasya pada Amira.


"Duluan ya, Kay," ucap Mira.


"Iya, entar gue langsung ke kelas, ya," ucap Kayla sambil berlalu meninggalkan kantin.


***


Kira-kira siapa ya murid barunya???


Jangan lupa like, komennya temen-temen..


Love you.

__ADS_1


__ADS_2