
Pagi ini mama Putri sedang menggedor-gedor pintu kamar anak bungsunya. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 WIB, namun Kayla belum juga keluar dari kamarnya.
"Kayla, bangun, Sayang. Udah siang ini, kamu gak sekolah?" tanya mama Putri di luar pintu kamar Kayla.
"Kayla, bangun, Kay!!"
"Kenapa, Ma?" tanya Rayhan yang baru saja keluar dari kamarnya, kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamar sang adik. Dengan bantuan tongkatnya, Rayhan berjalan tertatih-tatih menuju sang mama.
"Dari tadi Kayla gak mau buka pintu, Ray. Mama takut Kayla kenapa-napa," jawab mama Putri.
"Yaudah, coba Ray aja yang ketok siapa tau dibuka."
Tok, tok, tok!
"Kay… Dek, buka pintunya, udah siang ini, kamu gak sekolah?"
"Kay… Kay…"
Tak lama pintu pun terbuka, menampilkan Kayla yang masih memakai baju tidur polkadotnya dan juga dengan rambutnya yang masih acak-acakan.
Mama Putri meneliti penampilan anak gadisnya itu. "Kay, kamu belum–"
"Iya, Ma, Kak. Kay pusing banget nih," ucap Kayla dengan suara seraknya.
Mama Putri segera menempelkan telapak tangannya di pelipis Kayla. "Ya Allah, Nak. Kamu demam, ya , Sayang. Yaudah ayo mending istirahat lagi." Mama Putri segera membawa Kayla masuk ke dalam kamar dan menidurkannya di tempat tidur.
"Ray, kamu telepon dokter Rani gih," titah mama Putri pada putra sulungnya.
Rayhan mengangguk. "Iya–"
"Gak usah, Kay gak papa kok, cuma pusing dikit doang. Kay cuman pengen istirahat aja," potong Kayla cepat.
"Yaudah, kalo kamu maunya gitu. Kamu tidur lagi gih, nanti mama bakal kompres kamu."
Kayla mengangguk lemah.
Mama Putri pun segera pergi keluar untuk mengambil kompresan, tersisa Rayhan yang sedang duduk di tepi tempat tidur sedang menatap wajah pucat sang adik.
"Mau kakak pijitin gak kepalanya?" tawar Rayhan.
"Boleh, Kak."
Rayhan pun mulai memijat kepala sang adik dengan lembut. "Demam cinta huh, adeknya kakak udah gede, ya," gumam Rayhan disertai kekehan pelan, tangannya mengelus rambut Kayla dengan lembut. Semalam sang mama menceritakan tentang sang adik yang ditinggalkan oleh Azka pergi ke luar negeri.
"Apaan?? Demam cinta dari Hongkong!!" balas Kayla menggerutu dengan mata terpejam.
"Huh! Masa??"
"Ah! Kak Ray, udah deh."
"Iya-iya."
Tak lama kemudian, mama Putri pun kembali ke kamar Kayla sambil membawa baskom kecil yang berisi air, beserta kain, ia pun segera mengompres dahi Kayla. "Ya ampun, Nak. Gara-gara ditinggalin Azka sampe demam gini," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ini namanya demam cinta, Ma," celetuk Rayhan.
"Ck, apaan sih, Kak. Aku sakit bukan karena Azka, ya. Mungkin gara-gara kemarin kehujanan," ujar Kayla tak berbohong, kemarin ia memang kehujanan sewaktu ke taman untuk menenangkan diri.
Tak lama kemudian, Ashila pun masuk ke dalam kamar Kayla karena mendengar kabar bahwa Kayla sakit.
"Kayla sakit apa?" tanya Ashila sambil mendekat ke arah tempat tidur.
"Demam cinta, Sayang. Lebay kan?" celetuk Rayhan.
Kayla hanya cemberut sambil menatap sang kakak malas. "Lebih lebay mana coba sama orang yang mau bunuh diri gara-gara ditinggal istrinya," balas Kayla terkekeh pelan bermaksud menyindir sang kakak.
Rayhan memelototkan matanya, bibirnya terbuka akan mengatakan sesuatu, namun sang mama langsung memotongnya begitu saja. "Udah-udah, kalian tuh kalo lagi ketemu kayak gini, coba akur sehari aja, ribut mulu deh. Kamu lagi, Ray. Udah tau adeknya lagi sakit, malah disindir-sindir kayak gitu," ucap mama Putri
Kayla memeletkan lidahnya ke arah Rayhan karena merasa ia dibela oleh sang mama. Sedangkan Rayhan hanya memutar bola malas.
"Mas, aku mau minta izin pergi ke kampus dulu, ya," ucap Ashila sambil memegang pundak sang suami.
"Yaudah aku anterin."
"Hah? Gak usah, Mas. Kamu kan masih sakit, mending kamu istirahat aja."
"No, no, pokoknya aku anterin, lagian nganterinnya pake mobil, Sayang. Bukan jalan kaki."
"Ikh kamu–"
"Pokoknya gak ada penolakan."
Keduanya pun segera mencium tangan mama Putri.
"Ma, Shila berangkat ke kampus dulu, ya," ucap Ashila.
"Ma, aku anterin Shila dulu, ya," tambah Rayhan.
Mama Putri mengangguk. "Hati-hati, ya. Rayhan jangan ngebut."
Rayhan mengangguk hormat pada sang mama. "Siap, Mamaku sayang."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Mobil yang dikemudikan Rayhan kini sudah sampai di depan pintu gerbang kampus sang istri. "Nanti pulangnya aku jemput, ya," ucap Rayhan.
"Iya, tapi kalo kamu ngerasa sakit atau ngilu kakinya, jangan jemput, ya. Tetep di rumah."
"Iya, Sayangkuh," ucap Rayhan gemas sambil mencubit pelan pipi istrinya.
"Yaudah, kalo gitu aku masuk, ya."
Ashila melepaskan seatbeltnya kemudian mencium tangan kanan Rayhan dan lelaki itu membalasnya dengan sebuah kecupan di bibirnya, tentu saja wajahnya pasti memerah sekarang. "Digituin aja pipinya langsung merah," goda Rayhan.
__ADS_1
"Apasih!"
"Yaudah, masuk gih sana, entar telat." Rayhan mengelus perut sang istri yang mulai membuncit. "Anak ayah, jagain bundanya, ya, jangan bikin bunda repot, oke!"
"Oke, Ayah…" balas Ashila menirukan suara anak kecil, dibalas kekehan oleh Rayhan.
"Gak sabar deh, nunggu dia hadir di dunia," ucap Rayhan dengan tangan yang masih setia mengelus perut Ashila.
"Aku juga, Mas. Yaudah aku masuk sekarang ya. Assalamualaikum," ucap Ashila seraya membuka mobil.
"Wa'alaikumsalam."
Ashila sesekali menoleh ke belakang, memastikan Rayhan masih memperhatikannya. Dan benar saja suaminya itu masih terduduk di jok mobil tanpa melepaskan pandangannya dari Ashila.
Rayhan tak kunjung beranjak dari sana, ia masih mengamati langkah Ashila sampai menghilang di tengah lautan para mahasiswa yang keluar-masuk gerbang. Barulah ia menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
***
Kayla terbangun dari tidurnya kala ia merasakan haus di tenggorokan. Dengan berat ia membuka mata, tangannya meraih air minum yang berada di nakas samping tempat tidurnya. Namun ia tak bisa menggapainya.
"Lo pengen minum, ya?"
Kayla menoleh dan mendapati Farel sedang berjalan ke arahnya, mengambilkan air minum dan membantu meminumkannya pada Kayla.
"Thanks, lo di sini?"
Farel duduk di tepi tempat tidur, lalu menata bantal untuk Kayla bersandar, perlahan lelaki itu mendorong pelan Kayla untuk bersandar di sana. "Mama Putri ngabarin gue, katanya lo sakit. Gimana keadaan lo? Apa masih pusing?"
Kayla mengangguk. "Sedikit."
"Sampe segininya ya lo ditinggalin Azka," goda Farel.
Kayla memutar bola malas sambil berdecak pelan. "Apasih, Rel. Kenapa sih semua orang bilang kalo gue sakit gara-gara mikirin Azka, padahal enggak tuh!"
Farel terkekeh. "Iya-iya, serah lo deh. Yang gengsinya gede." Lelaki itu memelankan kalimat terakhirnya.
Sudah hampir 10 tahun Farel mengenal Kayla, mereka berteman sejak masih menginjak sekolah dasar, jadi Farel sudah sangat paham dengan sifat gengsi Kayla yang sebesar gunung dan seluas samudera itu.
"Ah, ya. Gue ke sini mau ngasih ini sesuatu buat lo!" Farel membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari sana, yaitu sebuah bingkisan berwarna merah muda, lalu ia pun langsung menyerahkannya pada Kayla. "Dia nitip ini buat lo, Kay."
Dengan tangan yang bergetar, Kayla pun menerimanya. "Ini apa, Rel?"
"Gue gak tau, Azka cuma bilang buat ngasih ini sama lo."
"Thanks."
Farel mengangguk sambil kembali menarik resleting tasnya. "Gue ke sini cuma mau ngasih itu doang sih, gue balik sekarang, ya."
"Lo nggak minum dulu? Makan gitu?" tawar Kayla.
Farel menggeleng. "Kagak usah, btw… lo cepet sembuh, ya. Jangan lupa minum obat, makan yang banyak. Oke!"
Kayla mengangguk. "Yaudah, makasih."
__ADS_1