
Tepat pukul 04.15 WIB, Rayhan terbangun dari tidurnya.
"Eunggh... sekarang jam berapa, ya?" Suara serak khas bangun tidur, Rayhan mengucek-ngucek mata dengan kedua tangannya. Ia tersenyum simpul menatap ke arah wajah wanita yang masih terlelap.
Rayhan baru sadar bahwa sekarang mereka berdua tidak memakai sehelai benang pun, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua, ia mengingat kembali saat mereka bercinta dengan penuh gairah semalam. Ah hatinya sangat berbunga-bunga sekarang, akhirnya ia bisa merasakan juga surga dunia yang sesungguhnya.
Rayhan tersenyum tipis menatap wajah yang masih terlelap dalam-dalam, perlahan tangannya mulai menyibakkan rambut Ashila dan menyelipkannya di samping teling istrinya itu. kemudian mencium kening dan kedua pipi sang istri dan terakhir mengecup bibir Ashila cukup lama.
Tak lama kemudian, Ashila terlihat mulai bergerak dan melenguh pelan kala Rayhan mengecupi lehernya, sepertinya gadis itu akan bangun, ia mengusap-usap wajahnya karena merasa ada yang mengganggu. Kini gadis itu mulai membuka matanya kemudian tersenyum menatap sosok yang berada di depannya.
"Mas," ucap Ashila dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf, Sayang. Udah ganggu tidur kamu." Rayhan merasa bersalah karena ulahnya itu istrinya terbangun.
"Hemm, gak papa, Mas," ucap Ashila lemah, tubuhnya masih terasa remuk redam, pegal-pegal, terutama di bagian paling sensitifnya, kepalanya pun masih terasa berat.
"Terima kasih untuk semalam."
"Sama-sama," ucap Ashila pelan karena merasa malu.
"Apa?" tanya Rayhan berpura-pura tidak mendengar.
"Sama-sama." Suara Ashila semakin mengecil karena rasa malunya makin menjadi-jadi.
"Ulangi, Sayang, aku gak denger," ucap Rayhan menggoda sang istri.
"Sama-sama," ucap Ashila cukup keras kemudian ia munutupi wajahnya yang sudah merona karena malu.
Rayhan yang melihat istrinya merona karena malu langsung memeluk tubuh polos istrinya itu seraya berbisik.
"I love you."
"I love you too," jawab Ashila kemudian gadis itu menyusupkan kepalanya di dada suaminya menutupi wajahnya yang semakin memerah.
"Sayang semalem itu…" Ucapan Rayhan terpotong karena mulutnya langsung dibungkam oleh tangan istrinya.
"Stop jangan ngomongin tentang semalem."
"Kenapa?"
"Malu."
"Malu kenapa sih? Kita kan suami istri, oh ya aku masih inget semalem, pas kamu mendesah nikmat di bawah aku."
"Maaas… udah aku bilang jangan ngomongin tentang semalem." Ashila merengek kesal.
"Iya, iya, kamu semalem menikmati banget, Sayang." Rayhan kembali menggodanya.
"Maas… aku ngambek nih," ucap Ashila seraya mencebikan bibirnya.
"Iya, iya jangan ngambek ya, Sayang, kita kan semalem baru…" Ucapan Rayhan terhenti kala Ashila menatapnya sangat tajam dan menusuk. "I-iya, Sayang, janji gak bakal ngomong apa-apa lagi." Rayhan menatap Ashila takut, dia terlihat seperti suami yang takut istri sekarang.
"Oh iya Mas, sekarang jam berapa, ya?"
Rayhan melirik sebentar jam beker di atas nakas samping tempat tidurnya. "Jam setengah lima," ujarnya.
"Berarti bentar lagi subuh, kita kan belum mandi wajib."
__ADS_1
Perlahan Ashila bangkit dari tidurnya, pada saat akan beringsut dari kasur, ia merintih kesakitan karena merasakan selangkannya sangat perih dan juga ngilu.
"Apa masih sakit, Sayang?" tanya Rayhan yang mendengar istrinya itu merintih.
Ashila mengangguk, hal itu tentu membuat Rayhan merasa bersalah, bagaimanapun karena perbuatannya lah istrinya itu merasa kesakitan sekarang.
Rayhan pun mengambil dan memakai celana boxer lalu mengangkat tubuh mungil Ashila ke dalam gendongannya.
"Maaas, mau ngapain?" Ashila terpekik kaget saat ia merasa tubuhnya melayang.
"Mau gendong kamu ke kamar mandi."
"Jangan, aku bisa jalan sendiri kok."
"Udah deh jangan ngeyel." Rayhan pun melepaskan selimut yang melilit di tubuh istrinya itu, tetapi Ashila menahan selimut itu kuat-kuat.
"Selimutnya jangan dibuka, Mas."
"Kenapa?"
"Malu lah."
"Ck! Masih malu juga, aku kan udah liat semuanya, Sayang."
"Yaudah, kalo gitu turunin aku aja, aku mau jalan sendiri."
"Iya, iya gak bakal di buka selimutnya."
Rayhan pun menggendong Ashila menuju kamar mandi dan mendudukannya di bathup.
"Makasih, Mas, sekarang Mas keluar gih."
"Gak mau, nanti mandinya lama kalo bareng-bareng."
"Justru kalo bareng bakal mempersingkat waktu, Sayang."
"Enggak ih, kamu keluar dulu, Mas."
"Iya, deh, kamu tau kan niat mandinya. Sayang?"
"Tau, Mas."
***
"Terima kasih, Sayang." Rayhan mengecup kening Ashila setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh berjama'ah.
"Sama-sama."
Kedua mata mereka bertemu, saling tersenyum satu sama lain, Rayhan menarik Ashila ke dalam pelukannya, mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Mas, aku masih ngantuk."
"Yaudah, tidur lagi yuk," ajak Rayhan lembut, ia memang dapat melihat dengan jelas wajah lelah dari istrinya itu.
Ashila pun mengangguk, ia segera membuka mukenanya dan membereskan perlengkapan sholatnya. Setelah selesai, Rayhan segera menggendong tubuh istrinya menuju tempat tidur.
"Hari ini kamu gak usah kuliah dulu, ya."
__ADS_1
"Tapi…"
"Cuman sehari ini, gak bakal bikin kamu gak naik semester kok, Sayang," sela Rayhan cepat.
"Yaudah."
Tak lama kemudian, keduanya kembali terlelap, saling mendekap satu sama lain.
***
Ashila terbangun dari tidurnya, perlahan ia membuka mata kecilnya karena cahaya matahari yang masuk tanpa seizinnya. Ia tak mendapati sosok Rayhan di sebelahnya.
"Mas Rayhan kemana, ya?" tanya Ashila pada dirinya sendiri.
Perlahan Ashila menurunkan kakinya dari atas tempat tidur, ia sedikit meringis kesakitan karena area intinya masih terasa sakit karena pergulatan dengan suaminya semalam. Ia berjalan sedikit tertatih-tatih keluar kamar mencari-cari sosok yang telah membuat dirinya kesakitan tapi juga terasa nikmat sih, astaga kok nikmat sih? Tapi memang nikmat, malah aku ingin mengula… ah tidak-tidak, apa yang ia katakan.
Sambil mencari suaminya, pikiran Ashila terus berkelana ke sana ke mari, setan dan malaikat dalam dirinya terus berdebat dalam pikirannya itu.
Langkahnya terhenti kala melihat sebuah memo yang berada di atas meja makan.
"Sayang aku berangkat ke kantor dulu, aku udah buatin sarapan spesial rasa cinta dan sayang buat kamu, dimakan ya."
*Suamimu💚*
Ashila tersenyum setelah membaca memo itu, ia pun membuka tudung saji ternyata isinya adalah sepiring nasi goreng yang tampak lezat dengan telur mata sapi setengah matang, tanpa aba-aba lagi Ashila pun segera menarik kursi dan segera melahap sarapan yang dibuat oleh suaminya itu.
....
*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم*
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ
اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Dengan segala kerendahan hati, perkenankan kami dan keluarga mengucapkan :
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H.
Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir & Batin.
ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻭَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﻤَﻨَﺎ ﻭَ ﺻِﻴَﻤَﻜُﻢْ ﻛُﻞُّ ﻋَﺎﻡٍ ﻭَ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺑِﺨَﻴْﺮ
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
آمــــــــــــــين.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Selamat hari raya teman-teman readers dan semua para autor di noveltoon dan mangatoon mohon maaf lahir batin.
Buat para editor juga selamat hari raya ya, semangat ya buat nge-review naskah-naskah yang dikirim😍😍😍.
__ADS_1
Selamat hari raya juga buat pihak Noveltoon dan Manggatoon.
Terima kasih.