Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 107 Kecelakaan


__ADS_3

Kayla dan Azka berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit, bau obat-obatan menyambut kedatangan mereka. Mereka berjalan dengan santai dengan membawa satu keranjang parsel berisi buah-buahan yang berada di tangan Azka.


"Eh, Ka. Si Tasya itu dirawat di kamar kenanga nomor berapa sih? Nomor 6 atau 9? Lupa gue."


Ya, hari ini mereka akan menjenguk Tasya. Sahabat mereka itu dirawat di rumah sakit karena baru saja melakukan operasi usus buntu.


Azka mengambil ponselnya di saku, lalu menggeser layar ponselnya. "Di kamar kenanga nomor 8, lo salah semua!"


"Hehe… salah, ya." Kayla menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Btw… kamarnya sebelah mana sih?"


"Kayaknya ke sini deh." Azka menunjuk belokan yang berada di sebelah kanan mereka.


Mereka pun terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit sambil menatap plang-plang yang terpampang di atas pintu. Sudah hampir setengah jam mereka berjalan, namun tak juga menemukan ruang rawat Tasya.


"Ka, perasaan gue kita dari tadi udah jalan banget, tapi kok ruang rawat si Tasya gak ketemu-ketemu, ya?"


Azka menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gak tau juga."


"Ikh… lo gimana sih, katanya lo tau ruangannya, kalo tau kayak gini, mending kita tanya aja tadi ke bagian informasi." Kayla mulai menyalahkan Azka.


"Ya sorry, gue kira jalannya ke sini."


"Aduuh… gimana nih? Mana rumah sakitnya gede banget lagi, kalo misalkan kita nyasar di sini sampe malem gimana? Mana gelap gini lagi." Tiba-tiba saja bulu kuduk Kayla terasa merinding. "Gue takut nanti ada yang ngesot-ngesot gimana?"


Azka sebenarnya juga takut, tapi ia tak boleh terlihat seperti itu di depan Kayla, ia harus terlihat cool.


"Ah! Lo jangan lebay deh, ini baru jam setengah lima sore, mana mungkin ada hantu, udah ayo jalan aja."


Kayla dan Azka pun terus berjalan menyusuri koridor, hingga pada akhirnya mereka mendengar samar-samar orang berbicara. Awalnya mereka tampak tak peduli dan terus berjalan. Namun, Kayla tampak tak asing dengan suara salah seorang dari mereka. Ia pun menarik tangan Azka dan bersembunyi di balik tembok.


"Ayolah, Dok, tolong bantu saya. Saya bayar seratus juta deh, yang penting dokter menunjukan rekaman ini nanti saat saya USG."


"Maaf, Mbak, memalsukan dokumen itu termasuk melanggar kode etik sebagai dokter, saya tidak mau."


"Ayolah, Dok. Nanti kalo semua usaha saya berjalan sesuai rencana, Dokter saya kasih bonus deh. Saya bayar dua kali lipat bahkan tiga kali lipat, Dok."


"Saya–"


Prok, prok, prok!


"Huh! Dasar cewek kurang ajar lo! Murahan!"


Renata sangat terkejut saat mendapati Kayla sedang berjalan dengan santai ke arahnya. "Kayla?!"


Kayla tersenyum sinis. "Apa? Kaget ada gue di sini?"

__ADS_1


Renata menggeleng. "Kay, yang kamu denger itu–"


Kayla langsung memotongnya. "Kenapa? Yang gue denger itu cuma salah paham, elo mau ngomong gitu, 'kan? Heh, tapi sayangnya gue gak percaya sama omongan nenek lampir kayak lo!" Gadis itu berbicara tanpa ada jeda sedikit pun.


"Hebat banget lo bisa bikin kakak sama kakak ipar gue mau cerai, pake pura-pura hamil segala lagi, heh lo tau gak, semua bukti udah ada di tangan gue, jadi elo gak bakal bisa ngapa-ngapain lagi," sambung Kayla sambil mengacungkan ponselnya.


Benar-benar wanita bedebah! Kayla mendekat ke arah Renata, tanpa aba-aba gadis itu memberikan tamparan yang cukup keras di pipi Renata.


Plakk!


"Ini buat lo karena dulu lo udah bikin kakak gue sama mama gue sering ribut!" teriak Kayla geram.


Terlihat pipi Renata memerah dan akan membalas tamparan Kayla, tetapi dengan cepat Kayla menahannya.


Plakk!


"Ini buat lo karena udah bikin kak Rayhan dan kak Ashila hampir cerai," ucap Kayla kembali.


Pada saat Kayla akan menampar Renata kembali, Azka menahannya. "Apaan sih, Ka, gue belum puas ngasih pelajaran sama dia," ucap Kayla.


"Udah, Kay, yang penting kan buktinya udah dapet, dan sekarang pasti kak Shila lagi nemuin kak Rayhan, mending kita pergi dari sini."


Kayla menatap Renata dengan tatapan tajam, sangat menusuk. "Heh! Lo tunggu aja, gue jamin, gak lama lagi lo bakal membusul di penjara," teriaknya menggebu sambil menunjuk-nunjuk wanita itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Halo, Kay. Kakak udah tonton videonya."


[…..]


"Hah? Mas Rayhan juga udah nonton? Terus sekarang dia di mana? Kakak pengen temuin kakak kamu."


[……]


"Masjid At-taqwa? Ah iya kakak tau lokasinya, yaudah kakak ke sana sekarang."


[…..]


"Iya, Kay, kakak tutup dulu ya teleponnya."


Bip!


Ashila langsung mematikan sambunga telepon dengan Kayla. Dengan semangat, ia memasukan semua buku-bukunya ke dalam tas. "Nis, Din, aku pulang duluan ya, daah… Assalamualaikum."


Ashila segera berlari keluar kelas menuju gerbang. Sambil mondar-mandir celinak-celinguk mencari taksi. Namun, taksi tak ada satu pun taksi yang lewat.

__ADS_1


"Ya ampun… kok gak ada satu pun taksi yang lewat sih. Ayo dong, taksi lewat."


Tak lama, taksi pun datang, Ashila buru-buru memberhentikannya, lalu masuk ke dalam taksi itu.


Tak lama, ia sampai di depan sebuah masjid dimana suaminya berada. Dengan cepat ia membayar argo taksi kemudian keluar dari mobil.


Dari sebrang, Ashila dapat melihat Rayhan yang hendak berjalan masuk ke dalam mobil. Gadis itu meneriaki suaminya dengan keras.


"Mas Rayhan...!!!"


Merasa dipanggil, Rayhan pun menoleh. Ia mendapati Ashila yang tengah melampai-lambaikan tangannya ke arahnya.


"Shila." Rayhan pun membalasnya dengan melambaikan tangannya juga. Ia melihat Ashila sedang menyebrangi jalan untuk menghampirinya.


Namun, tak jauh dari sana, Rayhan melihat ada truk yang melaju sangat kencang dari arah kanan.


"Ashila awaaas!!"


Mendengar teriakan itu Ashila menoleh ke kanan, terlihat sebuah truk melaju dengan kencang ke arahnya, gadis itu merasa terkesima, hanya diam di tempat, matanya melebar saat truk itu semakin mendekatinya, hingga ia merasa tubuhnya terdorong ke belakang.


Aaaa… Brukk!!


Ashila merasa tubuhnya tak terluka parah, ia hanya merasakan tangannya perih karena tergores oleh aspal.


Tetapi...


Tubuhnya melemas ketika melihat sang suami yang posisnya tepat di hadapannya itu, berlumuran darah.


"MAS RAYHAN!!?"


Ashila pun segera bangkit dan berlari menghampiri suaminya.


Tubuh Rayhan dilumuri darah, lelaki itu samar-samar melihat Ashila yang sudah memangkunya, dari arah hidungnya mengalir darah segar, wajahnya penuh luka, matanya mengerjap-ngerjap. "A-a-aku… s-sa-yang… s-sama… k-kamu." Mata itu perlahan tertutup.


"Hiks… bangun, Mas! Bangun, aku mohon bangun, Mas!" teriak Ashila histeris, wanita itu menangis meraung-raung ketika melihat suaminya itu menutup mata.


"Maass!!"


***


Huhuhu... sedih ya😦😦😦, di saat semuanya udah kebongkar Rayhan kecelakaan, jangan pada marah ya kalo author nya tega... ini emang udah konsep ceritanya kayak gini.


Anggap aja, kecelakaannya Rayhan itu sebagai penghapusan dosanya. Jangan bully ya gaes..


Jangan lupa like, komen, vote, kalo kalian masih kepo ceritanya tetap tunggu aja kelanjutannya.

__ADS_1


__ADS_2