
Di dalam ruangan, Ashila kembali membuka matanya kembali karena merasa terusik karena ada suara orang yang mengobrol di depan sana. Ia pun segera memindahkan kepala Rayhan pada bantal karena sejak tadi suaminya itu menjadikan lengannya sebagai bantal.
Setelah mengecup dahi suaminya, Ashila pun segera turun dari brangkar dan berjalan ke depan, ia mendapati Annisa sedang berdiri di depan sana sambil memegang sebuah keranjang parsel yang berisi buah-buahan.
"Loh, Nis?"
Annisa menoleh ketika ada suara yang memanggilnya. "Assalamualaikum, Shil," sapa Annisa.
"Wa'alaikumsalam, Nis. Aku kira siapa," balas Ashila sembari berhambur memeluk sahabatnya sejenak.
"Maaf, ya, aku baru bisa jenguk suami kamu sekarang."
"Gak papa kok, malah aku makasih banget udah mau jengukin mas Rayhan, yaudah yuk masuk."
"Emm… gak usah, Shil. Suami kamu juga lagi istirahat kan, takut ganggu."
"Hmm… iya sih, mas Rayhan sekarang udah tidur."
Annisa menyodorkan parsel buah yang ia pegang pada Ashila. "Aku mau ngasih ini aja, titip salam juga buat kak Rayhan, semoga cepet sembuh. Ini juga udah malem, yaudah gitu aja, aku pamit pulang sekarang, ya. Assalamualaikum."
Ashila dan Annisa berpelukan sebentar lalu Annisa segera pergi dari sana.
***
Mata coklat Kayla tak berhenti memandangi bandul kalung yang ia pegang sekarang. Pikirannya berputar kembali mengingat saat Azka memutuskan hubungan dengannya. Padahal hanya pura-pura, kenapa rasanya bisa sesakit ini?
"Lo jahat, Ka."
"Lo keterlaluan tau gak."
"Lo putusin gue di saat gue udah punya perasaan sama lo!"
"Gue benci sama lo, Ka. Benci!!"
Sambil berurai air mata, Kayla terus berteriak mengumpati Azka dalam hatinya.
"Kayla!!"
Kayla menoleh ketika merasa ada yang memanggil namanya. Ternyata itu adalah Azmi. Terlihat lelaki itu sekarang berjalan menghampiri Kayla.
Kayla sesegera mungkin menghapus air matanya. "Eh… Kak Azmi, kok ada di sini."
"Harusnya kakak yang nanya, kok kamu di sini? Udara malem gak bagus loh."
Kayla hanya tersenyum saja, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Kamu kenapa nangis? Ada masalah, ya?" tanya Azmi sembari duduk di samping Kayla, ia dapat melihat wajah gadis di sampingnya itu sembab, yang pastinya habis menangis.
"Masa sih gue cerita sama kak Azmi kalo gue diputusin adeknya?? Kan nggak banget," batin Kayla.
"Cuma masalah kecil kok," ucap Kayla sembari tersenyum kecil, menutupi kesedihannya.
__ADS_1
Azmi mengangguk. "Oke… kalo kamu mau cerita, boleh kok, kakak siap jadi pendengar setia."
"Dulu kalo gue lagi sedih gini, kak Rayhan selalu peluk gue, kasih gue ketenangan," batin Kayla.
"Kak."
"Hemm."
"Emm… aku boleh gak meluk Kakak?"
Azmi tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Kayla pun langsung berhambur memeluk Azmi erat, menumpahkan segala kesedihannya di pelukan lelaki itu.
"Menangislah, jika itu bikin kamu tenang." Azmi mengusap lembut rambut Kayla.
Di saat itu juga, tak jauh dari sana, seorang lelaki menatap keduanya dengan sendu. Sambil tersenyum kecut ia berlalu dari sana. Melihat pemandangan itu seperti ia merasa banyak sekali duri-duri yang menumpuk di dadanya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tak sengaja ia menabrak seseorang.
Brukk!
"Aduh, maaf-maaf, saya gak sengaja," ucapnya sembari membantu wanita yang ditabraknya berdiri.
"Enggak papa–Loh Azka, kamu di sini?" tanya wanita yang ditabraknya itu.
"Eh, Mbak Nisa, maaf, ya, aku tadi buru-buru soalnya," ucap Azka merasa bersalah.
"Ah! Gak papa kok, kamu ke sini sendiri aja?" tanya Annisa.
Azka mengangguk. "Iya, Mbak. Yaudah aku pergi dulu, ya," ucap Azka seraya pergi dari hadapan Annisa.
Setelah lama berpelukan, akhirnya Kayla pun melepaskan pelukannya. Ia menghirup napasnya dalam, kemudian menghapus sisa air mata di pipinya.
"Udah enakan sekarang?" tanya Azmi memastikan.
Kayla mengangguk. "Maaf, ya, Kak. Baju kakak jadi basah,"
"Gak papa kok. Yang penting kamu tenang," balas Azmi seraya mengusap pelan rambut Kayla. "Kamu tau gak, dulu… kakak pengen banget punya adek cewek, tapi pas udah lahir Azka, mami gak boleh hamil lagi karena ada masalah sama rahimnya, terus rahim mami harus diangkat. Jadi… mami gak bisa hamil lagi deh. Eh… tapi kok malah kakak ya yang curhat," ucap Azmi tersenyum kecil seraya mengusap tengkuknya pelan.
Kayla tertawa pelan. "Gak papa kok."
"Nanh, kalo senyum gitu kan cantik," ucap Azmi menggoda.
"Ish! Apasih, Kak. Btw, makasih, ya."
Azmi mengangguk. "Sama-sama."
***
Kayla yang baru saja memasuki kantin, langsung disuguhkan oleh pemandangan yang membuatnya mengurungkan niat untuk melangkah.
"Gue kayak lagi gak mood makan deh, gue mau ngerjain tugas fisika aja," ujar Kayla seraya meninggalkan kedua sahabatnya.
"Eh… Kay, emang lo gak lapeer??"
__ADS_1
"Iya, Kay, wooy!"
Kayla tetap pergi dan tak memperdulikan teriakan dari teman-temannya.
Kayla berlari ke taman belakang sekolah, untungnya di sana sepi, jadi ia bisa menangis dengan tenang.
"Bangsaatt! Lo brengsekk, Azka Askandar! Gue benci sama lo!"
"Padahal gue baru mau bilang kalo gue punya perasaan lebih ke lo, lo malah giniin gue!"
Kayla mengambil batu kerikil yang berada di sana lalu melempar-lemparkannya ke kolam ikan yang berada tak jauh dari tempat duduknya.
***
Kring, kring, kring!
"Oke, anak-anak pelajaran cukup sampai di sini saja, jangan lupa PR-nya dikerjain, ya.
"Siap, Pak!" balas para murid serentak.
"Baik, sampai jumpa besok. Permisi," tutur pak Rendy seraya meninggalkan kelas.
Setelah itu para murid pun berhambur meninggalkan kelas, tak terkecuali Kayla. Ia bersama Tasya dan Amira beriringan berjalan keluar kelas menuju koridor. Namun, baru saja akan menuruni tangga, tangan Kayla ditahan oleh seseorang yang ternyata adalah Azka.
"Ada apa?" tanya Kayla seraya menarik tangannya yang dipegang oleh Azka.
"Ada yang mau gue omongin sama lo!" jawab Azka, lelaki itu memberi kode pada Tasya dan Amira agar meninggalkan mereka berdua.
"Emm... Kay, kita duluan, ya, bye," ujar Amira seraya menarik Tasya pergi menuruni tangga.
"Eh, Mir, Sya kok pergi sih!!"
Kayla melangkahkan kakinya akan mengejar kedua sahabatnya, namun tangan Azka menahannya. "Kay, ada yang mau gue omongin sama lo!"
Kayla menghempaskan tangan Azka. "Gak ada yang perlu diomongin."
"Please, Kay. Bentar aja."
"Gak bisa! Gue buru-buru."
Kayla segera berjalan tergesa-gesa menuruni tangga.
"OKE! GUE MAU PAMIT!"
Ucapan Azka sukses membuat Kayla menghentikan langkahnya ketika ia sampai di tangga terakhir.
"Gue mau balik ke LA," lanjut Azka.
Kayla terdiam membeku mencerna ucapan Azka. Tubuhnya menegang, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Rasa sesak mendera hatinya sesaat setelah Azka mengatakan itu. Tak terasa bulir bening di sudut matanya mulai membasahinya.
"Yaudah terserah lo! Lakuin apa yang mau lakuin! GUE GAK PEDULI!" ucap Kayla sambil membelakangi Azka lalu ia segera berlari dari sana.
__ADS_1