
Mobil Rayhan membelah jalan raya yang ramai akan kendaraan yang berlalu-lalang. Rayhan melajukan mobilnya dengan lambat, karena ingin berlama-lama bersama Ashila di dalam mobil. Setelah memohon dengan berbagai drama dilakukan, akhirnya Ashila mau diantar pulang olehnya.
Sesekali lelaki itu melirik Ashila di sampingnya, gadisnya itu sedang fokus menatap jalanan, Rayhan tersenyum kemudian kembali fokus menatap jalanan.
"Mas."
"Ya, kenapa, Sayang?"
"Pengen itu." Ashila menunjuk sebuah gerobak penjual rujak.
Rayhan memicingkan matanya menatap gerobak rujak yang berada di pinggir jalan. "Makan itu malem-malem? Nanti sakit perut, Sayang."
Mata Ashila terlihat berkaca-kaca. "Pengen itu…" Ashila merengek manja sambil menggoyangkan lengan Rayhan.
Rayhan terkejut saat mendapati Ashila menangis, ia gelagapan dan bingung, karena biasanya Ashila tak pernah sampai seperti ini jika meminta sesuatu, apalagi hanya dibelikan rujak.
Rujak? Ashila ingin rujak.
Lelaki itu agak sedikit aneh dengan nama makanan itu, tapi apa dan kenapa? Ah! Untuk apa memikirkan itu yang penting sekarang ia harus membuat bagaimana caranya agar Ashila tak menangis lagi, cukup sudah ia membuat istrinya menangis karena pengkhianatannya itu.
"Sa-sayang, j-jangan nangis, ya. Iya-iya kita beli rujak." Rayhan berbicara dengan sedikit gugup dan tampak gelagapan. Setelah itu ia melihat Ashila tersenyum dengan mata berbinar. "Beneran, Mas? Kita beli itu?"
Rayhan mengangguk.
Ashila langsung memeluk lengan Rayhan. "Yeayy… makasih, ya..."
Rayhan tersenyum aneh, Ashila sesenang itu? Padahal hanya membeli rujak? Tak apalah, yang penting iya sekarang sangat senang karena Ashila memeluknya. Sungguh, ia sangat merindukan pelukan ini. Nikmat manakah yang kau dustakan?
Tak terasa mereka kini sudah sampai di depan gerobak rujak yang Ashila inginkan tadi. Ashila segera keluar dari mobil kemudian berlari menuju gerobak rujak.
Ketika Rayhan akan keluar, Ashila sudah datang kembali, dan masuk ke dalam mobil.
"Udah?"
Ashila mengangguk.
Rayhan pun kembali melajukan mobilnya, sesekali Rayhan melirik wanita di sampingnya itu, terlihat Ashila sedang membuka kantong kresek itu, gadis itu memasukan potongan-potongan belimbing, kedondong, dan mangga muda dalam cup mangkok sekali pakai berwarna putih, kemudian melumurinya dengan bumbu rujak. Detik itu juga, Ashila mulai memakan rujak buatannya sendiri.
__ADS_1
"Mas, mau gak?" tawar Ashila, gadis itu menyodorkan satu sendok potongan buah tersebut.
Mendadak gigi Rayhan merasa ngilu melihat potongan buah-buahan itu. "Enggak, buat kamu aja."
Lelaki itu tidak bisa membayangkan jika memakan rujak tersebut, akan seperti apa rasanya? Mangga muda yang terkenal dengan rasa asamnya, kedondong dan belimbing juga terkenal dengan rasa asamnya, tercampur menjadi satu, ditambah dengan pedasnya cabai, dan manisnya gula, tak lupa sedikit garam. Rayhan bergidik ngeri, bisa-bisa giginya rontok setelah memakan rujak tersebut.
"Enak rujaknya?" tanya Rayhan. Matanya menatap sang istri yang masih setia memakan rujak tersebut.
Ashila manggut-manggut dengan terus memasukan potongan buah itu pada mulutnya. "Enak banget."
"Kamu sejak kapan sih suka makan rujak?" tanya Rayhan.
"Gak tau, pengen makan rujak aja."
Tak lama, mereka pun sampai di depan pekarangan rumah Ashila, terlihat ada abi Yahya di teras.
Ashila dan Rayhan pun keluar dari mobil. "Assalamualaikum."
Abi Yahya cukup terkejut saat melihat lelaki yang mengantarkan putri kesayangannya itu. "Nak, kok kamu pulang sama dia?" Abi Yahya sambil menatap Rayhan tak suka, nyali Rayhan langsung ciut seketika.
"Euu..."
Setelah Ashila masuk, tinggalah tersisa Abi Yahya dan Rayhan di teras rumah, Rayhan menatap mertuanya sebentar lalu menunduk. Jujur, ia merasa canggung sekarang.
"Duduk! Abi mau bicara sama kamu." Rayhan pun duduk bersebrangan dengan mertuanya.
"Ceraikan Ashila, Rayhan!"
***
Huek! Huek!
Suara orang muntah terdengar jelas di sebuah kamar mandi. Di tengah kesunyian malam, Ashila terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya diaduk-aduk, gadis itu segera berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di westafel. Tetapi yang keluar hanya cairan saja, tak ada partikel lainnya. Setelah itu, Ashila segera membasuh wajahnya dan berkumur.
Pandangannya kabur, samar-samar tak jelas melihat beberapa meter saja, kepala terasa berat. Baru saja hendak bangkit untuk masuk ke dalam kamar, tiba-tiba mulutnya tetasa mual kembali, beberapa kali suara muntahan keluar, namun tak ada sesuatu sedikit pun yang keluar dari mulut.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Shila… Nak... Kamu gak papa kan?" Itu suara Umi Ira.
__ADS_1
Ashila segera berkumur dan keluar dari kamar mandi untuk membukakan pintu. "Kamu enggak papa kan, Nak?" Umi Ira kembali bertanya.
"Enggak papa, Umi. Mungkin gara-gara tadi sore aku abis makan rujak kali ya, makanya asam lambungnya naik lagi."
"Ya ampun, Nak. Ngapain malah makan rujak sih, kamu kan punya asam lambung." Umi Ira mulai mengomel. "Yaudah, kamu duduk dulu, umi mau bikin teh dulu, ya."
Umi Ira segera berlari ke dapur membuat secangkir teh. Setelah itu ia pun kembali lagi ke kamar Ashila. Terlihat anak semata wayangnya itu baru saja keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya. "Muntah lagi?" tanya Umi Ira.
Ashila mengangguk lemah.
"Minum dulu tehnya, Nak." Umi Ira membantu Ashila meminumkan teh hangat yang ia buat tadi pada anaknya. "Nanti besok ke dokter, ya."
Ashila menggeleng. "Nggak usah, Mi. Shila istirahat aja, pasti besok juga langsung sembuh."
"Yaudah, kalo misalkan besok masih muntah-muntah, kita ke dokter, ya."
Ashila mengangguk.
"Yaudah sekarang istirahat lagi." Umi Ira membaringkan tubuh Ashila lalu menyelimutinya.
"Maaf, ya, Mi. Ngerepotin umi malem-malem gini."
"Husst… kamu ini ngomong apa sih, kamu itu anak umi, umi gak ngerasa direpotin, yaudah istirahat gih." Umi Ira mencium kening Ashila sebentar lalu keluar dari kamar Ashila.
Setelah umi Ira keluar kamar, Ashila mendudukan tubuhnya kembali, menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur. Entah kenapa ia jadi teringat suaminya. Rasa gundah mulai menjalar di jiwanya.
Gadis itu kembali membaringkan tubuhnya, berkali-kali Ashila mengubah posisi tidurnya, sprei berwarna merah muda mulai lusuh dibuatnya.
"Mas Rayhan lagi apa, ya?" gumamnya tanpa sadar. Entah kenapa juga, ia jadi merindukan suaminya itu.
Pikirannya jadi berputar mengingat perkataan suaminya tadi sore. Besok suaminya itu akan melakukan USG untuk membuktikan wanita itu-Renata hamil atau tidaknya. Ia jadi gelisah, bagaimana jika wanita itu benar-benar hamil? Jika itu terjadi, Kesempatan untuk mereka bersama akan musnah, mereka benar-benar akan berpisah.
Pikirannya terus berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Ashila menatap jam di nakas. "Jam dua," gumamnya. Ia pun beringsut dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu mengambil air wudhu.
Setelah selesai, Ashila segera menggelar sajadah dan memakai mukena, ia melaksanakan shalat qiyamul lail. Ada ketenangan tersendiri yang perlahan menjalar di jiwanya, kegalauan dan kegelisahan semakin menipis.
__ADS_1
Usai shalat, Ashila melantunkan ayat-ayat Al-qur'an. Lalu ia mencurahkan segala isi hati dan keluh kesahnya.