Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 45 Dedek Kecil?


__ADS_3

"Maksud saya..."


"Yang saya lakukan tadi bukan sandiwara, Shila, saya melakukannya dengan hati," lanjut Rayhan dalam hati karena rasa gengsinya yang terlalu besar membuat ia tidak bisa mengatakan itu secara langsung.


"Mas, maksudnya apa?"


"Gak ada maksud apa-apa, akting kamu juga bagus tadi," ucap Rayhan tersenyum kecut.


"Yaudah saya mandi dulu, ya, atau mau kamu dulu, eh enggak mending kita bikin adegan mandi bareng aja," goda Rayhan yang membuat kedua pipi Ashila memerah.


"Ikh dasar mesum! Udah kamu cepet mandi sana jangan lupa shampo-an ya."


Rayhan mengernyitkan keningnya. "Emang rambut saya bau? " Rayhan segera mengusap rambutnya kemudian menciumnya. "Enggak kok, wangi gini."


"Bukan bau, tapi supaya kepala kamu bersih dari pikiran mesum," jawab Ashila.


"Ikh kamu, ya. Rasain nih…" Rayhan mendorong Ashila hingga berbaring di tempat tidur kemudian ia menggelitikinya.


"Huahhahaha geli, geli, geli. Ampun, Mas, ampuuun…"


"Gak bakalan aku kasih ampun," ucap Rayhan sambil terus menggelitiki Ashila.


"Mas, udah ya aku udah gak kuat," pekik Ashila.


Tanpa disadari seseorang ada seseorang yang mendengarnya di depan pintu kamar, yaitu Mama Putri.


Sebenarnya tadinya ia akan pergi menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar Rayhan, tetapi ketika melewati kamar Rayhan ia mendengar suara pekikan menantunya dari kamar anaknya itu, ia jadi ingin tahu dan segera mendekati pintu kamar Rayhan kemudian menempelkan telinganya di sana.


"Udah, Mas, aku udah gak kuat."


Seketika Mama Putri langsung membelalakan matanya."Astaga, Ashila bilang udah gak kuat, apa segitu beringasnya anakku itu? Mereka bahkan melakukannya di sore hari lagi? Astaga Ray, kamu apain menantu mama," ucap Mama Putri pelan.


"Tapi kalo begini pasti aku bakalan cepet punya cucu dong, aduuh gak sabar pengen cepet punya cucu, harus bilang ke papa ini mah." Mama Putri pun segera pergi menuju kamarnya dengan hati gembira.


***


Setelah puas menggelitiki Ashila, Rayhan pun menghentikannya. Terlihat mata istrinya itu mengeluarkan air mata karena terlalu lama tertawa.


"Jahat banget kamu, Mas. Awas aja entar aku bales," ucap Ashila sembari menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.


"Aku tunggu balesan kamu."


"Yaudah cepet sono mandi."


"Mandi bareng yuk," goda Rayhan sambil mengedipkan sebelah matanya berkali-kali.


"Dasar mesum! Cepet sono mandi!" Ashila menatap tajam ke arah Rayhan, bahkan gadis itu sudah mengambil ancang-ancang untuk memberi pukulan pada suaminya itu.

__ADS_1


"Iya… iya, ampun dah, punya istri galak bener," ucap Rayhan sambil berjalan menuju kamar mandi.


Ashila menatap Rayhan yang memasuki kamar mandi, ia jadi berpikir, mengapa sekarang suaminya itu senang sekali menggodanya? Padahal dulu Rayhan adalah manusia tercuek dan terjutek yang Ashila kenal.


Sembari menunggu Rayhan mandi, Ashila merebahkan dirinya di kasur, sedetik kemudian ia melirik kado pemberian dari sepupu suaminya itu.


Ashila pun beringsut mengambil kado yang berukuran cukup besar tesebut.


Perlahan Ashila membuka kado dari Maya, seketika ia membelalakan kedua matanya, pipinya memanas, bahkan terlihat jelas semburat merah di kedua pipi tembemnya itu, karena ternyata isi kado dari kakak sepupu suaminya itu adalah dua pasang lingerie seksi berwarna hitam dan merah.


Bersamaan dengan itu, suara derit pintu kamar mandi membuat jantung Ashila semakin berdetak tak karuan, dengan segera ia menyembunyikan dua pasang lingerie itu di belakang tubuhnya.


Rayhan yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat sedikit keanehan dengan mimik wajah istrinya itu.


"Shila, kamu kenapa?"


"Hah, e-enggak papa kok," ucap Ashila terbata-bata.


"Kok muka kamu merah gitu, kamu sakit ya?"


Ashila segera berdiri kala suaminya mendekatinya.


"E-enggak, aku enggak sakit kok, mungkin cuma ruangan ini panas kali, ac-nya kurang gede."


Tatapan Rayhan beralih pada tangan kiri Ashila yang disembunyikan kebelakang."Kamu nyembunyiin sesuatu ya dari saya."


"Itu di tangan kamu apa?"


"E-enggak, bu-bukan apa-apa." Ashila meremas pelan lingerie yang ia pegang.


Rayhan melihat bungkus kado yang sedikit berserakan di tempat tidurnya, ia berpikir mungkin yang disembunyikan oleh istrinya adalah isi dari kado pemberian kakak sepupunya.


"Oh saya tau… yang kamu sembunyiin itu pasti isi kado dari Mbak Maya, kan?"


"I-iya."


"Mana saya pengen liat dong."


"Ja-jangan.."


"Kenapa? Lagian itu kado buat kita berdua, mana coba saya liat."


"Iikh, jangan, Mas, jangaan…"


Ashila terus berjalan kebelakang dan tak sengaja ia tersandung oleh karpet menyebabkan dirinya terjungkal kebelakang.


"Aaaaaa…"

__ADS_1


Brukk!


Ashila jatuh terlentang di atas kasur, tangannya yang tak sengaja menarik handuk yang melilit di tubuh Rayhan membuat suaminya itu ikut tertarik dan menimpa tubuhnya.


Rayhan yang jatuh tepat di atas tubuh Ashila tanpa sengaja mencium bibir istrinya itu sekilas, manik mata mereka saling bertemu, bahkan mata keduanya terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


Jantung keduanya seakan-akan ingin loncat keluar, bahkan pipi Ashila kini sudah memerah seperti kepiting rebus, entah apa yang Rayhan dan Ashila rasakan, hanya mereka yang tau dengan perasaan masing-masing.


"Shila, tutup mata kamu sekarang!" titah Rayhan.


Ashila kembali membelalakan kedua matanya, ia berpikir Rayhan menyuruhnya untuk menutup matanya karena ingin mengulangi apa yang terjadi barusan.


"Gak mau!"


"Cepetan tutup!"


"Gak mau!"


"Kamu mau liat dedek kecil saya."


"Dedek kecil? Kamu punya dedek?"


"Astaga kenapa gue punya istri polos banget sih?" batin Rayhan.


"Sekarang saya telanjang gara-gara handuknya kamu tarik, kamu ngerti kan maksud dengan eeu… 'dedek kecil' saya," ucap Rayhan sedikit memelankan kata 'dedek kecil'.


Ashila membuka matanya lebar-lebar, ia mulai mengerti dengan ucapan suaminya itu, sekilas ia melirik ke arah bawah.


"Eh kamu ngapain lirik-lirik ke bawah, pengen liat?" tanya Rayhan membuat Ashila sangat malu.


"E-enggak, siapa yang lirik-lirik," ucap Ashila sambil memalingkan wajahnya ke samping, ia membelalakan kedua matanya karena handuk yang tadi dipakai oleh Rayhan sekarang berada digenggamannya, berati sekarang tubuh suaminya itu benar-benar tidak tertutupi oleh sehelai benang pun.


Seketika pikiran kotor mulai melayang di kepala Ashila, ia sempat membayangkan sebesar apakah dan sepanjang apakah sesuatu yang di bawah itu.


"Heh, kok malah ngelamun, kamu mikirin yang enggak-enggak, ya?" toyoran telunjuk Rayhan di dahi Ashila berhasil membuyarkan fantasi liar gadis itu.


"Haaa… e-enggak, kok."


kemudian dengan cepat Ashila menutup kedua matanya rapat-rapat. "Aku udah tutup mata."


"Jangan ngintip, ya."


"Ikh geer banget sih!"


Rayhan pun dengan segera bangun dari atas tubuh Ashila, mengambil handuk yang terjatuh tadi dan melilitkannya kembali pada tubuhnya.


"Sudah."

__ADS_1


Ashila pun membuka matanya kembali dan segera mengubah posisi yang tadinya terlentang menjadi duduk, ia melirik Rayhan sebentar lalu menundukan kepalanya.


__ADS_2