
Kayla baru saja keluar dari dalam toilet, gadis itu berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kantin.
Tiba-tiba langkahnya terhenti kala seseorang menariknya, dan mendorongnya sampai kepalanya sedikit terbentur oleh tembok.
Kayla meringis pelan. "Aww! Rita! Apaan sih lo!" teriak Kayla sambil memegangi kepalanya yang terbentur tadi.
"Gue mau ngomong sama lo!" seru Rita sembari menunjuk wajah Kayla.
"Nggak! Gue gak ada waktu, gue laper mau ke kantin!"
Kayla melangkahkan kakinya meninggalkan Rita and the geng, namun sebelum itu, Rita memberi kode pada kedua temannya yaitu Rani dan Maya agar mereka menahan Kayla pergi.
Rani dan Maya pun segera memegangi tangan Kayla. "Lepasin gak!" perintah Kayla sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Heh! Gue peringatin sama lo! Jauhin Azka, lo pasti pelet dia kan makanya Azka mau pacaran sama lo!" ujar Rita sembari melipat kedua tangannya di dada.
Kayla berdecih. "Heh! Lo ngomong jangan asal jeplak aja, ya. Pantesan Azka gak pernah lirik lo sama sekali, kelakuan lo kayak mak lampir tau gak!"
"LO!!" Rita memelototkan matanya, ia menggeram kesal. Tangannya terangkat akan menampar wajah Kayla, namun seseorang dari belakang menepisnya.
"A-azka." Rita tersentak kaget kala seseorang yang menahannya untuk menampar wajah Kayla adalah Azka. "Sayang, Kayla tadi jahatin aku, dia jahat banget."
"Heh! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, jelas-jelas lo yang mau nampar cewek gue!"
"Azka, kamu pasti sengaja kan pacarin supaya bikin aku cemburu, iya kan?" tanya Rita sembari menggelayutkan tangannya pada tangan Azka.
Azka mendesis tak suka. "Apaan sih lo, gue pacaran sama Kayla karena gue cinta sama dia, udah deh jangan pegang-pegang, risih gue," ujar Azka sembari berusaha melepaskan tangan Rita yang menggandeng tangannya.
"Sayang…"
"Heh! Lo denger gak sih apa kata cowok gue! Dia bilang lo pergi! Lo ganggu kita tau gak!" timpal Kayla dengan nada tinggi.
"Heh! Kok lo malah ngegas sih!" ujar Rita geram, gadis itu mengangkat tangannya akan menarik rambut Kayla, namun Azka segera menahannya.
"Cukup, Rit! Mending lo sekarang pergi sebelum gue bilang sama guru BK kalo lo mau buly pacar gue!"
Rita and the geng pun langsung berlalu dari sana karena mereka takut jika dilaporkan pada guru BK. Jika itu terjadi, bisa dipastikam mereka akan kena skors bahkan dikeluarkan dari sekolah tanpa hormat.
"Kay lo gak papa?" tanya Azka sembari menatap intens Kayla.
__ADS_1
Sudah dua minggu ini, Kayla dan Azka menjalani peran pacaran boongan yang mereka sepakati tempo hari.
Berita pacaran mereka sudah menyebar di sekolah, awalnya Azka dan Kayla menutupi status pacar pura-pura keduanya dan mereka hanya akan memperlihatkan status pacarannya hanya pada Rita saja.
Tetapi, ada salah satu fans Azka yang melihat Kayla dan Azka sedang bermesraan di depan Rita, dari sana lah berita pacaran mereka tersebar dengan cepat di jagat sekolah elit itu.
"Lo ada yang sakit gak? Muka lo gak papa kan? Tangan? Kaki? Pundak?" Azka mengabsen semua anggota tubuh Kayla, lelaki itu khawatir terjadi apa-apa pada pacar PURA-PURAnya itu.
"Gue gak papa kok."
"Gue takut aja lo kenapa-napa. Lagian lo kenapa gak lawan aja sih tuh si Rita,"
"Heh! Gimana gue mau lawan, gue dipegangin sama curutnya awww!" Kayla memegangi kepala bagian belakangnya yang terasa sakit karena benturan tadi.
"Hah? Kepala lo sakit? Yang mana yang sakit? Coba gue liat." Azka segera memeriksa bagian kepala yang Kayla usap-usap, terlihat ada sedikit benjolan di sana.
"Ya ampun, Kay, benjol gini, kayaknya kelakuan si Rita and the geng harus dilaporin ke guru BK deh, ini udah keterlaluan banget," ujar Azka geram. "Kita ke rumah sakit ya, kayaknya kepala lo harus di rongtent deh, gue takut ada darah yang menggumpal, terus lo entar gegar otak, terus entar–"
Ucapan Azka terhenti kala mulutnya ditutup oleh tangan Kayla. "Lo tuh ngomong kayak kereta api aja tau gak, segitu khawatirnya lo sama gue?" tanya Kayla menggoda sembari menaikturunkan kedua alisnya.
Azka menjauhkan tangan Kayla dari mulutnya. "Ya iyalah gue khawatir sama lo, lo itu pacar gue!" Azka tersadar ada yang salah dengan ucapannya itu. "Emm… m-maksud gue pacar pura-pura, lo juga kayak gini gara-gara gue, jelaslah gue ngerasa bersalah," lanjutnya.
***
Tring!
Suara dering ponsel pertanda ada pesan masuk membuat Ashila mengalihkan perhatiannya sejenak, mengambil ponselnya dari tas, gadis berhijab itu mengerutkan keningnya kala melihat notifikasi di layar benda pipihnya itu, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Ashila pun membukanya.
081xxxxxxxx :
Temui gue di kafe anggrek, ada yang pengen gue omongin. Renata.
Ashila mengernyitkan keningnya. "Mbak Renata? Mau ngapain dia?" tanya Ashila dalam hati.
"Kenapa, Shil?" tanya Annisa.
"Euu… mantan pacar mas Rayhan ngajakin aku ketemuan, kira-kira aku harus temuin dia gak, ya?"
Annisa dan Dina berpandangan sejenak, lalu keduanya kembali menatap Ashila.
__ADS_1
"Mending jangan, Shil. Aku takut dia malah bikin ulah dan bikin kamu sama suami kamu makin jauh," ujar Annisa.
Dina berdecak, gadis itu mengangkat dan mengoyang-goyangkan jari telunjuknya pertada tidak setuju. "Enggak-enggak, kita temuin dia aja, aku pengen kasih pelajaran sama tuh pelakor," ujar Dina sembari mengepalkan tangannya.
"Diin… kok malah kayak gitu sih?" tanya Annisa disertai dengusan kecil pada sahabatnya itu.
"Abis… aku tuh kesel sama tuh pelakor, enak aja dia nyakitin sahabat kita, Nis."
Annisa mendesah pelan. "Iya, aku tau. Tapi kamu jangan komporin Shila juga, kan?"
Dina memajukan bibirnya beberapa senti. "Iya-iya, maaf deh."
Annisa kemudian mengalihkan pandangannya pada Ashila. "Semua keputusan di tangan kamu, Shil. Terserah kamu, mau temuin dia apa enggak. Yang pasti, kalo kamu mau temuin dia, jangan mudah percaya sama omongan dia, bisa jadi kan dia bener-bener pengen pisahin kamu sama kak Rayhan."
Ashila terdiam sejenak, berpikir apakah ia akan menemui mantan pacar suaminya atau tidak. Gadis itu menghembuskan napasnya pelan. "Hmmm… kayaknya aku bakal temuin dia aja, aku juga pengen tau, apa yang bakal dia omongin sama aku."
Dina menyunggingkan senyumnya senang. Ia mengangkat jempolnya. "Bagus, Shil. Aku ikut!" ucapnya semangat.
"Enggak, Din. Aku mau ke sana sendiri aja."
"Tapi, Shil. Aku takut kamu entar diapa-apain sama cewek pelakor itu."
"Enggak, Din. Aku bisa jaga diri kok, kamu tenang aja." Ashila memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. "Yaudah, aku duluan, ya."
Baru saja Ashila akan melangkahkan kakinya, Dina memegang tangan Ashila. "Shil, serius gak mau ditemenin?"
"Gak usah, Din. Kamu tenang aja."
"Shil, inget ya, jangan mudah percaya sama dia kalo dia ngomong tentang apapun."
Ashila mengangguk, ia mengulum senyum simpul. "Iya, Nis, Din, kalo gitu aku duluan, ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Hu hu hu… kira-kira apa yang terjadi ya dipertemuan Ashila dan Renata? Kepo gak nih? Tetap tunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa angkat jempolnya buat like, like itu gratis loh, jangan lupa komen dan vote juga, supaya author semangat nulisnya.
__ADS_1