
Ashila berjalan memasuki koridor rumah sakit, ia baru saja pulang dari kampusnya.
Sebenarnya Ashila selalu menolak ingin pergi ke kampus karena ia ingin fokus menjaga suaminya. Tetapi ibu mertuanya selalu menyuruhnya untuk pergi ke kampus agar ia tak ketinggalan mata kuliahnya.
Saat dibelokan, matanya tak sengaja menatap seseorang yang tak asing dari depannya.
"Kok dia kaya… ah mungkin cuma mirip."
Namun, baru saja Ashila akan melangkah menuju kamar tempat Rayhan dirawat, seseorang memanggilnya.
"Ashila."
***
Suasana hening menyelimuti dua orang gadis yang kini duduk berdampingan di sebuah taman rumah sakit. Ashila duduk sembari menatap ke depan dengan pandangan menerawang, sedangkan Renata tampak sedang menundukan kepalanya, mungkin ia menyesali perbuatannya pada bulan-bulan sebelumnya pada wanita di sampingnya.
Lima menit sudah berlalu, tetapi kedua gadis itu masih saja terdiam, sampai akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara.
"Aku minta maaf."
Ashila menoleh menatap Renata, mata wanita itu terlihat berkaca-kaca, wajahnya pun terlihat pucat pasi. Bahkan Ashila terus bertanya-tanya dalam hatinya kenapa wanita di hadapannya itu memakai baju pasien rumah sakit.
"Maaf, karena ulahku, suamimu sekarang koma," lanjut Renata lemah.
Tangan Ashila terulur menyentuh telapak tangan Renata, menahan setiap kalimat yang akan diucapkan oleh mantan kekasih suaminya itu. "Enggak papa, Mbak, malahan seharusnya aku yang minta maaf, karena udah ambil mas Rayhan dari Mbak."
Renata mendongak menatap Ashila dengan pandangan dalam, inikah wanita yang ia sakiti hatinya?
"Oh ya, kenapa Mbak ada di rumah sakit? Mbak sakit?" tanya Ashila.
Renata terdiam, ia menghembuskan napasnya dalam-dalam. "Dokter mendiagnosa bahwa aku mengidap penyakit kanker darah."
Ucapan yang dilontarkan oleh Renata seketika membuat Ashila membeku. Mata wanita berkerudung peach itu membulat sempurna. "Apa? Kanker darah?"
Renata mengangguk. "Tuhan memang adil, ya, mungkin ini adalah balasan yang diberikan padaku atas apa yang aku perbuat selama ini. Aku memang pantas mendapatkan azab ini."
Flashback on
Sesampainya di penjara, Renata langsung dimasukan ke dalam penjara. Terlihat ada lima orang wanita tahanan yang berada di dalam sana.
"Hei, Pak! Keluain gue dari sini! Gue gak salah! Keluarin gue!!"
Di dalam penjara, Renata terus berteriak ingin dikeluarkan, wanita itu terus memukul-mukul pagar besi di hadapannya.
__ADS_1
"Woy! Berisik lo! Ganggu gue tidur aja!" ucap salah satu penghuni lapas yang satu sel dengannya.
Renata membalasnya dengan tatapan tajam, namun nyalinya ciut kala melihat wanita itu balik menatapnya tajam.
Terlihat salah seorang dari mereka berbisik-bisik pada orang lainnya.
"Ooh… jadi dia itu pelakor," bisik seorang wanita berambut sebahu sambil melirik tajam ke arah Renata.
Walaupun mereka berbisik-bisik, Renata masih bisa mendengarnya.
"Woi! Sini lo!" ucap wanita berambut sebahu itu pada Renata.
"Apa?" tanya Renata sinis.
"Jadi pelakor aja belagu lo! Sini! Pijitin gue! Badan gue pegel-pegel!" ucap wanita itu.
Renata mendelik. "Hah! Pijitin lo! Ogah gue! Lo pikir gue babu lo!"
Wanita itu tersenyum sinis. "Belum tau siapa gue dia," ucapnya pada yang lainnya. Keempat orang itu tersenyum smrik ke arah Renata.
Wanita berambut sebahu itu pun mengisyaratkan sesuatu pada dua orang wanita di sampingnya. Mereka mengangguk lalu perlahan berjalan ke arah Renata dan mencekal kedua tangan Renata.
"Heh! Apaan sih pegang-pegang!" Renata terus memberontak saat kedua wanita itu menariknya menuju wanita berambut sebahu itu.
"Heh! Lepasin gue!"
Dengan berat hati akhirnya Renata pun memijat kedua pundak wanita berambut sebahu itu. "Heh! Lo yang bener dong mijitnya, gak ada tenaga banget sih!"
Renata kemudian melepaskan pijitannya. "Gue gak mau mijit lo lagi! Emang gue babu lo!"
Wanita berambut sebahu itu kemudian menjambak rambut Renata. "Lo belum tau gue siapa, ya?" tanya wanita berambut sebahu itu sambil terus mencengkeram rambut Renata.
"Aww! Sakit... tolong lepasin gue!!"
Wanita berambut sebahu itu melepaskan jambakannya. Namun...
Plakk!
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Renata.
"Ini akibatnya lo jadi seorang pelakor! Lo tau kenapa gue bisa di penjara di sini?" Wanita itu menjeda ucapannya sambil menarik rambut Renata. "Karena gue udah bunuh seorang pelakor!" ucap wanita itu dengan penuh penekanan.
"Dan sekarang... gue mau lo bernasib sama kayak pelakor yang gue bunuh itu!"
__ADS_1
Wanita berambut sebahu itu terus menjambak rambut Renata lalu membenturkan kepalanya ke sembarang arah, sedangkan yang lain hanya menonton saja. Karena mereka pun tak ingin bernasib sama seperti Renata.
Sekujur tubuh Renata kini sudah dipenuhi oleh luka memar, kepalanya terasa berar, pandangannya kabur, sedetik kemudian, ia jatuh tak sadarkan diri.
"Huh! Katanya dia pelakor, kok selemah itu!" ucap wanita itu tanpa merasa bersalah.
Flashback off
"Masih banyak perlakuan yang aku terima di dalem penjara, mulai dari makanan aku yang selalu mereka kasih kecoa, aku juga pernah mau dileceh–"
Mata Ashila membelalak saat melihat cairan kental berwarna merah keluar dari hidung Renata. "Astagfirullah, Mbak, mimisan."
Gadis itu buru-buru mengambil berlembar-lembar tissue dari tas slempangnya dan langsung, lalu menekannya di hidung Renata. Mendorong kepala Renata untuk mendongak dan menahan belakang kepalanya dengan tangan kiri.
"Kepala sama perut aku sakit banget, Shil."
Renata merintih kesakitan, kedua matanya ingin sekali tertutup. Rasanya sangat sakit di perut dan juga kepalanya.
"Mbak bertahan, ya… tolong, tolong…"
***
Ashila memandang lurus pintu bertuliskan IGD di depannya, di samping kirinya ada dua orang polisi yang juga tengah menunggu kabar Renata dari dalam sana.
"Pak, apa di dalam sel mbak Renata sering mimisan dan pingsan seperti ini?" tanya Ashila pada polisi di sampingnya.
"Iya, Mbak. Bahkan hampir setiap hari tersangka mengalami hal seperti ini," jawab polisi itu.
Ashila mengangguk. "Saya ingin–"
Suara decitan pintu IGD yang terbuka memotong perkataan Ashila. Ketiganya langsung berdiri melihat dokter yang biasa disapa dokter Elang keluar dari ruangan itu.
"Gimana keadaan mbak Renata, Dok?" tanya Renata pada dokter Elang.
"Renata sudah siuman."
Ashila mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan Renata.
***
Maaf ya kalo kalian kecewa gak kalo Ashila sebaik ini sama Renata?
Kalo kalian masih tetep ingin tahu kelanjutannya, kalian tunggu aja, ya. Maaf kalo akhir-akhir ini aku jarang up, karena banyak banget kerjaanku di dunia nyata, ini juga aku sempetin buat up.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote author juga ya..
Thank you so much bagi yang udah selalu semangatin aku, sekali lagi makasih ya teman-teman.