Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 47 Hamil?


__ADS_3

"Ikh apaan sih, yang pertama datang ke sini kan aku, kamu lah yang cari tempat lain,"


"Gak mau, kamu aja yang nyari tempat lagi, sana."


"Kamu aja."


"Kamu."


"Yaudah oke aku cari tempat lain." Pada saat Ashila akan keluar mencari tempat persembunyian yang baru, Tiba-tiba terdengar suara Daffa yang memanggil dirinya dan Rayhan, membuat Ashila mengurungkan niatnya.


"Uncle… Aunty… kalian ngumpet dimana, sih?" teriak Daffa sambil terus mencari Rayhan dan Ashila.


"Aduuh, sesek tau, geseran ih."


"Gak bisa ini udah mentok banget."


"Sonoan ikh."


Karena tempat yang terlalu sempit membuat mereka berhimpitan sangat dekat, bahkan keduanya bisa merasakan embusan napas masing-masing, Rayhan bahkan bisa merasakan degupan jantungnya yang sudah sangat menggila sejak tadi, ia merasa was-was dan merasa takut jika Ashila dapat merasakan suara jantungnya itu.


Begitu pun dengan Ashila, ia juga merasa was-was karena takut Rayhan mendengar suara detak jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang karena terlalu berdekatan dengan suaminya itu.


Daffa terus mencari tempat persembunyian Rayhan dan Ashila, semua ruangan di rumah itu tak luput dari pencariannya, tetapi mata bulatnya belum juga menemukan keberadaan kedua orang dewasa itu.


"Iikh, mereka ngumpet dimana, sih?" gerutu Daffa sebal.


Sedangkan di tempat persembunyiannya Ashila terus saja menyuruh Rayhan menggeserkan tubuhnya karena dirinya merasa sesak.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah tempat persembunyian Ashila dan Rayhan, membuat Ashila tanpa sengaja menggenggam erat tangan Rayhan.


Suara langkah kaki itu ternyata adalah langkah kakinya Daffa yang sejak tadi mencari keberadaan Uncle dan Aunty-nya. "Uncle, Aunty, kalian ngumpet dimana sih?"


Daffa melihat sedikit baju Ashila yang keluar dari balik lemari, ia pun tersenyum kemudian berjalan pelan-pelan ke arah tempat persembunyian Uncle dan Aunty-nya itu.


"Hayo… Uncle sama Aunty ketahuan." Rayhan dan Ashila terperanjat kaget saat bocah lima tahun itu menemukan tempat persembunyian mereka.


"Kamu sih berisik, ketahuan kan jadinya," ucap Rayhan


"Kok kamu nyalahin aku sih, harusnya aku yang marah karena kamu sembunyi di tempat persembunyian aku,"


"Tetep aja kamu yang salah karena kamu beris…"

__ADS_1


"Uncle sama Aunty kok malah berantem sih, ini kan cuma permainan," ucap Daffa lantang membuat kedua orang yang sedang berhenti itu langsung kicep.


"Ah iya, ngapain sih kita debat karena permainan anak kecil kayak gini."


"Ih kamu yang ngajakin debat."


"Aduuh… Daffa pusying ngadepin kalian, sekarang kalian maafan," ucap Daffa yang terlihat seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya.


"Yaudah, Aunty… Uncle minta maaf, ya," ucap Rayhan sambil mengacungkan jari kelingkingnya kepada Ashila.


"Yaudah, Aunty juga minta maaf," ucap Ashila tersenyum sembari mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking suaminya.


"Ray, Shila, ayo kita makan dulu, ajak Daffa juga ke sini…" teriak Mama Putri dari ruang makan.


"Tuh Omah panggil kita buat makan, ayo kita kesana," ajak Daffa.


"Yee… ayo kita makan."


Tiba-tiba Ashila merasa kepalanya pening, baru saja berjalan beberapa langkah ia terhuyung kebelakang, untung saja Rayhan dengan cepat menopang tubuh Ashila sehingga tidak jatuh ke lantai.


"Kamu kenapa?"


"E-enggak papa, cuma tadi agak pusing aja," ucap Ashila sambil mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak usah, aku bisa sendiri, kok."


Rayhan pun segera menggendong Daffa dan Ashila berjalan tepat di samping Rayhan, mereka persis seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Ma liat deh mereka bertiga udah kayak keluarga kecil yang harmonis ya," celetuk Kayla yang melihat Rayhan, Ashila dan Daffa yan sedang berjalan ke arah ruang makan.


"Kak Rayhan sama Kak Shila udah cocok banget jadi orang tua, cepet bikinin aku ponakan ya."


"Masa sih?" tanya Rayhan sambil mengernyitkan satu alisnya.


"Iya udah TOP deh pokoknya," ucap Kayla sambil mengangkat dua ibu jarinya ke atas.


"Oh ya, kalian gak kepikiran buat bulan madu kemana gitu?" tanya Maya.


"Bulan madu?"


Rayhan melihat ke samping, Ashila juga sedang menatapnya, kontak mata itu berlangsung sepersekian detik hingga kedua akhirnya saling mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Iya, Ray, kalo Mama pikir-pikir kalian sudah menikah hampir empat bulanan, dari awal menikah sampe sekarang kalian belum pernah bulan madu sama sekali, emang gak kepikiran pengen habisin waktu bareng ke Paris atau London gitu, bikin cucu buat Mama."


Rayhan melirik Ashila sekilas, gadis itu tampak gelisah, ayolah, gadis mana yang tidak gugup membicarakan hal ini di depan keluarganya.


"Ma, Ray kan sibuk kerja dan Shila juga masih kuliah." Rayhan menarik napasnya terlebih dahulu sebelum ia meneruskan ucapannya.


"Lagi pula kalo mau bikin anak mah mau di sini atau di Paris atau dimana pun sama aja, kalo udah rezekinya mah di sini pasti ada baby-nya." Ashila cukup terkejut dan hatinya berdesir saat Rayhan menyentuh dan mengusap-usap perut ratanya, ia juga merasa malu saat mendengar ucapan suaminya yang sefrontal itu di depan keluarganya.


"Kita juga lagi usaha siang malem kok buat kasih Mama sama Papa cucu, iya kan, Sayang?" Rayhan menarik bahu Ashila sehingga mepet dengan tubuhnya.


"Apa dia bilang? Usaha siang malem? Gak salah denger? Tidurny aja pisah, gimana mau nyentuh aku, astaga Ashila kamu mikir apa sih? Kok kesannya kayak pengen disentuh-sentuh gitu," Ashila terus membatin.


"Hah? I-iya, Mama doain aja yang terbaik buat kita."


"Bener kata mereka, Ma. Mungkin mereka pengen nikmatin pacaran dulu dan nikmatin waktu berdua," ujar Papa Yahya yang baru saja melenggang masuk ke ruang makan.


"Tapi Pa, Mama pengen banget punya cucu, di antara temen-temen Mama, Mama doang yang belum punya cucu."


"Udah-udah, lebih baik kita makan dulu," ucap Papa Yahya mengakhiri percakapan.


***


Setelah makan malam selesai, Ashila segera membantu yang lainnya membereskan piring kotor, ketika ia sedang menyusun piring-piring tersebut, tiba-tiba perutnya terasa di aduk-aduk, kepalanya juga terasa pening.


Ia pun segera berlari menuju westafel dan memuntahkan isi perutnya. "Huwek… huwek…"


Rayhan yang mendengarnya langsung berlari ke arah Ashila dan memijit-mijit leher belakang wanita itu untuk membantu proses pengeluaran. Lelaki itu tampak risau, takut terjadi sesuatu pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


Setelah muntah-muntahnya selesai, Mama Putri segera membawakan air hangat dan memberikannya pada sang menantu.


"Minum dulu, Sayang."


Setelah meminum beberapa teguk air, wajah Ashila tampak sangat pucat, lunglai tak berdaya.


"Kamu kenapa sayang? Jangan-jangan kamu hamil?" ucap Mama Putri dengan antusias.


"Ha-hamil?" Rayhan dan Ashila saling menatap dengan mata yang melebar.


"Iya hamil, aduuh bentar lagi Mama bakalan jadi Omah,"


"Gak mung…"

__ADS_1


"Ray, kami beli testpack ya supaya besok Ashila bisa pake, eh enggak mending mama telepon dr. Ila aja." Mama Putri segera berlari ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


__ADS_2