Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 72 Ketakutan Rayhan


__ADS_3

Hari sudah mulai sore, namun Azka dan Kayla masih berkutat dengan tugas bahasa indonesia yang diberikan oleh Bu Arini.


"Ka, ini pendahuluannya harus rubah gak sih, segini udah bagus belum, ya?" tanya Kayla sambil menyodorkan buku yang berisi tilisan tentang pendahuluan proposal yang Kayla buat.


"Udah bagus, gak usah dirubah lagi."


Kayla mengangguk, lalu mengambil alih laptop yang sedang Azka mainkan. "Sini gue yang nyalin, gantian."


Azka mengangguk lantas membiarkan Kayla menyalin tulisan ke dalam laptopnya, sedangkan Azka mengambil pulpen dan memutar-mutar pulpen itu sambil memandangi Kayla yang terlihat fokus dengan layar laptop, mulai dari mata, hidung, pipi dan terakhir di bibir mungil yang berwarna merah jambu. Azka akui, gadis di sampingnya ini memang cantik.


Sadar dengan apa yang dikatakan hatinya, membuat Azka memukul kepalanya sendiri. "Ish! Ngomong apa sih gue!"


Kayla pun menoleh ke arah Azka. "Kenapa lo?" tanya gadis itu.


"E-enggak papa kok,"


"Terus kenapa lo kayak kesel sendiri gitu?"


"Hah? E-enggak, udah lo terusin aja nulisnya," ucap Azka ketus.


Kayla berdecak pelan. "Iya, iya, bawel banget sih lo."


***


Suara bel rumah berbunyi, tak lama kemudian pintu terbuka, seorang lelaki tampan muncul dan melenggang masuk ke dalam rumah.


Mata Kayla berbinar menatap lelaki tampan depannya itu. Dengan cepat ia membenarkan rambut dan penampilannya, gadis itu bangkit lalu menghampiri lelaki itu. "H-hai, Kak Azmi!" sapa Kayla diiringi dengan senyuman semanis mungkin.


Azmi pun membalas senyuman Kayla. "Eh, hai, Kay, tumben maen ke sini?" tanya Azmi.


Melihat senyuman Azmi, Kayla merasa berada di awang-awang sekarang. "Euu... aku lagi ngerjain tugas kelompok bareng Azka, Kak," ucap Kayla kikuk dengan jantung yang berdebar-debar.


"Oh, yaudah lanjutin gih, semangat, ya."


"Iya, Kak."


Pada saat Azmi akan melangkahkan kakinya, Kayla menahannya. "Bentar dulu, Kak."


Kayla pun mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. "Euu… aku mau balikin kaos kakak yang aku pake kemaren."


"Kamu simpen aja."


"Hah? Serius, Kak?" tanya Kayla dengan mata berbinar.


"Iya, yaudah, kakak ke atas dulu, ya." Sebelum pergi, Azmi mengusap pelan puncak kepala Kayla, membuat gadis itu melongo dan mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, menatap punggung Azmi yang semakin menjauh. Sumpah! Perlakuan Azmi tadi, berpotensi memicu gadis itu terkena serangan jantung mendadak.


Azka menatap Kayla yang sedang mematung itu, ia menaikan kedua alisnya, lipatan di dahinya muncul, lelaki itu sama sekali tak paham sikap gadis itu.


Tetapi Azka dapat melihat dengan jelas ketika kakaknya datang, gadis itu bertingkah seperti orang sedang jatuh cinta, apa si singa betina itu menyukai kakaknya? Batin Azka.

__ADS_1


"Woi! Ayo cepat lanjutin ngerjainnya, biar cepet selesai!" ketus Azka. Tunggu! Kenapa lelaki itu bisa seketus ini?


Kayla pun tersadar, gadis itu berdecak pelan. "Iya, bentar napa."


***


Setelah menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh Bu Arini, akhirnya Kayla berpamitan untuk pulang karena hari mulai gelap.


"Tante, Kayla pamit pulang, ya," pamit Kayla pada Karina, wanita paru baya itu baru saja dari dapur.


"Mending nanti aja pulangnya, makan malam dulu," ucap Karina.


Kayla menggeleng sambil tersenyum tipis. "Lain kali aja, Tante, soalnya sebentar lagi malem."


Karina tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepala Kayla. "Yaudah, kamu dianterin Azka, ya."


"Gak usah, Tante," tolak Kayla.


"Kenapa? Kalian kan temenan, walaupun tante ngarepnya lebih sih," kekeh Karina menggoda Kayla.


Di saat yang bersamaan, Azka kembali dari kamarnya setelah menyimpan laptop dan semua keperluan kerja kelompoknya dengan Kayla.


"Dek!" panggil Karina pelan.


Azka mendekat ke arah Kayla dan maminya itu. "Iya, Mi."


"Iya, Mi, Azka ambil kunci motor dulu," ucap Azka.


***


Tepat pukul tujuh malam, Rayhan tiba di apartemen. Dari lobby, lelaki itu terlihat berjalan tergesa-gesa hingga menuju kamar apartemennya.


Sesampainya di depan pintu apartemen miliknya, Rayhan segera memasukan kode password untuk membuka pintu, pintu pun terbuka.


Rayhan tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Ashila, tetapi istrinya itu tak terlihat di ruang tamu dan dapur, mungkin Ashila kini sedang berada di kamar, pikir Rayhan.


Lelaki itu pun berjalan tergesa menapaki anak tangga menuju lantai dua.


Setelah sampai di depan kamarnya, Rayhan langsung membuka kamar, ia mendapati istrinya itu tengah memainkan ponsel. "Assalamualaikum, Sayang."


Ashila pun menoleh dan tersenyum lembut menatap sang suami, ia pun menyimpan ponselnya lalu beranjak menghampiri suaminya itu. "Wa'alaikumsalam, Mas, udah pulang."


Dengan cepat Rayhan menghampiri Ashila dan memeluknya sangat erat, sang wanita merasa bingung, memang ini sudah menjadi kebiasaan mereka jika Rayhan pulang, lelaki itu pasti akan memeluknya. Tapi, Ashila merasa pelukan ini rasanya berbeda, entahlah.


"Mas?" Ketika Ashila akan melepaskan pelukannya, Rayhan tak ingin melepaskannya, lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya, memeluk sang istri.


"Biarkan seperti ini dulu, Sayang."


Ashila pun membiarkan Rayhan memeluknya, tangannya terangkat mengusap pelan punggung suaminya itu.

__ADS_1


Perlahan Rayhan melepaskan pelukannya. Lihatlah wajah suaminya terlihat teduh, Ashila benar-benar bingung.


"Muka kamu kayaknya capek banget, kenapa? Ada masalah?" tanya Ashila sambil menyentuh pipi Rayhan.


Rayhan menggeleng pelan.


Ashila menarik pelan lengan suaminya dan mendorongnya duduk di tempat tidur. "Ayo cerita sama aku," pinta Ashila.


"Aku-- lagi ada masalah kantor aja, Sayang,"


Rayhan membaringkan tubuhnya, menjadikan paha Ashila sebagai bantalan. "Mas, kamu gak mau mandi atau makan dulu?" tanya Ashila.


"Gak, aku pengen kayak gini aja." Rayhan menarik tangan Ashila menuju kepalanya, ia ingin tangan istrinya itu mengelus kepalanya.


"Shila!"


"Iya, Mas."


"Jangan pernah tinggalin aku, ya."


Ashila mendorong kepala Rayhan, membuat lelaki itu terbangun. "Kok kamu ngomongnya gitu?" tanya Ashila sambil menatap Rayhan dengan intens.


"Aku takut kamu ninggalin aku, Sayang." Rayhan kembali memeluk Ashila dengan sangat erat, Ashila semakin bingung dengan tingkah suaminya itu.


"Mas kenapa sih, jangan bikin aku bingung kayak gini?"


Rayhan menarik tangan Ashila, lalu menautkan jari-jemarinya dengan jari jemari istrinya itu."Janji, ya, jangan pernah tinggalin aku," lirih Rayhan.


Ashila melihat sedikit mata Rayhan berair, ia menangkup kedua pipi Rayhan, mendekatkan wajah suaminya itu padanya. Benar, Rayhan menangis.


"Kamu nangis?" tanya Ashila menatap manik mata hitam terang itu.


Rayhan menarik lembut tangan Ashila dari pipinya, lelaki itu menggeleng cepat, lalu memalingkan wajahnya dari istrinya itu. "Gak, Sayang, aku cuma kelilipan aja," ucap Rayhan.


"Serius?"


Rayhan mengangguk cepat.


"Emm… Sayang, aku mau mandi dulu, ya, tolong siapin baju gantinya, ya," ucap Rayhan sambil beranjak pergi dari hadapan Ashila.


"Sebenarnya kamu ini kenapa, Mas?" gumam Ashila sambil menatap punggung Rayhan yang semakin menjauh dari jangkaunnya.


***


Huhuhu… kasian ya Rayhan, tapi namanya juga kehidupan, pasti ada masalah kan? Semoga kalian selalu menikmati ceritanya ya, jangan bosan dengan novel ini, ya.


Jangan lupa untuk like-nya, komennya juga, jangan lupa dukung author selalu ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2