
Waktu menunjukan pukul 06.30 WIB. Parkiran sekolah Elite 01 sudah dipadati oleh siswa siswi dengan seragam yang berbeda.
Apabila di hari lain, pada jam sepagi ini sekolah Elite 01 masih senyap dari derap langkah siswa-siswinya. Lain halnya hari ini, hari ini adalah hari pertandingan basket tahunan antar sekolah dengan sekolah Elite 01 sebagai tuan rumahnya.
Kayla berdiri di parkiran, sembari memperhatikan lalu lalang murid yang sedang berjalan memasuki gerbang sekolah.
Gadis itu mengetuk-ngetukan ujung sepatunya ke tanah. Sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Arah pandangannya terus tertuju pada gerbang sekolah, menanti kemunculan Tasya dan Amira.
Bukannya Tasya dan Amira yang muncul, Kayla malah menemukan seseorang yang membuatnya terdiam membeku. Ia melihat Azka melajukan motornya mendekat ke arah parkiran bersama dengan seseorang yang memeluk erat lelaki itu dari belakang.
Kayla memalingkan wajahnya saat melihat Azka memarkirkan motornya tepat di sampingnya.
Kayla dan Azka saling melirik ke arah masing-masing, tetapi keduanya sama-sama terdiam dan saling memutuskan kontak mata. Rita memperhatikan itu, ia tersenyum miring.
"Yang, yuk!"
Tanpa persetujuan dari Azka, Rita langsung menarik tangan lelaki itu dan membawanya menuju koridor. Dan parahnya, lelaki itu tak menolaknya.
Kayla meringis pelan, ada rasa ngilu di hatinya saat melihat lelaki itu bergandengan dengan Rita, lebih tepatnya Rita yang terus bergelayut manja pada lelaki itu.
"Kenapa lo harus minta gue jadi pacar pura-pura lo kalo pada akhirnya lo pacaran sama dia," batin Kayla.
***
Suasana riuh dari sorak sorai penonton mulai terdengar kala pertandingan akan dimulai. Tribun penonton semuanya sudah terisi penuh.
Dari arah koridor tampak lengan Kayla sedang ditarik-tarik oleh Amira dan Tasya menuju lapangan basket.
"Ah! Mir, Sya, pliss… gue gak ikutan ah, panas tau," rengek Kayla sambil menarik tangannya yang sedang ditarik oleh kedua sahabatnya.
"Panas dari Hongkong! Masih pagi kayak gini dibilang panas. Lagian panasnya juga sehat tau. Sekarang itu bagian sekolah kita yang maen, ada Arya, Farel sama Azka yang maen, kita harus semangatin mereka lah," ucap Amira.
"Ah… gue tau." Tasya melepaskan tangan Kayla. "Karena Azka, kan?" tebaknya.
"Bu-bukan gitu–"
__ADS_1
Tasya memijit pelipisnya seraya menghela napas berat. "Kay, lo sendiri kan yang bilang kalo lo gak ada perasaan apa-apa sama Azka, terus kenapa pas kalian putus lo malah ngehindarin dia gitu?"
Skakmat!
"Yaudah oke kita ke sana. Puas!" ucap Kayla seraya berjalan mendahului kedua sahabatnya.
Sesampainya di sana, Kayla duduk di sebuah tempat duduk yang berada di dekat pepohonan.
Walaupun Kayla berada di bagian penonton paling belakang, namun ia dapat melihat dengan jelas para pemain yang sedang bermain di lapangan, termasuk Azka.
Sejenak ia terbius dengan penampilan lelaki itu. Lelaki itu memakai kaos basket yang berlengan pendek dengan nomor punggung sepuluh serta tulisan nama di bawahnya. Tubuhnya yang mulai dibanjiri oleh keringat, dengan rambut yang mulai basah dan acak-acakan, membuat ketampanannnya bertambah berkali-kali lipat.
"Azka... Sayang... ayo semangat! Aku selalu dukung kamuu...!!"
Suara teriakan seseorang tepatnya di tribun penonton paling depan membuat Kayla tersadar dari lamunannya.
"Berisikkk!" gerutu Kayla pada penonton itu yang ternyata adalah Rita.
***
Rayhan kritis.
Kata-kata papa mertuanya tadi di telepon terus terngiang-ngiang di telinganya. Berbagai prasangka buruk mulai menghantui pikirannya, Ashila takut, takut kehilangan suami tercintanya itu.
Sesampainya di depan ruangan Rayhan, Ashila mendapati papa Yahya sedang berbicara dengan dokter.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?"
"Maafkan kami, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi… Tuhan berkehendak lain, nyawa pasien tidak tertolong."
Dunia seakan berhenti begitu saja. Tangis mama Putri pecah saat itu juga. Papa Yahya langsung terduduk lemas di lantai. Kayla, gadis itu hanya menutup mulut tak percaya sambil bersandar pada dinding dengan air mata yang mengalir deras.
Sedangkan Ashila, gadis yang memakai kerudung lebar berwarna cokelat itu hanya terdiam membatu mencoba mencerna ucapan dokter tadi, hingga beberapa saat kemudian gadis itu berteriak histeris dan segera berlari masuk ke dalam ruang ICU.
"MAS…!"
__ADS_1
Tangis Ashila semakin pecah kala melihat beberapa perawar melepaskan alat-alat medis yang sempat menjadi alat penopang hidup suaminya itu. Apalagi setelah melihat salah satu perawat menutup tubuh Rayhan yang terbujur kaku dengan kain berwarna putih.
Dadanya terasa sesak kala ia memandang brangkar. Di atas tempat itu, Ashila mendapati tubuh Rayhan yang terbaring kaku dengan kain yang menutupi seluruh tubuh suaminya itu, termasuk wajah tampannya.
Perlahan tangannya membuka penutup kepala sang suami, wajah Rayhan terlihat sangat pucat. Ashila menangis meraung-raung tak tahan melihat Rayhan meninggalkannya untuk selamanya.
Ashila langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat kencang. " Mas, bangun, jangan tinggalin aku, Mas."
"Mas, jangan tinggalin aku!!!"
Kemudian, Ashila terdiam, menatap sosok yang terbaring kaku itu dengan tatapan kosong. Ia memejamkan matanya sambil menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Setelah beberapa tarikan, gadis itu membuka matanya kembali.
"Mas, kamu lagi nge-prank aku doang, 'kan?" gumam Ashila, suaranya hampir tak terdengar.
"Mas bangun! Ini sama sekali gak lucu!" Ashila meraih tangan Rayhan, menggenggamnya erat.
Dengan nanar ia menatap wajah sang suami, dengan lembut pula ia mengelus pipi Rayhan. Tiba-tiba, gumpalan kesedihan mulai mengumpul di dada kemudian ke tenggorokannya, rasa sesak kembali menyeruak. Bahkan untuk menarik napas pun terasa sangat berat.
"Mas, aku mohon… banguuun…" Ashila berharap ada keajaiban datang, meskipun ia tahu itu percuma saja, suaminya benar-benar telah tiada. "Kalo kamu gak mau bangun buat aku, setidaknya buat anak kita, Mas."
Buliran air mata terus mengalir di pipinya, kakinya mulai terasa lemas untuk hanya sekedar berdiri. Ashila terduduk lesu di lantai. Ia syok menerima kenyataan bahwa dirinya kehilangan suaminya secepat ini.
Hingga mama Putri dan papa Yahya masuk.Tangis mereka juga pecah melihat Rayhan yang sudah tidak bernyawa.
"Ma, Pa, Kay. Bilangin sama mas Rayhan kalo becanda jangan keterlaluan kayak gini, ini bukan april mop." Ashila tertawa di antara tangisnya.
"Shila…" Papa Yahya menarik tubuh Ashila dan memeluk erat menantunya itu.
"Ikhlaskan, ya, Nak. Suami kamu sudah tenang di sana. Dia udah ninggalin kita." Ashila mendorong pelukan papa mertuanya, pelukan mereka terlepas.
"Nggak, Pa. Nggak mungkin! Mas Rayhan masih hidup!"
Ashila menatap Rayhan yang terpejam.
"Mas kamu gak boleh tinggalin aku dan anak kita gitu aja! Apa kamu tega sama malaikat kecil kita?" Ashila menyentuh perutnya. "Kamu tega, Mas?"
__ADS_1
"MAS RAYHAAAANNNN!!!!" teriak Ashila dengan hati yang hancur, diiringi dengan tangisan yang pecah kemudian