Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 98 Apakah harus berpisah (3)


__ADS_3

Tring, tring!


Lamunan Ashila buyar kala mendengar suara ponselnya yang berada di nakas. Ia pun segera mengambilnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.


081xxxxxxx :


Tolong lepasin Rayhan!


081xxxxxxx :


Apa lo tega sama janin dalam perut gue ini! Kalo lo gak juga lepasin suami lo! Gue bakal bunuh bayi ini dan gue bakal bikin hidup lo penuh dengan rasa bersalah selamanya!


Ashila membelalakan matanya, ia menggeleng berkali-kali, ia yakin, pasti Renata lah yang mengiriminya pesan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, keringat mulai bercucuran di dahinya. Dengan tangan gemetar, Ashila pun membalasnya.


Ashila :


Tolong jangan lakukan itu, Mbak! Saya mohon.


081xxxxxxx:


Kalo lo gak mau Itu terjadi, lepasin Rayhan!


Dengan air mata yang berderai, Ashila pun membalas kembali pesan dari Renata.


Ashila :


Oke! Aku akan lepasin mas Rayhan!


Dengan segera, Ashila mengambil koper yang terletak di sudut kamar, kemudian dengan langkah cepat ia segera membuka lemari pakaian, memasukan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.


Rayhan yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat mangkuk yang berisi bubur dan juga segelas air sontak kaget melihat istrinya memasukan hampir semua pakaiannya ke dalam benda berbentuk kotak itu.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Rayhan


Ashila menoleh sebentar, lalu kembali memasukan pakaiannya ke dalam koper. "Aku akan pulang ke rumah orang tuaku, Mas, lebih baik kita pisah aja.Tolong ceraikan aku."


Deg!


Mata Rayhan seketika langsung terbelalak karena terkejut dengan apa yang diucapkan istrinya itu.


Rayhan menyimpan nampan di atas meja, lalu berjalan menghampiri Ashila, lelaki itu menggeleng tak setuju. "Enggak, Sayang. Sampai kapan pun aku gak mau kita pisah."

__ADS_1


"Tapi Mas, gimana dengan anak yang dikandung Mbak Renata?"


"Itu–


Rayhan tak meneruskan ucapannya, ia tidak bisa menjawab.


Air mata Ashila mulai merembes keluar membasahi kedua pipinya. "Kenapa diem? Jawab, Mas!"


"Tapi waktu itu aku gak inget apa-apa, yang aku inget tiba-tiba aku bangun tidur dan kita berada dalam satu ranjang. Aku gak pernah ngelakuin itu, Sayang."


"Menurut kamu apa yang dilakukan oleh pria dan wanita dewasa dalam satu ranjang dan saat bangun tidur tanpa sehelai benang pun?" Pertanyaan Ashila membuat Rayhan tak bisa berkata apapun, lidahnya terasa kelu untuk menjawab semua pertanyaan istrinya itu.


"Aku akan segera mengurus surat peceraian kita, Mas."


"Terserah, mau kamu buat surat gugatan cerai pun aku gak akan pernah tandatangani karena selamanya kamu akan tetap jadi istri aku, gak ada orang lain lagi," ucap Rayhan tetap pada pendiriannya itu.


"Tapi Mas, bayi yang dikandung Mbak Renata juga butuh sosok ayah, dan aku juga gak mau dimadu."


Tangis Ashila seketika langsung pecah saat itu juga, ia benar-benar tak bisa menahan tangisnya lagi, rasanya dadanya itu ditusuk oleh ribuan benda tajam.


Rayhan pun langsung berhambur memeluk istrinya dan mendekapnya erat-erat.


"Tolong lepasin aku, Mas! Tolong ceraikan aku!" Ashila terus meronta di dalam pelukan Rayhan, tenaganya sudah terkuras habis.


"Plis jangan nangis, aku gak kuat kalo liat kamu nangis kayak gini." Sakit sekali, itulah yang Rayhan rasakan saat ini saat melihat wanita yang dicintainya menangis sampai sesenggukan di hadapannya.


"Mas." Sambil berusaha menahan tangisnya Ashila mengangkat wajahnya, menatap ke arah wajah tampan suaminya. "Tolong nikahin Mbak Renata, ya."


Rayhan menggeleng, buliran bening mulai turun dari sudut matanya. "Sayang–"


"Mas plis, nikahin dia dan cerain ak–" Rayhan langsung menutup mulut Ashila dengan tangannya.


"Tolong jangan katakan itu lagi!" Rayhan menatap kedua mata Ashila dengan tatapan sendu, tangannya menangkup wajah sang istri. "Hidup aku gak akan berarti apa-apa tanpa kamu, Ashila, aku hanya mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Mas, sungguh, aku mencintaimu, tapi kita gak bisa terus sama-sama, kamu memberikan luka ini terlalu dalam, Mas."


"Sayang–"


Ashila langsung memotong. "Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, Mas."


"Sayang, aku hanya mencintaimu, sangat."

__ADS_1


"Aku tau itu, Mas, tapi anak dalam kandungan mbak Renata membutuhkan sosok seseorang ayah, aku gak tega melihatnya lahir tanpa seorang ayah,"


"Tapi aku gak bisa lepasin kamu, Shila." Rayhan menggenggam tangan istrinya itu.


"Tapi Mas juga gak bisa dapetin keduanya!" Ashila melepaskan tangannya dari genggaman Rayhan. "Tolong secepatnya Mas beri aku talak."


Rayhan menggeleng cepat, ia menangkup kembali kedua pipi Ashila. "Aku gak akan pernah menjatuhkan talak padamu, aku juga gak akan pernah cerain kamu, Sayang."


Ashila melepaskan kedua tangan Rayhan di pipinya. "Kalau begitu, biarkan aku yang ninggalin kamu, Mas, selamat tinggal."


Ketika Ashila akan menyeret kopernya, Rayhan kembali menahannya, lelaki itu memeluk Ashila dari belakang. "Aku mohon, jangan tinggalin aku, Sayang. Au gak akan pernah bisa hidup tanpa kamu." Ucapan itu kembali terlontar dari mulut Rayhan.


Ashila melepaskan tangan Rayhan yang melingkar di perutnya, ia berbalik menatap Rayhan, tangannya terangkat memukul dada suaminya itu dengan bertubi-tubi, meluapkan semua kesedihannya, perlahan pukulan itu melemah, tetapi tangisnya semakin pecah.


Rayhan pun langsung memeluk wanita itu dengan erat, keduanya saling menangisi satu sama lain, mengeluarkan semua kepedihan yang bersarang di hati masing-masing.


Ashila menghela napas panjang, perlahan ia menarik tubuhnya dari pelukan Rayhan, tangannya menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya, ia tak ingin menangis lagi.


Wanita itu melepaskan cincin di jari manisnya. "Aku mohon, bertanggung jawablah, Mas." Ashila meraih tangan kanan Rayhan, meletakan cincin itu di atasnya.


"Aku pergi ya, Mas, jangan pernah tinggalin sholat, jangan lupa makan, kamu juga jangan terlalu banyak bekerja, dan aku juga minta, jauhi kebiasaan kamu meminum alkohol lagi, Mas, jaga selalu kesehatan kamu, maafin aku yang gak akan berada di sisi kamu lagi, Mas, tata hati kamu untuk kembali mencintai mbak Renata seperti kamu mencintai aku sekarang."


Rayhan menundukan kepalanya, untuk kedua kalinya, hatinya sakit karena wanita yang sangat ia cintai kembali meningalkannya.


"Jangan cari aku lagi, Mas, aku akan selalu berdoa, supaya kamu selalu bahagia."


Ashila melepaskan tangan Rayhan, wanita itu meraih pegangan kopernya. "Aku pergi, Mas, jangan tahan aku, Assalamualaikum."


Ashila langsung beranjak dari hadapan Rayhan, lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa menangis melepaskan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Ya Tuhan, apa ini hukuman untukku? Maafkann aku, Ashila, maafkan aku yang sudah menggoreskan luka di hatimu, aku sangat mencintaimu, Sayang, selamanya."


Rayhan mengacak-acak rambutnya frustasi, air matanya langsung mengalir deras menatap punggung Ashila yang semakin hilang dari pandangannya.


***


Jangan dibuly dulu ya authornya, ini mungkin gak sesuai dengan harapan kalian.


Tetap tunggu kelanjutannya ya, kita lihat bagaimana cara Rayhan buat pertahanin pernikahannya, pasti pada kepo kan? Yang gak kepo gak papa sih😂


Jangan lupa juga

__ADS_1


👉like, komennya, dan vote juga ya, hehe sorry kalo author banyak maunya ya.


__ADS_2