
Kayla beserta Tasya dam Amira kini sedang berada di lapangan sekolah, menonton orang yang sedang latihan basket. Kebetulan Azka, Arya, dan Farel adalah tiga dari enam orang pemainnya.
Dua minggu lagi akan diadakan kejuaraan basket tingkat nasional, jadi mereka harus berlatih semaksimal mungkin untuk mengikuti lomba tersebut.
Sekitar satu jam kemudian, latihan pun selesai, para anak cewek langsung berhambur menghampiri mereka dan menempeli mereka sambil menawarkan minuman. Tasya dan Amira pun ikut turun untuk memberikan minuman pada Farel dan Arya.
Azka sekarang sudah dikerubungi oleh para fansnya, membuat Kayla yang sejak tadi memegang minuman untuk lelaki itu memilih diam ditempat. Gadis itu perlahan mundur dan berbalik, namun sebelum itu…
"Kay, tunggu..."
Azka berlari ke arah Kayla dan memegang tangan gadis itu.
"Eh, kenapa?" tanya Kayla.
Azka menatap minuman yang Kayla pegang. "Eu… itu minuman buat gue, ya?"
"Ah! Itu… sebenernya–"
Belum selesai Kayla bicara, Azka sudah merebut minuman itu lalu meneguknya sampai habis. "Gue haus," ujar Azka. "Lo jangan marah, entar gue ganti," sambungnya.
"Hah! Gak usah, gak usah."
"Oh, yaudah." Azka menarik tangan Kayla. "Ke kantin, yuk!" ajaknya.
"Eh… Ka, bentar." Kayla menahan tangannya.
"Kenapa?"
Kayla mengambil sesuatu dari sakunya. "Lo keringetan, gue elapin, ya." Gadis itu menarik Azka agar duduk di sebuah bangku.
Dengan telaten tangan cantik itu menyeka sisa-sisa keringat yang berada di pelipis Azka. Sedangkan Azka hanya terdiam sambil menatap wajah Kayla dari jarak dekat. Bahkan keduanya bisa sama-sama merasakan deru napas masing-masing.
Azka memiringkan kepalanya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah pada gadis di depannya. Kayla bingung apa yang akan dilakukan oleh Azka? Dan dirinya juga harus berbuat apa? Akhirnya Kayla menutup matanya karena tak berani menatap Azka dari jarak hanya beberapa senti itu.
Kayla tersentak ketika merasakan tiupan di wajahnya, ia membuka matanya.
"Kenapa tutup mata? Pengen dicium, ya?" Azka memandang dengan tatapan menggoda.
"Apasih? E-enggak!" Kayla memalingkan wajahnya, sudah dipastikan wajahnya kini pasti memerah.
"Ah! Masa siih…" Azka menoel dagu Kayla.
Kayla mengusap bekas toelan Azka di dagunya, ia pun berdiri. "Enggak, apa sih! Udah ah, gue mau ke kelas–aaakhh."
Kayla terpekik kaget saat dirinya tak sengaja tersandung batu membuatnya terhuyung ke belakang dan jatuh tepat… di pangkuan Azka.
Jantungnya bergemuruh serasa ingin loncat dari tempatnya, namun sebelum ia menetralkan semuanya. Tangannya ditarik oleh seseorang dan dirinya didorong hingga menyentuh ubin-ubin pinggir lapangan. Dan menyebabkan lututnya terluka.
"Awww!"
Azka terkejut saat Kayla terjatuh, ia pun segera menghampiri Kayla. "Lo gak papa?"
Kayla menggeleng, namun mulutnya mengeluarkan suara ringisan.
Azka mendongak, ia menatap tajam orang yang membuat Kayla seperti ini. "Lo apaan sih, Rit?"
"Dia yang apa-apaan… duduk di pangkuan kamu, murahan tau gak!" ucap Rita.
"Lo–"
"Ka, lo bawa Kayla ke UKS, biar ni cewek kita yang urus," ujar Tasya yang diangguki oleh Amira.
Azka pun mengangguk lalu segera menggendong Kayla ala bridal style. Kayla terpekik kaget.
__ADS_1
"Eh… lo apaan sih, turunin gue, cepat turunin gue!"
Kayla meronta ingin diturunkan, gadis itu memukul-mukul dada Azka. Namun Azka tak juga menurunkannya.
"Azkaa… turunin gue! Gue mau dipapah aja. Malu tau digendong-gendong kayak gini…"
Azka menghela napasnya lalu menurunkan Kayla, kemudian memapahnya. "Kalo dipapah kayak gini, lama nyampe UKS-nya, Kay. Gue gendong lagi, ya."
"Gak mau, gue mau jalan aja."
"Huh! Dasar kepala batu!"
***
Setelah berjalan jauh seperti berjalan dari sabang sampai merauke… akhirnya Azka dan Kayla sampai di UKS.
Azka segera mengambil kotak P3K sedangkan Kayla duduk di sebuah kursi. Perlahan Azka berjongkok di depan Kayla, mengambil kapas dan memberinya alkohol, dengan telaten ia mengobati lutut Kayla.
"Sshh… pelan-pelan, Ka."
"Iya, ini juga pelan-pelan."
Azka meniupi lutut Kayla, setelah semuanya selesai, ia menempelkan plester di sana.
"Udah selesai."
Azka segera bangkit dan menutup kotak obat, lalu menyimpannya kembali ke tempat di mana kotak obat itu tadi di simpan.
"Thanks, Ka."
Azka mengedikan bahunya. "It's okay."
Ting!
Suara getar ponsel pertanda pesan masuk membuat Kayla mengalihkan sejenak dari Azka, ia mengambil ponselnya di saku untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Kay, pulang sekolah kakak beliin tahu gejrot, ya.
Kayla pun membalasnya.
Kayla :
Oke, Kak.
"Ka..."
"Hmm."
"Pulang sekolah nanti lo mau gak anterin gue beli tahu gejrot dulu, soalnya kaka Shila nitip tadi."
"Hemm... iya boleh."
Berbicara tentang ngidam Ashila, Azka jadi teringat beberapa hari yang lalu, ketika ia dan Kayla sangat kerepotan menuruti Ashila yang banyak mengidam. Jika tidak dituruti wanita itu akan menangis.
***
"Heh! Hidung lo tuh," ucap salah seorang penghuni sel tahanan pada teman di sampingnya.
"Ada apa?"
"Itu hidung lo mimisan."
Wanita itu menempelkan tangannya pada hidungnya, ia terkejut saat melihat banyak sekali darah yang menempel pada jarinya. Badannya terasa lemas, entah kenapa rasa pusing mulai menjalar di kepalanya, sampai pada detik berikutnya ia kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
BRUK!!
"Hei! Bangun woi, bangun… tolong… toloong… Pak di sini ada yang pingsan, Paaak…"
***
Azka memberhentikan motornya di pinggir jalan, Kayla turun dari motor dan berjalan menuju pedagang tahu gejrot, sedangkan Azka hanya menunggu di motor.
Lelaki itu melihat sekeliling, di sana banyak sekali pedagang jajanan yang berjejer di pinggir jalan, bau sedap di setiap makanan membuat perut siapa saja pasti akan keroncongan.
"Kalungnya, kalungnya, ayo kalungnya, bagus dan murah meriah, ayo, ayo…"
Azka menoleh saat seseorang menepuknya dari belakang. "Mas mau beli kalungnya gak nih, buat pacarnya, Mas. Bagus loh," tawar pedagang itu pada Azka.
Azka berpikir sebentar, ia melihat banyak sekali model kalung yang bergantung di sebuah papan yang dipegang oleh pedagang itu. Tatapannya beralih pada kalung perak dengan bandul yang berinisial A, ia tersenyum miring.
"Emm… Pak, ini harganya berapa nih?" tanya Azka sembari menunjuk kalung itu.
"Murah, Mas. Cuma tiga puluh rebu."
Azka mengangguk. "Saya, mau yang ini, Pak," ucap Azka.
Pedagang itu pun memberikan kalung itu pada Azka. "Ini, Mas."
Azka mengambilnya kemudian ia mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan dari sakunya dan memberikannya pada pedagang itu. "Kembaliannya ambil aja, Pak."
"Wah, makasih, Mas," ucap pedagang itu seraya pergi sambil menawarkan dagangannya.
"Ka, gue udah beli nih. Yuk balik."
Azka mengangguk, lalu segera menyalakan motornya.
***
Kini Azka dan Kayla sudah sampai di parkiran rumah sakit. Kayla segera turun dari motor. "Thanks, ya, Ka. Gue masuk dulu."
Ketika Kayla akan pergi, lelaki itu menahannya. "Kenapa?" tanya Kayla.
"Gue pengen kasih sesuatu sama lo."
Kayla mengernyit. "Apa?"
Azka menarik Kayla agar mendekat ke arahnya. Kemudian ia merogoh sakunya, mengambil kalung yang dibelinya tadi. "Gue tadi beli ini buat lo. Gue pakein, ya."
Lelaki itu mendorong Kayla hingga terduduk di sebuah bangku kemudian memasangkan kalungnya di leher Kayla.
Kayla memegangi bandul kalung perak itu. "Inisialnya nama lo," ujar Kayla.
"Iya, supaya lo inget terus sama gue," ujar Azka disertai kekehan pelan. "Kalo lo kangen sama gue, lo cium kalung ini aja. Pasti gue bakal dateng."
Kayla tertawa. "Emang lo jin?"
"Iya–"
Ucapan Azka terpotong karena ponsel di saku Kayla berbunyi. Kayla pun segera mengambilnya.
"Siapa?" tanya Azka.
"Kak Shila. Ya ampun... gue pergi dulu, ya, Ka. Kak Shila pasti nungguin pesenan tahu gejrotnya. Lo tau kan kalo kak Shila nangis kayak gimana."
***
Sorry, ya, mungkin beberapa episode ke depan isi cerita tentang Ashila Rayhan hanya sedikit, bakal ada Kayla dan Azka, mungkin juga bakal ada sedikit cerita tentang Azmi dan Annisa. Oh ya, ada juga sedikit tentang Renata. Sembari nunggu Rayhan sadar.
__ADS_1
Makasih... tetap tunggu ceritanya ya...
Maaf kalo ceritanya ngebosenin.