
Di sisi lain…
Tak berbeda dengan Rayhan, lelaki itu kini sedang kepayahan mencerna perasaan yang sedang ia rasa. Menyiksa.
Sudah beberapa hari lelaki itu mengalami insomnia. Setiap malam, ia memikirkan istrinya, memikirkan nasib pernikahannya yang sudah benar-benar berada di ujung perceraian itu.
Rayhan mengelus seprei di sampingnya, sangat terasa dingin, tubuhnya pun terasa sangat dingin. Jika ada Ashila ia pasti tak akan kedinginan dan mengalami insomnia yang sangat menyiksa ini.
Pasti mereka akan saling mendekap satu sama lain, saling menghangatkan dan menyalurkan cinta masing-masing.
***
Dengan hati yang dipenuhi kewaswasan, Ashila kini sedang duduk di sebuah kursi yang di sediakan rumah sakit.
Gadis itu sedang menunggu suaminya dan Renata yang sedang melakukan USG untuk membuktikan kehamilan Renata.
Ashila menghembuskan napasnya berkali-kali, ia merasa was-was akan hasil USG itu, itu akan menjadi penentu kelanjutan hubungan pernikahan mereka.
Setelah lama menunggu, akhirnya pintu terbuka, terlihat Rayhan keluar dengan wajah yang terlihat kusut. Dengan langkah terburu-buru, Ashila menghampirinya. "Gimana, Mas?" tanyanya menggebu.
Rayhan menatap Ashila sendu. "Maaf," lirihnya.
Tak lama Renata keluar sambil tersenyum miring, lalu berjalan menghampiri Ashila dan Rayhan. "Sayang, nanti malem aku tunggu di apartemen, ya. Hari ini kamu bisa habisin waktu bareng istri kamu. Kamu inget sama janji kamu kan?" ucapnya sambil melingkarkan tangannya pada tangan Rayhan, namun lelaki itu segera menepisnya.
Ingin rasanya Renata marah, tapi ia urungkan, ia menggantinya dengan senyuman liciknya. "Kalo gitu aku pergi dulu, kalian puas-puasin hari ini, karena besok-besok kalian gak bisa berdua kayak gini lagi."
Renata kemudian mengusap-usap bahu Ashila. "Sabar, ya," ucap Renata kemudian berlalu meninggalkan kedua insan itu.
Ashila dan Rayhan menatap punggung Renata yang semakin menjauh dari pandangan mereka.
Setelah Renata benar-benar tak terlihat, kedua insan itu bertatapan.
Ashila menyeka air matanya, menghembuskan napas berkali-kali, lalu menatap suaminya. Netra mereka terkunci, terlihat dengan jelas dari sorot mata Rayhan yang merasa bersalah.
"Gak papa, Mas. K-kamu gak salah, mungkin ini memang takdir pernikahan kita." Ashila menjeda ucapannya sebentar. "M-mas, kalo gitu, t-talak aku sekarang juga."
Rayhan menggeleng. "Nggak, Sayang, a-aku… aku gak bisa." Lelaki itu memegang jari jemari Ashila, memohon agar istrinya itu menarik kembali ucapannya.
"Kamu udah janji, Mas."
__ADS_1
"T-tapi, Sayang–"
"Janji harus ditepati, Mas."
Rayhan menghembuskan napasnya dalam-dalam "Baiklah." Lelaki itu menjeda ucapannya sebentar. "Tapi izinin aku buat peluk kamu yang terakhir kalinya."
Ashila mengangguk. "Sini, Mas."
Tanpa aba-aba, Rayhan langsung memeluk Ashila erat, keduanya menangis tersedu-sedu. Menumpahkan segala emosi yang berada dalam diri keduanya.
Setelah lama kedua berpelukan, Ashila melepaskannya. "Sekarang saatnya kamu talak aku, Mas," ucap Ashila sambil menahan tangisnya.
Rayhan menggelengkan kepalanya. "Enggak, sampai kapan pun aku gak akan pernah talak kamu, enggak akan."
"Tapi kamu udah janji, Mas."
"Aku enggak bisa ngelakuin itu!" Rayhan perlahan mundur, meninggalkan Ashila, ia berlari menuju balkon rumah sakit yang tak jauh dari tempatnya tadi berbincang dengan sang istri.
Ashila pun mengejarnya, ia terkejut saat melihat suaminya itu menaiki pagar pembatas balkon, mereka kini berada di lantai 17 rumah sakit.
"Mas, kamu mau ngapain? Turun, Mas, jangan aneh-aneh!"
"Enggak, Mas, jangan ngelakuin itu!" Rayhan terus menaiki pagar itu, tak peduli dengan teriakan Ashila yang terus memintanya agar turun. Lelaki itu memejamkan matanya. "Selamat tinggal, Sayang. Kita akan bertemu di surga nanti."
"Mas… jangan Mas, turun!"
Bruk!
Tak disangka, Rayhan pun menerjunkan dirinya dari atas balkon itu.
Ashila membelalakan matanya, tubuhnya terasa lemah lunglai seketika, ia memerosotkan tubuhnya ke lantai. "MAS RAYHAN?!!! ENGGAKKK…!!!
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu membangunkan Ashila dari mimpi buruk, ia mengerjap lalu menyeka kening yang membasahi keningnya.
Sejenak ia tertegun mengingat mimpinya tadi. Ashila menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus sisa-sisa bayangan mimpi buruk Itu dari benaknya.
Namun, bayangan Rayhan-suaminya yang terjun dari jembatan itu terus berputar dalam otaknya.
__ADS_1
Gadis itu mendesah pelan, diliriknya jam dinding yang menunjukan pukul setengah empat dini hari. Ashila melihat sekeliling, ia berada di atas sajadah, dilihatnya Al-qur'an yang masih terbuka di hadapannya, dirinya juga masih memakai mukena.
Ashila baru tersadar, ternyata ia ketiduran saat dirinya tengah membaca Al-qur'an tadi, ia tersentak saat suara ketukan pintu kembali terdengar.
Spontan Ashila menutup Al-qur'annya, menciumnya lalu menyimpannya di meja rias. Kemudian ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Kenapa, Sayang? Tadi umi denger kamu teriak-teriak? Ada apa?"
Ashila langsung memeluk uminya. "Tadi Shila mimpi buruk, Umi. Shila mimpi… mas Rayhan terjun dari balkon rumah sakit gara-gara gak mau cerain Shila, Umi." Ashila terisak dipelukan uminya.
"Sayang, mimpi kan cuma bunga tidur, Rayhan itu lelaki dewasa, gak mungkin dia ngelakuin hal seburuk itu."
***
Rayhan meremas stir mobil berbahan karet itu, lelaki itu tergugu. Sungguh, ia sangat menyesali semua takdir buruk yang menimpanya, mengapa rumah tangganya harus ternoda oleh tindakan kejinya.
Lelaki itu menginjak rem ketika berhenti di lampu merah.
Allahu akhbar Allahu akhbar…
Allahu akhbar Allahu akhbar…
Suara adzan ashar menggema di telinganya, lelaki itu menolehkan kepalanya ke samping.
"Arin, kamu bisa kan pulang ke kantor sendiri? Saya mau pergi ke suatu tempat terlebih dahulu."
Arin-sekertarisnya mengangguk. "Iya, Pak. Gak papa, saya bisa pulang naik taksi." Setelah membereskan beberapa berkas, Arin pun keluar dari mobil Rayhan
Rayhan pun melajukan mobilnya kembali. Tak lama lelaki itu sampai di depan sebuah masjid berkubah keemasan. Ia memarkirkan mobilnya, lelaki itu keluar dari mobil mengambil peci hitamnya di dashboard, lali berjalan menuju tempat wudhu.
Digulungnya celana dan juga lengan kemejanya, keran mulai ia hidupkan. Berdoa terlebih dahulu kemudian berwudhu.
Setelah wudhunya selesai, kakinya beranjak melangkah masuk ke dalam masjid, kakinya kini sudah berpijak pada karpet yang berlukiskan masjid. Banyak jemaah yang sedang shalat sunah dan ada juga yang sedang berdoa. Dilantunkannya niat lalu ia mulai menjalankan shalat sunah.
Setelah selesai shalat sunah. Iqamah mulai dikumandangkan pertanda shalat akan segera dimulai, semua orang yang berada di sana mulai menyusun shaf shalat. Kemudian sang imam mulai memimpin shalat.
Setelah selesai shalat. Sang imam mulai berdiri untuk menyampaikan kultum yang biasa dilakukan sehabis shalat wajib.
Setelah selesai salam dan mukaddimah, ceramah imam mulai masuk pada inti. Para jemaah mendengarkannya dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Manusia memang tempatnya salah dan dosa, tetapi ingatlah Allah itu Maha pengampun dan Maha penyayang. Seperti dalam Al-qur'an surah az-zumar ayat 53 Allah SWT berfirman : "Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."