Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 90 Perasaan Annisa


__ADS_3

"Nis, kamar kamu dari dulu gak pernah berubah, ya. Selalu kayak gini," ujar Ashila sembari mendudukan tubuhnya di tempat tidur Annisa.


Malam ini, Ashila berniat menginap di rumah Annisa, gadis itu ingin menemani sahabatnya yang sedang sendirian di rumah. Ayah Annisa sedang ada urusan ke luar kota.


Annisa adalah anak piatu, Ibunya sudah meninggal empat tahun yang lalu karena mengidap penyakit kanker. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sering bolak-balik keluar kota karena urusan pekerjaan.


"Dina kapan nyampenya, ya. Udah jam tujuh loh ini," ujar Ashila sembari menatap jam di pergelangan tangannya.


Ting tong!


Suara bel rumah Annisa berbunyi.


"Nis, ada tamu tuh, kayaknya Dina!" ujar Ashila.


"Masa sih Dina, biasanya tuh anak sering masuk-masuk aja deh tanpa pencet bel dulu."


"Yaudah cek gih, mungkin emang tamu penting."


"Siapa, ya? Tumben malem-malem gini ada tamu," ujar Annisa. "Yaudah aku turun dulu, ya, kamu di sini aja."


"Iya."


Sambil menunggu Annisa, Ashila mengedarkan pandangannya melihat sekeliling kamar sahabatnya itu.


Dinding kamar sahabatnya itu banyak dipenuhi oleh foto-foto dan beberapa gambar. Di sana juga ada beberapa piala dan piagam penghargaan yang tersusun rapi di dalam sebuah lemari kaca khusus.


"Juara satu lomba karya tulis ilmiah," ucap Ashila membaca tulisan salah satu piagam penghargaan yang berada di dalam lemari tersebut.


Ashila jadi teringat, dulu Annisa sering sekali mengikuti berbagai perlombaan bidang sastra. Menulis cerita fiksi dan non fiksi adalah hobby sahabatnya itu, bahkan banyak karya Annisa yang sudah dibukukan dan berada di beberapa toko buku.


Ashila mengambil salah satu foto yang terpajang di meja rias, yaitu foto ketika dirinya, Annisa dan Dina saat lulus sekolah SMA dulu.


"Ya ampun nih foto masih ada aja," gumam Ashila terkekeh.


Tanpa sengaja Ashila menjatuhkan sebuah buku, yang berada di meja rias.


Ashila segera mengambil buku berwarna pink itu yang ternyata adalah sebuah buku diary milik Annisa, secara tak sengaja pula, sebuah foto yang terselip di dalam buku itu terjatuh, gadis berumur dua puluh tahun itu segera mengambilnya.


Ashila membulatkan matanya tak percaya ketika dirinya tak sengaja membaca tulisan yang diselipi foto tadi. "J-jadi selama ini… Nisa suka sama kak Azmi."


"Astagfirullah, jadi selama ini Nisa mendam rasa sama kak Azmi, kok aku gak sadar sih."


"Maaf, Nis, kalo aku lancang baca buku diary kamu," gumam Ashila.


Dengan tangan gemetar Ashila mulai membuka satu persatu halaman buku diary milik sahabatnya itu.


Dia banyak menemukan curhatan-curhatan tentang isi hati Annisa pada Azmi di sepanjang halaman-halaman buku itu, bahkan di setiap halamannya terdapat gambar sketsa wajah yang mirip sekali dengan wajah Azmi.


Hati Ashila teriris membaca setiap halaman buku diary milik sahabatnya itu. Bukan karena Annisa yang menyukai Azmi, melainkan karena dirinya yang tak pernah menyadari bahwa salah satu sahabat yang ia sayangi menyukai seseorang yang pernah singgah di hatinya itu.

__ADS_1


Padahal dulu Ashila sering curhat tentang perasaannya pada Azmi kepada Annisa, setiap dirinya menceritakan tentang perasaannya pasti Annisa merasa sakit hati. Siapa sih yang tidak sakit hati jika sahabat kita sendiri menyukai orang yang kita sukai juga.


Suara panggilan Annisa dari luar kamar membuat Ashila tersentak, gadis itu segera menyimpan buku diary itu pada tempat asalnya dan segera duduk di tempat tidur Annisa.


"Shila."


"I-iya, Nis." Ashila bersikap senormal mungkin seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi kegugupan di wajah Ashila dapat terbaca oleh sahabatnya itu.


"Kamu kenapa, Shil?"


"Hah? E-enggak papa, Nis. A-aku nggak papa kok," ujar Ashila.


"Kok kamu keringetan gitu sih?" tanya Ashila.


"Euu… itu… anu… aku–"


"Hust… udah-udah gak usah dijawab, aku cuma mau bilang, di depan ada suami kamu."


Ashila membulatkan matanya. "Apa? Mas Rayhan ke sini?"


Annisa mengangguk.


"Mau ngapain?"


"Gak tau, kayaknya jemput kamu deh, sana gih temuin!"


***


Sudah dari sepuluh menit tadi, Rayhan dan Ashila terus berdebat. Beberapa kali lelaki itu mengajak istrinya untuk pulang, tetapi sang istri tetap bersikeras ingin menginap di tempat sahabatnya itu.


Annisa dan Dina hanya saling pandang, menghela napas berkali-kali menyaksikan perdebatan suami-istri itu.


"Yaudah, kalo kamu tetep gak mau pulang dan mau nginep di sini, aku juga mau nginep di sini," ujar Rayhan.


"Mas, jangan keras kepala deh."


Rayhan hanya terdiam. Ia tak menjawab apapun, lelaki itu memang benar-benar keras kepala.


Ashila mendengus lalu menghembuskan napasnya panjang, gadis itu menghampiri kedua sahabatnya. "Nis, Din, kayaknya aku harus pulang deh, maaf, ya aku gak bisa nginep di sini."


"Iya, gak papa kok," ujar Annisa. "Lagi pula di sini masih ada Dina."


***


Di dalam mobil tidak ada percakapan di antara Rayhan dan Ashila, keduanya sama-sama terdiam. Rayhan fokus mengendarai mobil, sedangkan Ashila sedang melamun memikirkan tentang perasaan Annisa pada kakak seniornya itu.


"Maafin aku, ya, Nis. Aku janji bakal deketin kalian berdua. Kalo dipikir-pikir Annisa dan kak Azmi emang cocok sih, dasar kayaknya emang jodoh kali, ya," batin Ashila.


Rayhan melirik Ashila yang sedang melamun, lelaki itu berdehem. "Kamu lagi ngelamunin apa sih, Yang?" tanya Rayhan.

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari Ashila, gadis itu masih betah dengan pikirannya sendiri, hingga sebuah tangan membuyarkan lamunannya.


"Eh!" Ashila terperanjat kaget kala tangan Rayhan menyentuh pipinya. Sentuhan itu sangat lembut.


"Kamu lagi ngelamunin apa sih heum?" tanya Rayhan lagi.


"Udah deh jangan banyak tanya, fokus aja nyetir!" ketus Ashila sambil mendelik tajam.


Rayhan hanya tersenyum saja mendengar perkataan Ashila.


"Udah deh jangan senyum-senyum, jelek tau!" ketus Ashila lagi.


Rayhan pun terdiam, lelaki itu kembali fokus menyetir dan menatap ke depan, sedangkan Ashila kembali berkelana dengan pikirannya.


Tak lama kemudian Rayhan memarkirkan mobilnya di suatu tempat.


"Sampai," ujar Rayhan.


Ashila menatap sekeliling, ini bukan gedung apartemen melainkan sebuah restoran jepang. "Kok ke sini sih!"


"Makan dulu yuk, aku laper," ujar Rayhan


"Yaudah makan sana! Aku tunggu di sini!"


"Temenin, yuk!"


"Gak lap–"


Krucuk, krucuk!


Rayhan tertawa keras. "Yakin gak laper, si dedek cacingnya udah pada demo tuh kayaknya," sindir Rayhan sambil terkekeh.


Rayhan pun segera keluar dari mobil, lelaki itu membukakan pintu untuk Ashila. "Silahkan bidadari surgaku."


Ashila hanya membuang muka, lalu keluar dari dalam mobil. Rayhan hanya tersenyum manis.


Emang Ashila bakal luluh gitu! Gak bakal!


Mereka berdua beriringan masuk ke dalam restoran. Walaupun sebenarnya Rayhan ingin sekali mengandeng tangan istrinya itu, tetapi ia urungkan itu karena tidak ingin membuat Ashila semakin membenci dirinya.


Rayhan dan Ashila duduk di sebuah kursi yang berada di pojok.


"Kamu pesen yang banyak, karena buat ketusin aku juga butuh tenaga loh," ujar Rayhan.


***


Pas aku baca komen-komen kalian, kayaknya banyak tebakannya yang bener deh, tapi kalian jangan bosen ya sama ceritanya, cerita ini ada kok yang berbeda dari sinetron yang kalian tonton.


Tunggu kelanjutannya aja, jangan lupa like, komen, vote author juga supaya tambah semangat ya guys.

__ADS_1


Thank you all.


__ADS_2