Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 118 Sadar (3)


__ADS_3

"Mas, aku kangen banget sama kamu," ujar Ashila sembari mengusap lembut pipi Rayhan.


Rayhan tersenyum. "Aku lebih kangen," balasnya. "Sayang, cium dong," pinta Rayhan.


"Gak ih! Nanti kalo ada yang masuk gimana?"


"Gak bakal."


Ashila menarik napas panjang sebelum mencium Rayhan. Mengapa ia jadi secanggung ini? Padahal dulu ia sudah terbiasa dengan apa yang akan dilakukannya ini. Perlahan Ashila mendaratkan kecupan di pipi Rayhan.


"Loh, kok di situ sih, Sayang?" ucap Rayhan dengan nada marah yang dibuat-buat.


"Kan kamu tadi mintanya di pipi."


"Kata siapa, aku tadi mintanya di sini loh." Rayhan menunjuk bibirnya.


"Nanti ada yang liat gimana?"


"Gak bakalan. Ayo cepet cium."


Perlahan Ashila mendekatkan wajahnya pada Rayhan, mata keduanya terkunci begitu saja, kemudian Ashila mendekatkan bibirnya pada bibir Rayhan, sementara tangan Rayhan memegang pinggang Ashila dan tangan Ashila menyentuh pundak Rayhan.


Sedikit lagi akan menyentuh, Namun…


"Wohoo… astaga… baru sadar dari koma juga udah nempel-nempel aja kayak perangko!"


Ashila sontak langsung melepaskan menjauhkan wajahnya dari Rayhan kala mendengar seseorang membuka pintu disertai suara barinton yang cukup keras.


Rayhan cukup terkejut saat melihat siapa yang datang. "Lo…!"


Lelaki itu mengeluarkan cengiran, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. "Halo, Sobat!"


Rayhan masih terpelongo. "Reza! Lo–"


"Kaget kan gue ada di sini? Gimana kabar lo?"


Ashila membantu Rayhan untuk duduk bersandar di kepala brangkar. "Sini lo!"


Reza pun mendekat ke arah Rayhan dan merentangkan tangannya, namun bukan pelukan yang ia dapatkan melainkan sebuah jitakan di kepalanya. Ashila pun cukup terkejut melihatnya.


"Aww! Lo jadi temen jahat banget sih! Bukannya peluk gue, malah jitak gue!" ringis Reza seraya mengusap-usap kepalanya.


"Abis lo tuh ganggu keromantisan gue sama istri gue tau gak!" ucap Rayhan kesal. Padahal tadi bibir Ashila hampir saja menyentuh bibirnya.


Tak lama kemudian Tiara masuk ke dalam ruangan dan langsung berhambur memeluk Ashila. "Ah! Shila… aku kangen banget," ucap Tiara.


"Shila juga kangen sama Mbak," ucap Ashila.

__ADS_1


Tiara melepaskan pelukannya. "Eh... bentar-bentar, kok aku ngerasa perut kamu gendutan, ya? Kamu hamil?" tanya Tiara sembari menatap ke arah perut Ashila yang sedikit membuncit.


Ashila tersenyum. "Alhamdulillah, Mbak, aku emang lagi hamil."


"Ya ampun, selamet, ya."


"Wah selamet, ya. Lo bentar lagi jadi bapak-bapak dong, Ray," celetuk Reza sambil menepuk pelan bahu Rayhan.


"Walaupun gue jadi bapak-bapak, tetep gantengan gue daripada lo!" ucap Rayhan sambil tersenyum meremehkan.


"Semerdeka lo deh," ucap Reza disertai dengusan pelan. "Oh, ya, kita ke sini sebenernya bukan cuma mau ngejenguk lo aja sih, kita mau ngasih undangan pernikahan kita. Pokoknya lo berdua harus dateng nanti," lanjut Reza seraya memberikan sebuah kartu undangan pada Rayhan.


Rayhan pun menerimanya. "Kapan nih?" tanyanya.


"Insyaallah, tiga minggu lagi."


"Oke, kalo gue udah sembuh beneran, gue pasti bakal dateng sama Shila."


"Hmm... gue tunggu, pokoknya harus dateng. Yaudah gitu aja deh, kita berdua mau keluar dulu, kalian bisa lanjut tuh romantis-romantisannya," ucap Reza.


"Yaudah balik lo sana, emang kalian tuh pengganggu banget tau gak," ucap Rayhan dibalas dengusan oleh Reza.


"Yaudah, Shil, aku pergi, ya. Ray, lo juga cepet sembuh ya."


Rayhan tersenyum kala melihat Reza dan Tiara sudah benar-benar keluar dari ruang rawatnya, ia pun segera menarik tangan Ashila. "Sayang, lanjut lagi, yuk."


***


Rasanya Rayhan butuh Ashila saat ini. Namun apalah daya, istrinya itu kini belum jua pulang dari kampus karena ada ulangan harian yang tak bisa ditinggalkan.


Sudah satu minggu Rayhan berada di sini, di dalam ruangan yang serba bernuansa putih dan bau obat yang sangat menyeruak ini membuat Rayhan sangat bosan.


Lelaki itu pun mengambil ponselnya yang terletak di dalam nakas, ia mensecrolnya dan mencari kontak sang istri. Setelah menemukannya, ia pun segera meneleponnya.


Tak lama kemudian, telepon pun tersambung.


"Sayang, kamu dimana? Kamu kapan pulang?"


[…..]


"Oh, ya? Kamu ada di depan?"


[…..]


"Yaudah, aku tunggu."


Tak lama pintu ruangan pun terbuka menampilkan Ashila yang sedang berjalan menghampiri Rayhan dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

__ADS_1


Rayhan merentangkan kedua tangannya. "Sayang… kangen," ucap Rayhan dengan nada manjanya.


Ashila terkekeh. "Baru beberapa jam gak ketemu aja udah kangen," ucap Ashila sambil menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Rayhan.


"Sayang, aku kapan pulang, ya?"


Ashila melepaskan pelukannya lalu menyimpan tasnya di nakas dan mendudukan tubuhnya di kursi di samping brangkar Rayhan. "Nanti, setelah kamu sembuh."


"Aku udah sembuh kok, udah kuat gini. Tinggal perban-perbannya aja dibuka, aku bosen tau di tempat kayak gini. Jalan-jalan, yuk!"


"Kamu bosen, ya? Tapi ini udah sore, Mas."


"Bentar aja, ya."


Ashila menghembuskan napasnya. "Yaudah, kita jalan-jalan ke taman, oke."


Kini Ashila dan Rayhan berada di taman rumah sakit. Suasana taman di dekat rumah sakit ini cukup ramai oleh anak-anak yang sedang bermain serta pasien-pasien lain.


"Kita duduk di sini aja, ya," ucap Ashila sambil mendorong kursi roda Rayhan ke dekat bangku taman.


"Iya."


Manik mata Rayhan tak luput dari beberapa anak kecil yang sedang bermain dan tertawa lepas, beban-beban mereka seperti terasa hilang. Lelaki itu jadi membayangkan suatu saat nanti ia bersama Ashila dan calon anaknya nanti bermain bersama, tertawa bebas sampai lupa waktu. Tanpa sadar dirinya tertawa kecil.


"Kenapa, Mas. Ketawa kayak gitu?" tanya Ashila.


"Sayang, liat deh anak-anak itu." Rayhan menunjuk kerumunan anak-anak yang sedang bermain. "Aku jadi gak sabar, nunggu kelahiran anak kita. Gak sabar nunggu dia tumbuh jadi anak yang lucu. Terus nanti kita bisa bermain bertiga sampe puas. Pasti sangat menyenangkan, Sayang," lanjutnya.


Ashila tersenyum lalu mengelus perutnya. "Aku juga gak sabar nunggu hari itu," ujar Ashila.


"Mas, ke ruang rawat lagi yuk. Udah sore banget nih, aku harus elap tubuh kamu."


"Yaudah yuk."


***


Malam berlalu, kini Ashila sedang memeluk Rayhan yang sekarang sudah pergi ke alam mimpi, mungkin karena efek obat yang yang diminum oleh Rayhan tadi membuatnya mengantuk dan tertidur.


Ashila mengelus puncak kepala Rayhan sambil sesekali memberikan kecupan pada dahi suaminya itu. "Selamat tidur, Sayangku. Semoga cepet sembuh," bisik Ashila di telinga Rayhan. Tak lama rasa kantuk pun mulai menyerang Ashila, sampai akhirnya ia tertidur.


Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu ruangan Rayhan. Dua orang yang berada di depan ruangan itu hanya menatap pemandangan di dalam dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kayaknya kita datang di waktu yang salah deh," ucap Azmi, lelaki hanya tersenyum kecut melihat pemandangan di depannya itu, sedangkan Annisa hanya menatap Azmi dengan sendu, ia paham akan apa yang lelaki itu rasakan saat ini.


Sesak.


"Aku pengen ke toilet dulu," ucap Azmi seraya berjalan menjauh dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Annisa hanya terdiam mematung menatap kepergian Azmi.


__ADS_2