
Jam sudah menunjukan pukul 07.15 WIB, itu artinya pelajaran akan segera dimulai. Namun, sampai sekarang Azka belum juga masuk kelihatan batang hidungnya di dalam kelas, membuat Kayla sedikit gelisah.
Gadis itu sesekali melirik bangku di belakangnya. "Kok dia gak dateng-dateng sih? Apa dia sakit? Atau kena macet, ya?" batinnya terus bertanya-tanya.
Memang hari ini adalah untuk pertama kalinya Azka dan Kayla tidak berangkat sekolah bersama-sama setelah resmi pacaran pura-pura itu, Kayla yang menyuruhnya agar tidak menjemput, semalam Kayla mengerjakan tugas kelompok di rumah Amira dan menginap di sana.
Kring, kring, kring!
Murid-murid yang masih berada di luar pun segera berhamburan masuk ke dalan kelas, namun Azka tidak ada di antara mereka. Tak lama kemudian, guru pun masuk ke dalam kelas dan segera memulai pelajarannya.
Di tengah-tengah guru sedang menerangkan materi, Azka baru datang dan masuk ke kelas.
"Permisi, Bu. Maaf, saya telat," ujar Azka.
"Kenapa bisa telat, Azka?" tanya bu Riana lembut, karena ia tahu Azka adalah anak pemilik sekolah. Ia tak ingin terkena masalah karena menghukum Azka.
"Tadi saya abis dari toilet, Bu," jawab Azka.
"Hmm… yasudah, sekarang kamu duduk."
Azka pun segera berjalan ke arah bangkunya yang berada di belakang Kayla. Saat melewati gadis itu Azka hanya cuek dan memilih segera duduk di bangkunya, membuat Kayla mengernyit bingung.
"Kenapa dia?" batinnya.
Kayla pun menoleh ke belakang dan mendapati Azka sedang fokus membaca buku. "Woi! Tumben lo telat?" tanya Kayla.
Tak ada jawaban.
Kayla merasa geram dan segera merebut buku yang Azka pegang. "Apasih, Kay?"
"Lo kenapa sih? Kok–"
Ucapan Kayla terpotong karena bu Rena langsung memulai pelajaran.
"Oke anak-anak sekarang buka buku pelajaran halaman 34."
Alhasil membuat Kayla mau tak mau harus kembali fokus ke depan, padahal ia ingin tahu apa yang terjadi pada pacar pura-puranya itu.
***
Istirahat pertama sedang berlangsung, membuat kantin tampak ramai oleh para murid yang berlalu-lalang. Suara bising para murid yang sedang mengantri makanannya, membuat suasana semakin riuh. Belum lagi suara-suara yang sedang menggosip dan yang lainnya. Ada juga salah satu murid yang sedang konser dadakan, membuat suasana kantin semakin riuh saja.
__ADS_1
"Yang, suapin lagi dong," rengek manja Arya pada pacarnya-Amira.
"Iya, Sayang. Nih, aku suapin," ucap Amira seraya menyuapi satu butir cilok ke dalam mulut Arya.
Farel dan Tasya hanya mendesis jijik menatap pasangan alay itu.
"Huh! Yang pacaran, serasa dunia milik berdua," sindir Tasya sembari memasukan makanannya ke dalam mulut.
"Heem, yang lain mah ngontrak," tambah Farel.
"Yee... ngiri bilang, Bos," ujar Arya pada Farel, sedangkan lelaki itu hanya memutar bola malas.
"Iya, Yang. Kayaknya mereka berdua emang iri sama kita. Eh, Rel, Sya, makanya lo berdua cepet cari pacar."
"Punya pacar tuh cuma bikin pusing tau, cuma bikin dua orang berantem karena hal sepele, dan bikin gue sebel, kenapa cewek itu selalu pengen paling bener aja, padahal dianya yang salah. Mending gue jomblo, hari ini gue deket sama si A, besok gue bisa deket sama si B, tanpa ada ikatan apapun, dari pacaran, kita deket sama cewek lain aja, bentar-bentar cemburu," jelas Farel.
"Hah! Serah lo deh," ujar Amira.
Sambil menyeruput es tehnya, pandangan Kayla terus berpusat pada Azka yang sejak tadi hanya terdiam sambil memainkan ponselnya. Tidak biasanya lelaki itu seperti ini, padahal biasanya jika sedang makan di kantin seperti ini lelaki itu akan ikut mengobrol bersama yang lainnya, bahkan tak jarang ia juga akan mengeluarkan candaan-candaan yang membuat siapa saja pasti akan tertawa. Azka juga biasanya selalu mengusili Kayla sehingga membuat gadis itu akan cemberut.
Kayla dapat melihat dengan jelas ketika Azka tersentak kaget karena bahunya ditepuk oleh Farel, itu artinya lelaki itu sedang melamun.
"Hah? E-enggak papa kok, gue tadi cuma mikir pelajaran fisika tadi, karena gue rada lupa sama rumusnya," jawab Azka asal.
Farel tertawa. "Lo tuh, makanya tuh otak jangan kebanyakan rumus fisika sih? Heran gue."
Kring, kring, kring!
Suara bel tanda pelajaran selanjutnya akan di mulai, para murid pin segera berhambur meninggalkan kantin.
Tak terkecuali Kayla and the geng. Mereka beriringan meninggalkan kantin, namin sebelum Itu, Kayla merasa ada seseorang yang menahan tangannya. Ia menoleh, ternyata yang seseorang menahan tangannya adalah Azka.
"Kenapa, Ka?"
"Kay, pulang sekolah nanti, kita kita ke taman belakang sekolah, ya. Ada yang pengen gue omongin," ujar Azka.
Kayla pun mengangguk.
***
Tepat di bawah pohon rindang yang berada di belakang sekolah, Kayla dan Azka kini duduk berdampingan di sebuah bangku panjang.
__ADS_1
"Oh, ya. Lo mau ngomong apa?" tanya Kayla tanpa berbasa-basi
Azka menghembuskan napasnya sebentar sebelum ia berbicara. "Kay, kita udahin aja semuanya."
Kayla memasang wajah bingungnya, tak paham dengan apa yang dikatakan Azka. "Hah? Maksudnya?"
"Intinya mulai sekarang kita putus."
Senyum ceria Kayla memudar seketika, seperti ada bogem yang menimpa hatinya. "Kenapa?"
"Karena gue udah gak butuhin lo lagi!"
Kayla hanya terdiam sambil mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Azka. Ia memang tidak ada rasa pada lelaki itu, tetapi mengapa ia merasakan hatinya terasa sesak sekali?
Kayla tertawa paksa, menahan air mata yang sepertinya akan lolos. "Oh gitu, yaudah gak papa, malah bagus kan kalo kita udahan, jadi gak perlu lagi capek-capek buat akting di hadapan temen-temen sekolah."
"Yaudah, kalo gitu gue mau balik sekarang."
"Oke gue anterin, ya," tawar Azka.
"Gak usah!"
Dengan hati yang bercampur aduk, Kayla berlari dari aula dan meninggalkan Azka sendirian di sana.
Azka terdiam menatap punggung Kayla yang semakin hilang dari pandangannya, ia memijit pelipisnya serasa nyeri.
***
Setelah membayar argo taksi, Kayla segera berlari masuk ke dalam rumahnya.
Di ruang tamu, terlihat mama Putri sedang membawa tas untuk dibawa ke rumah sakit, wanita paru baya itu merasa aneh melihat wajah anak bungsunya yang sepertinya habis menangis.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya mama Putri.
Kayla tak menjawab apapun, ia segera berlari naik menuju lantai dua, tanpa memperdulikan teriakan-teriakan dari sang mama.
Sesampainya di dalam kamar, Kayla bersandar pada pintu, ia memerosotkan tubuhnya, memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Entah kenapa dadanya terasa sesak sekali, dulu ketika ia putus dengan pacar sebelumnya, ia tak sesakit ini. Tetapi mengapa ini sangat sakit, padahal mereka hanya berpacaran pura-pura saja, dan ia pun tak mempunyai perasaan pada lelaki itu.
"Ikh! Kenapa gue jadi menye-menye gini sih? Gue kan gak ada perasaan apa-apa sama dia," gumam Kayla seraya mengusap air matanya dengan kasar.
__ADS_1