
Di tempat lain, Azka dan Kayla kini tengah berteduh di salah satu halte karena hujan terus turun dengan derasnya.
Kayla sesekali meniup-niup dan menggosok-gosokan kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Tubuhnya pun menjadi terasa hangat kala sesuatu menempel di tubuhnya. Gadis itu menoleh, terlihat Azka tengah memakaikan jaket padanya
"Lo kedinginan, ya?" tanya Azka.
Kayla tersenyum lalu mengangguk.
"Coba sini tangan lo." Azka menarik kedua tangan Kayla lalu menggosokannya pada tangannya sendiri, sesekali Azka juga meniup-niup telapak tangan Kayla agar menjadi lebih hangat.
Kini mata keduanya bertemu, Azka menatap Kayla tanpa mengedip sedikitpun, begitupun sebaliknya. Sampai pada akhirnya Kayla tersadar dan segera menarik tangannya dari Azka.
"Lo kedinginan nggak? Mending jaketnya lo aja deh yang pake." Kayla pun akan membuka jaket yang dipakainya, namun segera dicegah oleh Azka.
"Eh, gak usah, gue kan cowok, cowok mah kuat."
"Ah, lo makan sambel aja mencret," ejek Kayla sambil terkekeh. "Sini!"
Kayla merapatkan tubuhnya ke samping tubuh Azka, gadis itu memakaikan setengah jaket yang dipakainya pada tubuh Azka, alhasil tubuh keduanya kini tertutup oleh saku jaket, meskipun tidak tertutupi sepenuhnya. Usaha Kayla kini membuat tubuh keduanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.
"Eh." Azka gelagapan kala matanya bertatapan dengan mata Kayla dari jarak dekat. "Satu hal yang gue rasain kalo deket sama lo, yaitu kenyamanan," batin Azka.
"Kok jantung gue deg-degannya kenceng banget, ya? Gue gak kena arithmia kan?" batin Kayla.
Tak lama kemudian, hujan pun sudah mulai reda
"Euu… Kay, balik, yuk. Hujannya udah reda."
"Hah! Eu… eu… I-iya ayo."
Mereka berjalan ke arah motor yang telah basah, keduanya naik motor, dan Azka pun kembali melajukan motornya.
***
Rayhan kini sedang duduk di samping brangkar, menunggu Ashila yang belum juga siuman.
"Sayang, maaf," ujar Rayhan sembari memegang erat tangan Ashila, sesekali lelaki itu mencium tangan istrinya itu.
Rayhan hanya sendirian saja di ruangan itu, Azmi dan Annisa sudah pulang sejak dari beberapa menit yang lalu karena mereka merasa suaminya sudah berada di sana.
"Eungh…"
Suara lenguhan terdengar dari mulut Ashila, perlahan gadis itu membuka matanya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat, gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan penglihatannya. "Aku dimana?" gumamnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu udah sadar, Sayang," ucap Rayhan sambil tersenyum. "Kamu sekarang di rumah sakit, tadi kamu pingsan di jalan," lanjut Rayhan mengerti raut wajah Ashila yang terlihat bingung.
Ashila mencoba duduk, Rayhan pun membantu istrinya itu dengan cara mengangkat punggung Ashila dan menyandarkannya pada bantal.
Ashila teringat tadi ia berada di jalan, ia juga melihat Azmi di sana, setelah itu ia tidak ingat apapun lagi.
Ashila juga teringat sebelumnya ia pergi menemui Renata di cafe, ia juga teringat tentang…
"Tes DNA itu!" gumam Ashila ia menatap tajam ke arah Rayhan.
"Kenapa Sayang?" Rayhan mendekat akan menyentuh Ashila, namun sebelum itu sang istri sudah lebih dahulu menghindar.
"Jangan sentuh aku!" ucap Ashila dingin.
Rayhan kembali mengangkat tangannya akan menyentuh pundak Ashila, namun gadis itu kembali menghindar.
"Udah aku bilang, jangan sentuh aku, Mas!" pekik Ashila murka.
Rayhan mengangkat kedua tangannya ke udara, seperti tersangka yang akan dibekuk polisi. "Oke, oke, aku gak akan nyentuh kamu."
Terlihat Ashila pun akan turun dari brangkar. "Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Rayhan.
"Pulang!"
"Enggak! Aku mau pulang!"
"Oke kita pulang, tapi aku tanya dokter dulu, kamu sudah diperbolehkan pulang atau belum, sebentar, ya."
Rayhan bergegas keluar dari ruang rawat Ashila untuk menemui dokter.
Tak lama kemudian Rayhan pun kembali ke ruang rawat Ashila bersama dengan dokter. Dokter itu pun memerika Ashila kembali.
"Bagaimana, Dok? Apa istri saya sudah boleh pulang?" tanya Rayhan setelah lelaki berjas putih itu selesai memeriksa istrinya itu.
"Istri Bapak sudah boleh pulang, tetapi jangan lupa minum obatnya ya, jangan kerja yang berat-berat dulu, dan jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat."
"Terima kasih, Dok." Rayhan pun menjabat tangan lelaki berjas itu.
"Sama-sama," ujar dokter itu kemudian berlalu dari sana.
"Aku bantu, ya," ujar Rayhan yang melihat Ashila akan beringsut dari brangkar.
"Gak usah, aku bisa sendiri–aakh…" Ashila terhuyung ke belakang kala merasakan kepalanya berdenyut, untung saja dengan cepat Rayhan memegangi pundak Ashila.
__ADS_1
"Aku gendong, ya." Rayhan pun segera menggendong Ashila dan membawanya keluar dari ruangan bercat putih itu.
"Turunin! Aku gak mau digendong sama kamu!" Ashila terus meronta tidak ingin digendong oleh suaminya.
"Udah jangan ngeyel ah! Kali ini buang dulu jauh-jauh ego kamu."
***
"Gak mampir dulu, Ka?" ujar Kayla sembari turun dari motor setelah mereka sampai di depan gerbang rumahnya, gadis itu membuka helmnya dan menyodorkannya pada Azka.
"Gak usah, bentar lagi juga malem," ujar Azka sembari mengambil helm yang disodorkan Kayla. "Lo habis ini langsung mandi biar gak sakit, terus suruh bik Ida buat bikin yang anget-anget biar lo gak terlalu kedinginan," lanjut Azka.
"Iya ah, bawel amat sih lo!" balas Kayla sambil terkekeh. "Lo juga begitu dateng nyampe rumah langsung mandi, terus suruh bik Minah bikin yang anget-anget biar lo gak terlalu kedinginan."
Azka mengernyitkan keningnya. "Lah, itu kan tadi kata-kata gue buat lo, kok malah dicopy-paste sih."
Kayla terkekeh. "Gak papa, gue males mikir lagi, yaudah balik gih, takut entar keburu hujan lagi."
"Yaudah gue balik, ya. Daaah… pacar," ujar Azka sembari melajukan motornya meninggalkan Kayla.
"Dia bilang apa tadi? Pacar? Hhihi." Kayla tersenyum sejenak memandang motor Azka yang semakin jauh dari pandangannya, setelah motor itu benar-benar sudah tak terlihat, barulah Kayla memasuki gerbang rumahnya.
***
Kini Rayhan dan Ashila sudah sampai di apartemen, tepatnya di kamar mereka.
"Kamu istirahat ya, jangan mikirin yang berat-berat, aku keluar dulu sebentar," ujar Rayhan sembari menyelimuti Ashila kemudian berlalu keluar kamar.
Setelah Rayhan pergi, Ashila duduk kembali dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
Pikirannya melanglang buana memikirkan nasib pernikahannya yang sudah hampir berada di ambang perceraian itu. Ia berpikir, haruskah ia menyerah dan melepaskan suami yang sangat ia cintai itu? Ataukah ia harus siap untuk dimadu nantinya? Atau haruskah ia bersikap egois tidak akan melepaskan suaminya itu? Tetapi, bagaimana nanti dengan dengan janin tak berdosa yang berada di perut mantan pacar suami itu?
Tatapannya beralih pada koper yang berada di sudut kamar, koper yang ia bawa saat pertama kali menginjakan kakinya di apartemen ini.
***
Hayoo kira-kira apa yang akan dilakukan Ashila selanjtnya ya?? Pada kepo kan?? Tunggu terus kelanjutannya ya teman-teman.
Jangan lupa juga :
👉Like, komen, vote juga supaya author semangat ngetiknya.
Terima kasih.
__ADS_1