
Maaf ya aku baru up lagi, soalnya sinyal di tempatku pagi buruk banget gara-gara hujan.
***
Hari ini Rayhan dan Renata pergi ke rumah sakit untuk mengambil tes DNA yang keluar hari ini.
Sembari berjalan di koridor, hati Rayhan di penuhi rasa was-was akan hasil tes DNA yang sudah diuji selama empat belas hari itu. Karena tes itu akan menjadi penentu kelanjutan hubungan dirinya dan Ashila kedepannya.
Tak terasa mereka sudah berada di depan ruangan laboratorium yang menjadi tempat berjalannya tes itu.
Seorang dokter keluar dari ruangan bercat putih itu dan memberikan amplop berkop rumah sakit pada Rayhan.
Rayhan dengan tangan bergetar membuka amplop hasil tes DNA itu. Ia membuka segel tersebut dengan pelan dan menarik dengan perlahan kertas yang memiliki kop rumah sakit itu.
Lelaki itu membacanya perlahan dan dengan tangan gemetaran. Akhirnya matanya sampai pada bagian yang menunjukan hasilnya, ia tak mengerti maksud dari angka-angka yang tertera dalam kertas itu.
[ Hasil : 99,9857922%, cocok]
"Ini maksudnya apa, Dok?" tanya Rayhan tak mengerti.
"Dari hasil lab, jika angka-angka ini sudah mendekati angka seratus persen, berarti itu positif anaknya," ujar dokter menjelaskan.
Rayhan kembali membaca angka-angka yang tertera di kertas itu. Tenggorokannya terasa tercekat seketika. Wajahnya merah padam sekarang. Lelaki itu langsung mereemas kertas tersebut.
"Ya Tuhan… kenapa bisa begini," batinnya menjerit.
"Ini bukan manipulasi kan, Dok?" tanya Rayhan dengan nada tinggi. Lelaki itu menatap lelaki berjas putih itu.
"Tidak, Pak. I-ini murni milikmu," ujar dokter itu sedikit terbata, entah karena takut pada tatapan tajam Rayhan, atau karena hal lain.
"Jadi apa hasilnya, Dok?" tanya Renata santai pada lelaki berjas putih itu.
"Jadi hasil lab mengatakan bahwa janin yang ada di perut ibu Renata adalah anak dari Pak Rayhan."
Renata tersenyum miring. "Hah? Serius, Dok." Renata diam-diam mengangkat jari jempolnya pada dokter itu. Lelaki berjas putih itu hanya membalas dengan anggukan kecil.
Flashback on
"Dokter, ada yang harus saya bicarakan dengan anda."
Renata mengambil amplop yang cukup tebal dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada dokter itu.
Dokter itu mengernyit. "Apa maksud semua ini?"
"Ini uang seratus juta, anda bisa mengambilnya, tetapi dengan satu syarat, anda harus buatkan saya tes DNA palsu."
"Maksudnya?"
"Besok saya dan pacar saya akan melakukan tes DNA, tolong buat seolah-olah saya mengandung anaknya," ujar Renata.
"Apa-apaan ini, maaf saya tidak menerima sogokan," tolak dokter itu sambil mengembalikan uangnya pada Renata.
"Kenapa uangnya kurang, baiklah bagaimana jika satu miliyar?"
"Ti–"
"Dua miliyar!" potong Renata.
__ADS_1
"Du-dua miliyar? Baiklah! Kalau begitu saya mau, saya ingin transfer sekarang," ujar dokter itu bersemangat.
Renata tersenyum miring. "Oke, deal," ucap Renata bersalaman dengan dokter itu. "Uang bukan masalah bagi gue, yang penting gue bisa sama Rayhan bisa sama-sama," lanjutnya berbatin.
Flashback off.
***
"Ray, aku seneng banget, akhirnya kita jadi orang tua, kamu pasti bakalan nikahin aku kan?"
"Rayhan, secepatnya kamu harus omongin kabar bahagia ini sama istri kamu, aku gak sabar buat nikah sama kamu."
Semua ucapan Renata tidak dijawab apapun oleh Rayhan. Lelaki itu hanya terdiam frustasi, di dalam pikirannya berkecamuk melanglang buana ke sana ke mari.
"Ray, kam–"
Cekiitt!
"DIAM!" potong Rayhan sambil berteriak. Lelaki itu menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. "Sekarang kamu keluar!" teriak Rayhan mengusir Renata dari mobilnya.
"Gak mau! Kamu ha–"
"Keluar Renata!"
"Oke, aku bakal keluar, kamu harus segera menceraikan istri kamu itu, kalo nggak, aku yang akan bilang sendiri sama istri kesayangan kamu itu!"
***
Waktu menunjukan pukul 21.30 WIB, Ashila kini sedang mengerjakan tugas kampusnya, membuat makalah untuk bahan presentasi lusa.
"Yang ini kayaknya harus direvisi deh," monolognya sembari menggeser mouse ke kanan ke kiri.
"Siapa, ya?" gumamnya pelan. "Masa sih mas Rayhan? Kan dia tau passwordnya."
Berbicara tentang password, sejenak ia teringat perkataan Renata tempo hari, bahwa kode password apartemen yang ia tinggali sekarang adalah hari jadian mereka, ada perasaan nyeri dalam rongga dadanya. Mata Ashila berkaca-kaca sekarang, satu bulir bening lolos begitu saja dari sudut matanya.
Suara bel apartemen kembali terdengar, membuyarkan lamunan gadis berhijab bergo itu. Ashila segera menghapus air matanya.
Gadis itu segera beringsut dan berjalan keluar kamat menapaki satu persatu anak tangga.
Sesampainya di depan pintu, Ashila segera membukanya.
"Astagfirullah, Mas Rayhan…!" Ashila terpekik kaget kala melihat Rayhan yang terlihat mabuk dengan wajah penuh lebam di tubuhnya.
"Ayo masuk!"
Tanpa aba-aba, Ashila segera membantu lelaki yang seumuran dengan suaminya itu memapah Rayhan hingga ke kamar.
Sesampainya di sana, Rayhan segera dibaringkan di atas tempat tidur, Ashila segera membukakan sepatu berikut kaos kaki suaminya itu.
"Kamu pasti istrinya Rayhan, 'kan?"
"I-iya saya istrinya Rayhan."
"Kenalin saya Adit, sahabatnya Rayhan.Tadi saya melihat Rayhan mabuk di club dan dia bertengkar dengan beberapa pengunjung di sana."
"Astagfirullah, kenapa bisa begini sih, Mas," ujar Ashila sembari menatap Rayhan yang sedang tertidur pulas itu. "Makasih, ya, Pak Adit udah anterin suami saya."
__ADS_1
"Sama-sama, kalo begitu kamu urus suami kamu, saya pamit dulu, tolong jaga Rayhan, ya. Saya rasa dia terguncang sekarang, karena biasanya Rayhan akan pergi ke club jika sedang stres."
Ashila menatap lekat wajah Rayhan. "Apa kamu stres karena mikirin nasib pernikahan kita, Mas?"
Setelah mengantarkan Aditya ke depan, Ashila kembali ke kamar Rayhan, dengan membawa sebua baskom, handuk kecil, dan obat-obatan.
Perlahan ia membuka satu persatu kancing kemeja Rayhan, dan membuka pakaian suaminya itu.
"Kenapa kamu bisa kayak gini sih, Mas? Kenapa kalo setiap ada masalah, kamu lampiasinnya ke minuman haram itu?" tanya Ashila sembari membersihkan luka di wajah Rayhan.
"Bahkan akibat dari minuman itu juga, hubungan kita jadi seperti ini, Mas. Kenapa?"
Hoek! Hoek!
Rayhan terbangun dan memuntahkan semua isi perutnya, pakaian yang Ashila pakai terkena muntahan Rayhan.
Sangat menjijikan! Namun Ashila biasa-biasa saja. Hanya saja wanita itu tak tahan dengan bau alkohol yang Rayhan muntahkan.
Rayhan yang perlahan kesadarannya mulai kembali pun merasa bersalah ketika melihat isi muntahannya di pakaian istrinya itu. "Sayang, maaf."
Ashila mengambil air minum di atas nakas lalu memberikannya pada Rayhan. "Nggak papa, nih minum dulu."
Rayhan pun mengambilnya karena ia merasa tenggorokannya tak enak.
Ashila pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tak butuh lama, ia kembali keluar menghampiri suaminya.
"Kamu istirahat gih," pinta Ashila.
"Tolong temenin aku di sini, untuk malem ini aja, pliis…" pinta Rayhan dengan wajah memelas.
"Mungkin bener apa kata Dina sama Nisa, kalo mbak Renata itu cuman mau pisahin aku aja sama mas Rayhan, harusnya aku bisa lawan dia, bukan nyerah kayak gini," batin Ashila.
"Yaudah oke, aku malem ini tidur di sini," ucap Ashila.
Rayhan tersenyum girang. "Hah? Kamu serius, makasih, ya, Sayang." Rayhan langsung berhambur memeluk Ashila, membenamkan wajah sang istri pada dada bidangnya. "Love you more," bisik Rayhan di telinga Ashila.
"Love you to," balas Ashila dalam hati.
Ashila melepaskan pelukannya dan beringsut dari kasur, baru satu langkah ia berjalan Rayhan sudah lebih dulu menariknya, membuat Ashila terduduk kembali di atas kasur.
"Kamu mau kemana? Katanya malem ini mau tidur sama aku."
"Aku mau ngambil kaos buat kamu, geli tau dipeluk sama orang yang pake baju."
"Oh ya? Bukannya udah biasa ya dipeluk kayak gini sama aku, mungkin kelamaan gak ngelakuin itu jadi lupa kali, ya." Rayhan menarik pinggang Ashila agar merapat ke tubuhnya. "Aku udah lama banget puasa, aku udah gak bisa nahan lebih lama lagi, malem ini mau, ya," pinta Rayhan dengan tatapan mesumnya.
Wajah Ashila bersemu merah, tidak bisa dipungkiri, ia juga sangat merindulan suaminya itu. "Badan kamu kan lagi sakit, emang kuat heum," tantang Ashila sambil terkekeh.
"Kuat lah, ini mah luka kecil, apalagi kalo dicium sama kamu, pasti sembuh."
Ashila menepuk pelan luka lebam di pipi suaminya itu. "Awwws! Sakit, Yang."
"Huh! Gitu aja sakit, gimana mau cumbu aku nanti," ujar Ashila meledek.
"Yaudah deh iya, tapi kalo besok aku sembuh, mau, ya. Malem ini aku pengen peluk aja."
Setelah memberikan kaos pada Rayhan, Ashila perlahan naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu.
__ADS_1
***
Hem… masih kepo kelanjutannya gak nih? Tunggu aja kelanjutannya ya, jangan lupa like, komen, vote juga, supaya author semangat nulisnya.