Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 49 Menahan Diri


__ADS_3

"Kamu ngapain lama-lama berdiri di pintu?" tanya Ashila setelah Rayhan mendekat ke arahnya dan duduk di tepi tempat tidur.


"Lagi ngehayal," jawab Rayhan pelan sehingga terdengar samar oleh Ashila.


"Apa? Kamu ngomong apa tadi?" tanya Ashila sambil memicingkan matanya.


"E-enggak, saya gak ngomong apa-apa."


Hening.


"Shila.."


Ashila menoleh. "Hemm."


"Saya minta maaf ya, gara-gara saya isengin kamu waktu sore kamu jadi sakit gini."


"Kamu sih… makanya jadi orang tuh jangan iseng gara-gara kamu mama jadi salah paham kan." Ashila bersungut menyalahkan lelaki di hadapannya.


"Ya ampun galak bener ya, padahal tadi di khayalan gue gak gini ceritanya," batin Rayhan.


"Yaudah, makanya saya minta maaf."


"Iya aku maafin, sebenernya aku tuh emang gini kalo kedinginan lama-lama pasti masuk angin," jelas Ashila.


"Oh gitu, ya. Iya deh, saya janji gak bakal isengin kamu kayak gitu lagi." Ashila mengangguk.


"Oh ya kepalanya masih pusing enggak? Mau saya pijitin atau sekalian mau dikerokin?"


"Gak usah, aku mau istirahat aja."


"Yaudah kamu istirahat deh, tapi sebelum itu minum obatnya dulu, ya," ucap Rayhan sambil mengambilkan obat untuk Ashila.


"Gak mau, pait.."


"Kamu harus minum obat dulu, biar cepet sembuh."


"Gak mau ih, aku udah sembuh kok."


"Sembuh dari mana… muka kamu masih pucat gitu, ayo minum obat, mau sendiri atau diminumin pake mulut saya?"


Ashila mencebikan bibirnya. "Aku bisa sendiri."


Ashila pun mengambil obat secara paksa dari tangan Rayhan, lalu memasukannya ke dalam mulut.


Rayhan hanya tersenyum, lalu lelaki itu mengambilkan air minum yang langsung ditenggak habis oleh Ashila.


"Pinter." Rayhan mengusap rambut Ashila pelan. "Yaudah sekarang istirahat gih."


Rayhan pun langsung mendorong pelan Ashila hingga berbaring lalu menarik selimut untuk menyelimuti istrinya itu sampai dadanya. "Istirahat gih," ucap Rayhan sambil berlalu pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian Rayhan keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur yang sudah melekat di tubuh kekarnya. Ia pun segera menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Ashila.


Rayhan melihat sebentar ke arah Ashila, istrinya itu belum juga memejamkan matanya.


"Belum tidur?"


"Aku gak bisa tidur."


Hening.


Kedua insan itu kemudian saling menoleh ke arah masing-masing, tidak ada pembicaraan, mereka hanya saling berpandangan dan memilih berbicara dalam hati masing-masing.


"Andai aja kamu bisa jatuh cinta sama aku dan ungkapin perasaan kamu sama aku, pasti aku akan seneng banget dan aku juga bakalan sukarela banget ngasih mahkota yang selama ini aku jaga," batin Ashila.


"Saya pengen banget ungkapin perasaan saya sama kamu sekarang, tapi saya takut kamu mikirnya karena mama pengen punya cucu," batin Rayhan sambil menatap intens Ashila.


"Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Ashila.


"E-enggak, udah malem mending kita tidur." Rayhan pun segera mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur sehingga ruangan itu menjadi remang-remang. Ia segera merebahkan tubuhnya dan menarik selimut kemudian mengambil posisi tidur membelakangi Ashila.


Ashila menatap sebentar ke arah punggung suaminya itu lalu ia pun segera membalikan tubuhnya, jadilah mereka tidur saling membelakangi.


Suara adzan subuh terdengar dari masjid kota.


Rayhan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah teduh milik seorang gadis cantik yang bergelung di dada bidangnya itu.


Rayhan tersentak kaget ketika melihat Ashila yang masih terpejam itu memeluk lehernya erat, lelaki itu memekik kepayahan memisahkan tangan Ashila dari lehernya karena gadis itu terlalu erat memeluk lehernya.


Bukan hanya itu saja, aroma wangi yang dihasilkan dari rambut sang gadis cantik itu membuat jiwa kelakiannya meronta untuk menerkam istrinya itu.


"Tidak Rayhan, tahan…" ucap Rayhan sambil menggelengkan kepalanya.


Ingin sekali Rayhan mendorong gadis yang merapat dalam tubuhnya itu, tetapi melihat wajah damai dan pulas gadis itu membuatnya tak tega dan mengurungkan niatnya, terpaksa ia harus menahan nafsunya sampai wanitanya itu terbangun.


Eengh!


Suara lenguhan dari dari bibir Ashila membuat Rayhan segera memejamkan matanya.


Ashila terbangun dari tidurnya, kedua matanya terbangun perlahan, mengumpulkan nyawa dan penglihatan.


Deg, deg, deg!


Jantungnya berdegup kencang kala melihat sosok di depannya, lelaki tampan yang sedang tertidur pulas, sebenarnya ini bukan pertama kalinya ketika ia terbangun dengan posisi sedekat ini dengan Rayhan. Tetapi entah mengapa jantungnya itu selalu menggila kala menatap wajah suaminya itu dengan jarak hanya beberapa senti itu dengan wajahnya.


Ashila juga terpekik kaget kala melihat tangannya yang tanpa permisi memeluk leher suaminya itu.


Degup jantungnya semakin menggila kala merasakan sesuatu yang mengeras di bawah kakinya. Ia membelalakan kedua matanya lebar-lebar kala melihat kaki kanannya itu berada di atas area sensitif suaminya itu.


Dengan cepat Ashila melepas tangan dan kakinya, lalu segera beringsut dari kasur dan berlari ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Setelah Ashila pergi barulah Rayhan membuka matanya, ia pun segera bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.


"Sabar ya, Dek. Cepat atau lambat elo pasti bisa ngerasain surga dunia," ucap Rayhan pelan sambil mengelus-elus dedek kecilnya yang sedari tadi sudah terbangun itu.


***


Hari ini Rayhan sedang berkutat dengan layar monitor dan beberapa tumpuk berkas di ruang kerjanya, tetapi pikirannya terus melayang mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada istrinya itu.


Sudah hampir satu jam Rayhan berpikir mencari ide. Namun, tak satu pun ide ia temukan dalam otaknya.


Tok, tok, tok!


"Masuk."


"Ada apa , Rin?" tanya Rayhan pada sekertarisnya.


"Pak, ini ada beberapa berkas yang harus bapak tandatangani," ucap Arin sambil menyodorkan beberapa berkas pada bosnya itu.


Rayhan mengambil berkas-berkas itu, membacanya sebentar lalu menandatanganinya.


"Sudah," ucap Rayhan sambil menyerahkan kembali berkas dari sekertarisnya itu.


"Terima kasih, Pak."


"Oh iya, Rin. Kapan kita akan meeting dengan klien dari Amerika itu?"


"Sekertarisnya kemarin bilang mereka akan ke sini tanggal Tiga belas mei, Pak, berarti besok."


"Tiga belas mei?"


"Iya, Pak."


Rayhan melihat kalender yang terletak di sudut meja kerjanya. Bulan Mei, Rayhan semakin memicingkan matanya saat melihat jejeran angka-angka bulan ini.


"Tiga belas mei kan hari ulang tahunnya Ashila," gumam Rayhan, seketika bibirnya terangkat membentuk senyuman, membuat Arin menatap bosnya itu penuh dengan tanda tanya.


"Oke baiklah, kamu boleh keluar sekarang," titah Rayhan pada sekertarisnya itu.


Arin pun segera keluar dari ruang kerja Rayhan.


"Oke, besok hari ulang tahun Ashila, gue bakal bikin suprise buat dia sekaligus ungkapin perasaan gue selama ini," ucap Rayhan antusias.


...


Hai gengs, aku makasih banget looh sama kalian yang selalu nunggu update dari novelku ini, kemarin juga sampe ada yang bilang katanya dia itu sampe baca novel aku yang bab-bab sebelumnya kalo aku gak update.


Aku juga pengen banget crazy up dan nyenengin kalian😘😘😘, tapi apalah daya diriku ini hanya mampu update sehari atau dua hari sekali, karena kerjaan aku ini bukan hanya bikin jovel doang...


Oh ya satu lagi, kalian gak perlu vote novel ini lagi karena menurutku percuma juga kan gak bakalan masuk rangking ngalahin novel-novel femes, kalo aku boleh saran sih kalo kalian mau, kalian bisa masuk ke gc aku dan sedekahin poin kalian di sana, semoga dengan itu bisa dapet pahala juga.

__ADS_1


tengkyuh😍😍😍


__ADS_2