Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 108 Berita duka dan bahagia


__ADS_3

Ashila terus mondar mandir di depan ruang UGD dengan perasaan tak tenang, buliran bening tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya, mulutnya terus komat kamit melafalkan istigfar.


"Shila.."


"Mama."


Ashila langsung berhambur memeluk ibu mertuanya, menumpahkan semua rasa sakitnya di sana, semua kecewa, penyesalan bercampur menjadi satu.


"Ma… mas Rayhan, Ma… hiks.. hiks.."


Mama Putri mengelus pelan puncak kepala menantunya. "Tenang, Sayang… semuanya pasti akan baik-baik aja,"


"Ini semua salah Shila, Ma. Andai aja mas Rayhan gak nyelametin Shila pasti mas Rayhan gak bakal kayak gini. Seharusnya Shila yang ada di posisi mas Rayhan sekarang."


Mama Putri menutup mulut Ashila dengan jari telunjuknya kemudian memeluk kembali tubuh menantunya itu. "Syutt… udah-udah, ini bukan salah kamu, ini udah takdir, kita gak bisa menolaknya."


"Kita berdoa aja yang terbaik buat Rayhan," ujar papa Yahya.


Ashila mengangguk, sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu ruang UGD berharap seseorang keluar dari sana.


"Dokter! Bagaimana keadaan anak saya?"


"Pasien kini mengalami kritis, karena kecelakaan itu, pasien kehilangan banyak darah, tapi…"


"Tapi apa, Dok?"


"Tapi stok darah di rumah sakit ini hanya tersisa 1 kantong dan pasien membutuhkan darah 4-5 kantong darah."


"Pake darah saya aja, Dok. Saya memiliki darah yang sama dengan anak saya." ujar mama Putri.


"Tapi, Ma. Bukannya mama mempunyai riwayat anemia?" papa Yahya mengingatkan.


"Penderita anemia tidak bisa mendonorkan darahnya," jelas dokter.


Tiba-tiba seorang suster berlari keluar dari dalam ruangan Rayhan mendatangi dokter. "Pasien kritis, Dok. Kita harus mengoperasi pasien secepatnya. Kalau tidak, pasien tidak akan terselamatkan."


"Mas Rayhan…"


Seketika tubuh Ashila terasa lemas, kepalanya terasa pening membuat pandangannya sedikit mengabur. Gadis itu memegangi kepalanya, samar-samar ia mendengar beberapa orang memanggilnya sebelum ia pandangannya menjadi gelap.


Ashila pingsan.


***


"Enghh…"

__ADS_1


Perlahan Ashila mengerjap-ngerjapkan matanya, samar-samar ia melihat sekeliling, sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang mendominasi, ia juga melihat uminya sedang tersenyum kepadanya. Setelah penglihatannya mulai terasa jelas, Ashila mencoba terbangun.


"Aku di mana?"


"Alhamdulillah, kamu udah sadar, Nak. Tadi kamu pingsan."


Tiba-tiba Ashila teringat suaminya. "Mas Rayhan," gumamnya. "Umi, mas Rayhan gimana, Mi? Mas Rayhan sekarang lagi butuh donor darah, aku harus cari pendonornya."


"Udah-udah, tenang, ya, Sayang. Kayla sudah mendonorkan darah untuk suami kamu, sekarang Rayhan sedang dioperasi, kita doakan saja." Ashila menghembuskan napas lega.


"Oh, ya. Umi ada kabar baik buat kamu."


"Apa, Umi?"


"Selamat, Nak. Kamu sekarang sedang hamil, kata dokter kandungannya memasuki dua minggu."


"Apa? I-ini serius, Mi?" Ashila merasa terharu, ia memegangi perutnya yang rata. "Di sini ada bayinya, Mi?"


"Iya, Nak. Di sini ada bayinya," jawab umi Ira sambil memegangi perut Ashila, kemudian memeluk putri kesayangannya itu. "Selamet, ya, Sayang. Kamu bentar lagi bakal jadi seorang ibu, jaga baik-baik kandungannya."


Ashila mengangguk. "Umi tau gak, mas Rayhan paling nunggu-nunggu banget aku hamil. Kalo mas Rayhan tau pasti dia seneng banget, Mi," ucap Ashila antusias.


"Tenanglah, mari kita berdoa untuk keselamatan suami kamu ya, Sayang."


"Mama..."


"Shila... alhamdulillah, kamu udah sadar, Nak." Mama Putri berhambur memeluk menantu kesayangannya.


"Ma, aku mau kasih tau sesuatu."


"Apa, Sayang?"


"Aku hamil, Ma."


"Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil juga, mama gak sabar tunggu cucu mama lahir ke dunia. Kamu jaga baik-baik, ya kandungannya. Mama yakin, kalo Rayhan denger ini, pasti dia seneng banget."


Ashila memeluk satu persatu abi dan papa mertuanya. "Jaga cucu abi, ya, Nak."


Ashila mengangguk.


"Wi, aku gak nyangka... kita sebentar lagi bakal jadi kakek," ujar papa Yahya sembari menepuk bahu besannya itu.


"iya, Ya." Keduanya pun berpelukan.


Kemudian, Ashila memeluk Kayla. "Selamet ya, Kak. Ya ampun aku seneng banget, bentar lagi aku bakal jadi tante, gak sabar nunggu dia lahir." Kayla mengelus perut Ashila. "Kira-kira cewek apa cowok, ya?"

__ADS_1


"Belum tau, Kay."


***


Empat jam berlalu, terlihat lampu ruang operasi sudah dimatikan pertanda operasi sudah selesai dilakukan. Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang sulit diartikan, membuat orang-orang yang menunggu merasa bingung.


"Bagaimana, operasi anak saya, Dok?"


"Pasien yang bernama Rayhan kondisinya memburuk."


"A-apa? Bagaimana bisa, Dok?"


"Dia mengalami pendarahan pada bagian perut, bahu, punggung dan juga kepala, pendarahan yang hebat dan hampir saja terlambat untuk ditangani, namun syukurlah, pasien mampu bertahan dengan kondisi yang dibilang cukup lemah, saat operasi tadi, jantung pasien melemah, saya pikir pasien tidak akan selamat. Dan kemungkinan pasien akan mengalami koma."


Semua orang membelalakan matanya. "Apa? Koma? S-sampai kapan, Dok?" tanya papa Yahya memastikan.


"Kami belum tahu sampai kapan pasien akan sadar, mungkin satu bulan atau bahkan setahun. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, kita semua berdoa saja semoga keajaiban datang agar pasien akan segera sadar."


"Apa kami boleh menjenguknya, Dok?" tanya papa Yahya.


"Silahkan, tapi bergiliran, ya, dan harap beri ketenangan pada pasien, kalo begitu saya permisi dulu," ucap dokter sambil berlalu pergi.


***


Pintu ruangan terbuka, Ashila berjalan masuk, sebelum itu ia terlebih dahulu menutup kembali pintu. Dengan mengebakan baju berwarna hijau atau baju khusus masuk ke ruangan ICU, gadis berkerudung biru itu berjalan menghampiri seorang lelaki yang tengah terbaring lemah di atas brangkar itu, mata lelaki itu terpejam, seakan enggan membuka matanya walaupun sedetik saja.


"Assalamualaikum, Mas." Dua kata terlontar dari mulutnya, mendadak kerongkongannya terasa kering.


Ashila mendudukan bokongnya di kursi dekat brangkar Rayhan. Matanya tak sedikitpun mengedip. "Mas, bangun dong, aku rindu senyum kamu. Ayo bangun, jangan kayak gini."


Ashila memegang tangan Rayhan yang diperban, ia menciumnya. "Kita baru aja bahagia karena ternyata mbak Renata gak pernah hamil anak kamu, tapi… ternyata pernikahan kita masih diuji sama Allah," gumam Ashila.


"Oh, ya, Mas. Aku mau ngasih kabar baik sama kamu. Kamu tau gak? Di sini." Ashila menyentuh perutnya yang masih datar. "Ada anak kita loh, buah cinta kita, sekarang usianya sudah memasuki dua minggu, kamu seneng, 'kan?"


Menangis.


Hanya itu yang bisa gadis itu lakukan, tak ada jawaban dari lelaki yang setia berbaring dengan mata terpejam itu.


"Dari dulu kamu paling nunggu-nunggu banget di perut aku ada bayi-nya, alhamdulillah, sekarang doa kita udah dikabulin sama Allah."


***


Tunggu terus kelanjutannya ya... jangan lupa like, komen, vote author juga supaya authornya semangat...


Thank you all.

__ADS_1


__ADS_2