Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 92 Pacar Pura-pura


__ADS_3

Kini Azka dan Kayla sudah berada di taman sekolah, mereka berhenti di sebuah pepohonan rindang di dekat perpustakaan.


"Kay, gue mau ngomong penting sama lo." Azka memegang kedua tangan Kayla membuat gadis itu terkejut, bahkan jantungnya sekarang berdegup sangat kencang.


"M-mau ngomong apaan?" tanya Kayla terbata-bata.


"Kay, gue minta lo jadi pacar gue?" tanya Azka.


"APA?"


Azka tersentak kaget kala mendengar teriakan Kayla. Lelaki itu langsung menutup mulut gadis di depannya ini.


"Syutt… lo bisa gak sih gak usah teriak-teriak! Kuping gue panas tauk!" kesal Azka, kemudian lelaki itu segera menjauhkan tangannya dari mulut Kayla.


"Abis lo sih… lo… tadi… nembak gue?" tanya Kayla ragu-ragu, jujur gadis itu masih terkejut dan kaget mendengar penuturan Azka tadi.


"Lo jangan geer dulu… m-maksud gue jadi pacar boongan gue, gue mana mungkinlah pacaran sama lo," ujar Azka sembari memasukan tangannya ke dalam saku celananya. "Mana cempreng banget lagi, kayak petasan rentet," lanjut Azka pelan namun dapat didengar oleh Kayla.


"LO NGATAIN GUE!" teriak Kayla kembali.


"E-enggak kok, suer deh." Azka mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


"Serah lo deh, kalo lo ngajakin gue ke sini cuma buat ngatain gue, mending gue pergi aja!"


Dengan cepat Azka menarik tangan Kayla sehingga gadis itu berbalik dan menubruk dadanya.


"Aww! Dada lo keras banget sih, kayak batu," ringis Kayla sembari mengelus-elus keningnya.


"Ya, namanya juga dada cowok, kalo dada lo mungkin empuk," ujar Azka asal disertai kekehan pelan.


Kayla langsung mencubit lengan Azka, membuat lelaki itu meringis. "Apa sih lo. Dasar mesum!"


"Gue gak mesum, cuma jawab aja. Yaudah gak usah bahas itu, yuk duduk dulu, gue pengen jelasin sesuatu."


"Apa?"


"Jadi waktu itu kan elo pernah bilang ke gue, cara supaya si Rita gak deketin gue adalah dengan cara gue punya pacar, makanya gue minta bantuan lo supaya jadi pacar boongan gue," jelas Azka, lelaki itu memegang kedua tangan Kayla.

__ADS_1


"Lo maukan jadi pacar gue… emm… maksudnya pacar boongan gue?" tanya Azka sembari menatap lekat wajah Kayla.


"Eeu… gue… gue…" Kayla segera menarik tangannya dari genggaman Azka, jujur ia tidak tahan dengan tatapan dari mata elang lelaki itu. Gadis itu mengubah posisinya menjadi berdiri membelakangi Azka.


"Gue pikirin dulu deh," ujar Kayla.


Azka berdiri menghampiri Kayla. "Hah? Lo serius, aduuh… makasih banget, ya." Karena saking senangnya, Azka refleks memeluk gadis di depannya itu.


Kayla cukup terkejut dengan perlakuan Azka kepadanya, gadis itu segera melepaskan pelukannya. "Apasih peluk-peluk, gue kan masih pertimbangin, belum nerima," ujar Kayla kesal, padahal pipinya sudah memerah sekarang.


"S-sorry-sorry, gue refleks." Azka menarik tangan Kayla dan menyuruhnya duduk kembali. "Tapi lo mikirnya jangan lama-lama, ya. Jujur gue udah gak kuat banget tiap hari diteror mulu sama dia. Pusing kepala gue, tiap hari dia main ke rumah gue, terus deketin nyokap gue. Nyokap gue juga risih sama tingkah si Rita, tapi ya gimana, bokapnya si Rita itu salah satu kolega bokap gue, jadi gak enak mau ngapa-ngapainnya," jelas Azka memelas.


"Yaudah, kalo gitu sore abis pulang sekolah kita ketemuan, tempatnya entar gue kasih tau," ujar Kayla. "Yaudah yuk ke kantin, gue laper," lanjut Kayla.


***


Siang ini, Rayhan dan Renata pergi ke sebuah rumah sakit untuk melakukan tess DNA.


Mereka kini sudah sampai di sebuah ruangan laboratorium untuk melakukan tes apakah janin yang dikandung Renata itu darah dagingnya atau bukan.


"Anda ingin mengambil sampel pencocokan DNA dengan apa? Dengan darah atau air liur?" tanya dokter yang memakai jas berwarna putih itu.


"Semuanya sama-sama menunggu hasilnya selama empat belas hari. Jika anda tidak ingin merasakan sakit, bisa menggunakan air liur. Jika anda ingin hasilnya sangat akurat, bisa menggunakan darahmu. Anda pilih yang mana?"


"Baiklah. Keduanya," jawab Rayhan mantap.


Lelaki berjas putih itu mengangguk, lalu memberikan sebuah tabung untuk Rayhan. Ia meminta lelaki itu untuk meludahinya.


"Anda ludahi tabung ini, secukupnya saja!"


Setelah meludahi tabung tersebut, dokter meminta perawat untuk mengambil sampel darah Rayhan. Rasanya memang sakit, tapi ini untuk pembuktian dan penentu kelanjutan hubungannya dengan Ashila, ia rela menahan rasa sakit tersebut.


"Oke, kalian boleh pulang. Empat belas hari lagi hasilnya akan keluar," ujar dokter itu setelah meletakan sampel-sampel yang sudah dilabeli itu ke dalam sebuah lemari kaca.


Rayhan dan Renata mengangguk, keduanya keluar dari ruangan itu. Rayhan mempercepat langkahnya, ia teriangat bahwa sore ini ia ada meeting dengan beberapa klien.


"Sayang, jangan cepet-cepet jalannya," ujar Renata.

__ADS_1


"Sore ini gue ada meeting," ujar Rayhan dingin sembari terus mempercepat langkahnya.


Renata tersenyum. "Oh, gitu, yaudah kamu duluan aja kalo gitu, aku juga baru inget, kalo aku mau jengukin temen di rumah sakit ini. Aku duluan ya, Sayang," ujar Renata sembari membelokan arah jalannya ke kanan menjauh dari Rayhan.


Rayhan hanya mengedikan bahunya tak peduli, lelaki itu terus berjalan menuju parkiran, kemudian mempercepat langkahnya menuju mobilnya.


***


"Hadeeuh... si Azka kemana sih! Katanya tadi di jalan, kok belum nyampe-nyampe."


Kayla terus menggerutu, gadis itu kini sedang menunggu Azka di sebuah taman untuk membicarakan tentang sebuah misi yang akan mereka jalankan.


"Huh! Kalo tau kayak gini mending gue ngebaso–"


Gerutuan Kayla terhenti kala melihat lelaki yang ia tunggu itu sedang berlari ke arahnya.


"Hosh... hosh... , sorry gue telat," ujar Azka dengan napas yang sedikit terengah-engah. Lelaki itu mendudukan dirinya di samping Kayla.


"Kemana aja sih lo! Lama banget!" ucap Kayla mendesis.


"Sorry, tadi gue anterin nyokap dulu bentaran." Azka menjeda ucapannya sebentar, ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Lagian gue telatnya cuma lima belas menit doang," lanjutnya.


Kayla mendengus. "Lima belas menit juga waktu tau!"


Azka mendesah pelan. "Yaudah lah, gak usah marah-marah gitu. Yang penting kan sekarang gue udah ada di sini." Lelaki itu mengambil dua buah minuman kaleng dan beberapa camilan dari dalam pelastik kresek yang ia beli tadi.


"Nih minum dulu, lo pasti haus kan?" tanya Azka sembari memberikan minuman itu pada Kayla.


"Tau aja lo kalo gue lagi haus banget." Kayla mengmbilnya lalu meneguknya sebentar.


"Oh, ya. Jadi gimana keputusana lo atas permintaan gue tadi di sekolah?" tanya Azka tanpa basa-basi.


"Gue..."


***


Hayo kira-kira diterima gak ya sama Kayla? Kalo kepo, etap tunggu kelanjutannya ya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote juga supaya author semangat ngetiknya.


Thank you all.


__ADS_2