Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 103 Memulai rencana


__ADS_3

Halo semuanya... maaf ya author baru up lagi, kemaren adik dari kakekku meninggal, mohon doanya ya semoga beliau khusnul khatimah dan semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah.


***


Setelah dari rumah sakit, Ashila pergi ke rumah Annisa untuk menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, karena sudah tiga hari Annisa mendiamkan Ashila, gadis itu benar-benar frustasi jika belum bermaafan dengan sahabatnya itu.


Sesampainya di depan rumah Annisa, Ashila segera memencet bel rumah, tak lama seseorang dari dalam pun membuka pintu.


"Assalamualaikum, Nis," sapa Ashila sambil tersenyum lebar.


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Annisa dingin.


"Aku pengen jelasin semuanya, Nis. Jujur aku gak bisa didiemin lama-lama sama kamu, kita duduk dulu di sini, ya," ucap Ashila sembari duduk di kursi yang berada di teras rumah Annisa. Annisa pun menyetujuinya dan duduk bersebrangan dengan Ashila.


"Nis, kamu masih marah ya sama aku? Aku sama kak Azmi itu beneran gak ada apa-apa, serius deh."


Annisa terdiam tak menjawab, gadis itu mengambil ponselnya, berpura-pura memainkan benda pipih itu.


"Plis, Nis, dengerin penjelasan Shila dulu napa, kita kan sahabat, ujar Ashila.


"Kamu bohong, Shil. Katanya kamu gak bakal deketin kak Azmi, tapi nyatanya hari itu kamu ketawa-ketiwi bareng dia, dan lebih parahnya lagi, kamu nyuruh aku buat temuin kamu, cuma buat liat kemesraan kalian aja," ucap Annisa panjang lebar.


"Plis dengerin aku dulu, aku mau jelasin waktu itu."


"Oke, aku dengerin!" dingin Annisa tanpa menatap Ashila.


"Jadi waktu itu, aku emang ngajak kak Azmi ke taman itu, aku ngajak kak Azmi ke sana karena aku mau deketin dia sama kamu, tapi sebelum itu kak Rayhan dateng, dia mukulin kak Azmi karena mungkin cemburu sama aku, aku sama kak Azmi nggak ngapa-ngapain kok, kita cuma becanda doang, Nis. Aku gak pernah punya niat buat deketin kak Azmi lagi walaupun nanti aku bakal pisah sama mas Rayhan," jelas Ashila.


Annisa membelalakan matanya mendengar Ashila akan berpisah dengan suaminya. "Apa, Shil. Kamu sama suami kamu mau pisah?"


"Iya, Nis. Tapi sampe sekarang, mas Rayhan masih keukeuh gak mau kasih aku talak," ujar Ashila sambil menunduk.


Annisa menatap sahabatnya sendu, ia memegang tangan Ashila. "Maafin aku, ya, saat itu aku terbakar api cemburu. Harusnya aku gak nambah beban pikiran kamu. Sekarang aku sadar," ujar Annisa sembari memeluk Ashila. "Ngapain juga kan kita marahan gara-gara cowok," lanjut Annisa.


"Aku juga minta maaf, ya."


***


Sore ini Rayhan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia kini sedang berada di mobil menuju rumah, bersama dengan mamanya dan Kayla.

__ADS_1


"Inget, ya, Ray jangan ngelakuin hal aneh-aneh lagi, kamu tuh kalo lagi frustasi jangan coba buat bunuh diri apalagi minum, sholat, Sayang, sholat."


"Iya, Ma."


"Jangan iya-iya aja."


"Tuuh... dengerin, Kak, kalo ada apa-apa tuh sholat, jangan minum-minum alkohol gak jelas." Kayla yang berada di jok depan berdampingan dengan supir menyindir kakaknya sambil menatap Rayhan dari kaca mobil. Rayhan hanya mengerucut sebal.


"Oh ya, Ma, Kay mau nanya nih, orang hamil itu gak menstruasi, ya?"


"Ya, Sayang, orang hamil itu emang gak bakal menstruasi." Mama Putri membenarkan ucapan anak bungsunya, tetapi setelah itu ia memicingkan matanya menatap anak bungsunya itu. "Sebentar, kok kamu nanya-nanya tentang orang hamil, kamu hamil, ya? Siapa laki-laki yang hamilin kamu?"


Kayla membelalakan matanya. "K-kay gak hamil, Ma. Mama asal aja deh ngomongnya." Kayla memajukan bibirnya lima centi.


"Abis kamu nanya-nanya kehamilan sih, ya mama takut, anak mama ini kenapa-napa."


"Aku mau cerita nih, tadi… waktu aku di supermarket, aku ketemu mak lampir-Renata, dia kan katanya lagi hamil anak kak Rayhan, tapi kok beli pembalut, terus beli minuman kaleng, banyak gitu, pokoknya makanan yang gak cocok buat ibu hamil, Ma."


Mama Putri dan Rayhan saling pandang sejenak.


"Ray, coba kamu cari tau, Nak. Mama takut Renata cuma pura-pura hamil aja."


"Iya, Ma."


"Iya, kamu bener, Kay," ucap Rayhan antusias.


***


Dua hari berlalu, Rayhan sudah kembali sehat seperti biasanya. Sekarang Rayhan tinggal di rumah orang tuanya, ia enggan tinggal di apartemen, karena tempat itu banyak sekali menyimpan kenangan pahit-manis bersama Ashila.


Kini Rayhan sudah tiba di kantor, dengan tangan yang dimasukan ke dalam lelaki CEO itu berjalan dari loby menuju ruangannya, para karyawan menyambutnya hormat, Rayhan hanya mengangguk saja.


Rayhan kini sudah sampai di ruangannya, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Setelah itu, lelaki itu langsung membuka berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya. Satu persatu ia mengeceknya, kemudian menandatanganinya. Tetapi belum setengahnya ia kerjakan, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.


Seorang wanita seksi dengan balutan dress selutut berwarna hijau, dengan rambutnya yang panjang yang dibiarkan tergerai. Dengan penuh percaya diri, wanita itu berjalan sambil tersenyum menghampiri Rayhan.


"Sayang… aku datang."


Rayhan cukup terkejut dengan kedatangan Renata, ingin rasanya ia marah melihat wanita itu datang tanpa permisi, tetapi ia segera mengurungkannya dan menggantinya dengan senyuman lebar penuh keterpaksaan. "Hai… kamu ke sini? Bukannya semalem kita baru ketemu?"

__ADS_1


Renata menyenderkan tubuhnya di meja kerja Rayhan. "Iya, babynya rindu sama daddynya," ujar Renata sembari menyentuh perutnya yang masih rata.


Rayhan tersenyum lalu menyentuh perut Renata, mengelusnya lembut. "Halo… rindu, ya, sama daddy," ujar Rayhan lembut, padahal ia ingin sekali muntah ketika mengatakan itu, ini semua ia lakukan hanya untuk menguak misteri apakah wanita di depannya ini mengandung anaknya atau tidak.


Semalam, ketika Rayhan mengunjungi apartemen Renata, lelaki itu tidak menemukan apapun bahkan Renata tidak menunjukan gejala-gejala ibu hamil, Rayhan mengetahui itu karena ia membaca seputar tentang kehamilan di internet. "Oh, ya, Ren, berapa usia kandungannya?"


Renata terdiam sejenak, ia berpikir. "Mungkin hampir minggu ke-8 deh, Ray."


Rayhan memanggut-manggut. "Kita USG, yuk!"


"Hah? USG?" Renata terbelalak. "Aduuh… kalo gini ketahuan dong kalo gue cuma pura-pura hamil."


"Iya USG, aku juga pengen tau pertumbuhan anak aku," ujar Rayhan santai. "Sekarang, yuk!"


"Euu... sekarang??"


"Iya, sekarang."


"Tap–"


Tok, tok, tok!


"Masuk!"


"Permisi, Pak, meeting dengan klien dari LA akan segera dimulai," ujar Arin.


"Kamu aja ya, yang handle, saya ada urusan sebentar."


"maaf, Pak, karena klien ingin berbicara langsung dengan anda mengenai kesepakatan kerjasama kita."


"Iya, Ray, mending kamu meeting aja, temuin klien kamu, kalo USG kan kita bisa kapan-kapan," ujar Renata.


"Baiklah, nanti saya akan menyusul ke sana, kamu siapkan saja berkas-berkasnya," ujar Rayhan pada sekertarisnya.


"Yaudah, kalo gitu aku pergi dulu, ya. Nanti sore kita makan bareng, ya, kamu harus dateng, karena ini permintaan baby kamu, nanti aku pesen tempatnya," ujar Renata.


Rayhan pun mengiyakannya.


***

__ADS_1


Belum saatnya Rayhan tau, nanti akan indah pada waktunya, tunggu saja.


__ADS_2