Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Xander Geraldo


__ADS_3

Pria itu tetap tenang sambil menatap curiga Xena, walau wajahnya sangat tampan, tapi Xena tidak tertarik sama sekali kepada pria tersebut. Xena memberi sorot mata dingin, dia tidak mempedulikan kecurigaan pria itu, saat ini dia lebih memperhatikan penampilannya yang basah kuyub, hal ini membuatnya merasa tidak nyaman.


“Mengintipmu? Untuk apa? Kau tidak ada menariknya sama sekali. Jadi, tidak usah terlalu percaya diri,” ketus Xena berjalan pelan ke pinggiran kolam.


Kemudian pria itu bangkit dengan tubuh telanjang bulat, seringai mencurigakan pun terbit, dia tidak rela Xena meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan yang pasti.


“Kalau begitu, kenapa kau bisa jatuh dari atas?” Pria itu mencekal pergelangan tangan Xena dari belakang, lalu membawa tubuh Xena ke pelukannya.


“Aku tadi berjalan di atas atapmu ini, secara tidak sengaja atapmu jebol dan akhirnya aku terjatuh dari atas. Makanya kalau membuat rumah itu usahakan dari bahan-bahan berkualitas tinggi! Dasar orang kaya pelit!” omel Xena berupaya lepas dari dekapan pria itu.


Namun, Xena tidak diberi celah untuk lepas sedikit pun, tenaga pria itu ternyata lebih besar dari yang diduga Xena. Pergerakan Xena seolah dikunci, selama ini dia tidak pernah gagal meloloskan diri dari banyak pria, tapi kali ini pria yang dia temui terasa sangat berbeda.


“Kalau begitu kau harus bertanggung jawab karena sudah merusak rumahku, bagaimana kau akan mempertanggung jawabkannya?”


Pria itu semakin menjadi-jadi, tangan Xena nan lentik ia cium begitu lembut, ekspresi Xena berubah drastis ketika pria itu mengecup tangannya.


“BAJ*NGAN! SIAPA YANG MENGIZINKANMU MENCIUM TANGANKU?!”


Bugh!


Xena melayangkan tinjunya ke pipi pria itu, dia paling tidak suka apabila ada seorang pria yang berbuat lancang dan kurang ajar padanya. Pria itu dibuat terdorong ke belakang, akhirnya Xena berhasil lepas dari pelukan pria aneh itu. Xena bergegas untuk keluar dari kolam, dia tidak mau berlama-lama lagi berada di sana. Pria itu tidak berhenti sampai disitu saja, dia ikut keluar dari kolam dan langsung menahan langkah Xena. Tangan kekar pria itu melingkar di perut Xena, tapi Xena membalasnya dengan rontaan yang sangat kuat.


“Jangan sentuh aku!” murka Xena, sepasang netra perak itu memancarkan amarah luar biasa.


“Kau ini pemarah sekali ya, Nona. Padahal aku hanya mau berkenalan denganmu,” tutur pria itu sembari menyunggingkan senyum.


“Aku tidak mau kenal denganmu! Biarkan aku pergi dan jangan tahan aku lagi,” tegas Xena hendak terbang menuju atap tempatnya terjatuh tadi.


Sesuatu hal terjadi kembali di saat Xena akan mendorong tubuhnya untuk melayang, lantai ubin yang sangat licin membawa petaka baginya. Kaki Xena tanpa sengaja tergelincir, pria yang berdiri di belakang Xena sempat lengah, sehingga Xena terjatuh dan menghimpit tubuhnya.

__ADS_1


“Aduhh pinggangku, ehh tapi kenapa tidak sakit? Huh? Rasanya aku menghimpit sesuatu.” Xena menoleh ke belakang, ternyata Xena menghimpit tubuh pria tadi. Kemudian Xena refleks menjauh, tanpa ucapan maaf, Xena segera terbang keluar dari tempat tersebut dan meninggalkan pria itu sendirian.


Pria itu bangkit dari posisi terlentang, dia tertawa kecil mengingat wajah cantik dari wanita yang baru saja bertemu dengannya. Pria itu mencium tangannya, masih tersisa aroma wangi yang khas dari tubuh Xena.


“Ternyata kita bertemu lebih cepat ya, Xena,” gumam pria itu sembari tersenyum tipis menghadap atap kolam yang jebol akibat ulah Xena.


Pada saat yang bersamaan, seorang pria berambut blonde menerobos masuk ke kolam perendaman. Ketika berada di luar, tadi dia mendengar keributan di sana, dia pun panik dan membawa beberapa orang ksatria di belakangnya.


“YANG MULIA, APAKAH ADA PENYUSUP?!” teriaknya panik.


“Tidak ada, hanya saja aku baru bertemu dengan wanita idamanku.”


Pria yang baru tadi masuk merasa heran dengan senyuman dari pria yang dia sebut Yang Mulia itu.


‘Apa yang baru saja aku lihat? Seorang Duke Xander Geraldo nan dingin sedang tersenyum? Sebenarnya siapa yang baru saja ditemui olehnya? Bahkan dia tidak pernah tersenyum seperti itu kepada tunangannya,’ batin Garvin – sekretaris pribadi Xander.


Pria tampan bernama Xander itu lalu memungut handuk putih yang terjatuh, dia membalut bagian bawah tubuhnya menggunakan handuk tersebut.


“Tiba-tiba? Biasanya Anda juga tidak sudi menginjakkan kaki di istana, apa yang sebenarnya terjadi kepada Anda?” bingung Garvin.


“Kau jangan banyak protes, atur saja waktu untuk kunjungan besok. Aku ingin menemui seseorang di sana, makanya aku rela menginjakkan kaki di tempat kotor itu,” sinis Xander, dia tidak suka ditanyai terus-terusan.


“Baiklah, saya akan mengatur waktu untuk kunjungannya.”


...***...


Waktu bergulir begitu cepat, tadi malam Gia terkejut mendapati Xena baru balik dari luar dalam kondisi basah kuyub. Bukannya membaik, mood Xena justru semakin acak-acakkan karena ulah Xander yang membuatnya kesal. Seumur hidup baru kali ini dia bertemu dengan pria yang kurang ajar seperti Xander, tapi ada satu hal yang dia herankan.


“Mengapa aku tidak bisa mengeluarkan racunku di hadapan pria mes*m itu? Siapa dia sebenarnya? Siapa pun dia semoga dia tidak menjadi musuhku, kalau sampai dia menjadi musuhku, maka sudah aku pastikan dia akan menjadi musuh yang paling merepotkan,” kata Xena berbicara sendiri.

__ADS_1


Memikirkan hal itu semalaman membuat Xena tidak bisa tidur, sehingga dia terpaksa tetap membuka mata hingga pagi menjelang. Xena berguling-guling di atas tempat tidur sambil berpikir keras siapa pelaku pembunuhan Alina sebenarnya. Dia masih belum menemukan adanya gerakan yang mencurigakan dari orang-orang di istana ini, tapi setidaknya dia sudah berusaha keras.


“Nona, apa Anda akan terus seperti itu seharian?” tanya Gia yang masuk membawakan sarapan.


Xena segera bangkit dari posisi nyamannya, dia sungguh tidak ingin melakukan apa pun untuk saat ini.


“Aku masih memikirkan tentang pelaku yang membunuh Alina, sampai saat ini aku belum melihat gerak-gerik yang mencurigakan,” ujar Xena menghela napas berat, dia meraih sepotong sandwich di atas nampan yang dibawa oleh Gia.


Tuk tuk tuk


Tiba-tiba saja ada seekor burung rajawali berukuran besar mengetuk kaca jendela kamar Xena. Wajah Xena berubah sumringah, dia turun dari atas tempat tidur dan membuka jendela lebar-lebar. Di belakang tubuh burung rajawali itu ada sebuah kotak dan surat, Xena segera mengambil keduanya. Setelah menyelesaikan misinya, burung tersebut langsung melaju terbang meninggalkan Xena,


“Apa itu, Nona?” tanya Gia penasaran.


Xena membuka tutup kotak itu dan memperlihatkannya kepada Gia, “Uang,” jawabnya singkat.


“ASTAGA, APAKAH SEMUA INI ADALAH UANG?” Gia terperangah oleh seluruh koin emas yang menumpuk di dalam kotak yang berukuran cukup besar itu.


“Ya, ini adalah uangku. Kita akan pergi berbelanja dengan uang ini,” kata Xena.


“Tidakkah ini terlalu banyak?”


Xena tersenyum kepada Gia, kekayaan Xena melebihi dari ekspektasi Gia, bahkan total kekayaan yang dimiliki Xena saat ini dapat membeli dua kekaisaran sekaligus.


“Tenang saja, aku ini sangat kaya. Uang segini bukan apa-apa bagiku.”


Xena tidak lupa membuka surat yang terselip di sela kotak itu, surat tersebut dikirim oleh Laiv untuknya.


“Nona Xena, tolong habiskan uang ini dengan cepat karena koin emas kita sangat menumpuk. Mungkin sebentar lagi jumlah koin itu setara dengan tingginya gunung berapi yang masih aktif.”

__ADS_1


Itulah isi suratnya, Xena selama ini jarang pergi belanja, jadi semua uang yang dikumpulkan menjadi menumpuk. Laiv berulang kali memaksanya untuk pergi berbelanja, namun ketika pulang dia malah membawa bau darah.


“Oke, Gia. Mari kita pergi belanja!”


__ADS_2