
Di tengah malam ketika semua aktivitas diberhentikan, Xavier menggantikan tugas sang Ayah untuk membunuh Marquess Andros. Xavier diam-diam menyelinap masuk ke dalam kediaman Marquess Andros, suasana di sana lebih hening daripada perkiraan Xavier. Langkah Xavier sangat pelan, kakinya tidak menimbulkan bunyi berisik ketika melangkah. Kemudian Xavier membelokkan kakinya ke kamar Marquess Andros. Meski saat ini masih berada di situasi duka, tapi kediaman ini tampak tidak seperti orang kehilangan.
“Oh, ternyata pria ini sedang tidur. Baguslah, jadi aku lebih mudah untuk membunuhnya.”
Ketika Xavier hendak menghunuskan pedangnya ke arah jantung Marquess Andros, kedua mata Marquess Andros terbuka. Dia terkejut begitu menemukan Xavier yang hendak membunuhnya, sontak saja dia melompat turun dari tempat tidur sekaligus menjauh dari Xavier.
“S-siapa kau?!”
Marquess Andros gemetar ketakutan saat melihat Xavier yang dipenuhi oleh aura membunuh yang kuat. Dia terus beringsut ke mundur ke belakang hingga dirinya mencapai pojok ruang, Xavier pun melangkah mendekat dengan pedang yang bersiap menebas kepala Marquess Andros.
“Siapa aku? Aku adalah malaikat maut yang bertugas mencabut nyawamu,” jawab Xavier seraya tersenyum mengerikan.
“Apa kau datang ingin membunuhku? Jangan harap! Aku adalah seorang bangsawan, kau takkan bisa membunuhku. Apa kau tidak khawatir nyawamu terancam seusai menghunuskan pedangmu padaku? Kau benar-benar melakukan hal konyol hanya untuk sekedar membunuhku. Sama saja nanti kau mengantarkan nyawamu ke jurang neraka.”
Marquess Andros berusaha keras untuk menakuti Xavier, namun usahanya terlihat sia-sia karena Xavier tidak mempedulikan tentang dirinya yang akan jadi seorang buronan. Bagi Xavier, orang-orang yang telah menyakiti sang Ibu harus segera dibunuh. Xavier menyayangi Ibunya, jadi dia tidak ingin hidup Ibunya diusik oleh orang seperti Marquess Andros.
“Aku tidak peduli mau kau bangsawan atau bukan, yang jelas sekarang aku datang ingin membunuhmu dan mengantarkanmu lebih dulu ke neraka.”
“Apa? Tidak … aku tidak mau mati. Pergi kau sana! Pergi! AAKKKHHHH!”
Xavier tanpa ampun melayangkan ujung pedangnya ke kepala Marquess Andros hingga membuat kepalanya menggelinding di atas lantai. Darah segar memercik ke wajah Xavier, dia sudah terbiasa melakukan ini, jadi membunuh satu orang saja tidak masalah untuknya. Xavier menghela napas begitu ia menyelesaikan tugas yang dipercayakan Xander.
“Orang yang menyakiti Ibuku harus mati, apa pun alasannya aku takkan memperlihatkan belas kasih. Kebahagiaan Ibuku adalah yang terpenting, jadi aku rela mengotori tanganku dengan darah asalkan Ibu bisa hidup bahagia bersama Ayah.”
__ADS_1
Sementara itu pada waktu yang bersamaan di mansion Xander, Nidia secara kebetulan mengunjungi Xander. Wanita itu menyelinap diam-diam ke dalam mansion dan menemui Xander di ruang kerjanya. Kedatangan Nidia membuat Xander terkejut sebab dia hanya pernah bertemu Nidia satu kali yaitu ketika ia ingin memutar waktu untuk pertama kalinya. Setelah ia memutar waktu ketujuh kalinya, baru kali ini dia bertemu Nidia langsung.
“Kau … mengapa kau bisa ada di sini?” tanya Xander bingung.
“Xander, sudah lama kita tidak bertemu. Apa hubunganmu dengan Xena baik-baik saja?” tanya Nidia balik.
Xander menghela napas sembari mengacak-acak rambutnya, tampak raut frustasi pada mukanya. Melihat bagaimana reaksi Xander, Nidia paham bahwa saat ini Xander tengah pusing memikirkan bagaimana lagi caranya dia menyelamatkan Xena.
“Tanpa kau beritahu pun, aku mengerti kalau kalian sedang mengalami kesulitan mengatasi masalah yang terjadi. Tetapi, Xander, bagaimana perasaanmu bertemu dengan anakmu sendiri? Apa kau senang?”
Xander sontak menegakkan kepalanya dengan kedua mata yang melebar menatap Nidia, tidak disangka Nidia tahu mengenai keberadaan Xavier.
“Kenapa kau bisa tahu tentang Xavier? Apa kau yang sudah membawanya kemari?”
“Jadi, itu alasan kenapa Xavier bisa tiba di zaman ini? Aku tidak menyangka anak itu akan membuat permintaan agar membawanya ke waktu yang sama denganku dan Xena. Lalu sekarang apa kau hanya ingin membicarakan masalah ini denganku?”
Nidia tersenyum kecil, entah mengapa ekspresi Xander tidak pernah ramah kepada wanita selain Xena.
“Aku ingin bertanya, apa sebelumnya kau memimpikan Xena bunuh diri di hadapanmu?”
Deg!
Xander terperanjat kaget saat Nidia melayangkan pertanyaan tersebut kepadanya, Xander tidak pernah memberitahu siapa pun soal mimpinya, tapi Nidia malah mengetahui mimpi itu.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa tahu mimpiku?” tanya Xander.
“Itu adalah kehidupan pertamamu dengan Xena.”
Darah Xander sekali lagi berdesir hebat, dadanya sesak ketika Nidia mengatakannya secara terang-terangan. Xander membeku di tempat, lidahnya kelu dan tak tahu harus merespon seperti apa lagi.
“Kehidupan pertama? Maksudmu aku Adik dari Raja Setan? Jangan bercanda. Ini mustahil, mustahil aku Adik dari pria itu,” bantah Xander tak percaya.
“Itu adalah kenyataannya, di kehidupan pertama kau merupakan Adik dari Raja Setan. Cerita yang dibicarakan oleh Carian sebelumnya adalah kisah kau dan Xena. Kau boleh tidak percaya padaku, tapi Xander, coba sekarang kau pikirkan mengenai kekuatan api ungu di tubuhmu. Api ungu merupakan kekuatan utama dari setan, tidak masuk akal seorang manusia biasa dapat mengendalikan api ungu itu.”
Xander langsung terdiam, yang dikatakan oleh Nidia masuk akal karena tak ada manusia yang punya api ungu. Kekuatan yang sampai sekarang tidak tahu didapat dari mana oleh Xander kini terjawab sudah.
“Aku rasa kau mulai percaya sekarang. Xena juga adalah reinkarnasi dari Ratu Setan yang merupakan istri dari Raja Setan. Tetapi, Xena tidak punya ingatan masa-masa dia bersama Raja Setan. Akibat kematian Xena yang dibunuh oleh manusia, Raja Setan pun menaruh kebencian dan dendam kepada manusia. Itulah mengapa Raja Setan menciptakan kekacauan di dunia dengan memanfaatkan Raja Barbarian yang gila akan kekuasaan,” terang Nidia lagi.
“Astaga, apakah ini nyata? Jadi, aku dan Xena adalah suami istri pada kehidupan pertamaku? Jadi, ini merupakan kehidupanku yang ke delapan dan bukan ke tujuh?”
“Ya, itu benar. Aku kemari juga ingin mengatakan padamu bahwa kau dan Xena harus segera memusnahkan Raja Setan karena dunia ini semakin kacau. Hanya kalian berdua yang bisa melakukannya, melalui gabungan kekuatan kalian berdua maka dunia ini dapat diselamatkan. Namun, Xander, perlu kau ketahui satu hal bahwa melalui proses pemusnahan Raja Setan, ada yang harus dikorbankan di sana,” ujar Nidia.
“Apa yang harus dikorbankan?”
“Xena. Wanita yang kamu cintai akan dikorbankan ke dalam pemusnahan ini, bila sekedar menyegel saja, kau bisa melakukannya sendirian. Akan tetapi—”
BRAKK!
__ADS_1