Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Kedatangan Lima Bawahan


__ADS_3

Carian, Klaus, Floris, Giselle, dan Elinor tanpa sengaja memergoki Xena yang sedang direngkuh mesrah oleh Xander. Mereka ternganga di depan pintu menyaksikan Xena tengah bersama seorang pria tampan, selama ini yang mereka tahu Xena tidak akan pernah membiarkan pria lain menyentuhnya, apalagi penampakan saat ini nyaris disebut sebagai posisi intim.


Xena pun ikut terkejut mendapati mereka yang tiba-tiba saja muncul di kamarnya, walau sudah dipergoki oleh bawahannya Xena, Xander malah makin mengeratkan rengkuhannya. Jarak wajah mereka semakin dekat, Xena yang merasa sebal akhirnya melayangkan pukulan ke kepala Xander. Terlihat jelas Xander kesakitan akibat pukulannya itu, dia pun melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Xena.


“Sepertinya dunia akan kiamat,” bisik Floris kepada Carian.


Mereka pun bersama-sama saling berhadapan, pandangan mata mereka tampak tidak percaya terhadap pemandangan yang baru saja disuguhkan begitu mereka tiba. Kelima bawahan terpercaya Xena itu mendekat lalu berkumpul di satu titik.


“Kalian lihat, kan? Pria itu yang selalu memanggil Nona dengan sebutan istri. Tidakkah menurut kalian itu aneh? Sekarang kita memergoki mereka sedang berada di kamar yang sama. Kira-kira apa Nona sungguh telah menikah dengan pria itu? Aku tidak mau mempercayainya, tapi berdasarkan yang kita saksikan sekarang, aku rasa Nona memang sudah menikah diam-diam,” ujar Carian berbicara pelan.


Xena berdehem, mereka segera berbalik menatap Xena seraya tersenyum penuh kecurigaan kepada Xena.


“Kenapa kalian bisa berada di sini? Apa tugas yang aku berikan kemarin itu sudah terlaksana dengan baik dan tanpa ada kendala?” tanya Xena.


Elinor langsung bergerak mendekati Xena lalu menggandeng tangan Xena, dia selalu seperti ini saat bersama Xena.


“Kami sudah menyelesaikan semuanya, karena kami sangat merindukan Nona makanya kami memutuskan untuk kemari,” tutur Elinor sangat manja, dia yang paling muda di antara mereka semua. Tahun ini Elinor baru menginjak usia 16 tahun, jadi dia selalu bersikap manja kepada Xena yang dia anggap sebagai Kakak sendiri.


“Astaga, lalu apa-apaan pakaian itu?”


Xena salah fokus dengan pakaian yang dikenakan oleh mereka, Giselle dan Elinor mengenakan pakaian pelayan, sedangkan Carian, Klaus, serta Floris memakai seragam ksatria. Mereka tertawa kikuk saat hendak menjelaskannya kepada Xena.


“Sebenarnya kami ingin tinggal di sini bersama Nona, jadi kami mengambil seragam ini biar tidak ketahuan,” jawab Klaus.


Xena menghela napas panjang sambil menepuk keningnya, dia tidak bisa berbuat banyak untuk mengusir mereka yang memamerkan muka memelas di hadapan Xena.

__ADS_1


“Apa kalian sudah minta izin sebelum pergi ke sini pada Laiv?” tanya Xena lagi.


Mimik wajah mereka seketika berubah, mereka semua serentak memalingkan wajah dari Xena. Tanpa diberitahu pun Xena sudah tahu jawaban jenis apa yang akan mereka lontarkan padanya. Perlahan bibir Xena melengkung membentu senyum menyeramkan, mungkin sebentar lagi dia akan meledak akibat amarah yang tertahan.


“Ya ampun, jadi kalian tidak meminta izin sebelum kemari? Kalian tahu sendiri bagaimana wujud Laiv saat marah, tapi kalian malah sengaja memancing kemarahannya. Aku tidak akan bertanggung jawab jika Laiv memarahi kalian habis-habisan, lebih baik aku diam saja dan berpura-pura tidak tahu,” oceh Xena menggeleng-geleng melihat tingkah mereka yang tidak pernah kapok mencari gara-gara dengan Laiv.


“Biarkan saja mereka di sini,” celetuk Xander sambil merangkul pundak Xena dan tersenyum lebar ke arah bawahan Xena, “Kau butuh mereka untuk membantumu menghadapi musuh di istana,” lanjut Xander.


Xena melirik sinis Xander, para bawahannya tidak bisa berkata-kata melihat Xander yang begitu manis perlakuannya kepada Xena.


“Jangan sentuh aku, sialan!”


Xena yang geram akhirnya menjungkir balikkan tubuh Xander hingga membuatnya terhempas ke atas lantai. Xander mengerang sakit di bagian pinggangnya, seisi ruang ternganga oleh sikap Xena yang dinilai terlalu temperamental. Namun, melihat Xander yang kesakitan mengundang rasa iba di hati Xena. Dia pun berjongkok dan berinisiatif menanyakan kepada Xander tentang kondisi tubuhnya.


“Hey, kau jangan lebay. Aku tidak menghempaskanmu dengan tenaga dalam, jadi jangan membuatku seolah menjadi wanita jahat yang menindas pria lain di sini,” tutur Xena.


“Kau cari mati ya!” omel Xena berupaya melepaskan diri.


“Sudah saya duga, kalian berdua benar-benar suami istri?” tanya Klau.


“TIDAK!”


“IYA!”


Mereka menjawab secara bersamaan, Xena menjawab tidak sedangkan Xander menjawab iya. Hal itu memancing kemarahan Xena, dia memukul kepala Xander lagi. Entah sudah berapa kali Xander terkena pukulan Xena, tapi dia tidak pernah kapok membuat Xena marah.

__ADS_1


“Jangan memancingku terus, Xander! Cepat kau pergi dari kamarku! Aku sangat bosan melihatmu yang tidak jera membuatku kesal,” usir Xena dengan nada ketus.


“Hahaha baiklah, aku akan pergi sekarang, tapi jangan rindu padaku, ya.” Sebelum pergi, Xander mendaratkan kecupan singkat di pipi Xena, kemudian dia menghilang begitu saja setelah melompat keluar dari jendela.


Muka Xena dibuat merah padam oleh Xander, akhir-akhir ini dia kerap kali bertingkah tersipu malu saat digoda oleh Xander.


“Mungkinkah Nona telah jatuh cinta kepada pria bernama Xander itu? Tapi entah kenapa aku malah merestui hubungan mereka,” bisik Elinor.


“Aku juga berpikir begitu, biasanya kita akan marah kalau Nona didekati pria lain, tapi kalau prianya adalah Xander, maka aku memberi restu kepada Nona,” bisik Carian balik.


Xena melayangkan lirikan tajam kepada lima bawahannya itu, mereka segera menghentikan bisik-bisik manjanya. Suasana hati Xena bercampur aduk, sekilas terlihat rasa bahagia, malu, sekaligus marah. Pada saat yang bersamaan, Gia masuk untuk menemui Xena, betapa kagetnya Gia di dalam kamar ternyata ada lima bawahan Xena yang tidak dia kenal.


“Nona, siapa mereka?” tanya Gia berbisik.


Lalu Xena memperkenalkan kepada Gia masing-masing dari mereka, Gia tampak senang melihat ternyata bawahan Xena tidak seburuk yang dia pikirkan. Selepas itu, Xena mengajak mereka semua duduk di taman istana, sekalian Xena ingin mencari udara segar. Mereka saling membagi cerita satu sama lain, gelak tawa terdengar renyah di kursi taman menertawakan berbagai macam jenis cerita.


Berselang beberapa menit, kedamaian itu diganggu oleh kedatangan Derryl bersama Brisia. Xena berdecak sebal melihat pria dan wanita itu bersamaan, terlebih lagi mimik wajah bawahan Xena terlihat tidak menyukai mereka, berbeda dengan saat Xena menemui Xander malah mereka menyetujui hubungan Xena dan Xander.


“Alina, apa yang kau lakukan di sini? Tidakkah kau tahu kalau Ibu Suri sedang terkena masalah? Seharusnya kau sebagai Permaisuri dapat menemani dan menyemangati Ibu Suri,” ujar Derryl sembari mengamati semua orang yang berada di dekat Xena.


“Huh? Aku menemani Ibu Suri? Tidak sudi! Mending aku di sini menghibur diri sendiri daripada menemani nenek lampir itu. Oh iya, bukankah dia sangat menyukai Brisia? Suruh saja Brisia menemaninya atau kalau perlu Brisia masuk ke penjara yang sama dengan Ibu Suri,” tutur Xena menyunggingkan senyumnya.


“ALINA!” sergah Derryl murka.


Note :

__ADS_1


Halo gaes, maaf ya author gak up selama dua hari kemarin karena lagi sibuk banget di real life, hari ini up satu chapter dulu. Besok diusahain up seperti biasa, sekali lagi maaf yaaa...


__ADS_2