
Suara Xander terdengar dalam, terselip kedihan di sela kata-katanya, raut wajah yang tersirat perasaan duka nan curam terpancar seketika. Bibirnya membuat lengkungan senyum terluka, entah mengapa hati Xena ikut meluruh mendengar dan menyaksikan ekspresi Xander kala itu. Xena tersapu di dalam gelombang kesenduan Xander, selama beberapa detik dia terdiam tanpa mampu mengatakan apa pun. Kemudian Xena mulai tersadar, segera ia membuang jauh-jauh pikiran yang mengganggunya barusan.
“Istri? Mati? Apa kau mengharapkan aku menjadi istrimu dan mati bersamamu? Jangan harap! Aku tidak akan mati, aku akan hidup selama seribu tahun lamanya!” oceh Xena membuat Xander terkekeh.
“Tumben sekali kau tidak minta aku melepaskan pelukan? Apa kau mulai nyaman dalam pelukanku?”
Xena tersadar bahwa saat ini dia belum lepas dari pelukan Xander, lekas Xena menarik diri keluar. Wajah Xena memerah sempurna, Xander telah lama tidak melihat wajah Xena yang tersipu malu ketika di hadapannya. Lagi-lagi Xander memamerkan senyuman sendu, Xena sedikit merasa terganggu oleh senyumannya itu.
“Jangan menggangguku lagi! Pergilah kau dari sini! Aku tidak menyukaimu, sangat sangat tidak menyukaimu dan aku tidak akan menikah denganmu!” Xena mengatakan itu secara tegas tapi tersisip perasaan ragu di antara perasaannya, ia segera bangkit dari atas tubuh Xander dan berlalu pergi tanpa menoleh kepada Xander.
“Lalu jangan memperlihatkan ekspresi terluka itu lagi, entah mengapa aku merasa terganggu oleh ekspresimu yang seperti itu,” pesan Xena langsung menghilang dari pandangan Xander.
Xander juga beranjak bangkit, setidaknya dia sudah melihat wajah Xena hari ini dan menyentuh tubuh hingga aroma khas Xena melekat lagi ke bajunya.
“Haruskah aku taruh di museum? Bajuku mengandung aroma Xena yang menenangkan. Aku harus meminta penyihir untuk mengawetkan wanginya,” gumam Xander berjalan menjauh dari tempat penginapan.
Xena buru-buru masuk ke dalam kamar, Gia seketika kaget melihat wajah Xena yang merona.
__ADS_1
“Nona, kenapa wajah Anda merah? Apa Anda sakit?” tanya Gia khawatir seraya melekatkan telapak tangannya ke kening Xena untuk mengecek suhu tubuh Xena.
“Aku hanya kepanasan, tolong siapkan air mandi untukku,” perintah Xena tiba-tiba.
“Anda kan baru selesai mandi, Nona, apa Anda mau mandi sekali lagi?”
Xena lupa, dia memang baru selesai mandi beberapa menit sebelum Xander datang menemuinya. Bahkan rambutnya saja masih terasa lembab dan belum kering sepenuhnya, tapi dia tidak begitu peduli sebab saat ini tubuhnya terasa gerah oleh ulah Xander tadi.
“Iya, aku mau mandi lagi, siapkan air yang sangat dingin untukku.”
Gia pun bergegas menuju kamar mandi menyiapkan air dan segala bentuk alat untuk mandi Xena. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, tidak biasanya dia merasa seperti ini di hadapan pria lain. Xena melangkah ke depan cermin, terlihat pantulan mukanya yang merah padam di cermin tersebut. Xena menepuk-nepuk pelan kedua pipinya, perlahan tangan mungil itu menyentuh jantungnya, ada detakan yang tidak biasa ia rasakan.
Di ambang pintu kamar mandi, Gia memperhatikan Xena yang tengah berceloteh sendirian.
“Sepertinya Nona memang sudah gila, lihatlah dia sekarang sedang memohon kepada malaikat maut. Di mana-mana orang akan memohon dan berdo’a kepada dewa, tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Nona,” gumam Gia.
Kemudian Gia memanggil Xena karena persiapan untuknya mandi telah selesai, lekas Xena melucuti seluruh pakaian yang melekat di badan. Xena segera berendam di air dingin yang sudah dicampur dengan sabun aroma mawar. Xena merebahkan kepala sejenak di sandaran bathup, ia berpikir tentang reaksi dirinya yang aneh ketika berhadapan dengan Xander – pria yang selalu datang membawa kejengkelan untuknya.
__ADS_1
“Siapa sebenarnya Xander? Lalu apa-apaan ekspresi sendu itu? Apa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini? Aku rasa tidak pernah, tapi ada perasaan familiar saat aku melihatnya. Tadi dia mengatakan jangan mati padaku, apa aku terlihat akan mati? Pria itu sangat aneh, aku tidak bisa mengerti dirinya. Namun, bukan itu yang harus aku pikirkan, aku mesti cepat-cepat kembali ke istana untuk menyelidiki pembunuh Alina,” ujar Xena berbicara sendirian.
Xena menyelesaikan aktivitas mandinya dengan cepat, selepas itu baru ia keluar dari kamar mandi dan memikirkan rencana yang mesti ia lakukan berikutnya.
...***...
Malam ini bulan purnama bersinar begitu terang, cahayanya yang memantul dari permukaan air nan tenang terlihat sangat indah. Akan tetapi, malam yang damai ini akan menjadi malam pembantaian di Charise, sebab Carian membawa para bawahannya untuk menyelesaikan tugas dari Xena. Gerakan Carian sangat cepat melewati hutan rimbun dan sukar untuk ditempati oleh hewan imut karena di sini adalah tempatnya para binatang buas tinggal.
Carian memantau kondisi terkait tengah malam ini, di ujung penglihatan malamnya, dia melihat ksatria kekaisaran tengah melakukan penjagaan secara ketat di rumah beberapa bangsawan yang menjadi target pembunuhan kali ini. Carian memeriksa kembali daftar para bangsawan yang harus dia habisi malam itu juga.
“Pertama, Count Benigno, dia sering membeli budak di bawah umur untuk dia jadikan sebagai mainan ranjang. Kedua, Baron Curtis, dia menggunakan para budak sebagai pelampiasan marahnya, bahkan dia telah membunuh lebih dari lima belas budak. Ketiga, Marquess Firmin, dia gemar menyiksa budak dengan memenggal satu persatu bagian tubuhnya dan membiarkan mereka hidup tanpa beberapa bagian tubuh.”
“Astaga, para baj*ngan ini memang sudah seharusnya aku habisi malam ini. Keberadaan mereka sangat mengganggu keberlangsungan hidup damai dunia.” Carian tampak sangat marah membaca ulang data para bangsawan yang pernah menghina Alina dulu. Dia baru membaca tiga orang bangsawan saja, masih banyak data yang lain di belakangnya.
Carian segera bergerak bersama para bawahannya, kedatangan Carian menciptakan suasana kacau antar ksatria yang berjaga. Namun, mereka diselesaikan dengan mudah oleh bawahan Carian, kemudian dia melaju cepat menerobos rumah salah seorang bangsawan.
“T-t-tolong a-ampuni saya, j-jangan b-bunuh saya. Akan saya b-bayar berapa pun asal—”
__ADS_1
Carian tak sudi mendengar permohonan maafnya, dari ujung jemari Julian ribuan jarum tajam berkeluaran menancap tubuh pria yang bersujud di bawah kakinya. Tanpa kata ampun sedikit pun, Carian menyiksa bangsawan itu secara perlahan dengan jarum tajam yang perlahan masuk ke organ dalam si korban.
“AAARRRGHHH!!” pekik pria itu merintih kesakitan saat jarum tajamnya menghancurkan organ dalam pria tersebut.