
“Huh?”
Xena mengerutkan alisnya, Derryl menampakkan penyesalan yang tersirat di balik wajah tampannya itu.
“MENGAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU SOAL KEHAMILANMU?” Derryl menaikkan nada suaranya sembari mengguncang pundak Xena. Manik mata Derryl melebar seketika, jarak wajahnya dan wajah Xena berdekatan.
“Untuk apa aku memberitahumu?” Respon Xena terlalu dingin, Derryl pun menjatuhkan tangannya dari pundak Xena.
“Tentu saja karena anak itu juga anakku, aku berhak tahu soal itu,” jawab Derryl.
Xena tersenyum miris, suara tawa kecil perlahan membesar, setelah apa yang dilalui Alina baru kali ini pria itu menyadarinya. Alina tidak akan mati jika saja Derryl menaruh perhatian setidaknya setengah perhatian yang ia berikan pada Brisia. Xena ingin membunuh laki-laki itu, dia membenci orang yang patut disalahkan atas kematian Alina. Bahkan menurut Xena, penyesalan yang kini dirasakan Derryl bukan kepada Alina, tapi kepada Xena yang menyamar sebagai Alina.
“Berulang kali aku mencoba memberitahumu, tapi kau mengabaikanku, keberadaanku di istana itu seperti hantu. Aku tidak terlihat, tapi kehadirannya bisa dirasakan, jadi katakan padaku! Bagaimana caraku memberitahumu?” Tatapan mata Xena yang tajam membuat Derryl kehilangan kata untuk menjawabnya.
“Ini salahmu kau tidak memberitahuku! Padahal bisa saja kau mengirimiku surat atau menemuiku diam-diam di ruang kerjaku. Kenapa kau tidak melakukannya seperti itu? Sekarang kau malah menyalahkanku, harusnya kau yang aku salahkan. Sebenarnya apa yang sudah kau perbuat sampai para pembunuh mengincar nyawamu? Kau yang membuat anak kita berada dalam bahaya!”
Derryl mengangkat tangannya tinggi, ia bermaksud untuk mengarahkan dan melayangkan tamparan ke pipi Xena. Amarahnya memuncak karena Xena menyalahkannya atas kematian anaknya, tapi Xander dengan sigap menahan pergelangan tangan Derryl agar tidak memukuli Xena.
“Jangan melewati batas! Permaisuri itu seorang perempuan, bisa-bisanya kau berniat memukulinya!” bentak Xander murka.
“Kau tidak perlu ikut campur dalam urusanku! Ini urusanku dengan istriku, kenapa kau terlihat marah seperti itu? Apa kau menyukai Permaisuri? Apa kau menyembunyikan perasaan untuk Permaisuri? Bahkan tunangan yang sudah aku pilihkan untukmu ujung-ujungnya kau batalkan tanpa persetujuanku!” tuding Derryl berapi-api.
__ADS_1
Xena menghela napas kasar, dia tak suka bila ada pertengkaran saat ini, kemudian Xena menarik Derryl untuk segera pergi dari mansion Xander.
“Cepat kembali lagi ke istana! Kau membuatku marah saja,” ujar Xena menarik paksa pakaian Derryl.
Xena menoleh ke arah Xander yang tersenyum padanya, tapi dia hanya membalas dengan tatapan tidak mengenakkan.
“Ciuman tadi sangat nikmat,” kata Xander menggunakan isyarat bibir seraya mengedipkan matanya sebelah.
“Sinting!”
Selama di perjalanan di atas kereta kuda, Xena dan Derryl tak henti-hentinya berdebat masalah yang tadi. Derryl sama sekali tidak terima disalahkan oleh Xena, ia melimpahkan segala macam bentuk kemarahan, tapi Xena tak mau kalah begitu saja. Xena berdecak sebal berkali-kali menghadapi orang seperti Derryl ini, sangat susah baginya untuk diatur. Setibanya di istana, Xena menolak untuk berbicara dengan Derryl, situasi mulai tenang setelah Xena pulang bersama Derryl. Gia memeluk Xena, dia sangat takut Xena bernasib burun tanpa sepengetahuannya.
...***...
Kematian mengenaskan yang dialami oleh ketiga wanita bangsawan itu menciptakan kegegeran di Kekaisaran Charise. Satu persatu dugaan berdatangan, tak sedikit prasangka buruk diarahkan kepada Ibu Suri, sebab mereka menunjukkan gejala aneh sejak kembali memenuhi undangan Ibu Suri untuk meminum teh bersama. Derryl telah disibukkan oleh masalah tersebut dari tadi pagi, protes dari bangsawan masuk secara bersamaan. Mereka menuntut Derryl harus menurunkan pencarian dalang di balik racun itu, ditambah beberapa di antara mereka yang mengarahkan tuduhan kepada Ibu Suri.
Sedangkan saat itu, Gylda – sang Ibu Suri didera perasaan cemas tak berujung, ia akan menjadi salah satu tersangka utama atas kasus ini. Gylda mondar-mandir menggigit jari mencari tahu apa yang harus ia lakukan berikutnya biar lolos dari masalah ini.
“Siapa yang meracuni mereka? Apakah wanita itu? Tapi, bagaimana dia melakukannya?” gumam Gylda sambil mendudukkan diri di atas kursi.
PRAANGGG!
__ADS_1
Dua buah piring dihempaskan oleh Gylda ke atas lantai, dia kehilangan akal menebak-nebak orang yang terlibat di dalam pembunuhan ini. Meskipun pikirannya mengarah kepada Xena, tapi menurutnya hal itu tak mungkin terjadi.
“AAKKHHHH SIALAN! MENGAPA KEJADIAN SEPERTI INI MENIMPAKU?!” amuk Gylda mengacak-acak rambutnya, “Hancur sudah semuanya, aku takut mereka akan memenjarakanku lalu memenggal leherku.” Gylda menyentuh lehernya, dia membayangkan benda tajam menebas lehernya itu, Gylda terlihat sangat frustasi menghadapi masalah yang seperti ini.
Berselang beberapa menit kemudian, Derryl datang mengunjungi Ibunya, Gylda seketika melihat cahaya di balik masalah tersebut.
“Derryl, anakku… kau percaya kan bukan Ibu yang membunuh mereka? Bukan Ibu yang menaruh racun di minuman mereka?” tanya Gylda.
“Aku percaya, tapi kenapa semuanya menjadi runyam begini? Para bangsawan mendesak untuk menyelidiki Ibu demi mencari bukti, mau bagaimana pun masalah ini terlalu serius, sebab yang meninggal akibat racun itu adalah para wanita bangsawan berpengaruh. Seharusnya Ibu sudah tahu hal itu!” ujar Derryl.
“Aku hanya menaruh racun di cangkir teh Permaisuri, lalu kenapa pula mereka—”
“Apa yang Ibu katakan barusan?” Derryl memotong kalimat pembicaraan sang Ibu, ia tak percaya apa yang baru saja dia dengar, “APA YANG IBU KATAKAN?! JAWAB! RACUN APA MAKSUDNYA? IBU MAU MEMBUNUH ALINA?!” murka Derryl menggelora.
Gylda tersurut begitu menyaksikan Derryl sangat marah padanya karena berani mencelakai Xena.
“Kenapa kau memarahi Ibu?” Gylda meneteskan air mata di hadapan Derryl demi membuat emosi anaknya menurun, “Bukankah kau tidak masalah jika Permaisuri itu terbunuh? Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kalau dia mati, Brisia – selir kesayanganmu bisa naik ke posisi Permaisuri lalu melahirkan keturunan untukmu.”
Derryl tak memberi respon, dia hanya menunduk dalam sembari mengepalkan kedua tangannya.
“Ibu jangan ke mana-mana dulu sementara waktu, aku akan menyelidiki masalah ini lebih dalam lagi, Aku percaya kalau Ibu bukan pelakunya,” tutur Derryl langsung berlalu pergi dari hadapan Gylda.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan di kamar Xena, ia tengah menikmati keributan yang mewarnai kekaisaran. Semuanya berjalan sesuai rencana, di hari Xena menghadiri undangan Ibu Suri, dia menaruh racun ke dalam minuman ketiga bangsawan yang sudah menghinanya tanpa sepengetahuan orang lain. Xena tertawa sambil berguling-guling di atas tempat tidur, racunnya memang tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah menunjukkan ampun terhadap target.
“Anggap saja ini sebagai peringatan bagi Charise bahwa sebentar lagi mereka harus bersiap-siap menghadapi kehancuran yang luar biasa.”