
Sebuah tanda budak berbentuk simbol matahari hitam tertera di balik punggung mereka. Tanda yang membawa mereka pada penderitaan mendalam selama beberapa tahun hidup mereka, tanda yang memberi mimpi buruk setiap harinya, sungguh rasa sakit itu juga pernah dirasakan oleh Xena. Ketika Xena menyentuh tanda tersebut, rasa panas menjalar ke tangannya, tanda budak itu dibuat menggunakan bara api yang sangat panas. Bahkan Xena yang saat itu berusia 10 tahun nyaris mati di saat bara api yang begitu panas ditempelkan pada permukaan kulitnya.
“Mungkin ini akan sedikit sakit, bisakah kau menahannya?” tanya Xena kepada seorang budak laki-laki.
Tergurat ekspresi takut di raut wajah pemuda itu, dengan segala keberanian yang tersisa dari tubuhnya ia pun memaksa diri untuk mengangguk. Xena segera melakukan penghapusan tanda budak di badan si pemuda. Kala tangan Xena mulai mengeluarkan sihir berwarna putih, erangan sakit dan pedih perlahan berdatangan. Proses penghapusan tanda budak berlangsung selama lima menit saja, namun rasa sakitnya masih berbekas jelas.
Selanjutnya, Xena terus melakukan hal sama beberapa kali, hingga akhirnya fajar menjelang, semua budak berhasil ia tangani secara sempurna. Seluruh budak-budak itu telah lepas dari jeratan nasib buruk, mereka bebas melakukan apa saja mulai sekarang. Tidak lupa pula Xena memberi mereka identitas baru supaya mereka dapat lebih leluasa mengerjakan apa yang ingin mereka kerjakan.
Sebagian dari mereka memutuskan untuk tetap tinggal dan mengabdi pada Xena, tentu saja Xena tidak menolak permintaan mereka. Mulai hari ini, Xena memerintahkan bawahannya untuk mengajari mereka bela diri serta cara menggunakan senjata. Dengan ini, jumlah bawahan Xena semakin bertambah banyak.
Kemudian seusai semua urusannya selesai, Xena berpamitan kembali ke Charise sebelum pihak istana menyadari dirinya yang menghilang dari kamar. Kecapatan terbang Xena sungguh di luar nalar, dia bisa tiba di Charise hanya dalam waktu tiga puluh menit saja. Siapa pun juga tahu bahwa wanita pembunuh nomor satu di higanbana memiliki kemampuan terbang melebihi orang lain. Untungnya, Xena sampai tepat waktu di Charise, berselang beberapa menit selepasnya, pihak istana datang untuk mengecek Xena ke kamarnya.
“Astaga, Nona, jantung saya hampir copot karena Anda tidak kunjung menampakkan diri,” ujar Gia.
“Maaf sudah merepotkanmu, aku tadi mempunyai banyak pekerjaan di markas. Jadi, aku tidak bisa kembali lebih cepat,” tutur Xena.
Mimik wajah Gia tertekuk pelan, seolah ada sesuatu yang dia simpan dan membuat dirinya merasa sendu. Xena menatap nanar Gia, entah masalah apa yang sedang dipendam oleh Gia kala itu.
“Ada apa? Kenapa ekspresimu seperti itu?” tanya Xena.
__ADS_1
Gia segera menyingkirkan segala bentuk kesenduan dirinya, perlahan dia menarik paksa sudut bibirnya untuk tersenyum.
“Saya tidak apa-apa, Nona.” Jelas sekali Gia sedang berbohong menyembunyikan kerisauan hatinya.
“Tidak perlu berbohong padaku, katakan saja sejujurnya.”
Gia meremas jemarinya, dia memberanikan diri menatap ke arah Xena.
“Sebenarnya saya merasa sedih karena status Permaisuri Anda diturunkan menjadi selir, saya tidak tahan mendengar orang-orang mencemooh Anda. Bahkan pelayan dan ksatria kini memandang rendah diri Anda, padahal posisi Anda sebagai Permaisuri saja kemarin itu masih dipandang rendah. Apalagi sekarang telah turun menjadi selir, saya sedih keberadaan Anda di istana ini dianggap sebagai lelucon semata,” ungkap Gia.
“Itu yang kau risaukan? Aku tidak peduli dengan status Permaisuri atau bukan karena tujuanku kemari tidak untuk memperjuangkan posisi tak berguna itu. Menjadi Permaisuri itu membosankan, aku rasa pergerakanku akan lebib bebas jika di posisi selir.”
Xena menjawabnya dengan enteng, hal itu membuat perasaan Gia jauh membaik dari sebelumnya. Perasaan sedih dan prihatin yang diutarakan oleh Gia menjadi sia-sia sebab Xena tidak butuh perhatian yang semacam itu.
“Kau lihat saja, aku punya banyak akal untuk menjatuhkan mereka semua satu persatu.”
Dua jam berlalu setelah itu, hingar bingar Charise kembali terdengar, bahana derap kaki dari para ksatria mewarnai kesenyapan istana. Xena hanya berdia diri di kamarnya menikmati kehebohan yang tengah melanda kekaisaran. Senyum penuh kemenangan terukir pasti di bibir tipis Xena, entah apa lagi yang diperbuat oleh Xena untuk menghancurkan Charise.
“Nona! Saya punya kabar!” Gia masuk terburu-buru ke dalam kamar, irama napasnya tersengal-sengal karena dia tidak sabar ingin memberitahukan berita besar yang dia dapatkan kala itu.
__ADS_1
“Ada apa, Gia?” tanya Xena seraya menutup buku yang sedang dia baca.
“Seluruh bangsawan yang menghakimi dan mengutuk Anda di ruang singgasana kemarin ditemukan tidak bernyawa di kediaman mereka masing-masing. Jenazah mereka dipenuhi oleh cairan hitam, bahkan bentuk wajah mereka saja tidak bisa dikenali lagi.”
Xena tertawa kecil menanggapi laporan dari berita yang didapatkan oleh Gia.
“Nona, jangan-jangan—”
“Benar, akulah yang membuat mereka seperti itu. Apa kau berpikir aku tidak melakukan apapun seusai keluar dari ruang singgasana? Sayang sekali kalau aku membiarkan mereka begitu saja tanpa diberi pelajaran berharga. Aku juga tidak menyangka ternyata racunku bekerja lebih cepat, mungkin saat ini mereka sedang tersiksa di neraka,” kata Xena.
Sebenarnya, Xena telah memercikkan racun ke tubuh masing-masing bangsawan yang dia tandai. Dengan sifat Xena yang tidak pemaaf, tentunya dia telah mempersiapkan neraka terbaik untuk mereka semua. Gia tidak menyangka rupanya di balik sifat tenang Xena, segala rencana telah tersusun rapi.
‘Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan Nona, pada akhirnya kekhawatiranku tak ada artinya. Nona benar-benar lawan yang tangguh,’ batin Gia.
Di waktu yang bersamaan, Xander di kediamannya sedang tertawa terpingkal-pingkal selepas mendengar kabar tentang kematian bangsawan yang kemarin telah mengeluarkan berbagai kata kutukan untuk Xena. Garvin terpaku ketika menyaksikan Xander tertawa, selama ini dia belum pernah melihat Xander tertawa begitu kencang.
“Itulah akibatnya kalau mereka berani melawan istriku, aku tak menyangka mereka akan berakhir secepat ini. Kasihan sekali Kakakku, dia pasti sedang pusing sebab yang mati itu semuanya adalah bangsawan berpengaruh di Charise. Aku tidak peduli, yang penting mereka berhasil masuk ke dalam neraka penyiksaan.”
Garvin menggeleng-geleng ketika mendengar Xander berbicara sendirian bersama berbagai kegilaannya. Tetapi, dengan begini Garvin bisa lebih santai karena kondisi Xander tampak jauh membaik dari sebelumnya.
__ADS_1
‘Sepertinya Charise sebentar lagi akan hancur di tangan mereka berdua,’ gumam Garvin dalam hati.
Rakyat kembali heboh membicarakan kematian para bangsawan yang tidak wajar, mereka menilai bahwa kematian bangsawan itu seperti sebuah kutukan. Kematian yang terjadi secara beruntun bukanlah hal yang biasa, satu persatu dari mereka memberi pendapat bahwasanya kematian tersebut merupakan pembunuhan berencana yang tidak menyisakan satu pun bukti pasti.