Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Happy Ending


__ADS_3

Pada malam nan sunyi, saat semua orang tengah beristirahat, sesuatu yang besar terjadi kepada Xena. Gadis itu menghilang ketika tengah tertidur lelap.


Di pagi harinya, markas dihebohkan karena menghilangnya Xena. Mereka mencari ke segala arah, tetapi tidak ditemukan di mana pun keberadaannya.


Xander dan Xavier merupakan orang yang paling khawatir di sini. Perasaan mereka berkecamuk kala Xena dikabarkan menghilangkan. Tidak ada satu pun petunjuk di mana Xena saat ini.


"Ayah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Ibu tidak mungkin pergi meninggalkan markas tanpa berpamitan. Bagaimana kalau sebenarnya Ibu diculik oleh Verden?" tutur Xavier.


"Tenanglah, Xavier. Ayah pasti akan menemukan Ibumu. Sekarang sebaiknya kau tunggu di sini, sepertinya aku tahu di mana Verden menyembunyikan Ibumu. Tolong beri tahu semua orang untuk jangan terlalu khawatir."


Xander bergerak sendirian, dia melaju cepat menuju tempat persembunyian Verden. Dia yakin sekali kalau Verden pasti menyembunyikan Xena di kastilnya.


"Ayah, Ibu, tolong kembalilah dengan selamat. Tenang saja, aku pasti akan menjaga keamanan markas. Aku harap kalian tidak terluka dan kembali ke markas membawa berita kematian Verden," gumam Xavier penuh harap.


Sementara itu, Verden berdiam diri di depan sebuah sangkar besar. Sesekali dia tersenyum lalu tertawa memandangi Xena yang terluka parah dan tidak sadarkan diri di sangkar tersebut.


"Oh, Xena. Kau sangat menawan meski tubuhmu terluka parah. Aku semakin menyukaimu walaupun kau berani menodongkan pedang kepadaku," ucap Verden.


Beberapa saat yang lalu, Verden datang secara langsung menculik Xena dari markas. Mulanya, Xena tidak sadar kalau dia diculik. Ketika dirinya terbangun, Xena langsung memberontak. Bahkan, dia sempat beradu kekuatan dengan Verden. Namun, kekuatan Verden rupanya jauh lebih besar dari Xena sehingga gadis itu mengalami kekalahan.


Sangkar tempat Xena dikurung saat itu ialah tempat yang mengerikan. Sangkar tersebut mengunci seluruh kesadaran hingga kekuatan Xena tidak dapat digunakan. Verden menganggap ini sebuah kemenangan baginya yang sudah berhasil mendapatkan sang pujaan hati.


"Tidak akan ada lagi orang yang menghalangiku. Xander, pria itu sebentar lagi akan mati. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain meratapi nasib buruk yang mungkin dia terima nanti. Ya, aku tidak peduli lagi, yang terpenting Xena sudah berada di tanganku."


BRUAK!


Terdengar suara bising dari luar ruangan. Verden secara santai menanggapi kebisingan tersebut. Dia tahu bahwa itu adalah perbuatan Xander yang datang mencari Xena.


"Verden, kembalikan Xena padaku!"


Bahana teriakan Xander memenuhi seisi kastil. Dia mengamuk sambil menebas setiap orang yang mencoba menghalanginya.


"Kembalikan istriku, bajing*n!"


Kesabaran Xander mencapai puncaknya. Dia panik sekaligus cemas Xena terkena masalah lebih serius. Dia tidak mau gagal lagi menyelamatkan hidup Xena. Oleh sebab itulah, dia datang kemari tanpa berpikir panjang.


"VERDEN!"


Teriakan Xander kian kencang. Hingga akhirnya dia menemukan Verden di ruangan tempat di mana Xena terkurung.


Betapa syoknya Xander mendapati kondisi Xena yang amat memprihatinkan. Luka-luka di tubuhnya serta ketidaksadarannya membuat Xander menggila.


"Lama tidak bertemu, Xander. Apa yang membawamu kemari?" Verden masih santai menanggapi Xander.


"Apa yang kau lakukan terhadap Xena? Apa yang kau lakukan, brengs*k?!" bentak Xander.


Verden menyunggingkan sudut bibirnya, tak disangka Xander akan menemukan Xena secepat ini.


"Xena itu milikku, aku telah lama menunggunya. Kau hanyalah seorang perampas dan kau tidak pantas bersamanya," tekan Verden.


"Perampas? Kaulah yang perampas!"


Tanpa menunggu lama, Xander langsung mengerahkan serangan kepada Verden. Dia mengayunkan pedangnya dengan gerakan menebas super cepat.


Verden menerima serangan tersebut, dia tidak menghindarinya.


"Kau mau menyerangku dengan tubuh lemahmu itu? Apa mungkin sekarang kau menyerah terhadap hidupmu? Ya, lagi pula tidak seru jika kau mati terlalu cepat. Mari kita bermain-main sebentar, Xander."


Mereka bertarung secara gila-gilaan. Serangan yang sangat brutal memecahkan seisi ruangan. Mereka bertukar serangan tajam, pertarungan mereka tampak seimbang.


Meskipun tubuh Xander masih dalam keadaan lemah, tetapi tidak dipungkiri bahwasanya dia mempunyai kekuatan yang melebihi batas wajar. Hanya saja, kondisi tubuhhya yang saat ini membuatnya tidak bisa mengeluarkan serangan yang lebih besar.


Xander terpaksa menahan diri, demi membuatnya tetap terjaga sampai ia berhasil mengeluarkan Xena dari dalam sangkar. Pedih hati kala menyaksikan wanita yang dicintainya terlihat tidak berdaya.


'Aku tidak ingin kehilangan Xena lagi, aku takkan pernah membiarkannya. Kali ini aku serius akan menyelamatkan hidup Xena. Tidak ada lagi kematian, aku mengharapkan kehidupan lebih baik untuk dirinya,' batin Xander.


Serangan Xander semakin lama kian melemah sehingga menyisakan celah yang cukup besar untuk Verden.


"Ada apa, Xander? Apakah ini adalah batasmu? Astaga, aku kecewa sekali."


Verden pun menghempaskan tubuh Xander ke belakang. Punggung pria itu membentur sudut ruangan yang gelap.


Rasa panas yang mencabik-cabik dirinya seperti sebuah pisau, melemahkan kekuatannya. Sejenak Xander mengatur irama napas seraya menatap Xena yang berada di sisi lain ruangan.


'Xena ... aku tidak mau lagi kehilangannya. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan penderitaannya selama ini. Aku harus melakukan sesuatu menyelamatkannya.'


Xena yang berada di alam bawah sadar, mendengar gemuruh pertarungan Verden dan Xander. Gadis itu perlahan memperoleh kembali kesadaran penuhnya. Perasaan yang gelisah, pikiran yang dihantui ketakutan, semua itu mendominasi diri Xena.


Hingga muncullah seberkas cahaya memantik di kepala Xena. Cahaya itu menuntunnya menyingkapkan kelopak mata yang tertutup rapat.

__ADS_1


"Bangun, Xena! Sampai kapan kau akan tertidur?"


Suara itu berdengung di kepala Xena, ia pun membuka mata dan mendapati gelombang cahaya terang benderang di sana.


"Siapa kau?" tanya Xena.


"Aku adalah dewi cinta. Makhluk yang telah mengirim Xander serta putramu ke masa lalu."


Xena membelalak tidak percaya, sebuah eksistensi yang mustahil ditemui manusia.


"Dewi cinta? Mengapa Anda memanggil saya kemari?" tanya Xena sekali lagi.


"Xena, aku adalah pengamat kisah cinta kalian berdua. Selama ini aku sangat terkesan melihat cara kalian berdua bertahan. Maka dari itu, aku ingin memberi hadiah untukmu."


"Hadiah?"


Sang dewi cinta menyerahkan sebutir mutiara yang berkilau. Xena tertegun tatkala melihat mutiara tersebut.


"Mutiara ini bukanlah mutiara biasa. Sekarang Xander tengah bertarung dengan Verden. Apabila kau membuat Xander memakan mutiara ini, maka tidak menutup kemungkinan hidupnya bisa selamat. Kau tahu maksudku, bukan?"


Xena mendapatkan secercah harapan. Sejujurnya dia sangat mengkhawatirkan tubuh Xander. Dia tahu dari Xavier bahwasanya Xander tidak akan bertahan lama karena efek pemutar waktu.


"Maksudnya, Xander bisa hidup lebih lama dengan mutiara ini?"


"Benar. Ambillah dan pergi selamatkan Xander sebelum terlambat," ucap dewi cinta.


"Baiklah. Saya akan pergi sekarang."


"Lalu aku akan memberimu sesuatu." Sang dewi menaruh tangannya di kepala Xena. "Aku telah membuka seluruh kekuatanmu. Mulai sekarang kau bisa menggunakan kekuatanmu untuk membantu Xander membunuh Verden."


Xena pun terbangun seusai menemui dewi cinta. Dia mengedarkan pandangannya dan menemukan Xander nyaris kehilangan kesadaran karena dicekik oleh Verden. Aura membunuh yang amat kuat menyelubungi diri Verden.


"Tidak ... Xander! Xander! Jangan bunuh dia!"


Teriakan Xena mematahkan kekuatan sangkar yang mengurungnya. Fokus Verden seketika teralihkan oleh bunyi patahan sangkar. Dia terkejut kala mendapati Xena telah sadar dengan luka yang sembuh sepenuhnya.


"Xena, kau sudah bangun, sayang? Ya ampun. Apa kau sebegitu rindunya padaku sampai aku menghancurkan sangkar yang susah payah aku siapkan?"


Xena menggeram kesal, dia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.


"Lepaskan Xander! Lepaskan dia! Mau sampai kapan kau seperti ini?! Padahal aku sudah mengatakannya kalau aku hanya mencintai Xander seorang. Mengapa kau masih tidak mengerti?"


"Apa yang kau katakan, Xena? Aku telah menunggumu sejak lama. Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? Apa kau melupakan semua kenangan kita? Aku mencintaimu, tetapi mengapa kau begitu mudah melupakan perasaanmu terhadapku?"


Tergurat raut kekecewaan di muka Verden. Hatinya hancur saat Xena mengungkapkan perasaannya yang sepenuhnya.


"Verden, yang mencintaimu itu bukan aku."


"Apa yang kau katakan?"


Xena tersenyum sendu. "Seseorang yang mencintaimu ialah jiwa abadiku. Tubuh ini punya dua jiwa yaitu jiwa yang mencintai Xander dan jiwa yang mencintaimu. Apa kau sungguh tidak mengetahuinya?"


Verden membeku, isi pikirannya berkecamuk sesaat. Dia memperhatikan Xena, gadis itu tidak berbohong perihal hal tersebut.


"Jangan bercanda! Bagaimana bisa tubuh itu punya dua jiwa?! Aku tahu, kau pasti sedang mencoba menipuku agar aku tidak membunuh Xander. Baiklah, sekarang aku akan membunuh pria ini supaya kau bisa kembali bersamaku."


Verden menekan kekuatannya dan hendak membunuh Xander. Namun, Xena secara tepat waktu menyerang Verden sampai terpental jauh.


"Aku takkan memaafkan siapa pun yang berani membunuh Xander."


Xena melangkah menghampiri Verden, kekuatan yang meluap-luap dari tubuhnya membuat Verden tak kuasa menahan perasaan takutnya.


"Mau sampai kapan kau terus seperti ini? Mau sampai kapan kau terjebak di masa lalu?! Verden! Aku jiwa yang hanya mencintai Xander. Aku mohon padamu, tolong biarkan aku bebas. Aku menginginkan kebahagiaanmu, tetapi bukan begini caranya," lirih Xena disertai mata berkaca-kaca.


Tidak terasa, butiran air mata mengucur deras membasahi pipi Verden. Dia mengingat kembali seberapa menderitanya ia di masa lalu ketika kehilangan Xena.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin ... aku mencintaimu. Aku ingin kau kembali lagi bersamaku. Bagaimana dengan janji kita dulu? Kau dan aku berjanji akan hidup bahagia sebagai keluarga yang utuh. Namun, mengapa? Mengapa, Xena?! Apakah aku masih kurang untukmu? Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mau berakhir seperti ini!"


Tiba-tiba saja tubuh Verden memaparkan sinar menyilaukan. Sinarnya terasa tajam dan diselimuti kebencian serta dendam. Satu persatu benda yang ada di sekitar hancur akibat sinar tersebut.


Xena mencoba tetap tenang, ia mendekati Verden yang mengamuk. Kemudian menetralkan sinar yang membawa kehancuran tersebut.


"Mari berhenti di sini, Verden. Kau tidak bisa terus mengacaukan hidupku."


Lalu Xena mendekap Verden, dia tahu bahwa sebenarnya pria itu tidaklah jahat. Dia hanya dibutakan kebencian atas masa lalu yang menimpanya.


"Xena, apakah tidak ada kesempatan untukku kembali bersamamu? Aku sangat putus asa. Aku melakukan segala cara demi mendapatkanmu lagi. Akan tetapi, kenapa takdir begitu jahat terhadap diriku?"


Xena menggeleng perlahan. "Tidak, Verden. Kau masih memiliki jiwa abadiku."

__ADS_1


Di saat bersamaan, sesosok jiwa abadi milik Xena keluar dari tubuhnya. Sosok dengan mata yang menatap Verden penuh cinta.


"Verden, berhentilah mengacau di dunia manusia. Jangan salahkan dirimu lagi atas kematianku di masa lalu."


"Xena ... Xena!"


Verden memeluk erat jiwa tersebut, dia mendapatkan kembali apa yang dia cari selama ini. Xena tersenyum sendu, inilah akhir yang dia inginkan.


'Berkat dewi cinta, aku bisa memisahkan dan mengeluarkan jiwa abadiku dari tubuh ini. Mungkin inilah alasan mengapa beliau membuka jalan kekuatan ini,' batin Xena.


Pada hari itu, bagaikan sebuah keajaiban yang jatuh dari surga. Verden bersama jiwa abadi Xena lenyap bersama cahaya. Mereka memilih meninggalkan dunia manusia dan meminta maaf karena telah mengacau selama ini.


Mungkin terdengar konyol, tetapi inilah kenyataannya. Masalahnya selesai begitu saja walau Xander mengorbankan nyawanya untuk kembali ke masa lalu. Akan tetapi, Verden telah menerima hukuman dari sang dewi. Jiwanya saat ini dikurung di neraka tersembunyi bersama jiwa abadi Xena.


Masalah ini hanyalah perkara cinta yang tak berujung. Dibutakan dan ditulikan oleh cinta merupakan sesuatu yang lumrah. Terlebih lagi, Verden hanya memiliki Xena seorang. Wajar bila dia merasa putus kala Xena mati dibunuh manusia.


Dendam telah terselesaikan. Xena juga sudah memberikan mutiara dari dewi cinta untuk memperpanjang hidup Xander. Kini Xander sedang memulihkan diri di markas.


"Ukhh ... ada di mana aku?"


Xander tersadar, dia membuka mata kembali seusai tiga hari terbaring pingsan di atas tempat tidur.


"Ayah!"


"Xander, kau sudah bangun?"


Alangkah terkejutnya Xander mendapati Xena tengah bersama Xavier. Sontak ia bangkit dari posisinya.


"Apakah sekarang aku ada di kastil? Bagaimana dengan Verden? Aku yakin aku hampir mati di tangannya," tanya Xander.


"Tenanglah, semuanya sudah teratasi."


Xena pun menceritakan semuanya kepada Xander tanpa ada yang tertinggal. Pria itu tanpa sadar menitikkan air mata haru. Dia tidak percaya semuanya berakhir tanpa akhir yang dia inginkan.


"Sekarang kita bisa hidup seperti apa yang kita inginkan. Tidak ada peperangan, tidak ada perbudakan, dan tidak ada diskriminasi. Kita bisa hidup tentram tanpa memikirkan pertarungan yang serius," tutur Xena.


"Iya, kau benar. Kalau begitu, Xena, haruskah kita menikah sekarang?"


"M-Menikah?" Muka Xena merona sempurna kala Xander mengajaknya menikah.


"Ya, menikah."


"Aku rasa tidak ada alasan aku menolakmu. Baiklah, mari kita menikah."


Pernikahan mereka terjadi begitu saja dengan sangat tidak terduga. Sebelumnya, mereka berdua membangun negeri ini terlebih dahulu. Menjelang pernikahannya, Xander bersama Xena memutuskan mengambil wilayah besar untuk mereka pimpin.


Mereka memberi nama wilayah tersebut dengan nama Veralion. Kemudian mereka dianugerahi gelar Kaisar dan Permaisuri. Tidak lupa Xena menyerahkan kepemimpinan keluarga Duke Alister kepada sang Paman dan Kakek.


"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Xena kepada Xavier.


Anak itu telah mencapai batas waktu untuk tinggal di tempat ini lebih lama.


"Iya, Ibu. Aku sudah mengantarkan Ayah dan Ibu ke jenjang pernikahan. Lagi pula sebentar lagi aku juga akan terlahir kembali sebagai anak kalian."


Xena dan Xander memeluk Xavier, mereka tidak meneteskan air mata kesedihan. Hanya saja, mereka sangat bahagia melihat putra mereka.


"Ya, pergilah. Kami akan menunggumu di sini," ucap Xander.


"Jaga diri kalian baik-baik. Aku akan datang menemui Ayah dan Ibu lagi, meski aku tidak mempunyai ingatan atas kebersamaan ini," tutur Xavier.


"Iya, tidak apa-apa. Sampai jumpa lagi, Xavier. Ibu dan Ayah akan menanti kehadiranmu."


Tubuh Xavier kian menghilang di udara, ia memberikan senyum sumringah yang bahagia. Semua orang melambaikan tangannya kepada Xavier. Kepergiannya diwarnai oleh air mata bahagia.


***


Satu tahun berlalu selepas kepergian Xavier, semuanya berlalu penuh kegembiraan. Garvin akhirnya menikah dengan Elinor, sedangkan Liam menikah dengan Giselle seusai berusaha keras memenangkan hatinya. Kemudian entah bagaimana ceritanya, Laiv bisa jatuh cinta kepada Gia dan mereka berdua juga menikah.


Mereka mendapatkan cinta dari pasangannya, kecuali Carian, Klaus, dan Floris. Mereka memutuskan untuk tidak menikah demi mengabdikan diri kepada kekaisaran.


Lalu di waktu ini juga, kekaisaran Veralion mendapatkan berita bahagia. Xena melahirkan seorang putra yang sangat tampan. Berita kebahagiaan ini menyebar begitu cepat ke penjuru wilayah.


Xena mendekap bayi kecil yang sedang tertidur. Xander menatap penuh bahagia kedua orang yang amat dia sayangi.


"Selamat datang kembali, Xavier. Terima kasih karena telah memilihku menjadi Ibumu lagi."


Begitulah kisah Xena berakhir, sang dewi cinta menonton semuanya dari atas. Dia ikut bahagia melihat akhir dari kisah cinta Xena dan Xander.


"Yang Mulia, mengapa Anda menaruh dua jiwa di tubuh Xena?" tanya Nidia.

__ADS_1


"Bagaimana aku harus menjelaskannya? Kedua jiwa itu mulanya adalah satu. Kemudian akibat putaran reinkarnasi, jiwanya terbelah menjadi dua. Kedua jiwa itu punya hati yang berbeda. Hati yang mencintai Verden dan hati yang mencintai Xander."


__ADS_2